Three Little Monkeys

2070 Kata
Dari balik dinding kaca sandblast yang memisahkan ruang dalam utama kafe dengan lorong menuju dapur dan toilet, Gaya melihat kehebohan teman-temannya, bersenda gurau dan tertawa-tawa and she's not part of it. Malam itu adalah reuni angkatan 2002 jurusan komunikasi sebuah universitas swasta tempat Gaya dulu menimba ilmu sampai ia mendapatkan gelar sarjana. Ini adalah reuni yang ke-enam pasca mereka semua lulus, Gaya tahu itu setelah melihat undangan yang terletak di meja kerja Maha, bos tempat ia bekerja, teman satu angkatan dan dia diundang. Sedangkan Gaya tidak sekalipun pernah menerima ajakan untuk berkumpul seperti itu, karena yah, tak seorangpun yang ingin bersusah payah mengingat siapa Kinan Gayatri. Cewek tambun cupu yang jualan risoles di kantin kampus.Cewek aneh yang punya sahabat banci. Cewek yang hobi melesakkan dirinya di rimbunan semak di dekat lapangan parkir. Cewek pendiam yang selalu duduk di bangku paling pojok sebelah kiri sewaktu perkuliahan berlangsung. Cewek un-cool yang mengendarai vespa butut dengan tiga tingkat wadah plastik yang diikat di jok belakang.. Cewek yang selalu menutupi wajahnya dengan topi. Cewek yang selalu gugup jika diajak bicara. Cewek yang... Intinya, SHE'S NOBODY "Datang aja Ya, toh acaranya diadakan disini juga." Maha yang melihatnya sedang membaca undangan berwarna peach itu, mengajaknya untuk bergabung. "Nggak ah, ntar gue dianggap illegal logging lagi." Maha mengangkat alisnya tak mengerti, Gaya tertawa. "Nanti lu bisa dituduh menyelundupkan "gelondongan kayu" lu ngerti kan?" perempuan itu menaik-naikkan alis sembari mulutnya membentuk cengiran, sekarang Maha yang tertawa. Siapapun tahu kalau illegal logging itu artinya pembalakan liar, dan biasanya diikuti dengan penyelundupan kayu batangan bulat, so...Gaya menggambarkan dirinya bulat sebulat kayu selundupan. "Aku tak tahu kalau kau lucu," Maha memandangnya dengan tatapan takjub, Gaya hanya tersenyum. Tentu, kau baru mengenalku kan, dulu kau sama dengan mereka, menganggapku tak ada. Kata-kata itu ditelannya, dia tidak mau membuat Maha merasa tak enak hati, yang kedua ia tak mau Maha enggan lagi berteman dengannya, padahal ia mati-matian menambah daftar kawan barunya. Sudah enam bulan ini Gaya bekerja di C-Plan kafe, milik Mahara Priambudi. Awalnya ia tak sengaja bertemu dengan laki-laki itu ketika hendak mengantar ketiga jagoannya ke sekolah, ternyata Maha-lah pemilik kafe yang terletak persis di depan gang menuju rumahnya. Karena ia masih butuh tambahan uang untuk menghidupi keluarga kecilnya, Gaya lalu bertanya apakah Maha masih membutuhkan karyawan dan langsung diiyakan. Karena kafe baru dibuka jam delapan malam, Gaya bisa bekerja tanpa menganggu profesi utamanya sebagai wartawan di Express Kota, dan kontrakannya terletak persis di belakang kafe, jadi ia tak terlalu khawatir meninggalkan anak-anaknya. Suasana didalam ribut sekali, Gaya mendesah dan meninggalkan lokasi pengintipannya. Ia bersyukur masih diberi akal sehat untuk tidak mengiyakan ajakan Maha untuk menghadiri reuni, kalaupun ia memaksa untuk berbaur, tak ada seorangpun yang akan menyadari kehadirannya, karena buat mereka Kinan Gayatri hanyalah seorang outsider. *********************************************** Ia tidak melihat Sky diantara keramaian yang langsung membuatnya bersyukur, karena berarti ia tak harus melihat wajah pria itu lagi, mengingat tiga hari yang lalu raut jijik yang terlukis di wajah Sky masih terbayang olehnya. Dapur sama hebohnya dengan ruang utama, beberapa karyawan tampak sibuk menyediakan berbagai