Stupid Woman

1655 Kata
Semua keributan di depan Il Cielo sudah berakhir tiga jam yang lalu. Penggemar POD sudah membubarkan diri dengan damai setelah Sky menjanjikan akan kembali membuka penjualan tiket dua hari kedepan. "Mas, ada wartawan di depan pengin bicara sama mas Sky." Hanifa, front desk Il Cielo mengiterupsi niat Sky yang akan mengadakan meeting dadakan menyangkut soal persiapan konser. Semuanya harus di cek lagi, agar kejadian tadi tidak terulang kembali. "Kamu nggak bisa terima sendiri?" "Saya kan cuma karyawan biasa Mas, mana bisa nerima wartawan. Dia pengen wawancara langsung sama direktur Il Cielo." Sky mendengus, ia paling benci harus bermanis-manis dengan jurnalis. Ia tak suka dengan yang namanya wartawan, mereka suka berlebihan ketika menyajikan berita ke tengah masyarakat, tapi Sky juga butuh mereka untuk mempromosikan artis dan konser yang akan diselenggarakan EO-nya. Benar-benar simalakama. Hanifa menunjuk seseorang yang tengah melihat-lihat papan buletin di dinding lobi. Sky langsung menemui si wartawan yang hebat sekali bisa mencium berita begitu kilatnya. Di depan Sky kini ada seorang wanita yang membelakanginya, namun langkahnya terhenti dan decak kagum lolos dari bibirnya. She's not fat, just a big boned woman, maksudnya body-nya memang besar, tapi sehat dan kelihatannya fit. Itu b****g paling indah yang pernah dilihatnya, bulat, padat dan... ia sudah membayangkan apa yang bisa diperbuatnya dengan b****g besar itu di ranjangnya, maybe a little bit oil? "Maaf, anda mencari saya," tegur Sky. Perempuan itu berbalik dan... Shit, what the hell. Sky bahkan tidak perlu repot-repot memandang wajahnya, matanya secara otomatis memandang.. Holymolly!! Those t**s are real deals!! Jakun Sky turun naik melihat dua gunung kembar yang membusung padat itu, padahal kemeja yang digunakannya telalu besar untuk tubuhnya yang besar, tapi tak bisa menyembunyikan keindahan maha indah itu. Sky mendongak, lalu, Ia terdiam ketika memandang mata perempuan itu, waktu menjadi kacau disekitarnya. Lama. Bahkan wanita itu juga membalas tatapannya, dan tak berusaha untuk memecah keheningan. Bunyi pintu depan yang ditarik, memaksa mereka untuk kembali dari apapun itu yang membuat keduanya terseret jauh kesuatu tempat yang berada dikedalaman sebuah memori. Seorang OB kantor tampak kewalahan mengangkat galon mineral dan tak menyadari bosnya sedang tak bersuara memandangi seorang wanita. Ketika si galon-man tadi pergi, Sky dan si wanita tersentak dan suasana langsung berubah awkward. "Ehem." Sky membersihkan tenggorokannya yang tiba-tiba macet. "Saya mau meminta waktu Bapak untuk wawancaraa soal kejadian barusan, bisa Pak?" Tanpa aba-aba, perempuan itu sudah menyodorkan sebuah alat perekam berbentuk persegi panjang ke depan hidung Sky. Jelas ia lebih siap dengan kecanggungan yang tercipta. Perempuan itu tak mau berlama-lama dengan Sky, jelas sekali kalau ia ingin sekali pergi dari sana, namun pekerjaan dan tanggungjawab memaksanya untuk terus berada di sana,, menggali berita. "Jangan panggil Bapak, saya belum setua itu." Sky menolak tersenyum, wajahnya datar. "Oke, sebenarnya apa yang terjadi di depan tadi, Pak Sky?" Perempuan keras kepala, Sky langsung menambahkan minus untuk sikapnya untuk mengurasi nilai plus pada tubuh indahnya. "Biasa, hanya salah paham antara kami dan pihak aparat." "Apakah ada permasalahan dengan izin konser?" "Saya kan sudah bilang hanya salah paham biasa, semua sudah diselesaikan dengan baik." Si wartawan membalas Sky dengan wajah kombinasi cemooh dan jijik seolah menantang Sky untuk mengadu keterampilan mereka dalam sebuah perjudian. "Kamu dari surat kabar mana?" tanya Sky. He likes her gut. "Express Kota, Pak." Mendengar nama surat kabar itu, Sky berupaya tak memuntahi wajah di wartawati karena siapapun tahu kalau Express Kota salah satu "koran kuning" terkenal di