Pervert Bastard
Stupid girl : "I'm pregnant."
Pervert bastard : "Yah?"
Stupid girl : "Aku hamil."
Pervert bastard: "Ya, ya, gue ngerti bahasa inggris, terus?"
Stupid girl : "Maksud kamu?"
Pervert bastard : "Iya, lu hamil, terus lu mau apa? tunggu, udah berapa lama?"
Stupid girl : "Lima minggu."
Pervert bastard : "Mmm, lima minggu lalu sama siapa ya?"
Stupid girl : "Jadi?"
Pervert bastard : "Sandra, Puti...mmm..Gwen, arrghh!!"
Stupid girl : "Jadi kita musti bagaimana?"
Pervert bastard : "Lu mual?"
Stupid girl : "Belum"
Pervert bastard : "Oke."
Stupid girl : "APA ITU OKE!!!"
Pervert bastard : "Hah...i see."
Stupid girl : "................"
Still stupid girl : "..............."
Stupid girl again : "..................................................."
Pervert bastard : "WHO ARE YOU?"
Very stupid girl : "gh@#hkl&lj*kkn%vhN#vhjjnlhcj............................."
*********************************
Sky baru selesai mandi, ia masih memakai handuk lalu mulai mengubek-ubek isi lemarinya. Seorang perempuan berambut merah tengah membungkuk mencari-cari sesuatu, tubuh bagian atasnya telanjang.
"Hei you, do you see my bra?"
"Tuh!" Sky menunjuk ke arah meja kecil di samping ranjang, sebuah bra renda-renda hitam nangkring di kap lampu. p******a besar si perempuan berayun-ayun dalam setiap gerakan kecilnya, Sky tertawa. Perempuan bodoh, matanya tak sinkron dengan otak, untuk apa kau mencari kutang di kolong ranjang sedangkan yang kau cari melempem pasrah persis di atasmu.
Stupid b***h!
YO! wait a minute, what did you say?
Who are you anyway? if you don't know exactly who you are, let me tell you Sky.
YOU ARE A NUMB-NUT, so it makes you match with her!
Sky tertawa keras mendengar suara hatinya yang selalu benar, thanks God!
Tadi malam perempuan itu berisik sekali, padahal Sky baru menyentil klitnya tapi ia sudah melolong seperti serigala, walaupun cantik dan bertubuh hot, cewek yang berpura-pura o*****e, tak disukainya.
"Oh, nanti telpon aku ya, mana tahu kamu mau dikelonin lagi nanti malam." Perempuan itu sudah berpakaian, mini dress ketat berwarna merah, baju yang sama ketika Sky membawanya pulang tadi malam ketika mereka bertemu pertama kali disebuah diskotik.
"Mmm, maybe not hon, aku musti ke Surabaya. Bohong. Sky tak ada pekerjaan keluar kota dalam minggu ini.
"Yah, padahal aku mau beli lingerie baru buat kencan kita."
"Ada hari yang lain, oke Anita sayang?"
"It's Dina! ah...Sky, kamu kok hebat banget sih, aku ketagihan nih."
Shut up b***h! gue terlalu berpengalaman untuk mengetahui mana perempuan yang berbohong soal gairahnya. Sky tersenyum, lalu mengantar perempuan payah itu ke depan pintu apartemennya.
"Call me ya...please." Si Yuna, Dina, Ana or si Na-Na ini (whatever) memasang tampang memelas agar bisa kembali lagi keharibaan si s*x God yang sooo gorgeous, Skylar.
Sky hanya tersenyum, lalu menutup pintu dan meludah ke pot tanaman yang terletak di dekat keranjang sampah.
Yang benar saja, kalau Paris Hilton tak mau memakai underwear yang sama kali kedua, berarti tak ada alasan Sky akan memakai wanita yang sama untuk kencan selanjutnya, no way man! itu melanggar prinsip namanya.
Ponselnya berbunyi, nama Arya tertera di layarnya. "Ada apa?"
"Mas, gawat mas, antrian pembelian tiket POD dibubarin polisi!"
"Kenapa?" dengan ponsel yang diapit di bahu Sky buru-buru memakai baju dan kesusahan mengancingkan celana.
"Polres nggak kasih ijin!"
Sky tersentak, apa-apaan ini, bukannya timnya sudah ditugaskan untuk meminta izin ke pihak keamanan?
"Mas dimana?"
"On my way!"
Sky menyambar jaket, tas dan kunci mobil, lalu melesat keluar, ia harus segera menyelesaikan huru hara ini. Konser yang akan di helat dua minggu lagi dan mendatangkan band metal POD harus terlaksana, karena Sky bersimbah peluh mengorganisir pertunjukan musik yang nantinya akan diadakan di GBK.
Sky mencoba untuk tenang selam erjalanan, tetapi mobilnya terlalu besar untuk bermanuver di jalanan Jakarta yang macet apalagi ikutan stuck bersama mobil-mobil lainnya saat terkena sial traffic light, damn it!! Ini nggak bantu sama sekali, pikir Sky saat Arya masih saja mengirimkan bom pesan, soal dimana ia sekarang.
Pasti ini ada kesalahpahaman atau mungkin anak buahnya tak melengkapi dokumen persyaratan atau apa. Selama ini ia tak pernah bermasalah dengan pihak keamanan. Koordinasi yang ia jalin selalu baik, bahkan Sky mempunyai banyak kenalan di Kepolisian, karena untuk seorang pemilik sebuah EO seperti dirinya, link sangatlah diperlukan.
Mobilnya terpaksa parkir jauh dari kantor Il Cielo karena banyaknya orang yang mengerubungi kantornya yang terletak di zona bisnis di selatan Jakarta itu. Mobil-mobil yang parkir sembarangan, orang-orang yang mengantre memenuhi halaman depan kantornya dan jalanan, kemacetan panjangpun terjadi di ruas jalan. Sky sempat terpana memandang kehebohan yang berlangsung, suara ribut teriakan menggaung seperti sepasukan lebah marah, bahkan ada yang perang mulut dengan anggota kepolisian.
"Mas, sini mas!" Arya sudah menunggunya di depan dan buru-buru menarik Sky kedalam, mereka langsung menemui seorang polisi yang tengah berbincang dengan bawahannya.
"Mas, ini pak Sutjipto, Pak Kapolres."
Sky dan lelaki paruh baya itu berjabat tangan. Sepertinya ada mutasi di Polri, setahu Sky Kapolres Jaksel bernama Irawan.
"Ada apa ini pak."
"Begini Pak Sky, penjualan tiket konser terpaksa saya bubarkan karena pihak Bapak tidak meminta izin untuk menyelenggarakan keramaian disini."
"Mohon maaf sebelumnya Pak Tjipto, saya bukannya mau membela diri, tapi anak buah saya sudah memasukkan izin penyelenggaraan tiket jauh-jauh hari ke kantor Papak."
"Sebelumnya saya memang sudah diberi tahu sama Kapolres yang lama tentang mereka yang sering bekerjasama dengan EO-nya Bapak, tapi saya tidak menemukan satupun laporan yang masuk soal izin penjualan tiket hari ini, makanya saya harus terpaksa membubarkan kerumunan, karena sudah menghalangi arus lalu lintas."
Sky mengehela napas, disaat ini ia harus berpikir tenang, karena taruhannya berat jika ia tidak bisa menghandle semuanya.
"Siapa yang ngurus izin, Ry?" Sky menoleh ke arah Arya yang sedari tadi hanya mendengarkan percakapannya dengan Pak Tjipto.
"Gina, Mas!'
"Panggil!"
Tak lama, Gina, bagian security & runner muncul dengan tampang bersalah. Sky sudah menebak, kalau anak baru itu belum becus mengerjakan tugasnya.
"Ada apa Mas?"
"Kamu sudah masukin permohonan izin ke Polres untuk penjualan tiket?"
Muka Gina yang memelas, semakin memerah menahan tangis. "Maaf Mas, saya pikir kita hanya perlu izin untuk konser bukan untuk penjualan tiket. Maaf Mas, hiks..hiks."
Sky berdecak jengkel, walaupun ia pencinta wanita, tapi ia paling benci melihat perempuan menangis.
"Kamu saya pekerjakan karena saya pikir kamu mengerti tentang deskripsi job kamu, kalau ngadain konser ya harus jualan tiket dulu, kalau tidak, mana mungkin kita dapat uang, sana!"
Perempuan muda itu masih terisak ketika diusir Sky.
"Maaf Pak, saya akan memasukkan kembali permohonan izinnya."
"Ya akan kami tunggu, tapi hari ini terpaksa saya harus bertindak terlebih dahulu, saya juga tidak mau dianggap tak becus menggurus pekerjaan saya."
Sky mengangguk dan tersenyum kecil. Satu masalah selesai, sekarang masalah besar muncul, ia harus ketengah kerumunan pembeli tiket dan menjelaskan duduk perkaranya dan hal itu membuatnya sedikit gugup.
"Baiklah, mungkin izin akan turun besok."
Sky sekali lagi mengangguk, ia mengantarkan Pak Sutjipto ke luar, kerumunan massa menyambut mereka.
***********************************************************