macam pesanan makanan untuk semua orang yang malam ini khusus mem-booking C-Plan untuk acara mereka. Gaya bertugas sebagai "The Wazsher" bukan judul salah satu film action Marvel, tapi ia memilih istilah itu untuk mendeskripsikan tugasnya di C-plan, cuci piring, mengepel lantai, membersihkan kompor, memeriksa gudang suplay, membuang sampah dan sejenisnya. "The Wazsher" berasal dari kata washer "membersihkan" menurut kamus suka-suka Gaya. Dan supaya lebih bergaya, ditambahkanlah huruf Z sebelum S agar tampak lebih "Skandinavian" berdasarkan ide-lumayan-cemerlang Gaya dan pekerjaan itu termasuk disuruh-suruh Mas Indraja, kepala koki di C-plan untuk memeriksa tempat sampah di belakang dapur. "Coba periksa, apa masih empat, soalnya akhir-akhir ini maling suka berlebihan dalam mengambil apapun termasuk tempat sampah, dan oh ya, warnanya oranye, hitam, biru dan merah." Gaya hanya berucap "siap bos!" tanpa mau berpikir kenapa Maha mau mempekerjakan orang gila seperti Indraja. Gaya melaksanakan perintahnya, dan menurut hasil investigasi, tong sampah sudah bertambah jumlahnya menjadi enam dan berwarna abu-abu tai kucing dan toska semangka. Indraja sepertinya tak bisa diganggu dengan laporan soal tong sampah, lalu ia memutuskan untuk menuntaskan hajatnya ke toilet. Sesampai di "ladie's" Gaya memilih kubikel paling ujung, favoritnya, karena lebih besar dan adem. Banyak hal yang bisa kau lakukan di dalam toilet, gunting kuku, yoga, makan dengan sumpit, tidur dan memikirkan seseorang yang saat ini sedang dilakukan Gaya. Thinking about someone, seseorang yang ia juluki sebagai "The Man Who Stole The World", yang terinspirasi dari judul lagunya David Bowie "The Man Who Sold The World", dan pria itu adalah Kivlan Skylar. Bagaimana menjelaskan seorang Skylar, he's a physically perfect man. Tall, not too muscular, a 4-pack, kinda athletic, strong jaw, high cheek bones, masculine, easygoing type, bad-boy look, longhair, wearing converse anytime and everywhere, lovely eyes, nice smile, white teeth and ect... Membutuhkan lebih banyak bab untuk menjelaskan Skylar daripada buku sejarah perang dunia. Dia adalah satu dari sedikit pria sempurna yang didatangkan Tuhan dari surga dan bakal susah kau temui di muka bumi. Ya, memang berlebihan sih, tapi lihat saja, jika sekali kau bertemu dengannya, kau akan tersihir dan akan mengikutinya kemanapun ia pergi. Dan Skylar effect tak berkurang sedikitpun sejak terakhir kali dilihatnya sepuluh tahun yang lalu. Kini diusia 32 tahun, pria itu semakin memesona dan meracuni syarafnya. Ketika kemarin di Il Cielo mereka bertatapan, Gaya tahu kalau melupakan Skylar adalah hal terberat di dalam hidupnya. Shit! He's too damn hot! aura laki-laki itu menelusup jauh ke nadinya, gairah memukul-mukul organ intimnya, adrenalin memacu sampai ke ubun-ubun. Kalau kemarin ia gila, Sky pasti sudah diserangnya dengan ciuman atau mungkin lebih dari itu. Tetapi... Skylar tidak pernah mengenalnya, baik dulu maupun sekarang, bahkan mungkin namanya saja laki-laki itu tidak tahu. For Skylar, Gayatri is a invisible creature. Double s**t then. Suara-suara menganggu lamunan Gaya, pastinya ada lebih dari satu wanita yang masuk ke dalam toilet, banyak mulut yang bersahut-sahutan. Gaya memutuskan untuk tetap didalam kubikelnya, ia tak mau bertemu mereka. "Oh my God, lo tahu ga sih Dwi, Sky ngajakin gue ke apartemennya, what should i do, what shoul i do...ohhh." "What!? he did?" "Bener." "Emang dia nggak tau lo udah punya suami?" "Hehehe....gue sengaja nggak pake cincin kawin, lagian misua gue baru tiga hari lagi balik dari