Jakarta. Jika kau berhenti di traffic light kau akan tahu apa itu koran kuning, karena biasanya loper koran akan meletakkannya dideretan paling atas, dengan judul headline mencolok dan ditulis dengan tinta merah. Ngakunya Orang Pintar, Bisa Ngeluarin Jin Jahat yang Ngeganggu. DUKUN PERKOSA 20 SISWI SMP, ADA YANG DISODOMI JUGA LHO Tahu kan? itulah yang disebut dengan koran kuning, surat kabar yang mendobrak pakem-pakem dan kaidah jurnalistik yang umum. Pak Harmoko yang memotori lahirnya Pos Kota, pelopor koran kuning pertama di Indonesia yang lahir pada tahun 1970, pernah disodori pertanyaan "ini jurnalisme apa? Harmoko menjawab "Pokoknya kalau bukan golongan menengah ke bawah, lebih baik jangan baca.” Begitulah, walaupun diidentikkan dengan bacaan tukang becak, bukan bacaan orang intelek dan dicap sebagai surat kabar porno, tapi oplah harian koran kuning bisa mengalahkan koran nasional hebat sekalipun bahkan dari segi statistik pembaca, surat kabar ini selalu berada di top survey. "Kau wartawan surat kabar c***l? kalau begitu kau datang ketempat yang salah! dikantor ini tidak menyediakan berita pornografi." Muka si wartawati memerah mendengar komentar Sky, ia serasa baru diludahi oleh sumber beritanya. "Kami sudah mengurangi materi seksualitas, sekarang lebih cenderung mengulas berita politik dan kriminalitas." Ia tak mau disemprot editornya, karena tidak membawa pulang sebuah berita, sebisa mungkin semua penghinaan yang dilontarkan sang pendiri Il Cielo itu akan ditahannya. "Tetap saja mata saya sering sakit melihat tulisan besar-besar di koranmu." "Saya rasa ini sudah melenceng dari wawancara kita, bisakah kita kembali kepada pertanyaan, Pak." Sky menolak untuk tidak melanjutkan peperangan mereka, ia akan terus mendesak musuh untuk menjauh mundur. "Kalau kau memang berniat menjadi seorang jurnalis, melamarlah ke penerbitan surat kabar yang memang teruji integritasnya, jangan jadi wartawan murahan seperti ini." Sky tahu ia sudah keterlaluan, tapi ada sebuah dorongan jahat untuk terus menyakiti perempuan yang justru berdiri dengan dagu yang ditegakkan seolah mengatakan ia memiliki harkat dan martabat yang tinggi dan tak seorangpun boleh menawarnya. "Terima kasih atas sarannya, tapi asal bapak tahu, saya akan bekerja apa saja jika ada yang mau mempekerjakan saya, karena ada tiga mulut yang harus saya beri makan. Sepertinya anda tidak berkenan lagi dengan wawancara ini, saya mohon maaf sudah menganggu, terimakasih." "Bekerja saja di bar, jadi stripper, uangnya lebih banyak." Sky berteriak kepunggung wanita itu, ketika dengan langkahnya yang tenang menjauh dari Il Cielo. Kata-kata terakhir Sky menggema dikepala dan membuatnya berputar-putar. Dia menyuruhku untuk menjadi stripper? kenapa tidak sekalian memintaku melacur? Perempuan itu berlari keseberang, ada sebuah warung kecil yang berada tak jauh dari Il Cielo. Disamping tenda warung yang kumuh ia duduk begitu saja diatas tumpukan paving block yang sudah menghitam, bekas bahan perbaikan trotoar yang tidak terpakai. Ada pohon besar yang meneduhinya dari sengatan matahari. Kantor il cielo yang berwarna semarak terlihat dari tempat ia duduk. Kepalanya pening, mungkin migrain karena sakitnya cuma dibagian kanan, dengan lembut ia mulai memijatnya. Betapa bodohnya ia ketika tadi pagi diminta sang editor untuk ke Il Cielo setelah pria itu mendapat bocoran kalau ada masalah disana. Awalnya ia menolak, tentu saja, karena ia tahu tugasnya adalah untuk mewawancarai pemilik event organizer itu, pria yang tak ingin ditemuinya lagi. Tapi apa daya. ketika bosnya berteriak "HIT THE ROAD!!!" dengan nada tinggi, ia tahu kalau laki-laki tua itu tak mau dibantah sedikitpun. Dan disinilah ia sekarang, bukan hasil wawancara yang didapatnya, tapi malah a heavy headache. Sial, he still don't remember me. Bahkan ketika laki-laki itu jauh menatap kematanya, tetap