Udara malam itu cukup dingin akan tetapi tak cukup mampu membuat Vizena menutup jendela kamar tempatnya menginap. Dia bersandar pada kusen jendela, mengamati sebagian kota yang terlihat jelas dari kamarnya. Jalanan kota begitu ramai, lampu gantung menghiasi seperti pengganti bintang, tapi tentu saja bintang lebih indah. Benaknya melayang jauh, teringat kenangannya bersama dengan 'Tuan Dranis' yang rupanya adalah seorang Raja. Senyum Vizena samar-samar merekah, Zaviest adalah pria yang sangat baik, selalu baik padanya, leluconnya terkadang tidak masuk akal. Kenangan mereka terlalu manis, tak ada satu pun yang menyakitkan. Malah justru itulah yang melukai hati Vizena, kenangan manis. Satu butir air mata berhasil lolos dari pelupuk mata Vizena, bergulir dan membasahi lantai. Jari Vizena ber