Hokkaido, so..no things in my way." "Owh..bitch!!" "Thanks." "Dasar tante-tante!" "Hei! i'm not that old!" "You are." "Hahaha." Tawa serempak mereka seperti choir yang menyanyikan lagu kematian, Gaya merinding sendiri. Ha, jadi si cassanova datang juga rupanya. Memang sih, tak ada alasan Sky untuk tak menghadiri reuni karena buruannya bertebaran di dalam kafe, sekali pancing, ikan-ikan gemuk akan langsung menggelepar di kakinya, pilih satu atau dua, dibawa pulang dan di "santap". Kini Gaya sendirian lagi di dalam toilet, perempuan-perempuan t***l kegemaran Sky tadi sudah keluar. Gaya tersenyum pahit, Skylar memang sempurna seperti pangeran berkuda putih, tapi buatnya Skylar lebih dari itu. Pria itu k*****t. ********************************** Ia baru keluar dari kafe setelah acara itu selesai. Di dalam sudah kosong, setelah membantu membersihkan lantai dan menyusun kursi, Gaya melaksanakan tugas terakhirnya, membuang sampah yang terletak di bagian belakang. Jam dipergelangan tangannya menunjukkan pukul dua belas malam, ia yakin anak-anaknya sudah lama tertidur dan iapun sendiri ingin segera pulang, mandi dan memandangi wajah ketiga putranya sampai ia bertemu sang mimpi. Semua orang sudah pulang termasuk Maha. Gaya yang terakhir karena ialah yang bertugas mengunci pintu masuk menuju dapur. Ia berjalan melalui lapangan parkir yang terletak di samping kafe, ada satu mobil disana, entah milik siapa, mungkin mobil baru bosnya. Lapangan itu luas dan terang benderang, karena itulah Gaya tak takut jika harus pulang larut malam. Sambil berjalan ia memeriksa isi tasnya, mencari-cari kunci rumah, bunyi pintu mobil ditutup membuatnya terlonjak kaget, ia berbalik dan berhadapan dengan... "Kenapa tadi aku tak melihatmu didalam?" Skylar memandanginya dengan tatapan aneh, kedua tangannya terbenam di saku celana, angin malam yang berhembus mencetak d**a bidangnya dari balik kemejanya yang pas badan. Gaya menyeringit, "Kau bicara dengan siapa?" "Dengan pria dibelakangmu." Spontan Gaya berbalik, matanya bergerak liar mencari-cari sosok tak kasat mata, namun yang dilihatnya hanya jalan raya yang hitam dan sepi. "Hahaha." Suara tawa Sky memenuhi langit malam, Gaya tak bereaksi apapun, ia hanya menyesal karena sudah melakukan hal bodoh. "Oke, i'm sorry, but it was funny though. Aku mencarimu dari tadi, kau ngumpet dimana? lubang tikus? muat nggak?" Seringai lebar di wajahnya membuat Gaya muak, ia berbalik dan melangkah pergi. Sky hanya akan membuatnya sakit hati. Oh, jadi pria itu mengenaalnya sekarang, jadi, siapa perempuan yang dihinanya kemarin di Il Cielo? Lucu sekali! Apa ingatan pria itu timbul tenggelam? Sky si Sialan Dua Belas!!! "Wait!" "Apa!" Bentak gaya, ia bosan harus bolak-balik seperti ini. Sky mendekatinya. Kini Gaya bisa mencium bau jantan yang berasal dari tubuh Sky tidak ada bau parfum di sana hanya bau testoteron total. Gaya membencinya. "Kau belum jawab pertanyaanku, kenapa kau tidak bergabung di acara tadi?" Gaya membenci kedekatan mereka karena gairahnya mulai menyala. Api itu makin membesar ditiup angin malam. "Kau bertanya kepada siapa, apa kau mengenalku?" Gaya berdiri dengan kedua tangan terkepal di kedua sisi tubuhnya. Keinginan itu begitu mendesak, hanya rantai masa lalu yang kini mengikat kedua kakinya begitu kuat. "Pertanyaan macam apa itu, of course i know who you are, Kinan Gayatri, cewek yang hobi tersandung, menabrak dan menjatuhkan sesuatu, my G." "WHAT?!!!" Gaya histeris, ia tak mempercayai satupun yang diucapkan Sky, bahkan ia tak percaya kalau sedang bicara dengan pria itu, mana tahu Sky seperti