saja ia tak mengenali siapa dirinya. Oh..yang benar saja, apa yang kau harapkan dari laki-laki seperti itu? he's not worth it. Lupakan saja, semuanya masa lalu dan tak ada orang yang mau terjebak berlama-lama didalamnya. Pijatan dikepalanya makin lama semakin keras, sakitnyapun bertambah. Rasanya tiada hari yang lebih dari hari ini. Mungkin karena insting, tiba-tiba menoleh ke kanan dan melihat Sky, laki-laki itu di depan kantornya dan kemudian menyeberangi jalan. No, nggak mungkin dia kesini. Permulaan hanya prasangka saja, kearah mana Sky akan pergi, lalu kepanikan mendadak muncul ketika Sky berjalan menuju ketempatnya. Shit, s**t, shit Tanpa pikir panjang lagi, ia bangkit dan menyembunyikan tubuh besarnya di dalam sebuah drum plastik berwarna biru di samping warung yang isinya.. Sampah! f**k! Nguing..nguing..nguing.... Lalar, nyamuk dan lalat, yang ia tak tahu bedanya apa, memberikan ucapan selamat datang dengan mencoba menembus kulitnya yang tebal, mencari sensasi baru dari rasa manusia gemuk sepertinya. Mungkin makhluk-makhluk itu sudah bosan dengan tulang ikan atau ayam yang kini terasa lembek di bawah sepatunya. Ulat-ulat berwarna putih menjalar ditepian drum yang kotor dan menjijikkan, lalu..hop! satu dari si ulat sukses mencapai bahunya. Ingin berteriak tapi ditahan, karena mukanya saja sudah merah menahan nafas dari bebauan yang menyengat. Akhirnya..setelah melewati ribuan tahun pembusukan bangkai dinosaurus dan bunga raflesia masih sebesar bonsai kontet, ia tak tahan. Bhuaaaaa, hah hah hah hah hah.... Surga layaknya seperti itu, menentramkan, karena pasokan oksigen mencukupi paru-parunya. Bau busuk sudah tidak ada lagi, angin berhembus membelai rambutnya yang sudah mencuat kesana kemari, si ulat putih nan gemuk sudah menjadi cairan di bahunya, kena pites jarinya yang sebesar pilar istana negara. SHIT kenapa gue stuck begini, seharusnya kalau bisa masuk, bisa keluar juga. "He, kenapa nih?" Kepanikan kembali melanda. Pinggangnya tak bisa digerakkan, drum itu ternyata didesain dengan bagian kepala yang lebih kecil dari tubuh, seperti anatomi alien muda dari planet ur-a**s. "Kenapa, Neng?" Seorang bapak-bapak yang entah datang darimana, cengar-cengir melihatnya, ada kulit cabe yang nyempil di giginya yang kuning. "Sayah nggak bisa keluar, Pak." Sudahlah, lupakan lampu merah di giginya, semoga ia mau menolong si bodoh yang terjepit drum biru bermulut mungil. Si bapak masih tergelak memandang perempuan gendut yang sedang apes itu, tapi ia berbaik hati membantunya, dengan tangannya yang kurus, ia mencoba menarik tangan si wartawan. "Ya..dorong neng, lagih!" "Aghhhh..Eghhhh..ohhhh" "Sedikit lagi, dorongggg..!!" "Aiueeeee..Aaaa..." "Dorong...lagihh!!" "Tarikkk pak!!! bukan doroooongg!!!" Tanpa disadarinya, disekeliling mereka kerumunan kecil mulai terbentuk, orang-orang bersorak tapi tak ada satupun yang membantunya dan si bapak. Mungkin mereka mengira ada gajah sirkus yang sedang bersalin di dalam drum plastik. Dan, Glundung..glundung..glundung..AAAaaaaa..... Drum meluncur hampir ke tengan jalan, ia telentang di aspal yang panas. Dua tangannya serasa copot dari bahu, bagian bawah tubuhnya yang terlepas ditutupi sampah dan cairan lengket seperti terkena tabungan air liur. Ewwww... Tepukan membahana di sekitarnya, orang-orang menunduk dan menunjuk-nunjuknya, mengatakan bermacam kalimat yang menurut mereka lucu. Rasanya ia ingin mati saat itu juga, sungguh. Lalu tiba-tiba pandangannya tertutup oleh sebuah tubuh, dengan menyipitkan mata ia melihat sebuah wajah, malaikat tampan berambut gondrong ikal. Si malaikat menunduk menatapnya "What are you doing?" Kalau yang tersisa di dirinya adalah harga diri, saat itu juga semuanya hancur berantakan, tepat di kaki pria yang paling dibencinya. *********************************************
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN