I Was Happy

1020 Kata
September, 2005. "Kak bangun dong! sana bantuin ayah!" Gaya merasakan kakinya yang sebesar bonggol talas bergoyang-goyang, suara Laras terdengar samar-samar. Gorden kamarnya dibuka, cahaya menyerbu masuk, membuat kelopak matanya pedih "gangguin aja lo, Ras!" dengan kesal ia membalik badannya dan memblokir cahaya dengan punggungnya yang lebar. "Eh..dibilangin juga, sana bantuin ayah goreng risol!" suara Laras semakin meninggi, Gaya tahu kalau sebentar lagi ia tak menggerakkan badannya, pasti adiknya itu akan mengadu kepada semua orang termasuk kepada janin yang sedang dikandungnya. "Lihat tantemu nak, pemalas! besok jangan kau tiru ya?" Nah, apa dibilang, sekarang Laras pasti sedang mengelus-ngelus perutnya dengan lembut, mengajak si bayi bicara. "Iya iya, cerewet amat sih!" rasanya malas sekali untuk bangun, tapi Laras sudah mengeluarkan taktiknya, mau tak mau Gaya menyeret badan besarnya kearah dapur. "Benar deh, anak ayah yang satu ini curang banget. Orang pada kerja, eh dianya malah ngorok!" Kata-kata ayahnya yang penuh sindiran menyambutnya didapur, ibunya yang duduk dibalai-balai dan sedang membungkus lupis dengan daun pisang, terkekeh. Gaya nyengir, ayahnya memang tak sependiam ayah-ayah yang lain, jika putri sulungnya mulai brulah,beliau akan lebih cerewet dari ibu-ibu manapun. “Matahari sudah terbenam, dianya baru bangun, mirip kalong.” Kali ini ibunya yang berkomentar, lupis sudah berbaris rapi diatas talam besar, siap untuk di kukus. "Sorry dedi." Gaya membalas sindiran orangtuanya dengan gayanya sendiri, dan kebetulan nama sang ayah memang Dedi, Dedi Darmansyah, hehehe..kena deh si dedi! Ayahnya geleng-geleng kepala, beliau tengah sibuk menggoreng kulit risoles. Dihadapan beliau terdapat wadah yang berisi adonan kental berwarna putih kusam. Sudah ada beberapa yang sudah selesai, Gaya berinisiatif menggantikan beliau. Ayahnya tersenyum berterimakasih. Tubuh tuanya masih tetap tegap, laki-laki itu adalah idola Gaya, baik hati dan sayang keluarga terutama kepada istrinya yang cantik, pokoknya jika nanti Gaya menikah, calon suaminya paling tidak mempunyai sifat baik seperti ayahnya. Kedua orangtuanya adalah pedagang kue-kue tradisional disalah satu pasar kue terbesar di Jakarta. Usaha yang dirintis sewaktu ayahnya yang masih bujangan merantau pada tahun 1980 dari kota kelahirannya ke Jakarta. Hampir semua panganan yang dijual orangtuanya khas kampung halamannya, ada tapai hitam, panyiaram (sejenis kue cucur), lupis ketan putih, lamang lepat bugis, kadang-kadang galamai (mirip dodol) dan lainnya. Setiap hari, semua aktifitas akan dimulai ba'da zuhur, semua orang akan sibuk didapur, bahkan saat Laras yang sedang hamil besarpun akan berupaya semampunya untuk menolong. Sedangkan Gaya akan mengusahakan pulang dari kampus secepat yang ia bisa agar bisa sampai dirumah dan membantu mengurangi beban pekerjaan. Ayahnya menempati sebuah lapak strategis persis ditengah-tengah pasar, sedari kecil sampai sekarang Gaya yang selalu berjualan bersama ibu dan ayahnya. Semua pekerjaan rumah waktu ia masih sekolah dan tugas kuliah saat Gaya sudah duduk di perguruan tinggi selalu dikerjakannya di pasar, so..Gaya bisa dikatakan anak pasar, bukan pasar ikan yang pedagangnya hobi mengumpat tapi pasar kue yang membuatnya tumbuh menjadi gadis kelebihan lemak alias gemuk, gendut dan sejenisnya. "Yah, kami mau ke mini market dulu, ada yang mau dibeli" Laras muncul dari balik pintu, disebelahnya ada Hari, suaminya yang kurus, pendek, berkacamata dan kikuk, laki-laki itu sekarang memandang Gaya malu-malu sedangkan sang kakak ipar yang dipandangnya sedang memakan kroket sekali