Obi-Wan Kenobi yang selalu muncul dalam bentuk hologram sebagai representasi dari diri yang sebenarnya. Sky masih tersenyum, ia tampak santai sedangkan Gaya ingin melemparkan laki-laki itu ke planet of apes, biar dijadikan b***k dan disuruh mengaspal jalan. Gaya menetralkan wajahnya, ia ingin pulang dan mengakhiri perbincangan yang tak  pernah diharapkannya akan terjadi. "You know me? yeahhh..right, another bullshit, sorry dude." ia berbalik dan kali ini ia benar-benar pergi. "Siapa yang tak mengenalmu, gadis yang berusaha menjebakku dengan mengaku-ngaku hamil segala." Bahu Gaya merosot turun, matanya terpejam menahan amarah dan tangis, dalam hati ia menghitung apakah semuanya hanya mimpi buruk dan sebentar lagi ia pasti terbangun. Kenangan masa lalu mulai mendesak keluar, jika bukan itu yang tertumpah, pastinya air mata kesedihan dan kemarahan. Tidak ada seorangpun yang boleh mengungkit anak-anaknya, bahkan dari pria yang sudah menyumbangkan gen-nya untuk mereka. Gaya berbalik, tapi ia tak mengatakan satu patah katapun. Ia hanya menatap Skylar, bertanya-tanya apa benar pria itu bersungguh-sungguh dengan ucapannya, jadi peristiwa ajaib sepuluh tahun yang lalu tak diingatnya lagi, atau memang ia tak pernah peduli? Yang kedua. Sky tak peduli. He give a damn s**t bout that. Gaya sudah lama tahu jawabannya. Ia tak ingin memastikannya lagi, karena ia tak mau hancur untuk kali kedua. "Mak, ngapain?" Suara kecil itu membuatnya terperanjat, di belakangnya sekarang berjejer ketiga putranya dan sedang memandanginya, jam dua belas malam dan mereka belum tidur? "Mak?" Kun melambai-lambaikan tangannya, menyadarkan sang bunda yang tak bersuara. "Who are you?" Sidney bertanya kepada laki-laki di belakang ibunya, wajahnya tampak waspada. "He looks like a jerk." Yuri menyimpulkan sendiri. Sky tertegun, ia bergerak pelan mendatangi Gaya dan tiga anak kecil yang kini berada di depannya dan membalas tatapan Sky dengan berani. Tiga anak laki-laki, berusia delapan atau sembilan tahun. Tinggi untuk ukuran kebanyakan anak seusia mereka, berwajah sama, berambut ikal setengkuk, dan mirip dengan dirinya.. WHAT THE f**k!!! "Who..who are they?" telunjuk Sky bergetar, napasnya tak beraturan, matanya terbuka lebar, ia memandangi Gaya dan ketiga kembar itu bergantian. "Siapa mereka? apa..apa mereka.." Sky menelan liurnya dengan susah payah, ia tak mau mengucapkan kata-katanya selanjutnya, ia ingin menolak, tapi semuanya meluncur tanpa bisa ditahan. "Apa mereka anak-anakku?" Gaya ingin merobek setiap kulit dan otot Skylar, laki-laki itu bertanya apakah ketiga putranya adalah putra pria itu juga? LUCU SEKALI!!! bukankan tadi Sky menuduhnya kalau kehamilan sepuluh tahun yang lalu adalah sebuah jebakan? "NO, THEY"RE NOT YOUR SONS." suara Gaya berat, dalam dan membuat sekeliling mereka menjadi es. Matanya menusuk, sikap tubuhnya mendadak defensif, jika sedikit saja Sky bergerak, ia takkan segan menghantamkan tengkorak pria itu ke beton di bawah kaki mereka. Sky k*****t kuadrat. "Ayo pulang!" Perempuan itu berjalan terlebih dahulu, tapi ketiga anak-anaknya tak bergerak, mereka masih memandang Sky. "You're not my dad!" Yang tadi memanggil Gaya dengan sebutan Mak mendekat kearahnya dan tanpa aba-aba, Duaghhh! "Aaaaaa..!!!!" Kaki kecil itu sukses menendang s**********n Sky, tepat di kedua bolanya. Kedua tangan Sky refleks memegang penisnya yang ngilu. "Eat that! dasar keriting!" Ketika Sky mengangkat kepalanya, Gaya dan anak-anaknya telah menghilang. *************************************************
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN