Buku-buku jemari Zaviest terlihat memutih ketika genggamannya semakin erat. Selembar kertas di dalam genggaman tangannya yang kuat itu tak terbentuk karena remasannya begitu kuat. Sekuat daya yang ia punya, emosi yang telah mencapai ubun-ubunnya itu berusaha ia redam. Meski dadanya naik-turun karena gemuruh amarah yang begitu kuat. "Apakah terjadi sesuatu, Yang Mulia?" Dranis tampak cemas, dia sendiri yang menghantarkan surat itu kepada Zaviest untuk dibaca. Tapi tak menduga reaksi Zaviest setelah membacanya akan seperti ini, penuh amarah. Dia mengira Zaviest akan suka, karena surat itu dari Thymur, sahabatnya sendiri yang mengirimkan. Rupanya Dranis keliru. "Yang Mulia?" Dranis semakin gelisah saat tatapan mata Zaviest seperti seseorang yang sedang bernafsu untuk mencabut nyawa orang l