tiga dengan tak tahu malu. "Ppp...pmmmuutt" mulutnya gembung karena terisi penuh, yang diucapkannya tidak jelas. "Apa Kak?" Hari bertanya kepadanya, Gaya menelan semua makanannya dengan cepat. "Titip pembalut, hehehe." Hari kaget, karena kulitnya putih, rona merah langsung membuat k*********a membesar, eh rasa malunya bertambah. Semua orang tertawa, bahkan Laraspun menggoda suaminya yang grogi. Ayahnya Dedi Darmansyah menikah dengan Wahyuni, adik ibunda Gaya, yep..ibu yang dipanggil Gaya sebenarnya adalah adik ibunya yang meninggal sewaktu melahirkannya. Dari p******a Wahyuni-lah Gaya mendapatkan air s**u, dari alunan lembut suara Wahyuni lah Gaya terlelap dimalam hari dan dengan kasih sayang perempuan itulah Gaya tumbuh besar. Jadi, Wahyuni yang masih gadis menerima saja penawaran dari kedua orangtuanya, menikah dengan Dedi yang terpaut usia 5 tahun diatasnya. Kemudian mereka memiliki anak lagi yaitu Laras, 2 tahun setelah Gaya ada. Laras menikah dengan Hari, seminggu setelah kelulusannya dari sekolah menengah kejuruan. Hari sendiri adalah keponakan ayahnya yang yatim piatu dan diasuh sejak pemuda itu masih SMP. Hari dan Gaya sebaya, mereka satu sekolah sampai SMA. Hari tidak melanjutkan kuliah, ayahnya memberikan laki-laki itu sebuah toko kecil untuk membuka usaha, usaha fotocopy yang lumayan menghasilkan, karena kios kecil Hari terletak didepan SMP mereka dulu, seratus meter dari rumah mereka. Gaya tidak tahu sejak kapan Laras dan Hari menjalin cinta. Dulu sewaktu Hari yang agak sedikit ketakutan ketika melamar Laras di depan seluruh anggota keluarga, Gaya hampir mengamuk, menuduh Hari menghamili adiknya. Laras langsung berlutut dan menangis mengatakan kalau tuduhan Gaya tidaklah benar, mereka hanya ingin menikah, mengikuti perintah agama, itu saja. Dan buktinya mereka menjalankan pernikahan dengan mulus, lagipula Hari adalah tipe laki-laki baik, anak mushola, tak neko-neko dan santun. Jadi tak ada alasan Gaya untuk mencurigai adik iparnya. Laras dan Hari menempati satu bilik paling depan, sedangkan Gaya tidur di kamar ketiga, ibu dan ayahnya di kamar belakang. Mereka hidup bahagia, jarang bertengkar dan baik-baik saja. Sampai suatu hari. Semuanya bergerak dengan cepat, seperti hidupnya di fast forward dengan kecepatan tinggi. Gaya masih tidak percaya ketika memandang dua makam yang masih basah didepannya. Gerimis turun membasahi tanah, bau harum namun menyengat mawar merah membuatnya ingin muntah. Ibunya masih menelungkup di makam sebelah, tempat putri kandungnya tidur dengan tenang di pangkuan bumi. Baju hitam beliau kotor terkena lumpur, tapi sejak tadi wanita itu tak berhenti meratapi putrinya yang malang. Gaya mengenggam lumpur ditangannya yang berasal dari kuburan sang ayah. "Kenapa ninggalin Aya, yah..kalau ayah mau pergi, seharusnya ajakin aku juga" tangisnya kembali turun, bercampur dengan air hujan. Pandangannya beralih kearah Hari yang menyenderkan dahinya ke batu nisan Laras. Pedih rasanya kehilangan orang-orang yang kita cintai, dan Hari mengalaminya berkali-kali. Dulu kedua orangtuanya dan sang adik yang masih balita meninggal karena kapal yang mereka tumpangi karam di Selat Sunda, lalu sekarang istri dan calon anaknya tewas begitu saja dilindas angkot yang ngebut, ayah mertuanya yang membonceng Laras dengan sepeda motor juga tak tertolong nyawanya. Apa yang lebih pedih dari itu, atau memang Hari lah yang menyimpan kutukan di tubuhnya, karena tak seorangpun yang bernasib baik jika sudah berada didekatnya Tangisan Hari membasahi batu nisan Laras yang kelabu.  ****************************************      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN