Gaya gugup sekali dikelilingi ketiga menantu Eva dan Adam. Ia canggung ketika diajak bergabung menyiapkan makan malam di dapur keluarga Kivlan. Ketiganya baik, terlalu baik malah, tak ada satupun yang menghina, mengejek atau menyindirnya, yang ada Gaya diterima dengan tulus dan penuh rasa bersahabat.
"Kalau aku jadi kau, Sky sudah ku lumat dan kujadikan abon, biar tahu rasa." Ara memotong zucchini-nya dengan cepat, seolah ia sedang memotong s**********n Sky yang bau.
Gaya tertawa, Ara yang tentara pasti selalu berpikir cepat dan semuanya harus secara efektif dan efisien, Sky seharusnya dikebiri.
"Tapi kau hebat sekali, sembilan tahun berjuang sendirian, aku apa-apa harus dibantu Troi, kalau nggak ngadu pulang ke mama."
Tak ada yang sempurna, begitupun Helena, ia memang cantik tapi manja. Gaya heran melihat Leen, kenapa perempuan itu masih tampak seperti anak gadis dengan tubuh singset dan berlekuk seksi, padahal dari rahimnya sudah lahir tiga anak, apa Leen hanya ngemil seledri sehabis melahirkan? Gaya menunduk melihat perutnya yang besar.
"Lebih hebat mama deh kayaknya, 17 tahun membesarkan empat cowok aneh dan menyebalkan." Edna mengibaskan rambut panjangnya yang tebal, hitam dan harum, istri Edgar ini seperti bintang iklan sampo. Tangan Gaya terangkat otomatis keatas meraba rambutnya yang kering dan mencuat kesana-kemari. Berada di antara mereka bertiga akan cepat sekali mereduksi percaya diri yang ia punya, sama seperti Rupiah pasca reformasi, jatuh ke level terendah.
Gaya, Leen dan Ara tertawa serempak mendengar perkataan Edna. Memang betul, quadruplets Adam dan Eva bisa dikatakan gila tapi bikin siapapun tergila-gila, termasuk mereka berempat. tapi ketiganya layak bersanding dengan pasangan masing-masing, maksud Gaya adalah, yang cantik pasti selalu dipasangkan dengan yang tampan. Itu adalah hukum alam yang tak terbantahkan.
"Tapi aku selalu merasa beruntung menjadi bagian keluarga ini, menikah dengan salah satu putra Kivlan, membuatku merasa sudah berada di rumah, dan kamu seharusnya juga, Gaya."
Helena menatapnya dengan sungguh-sungguh, Gaya tak tahu harus menjawab apa, apalagi Edna dan Ara juga memandangnya dengan kepastian yang sama.
"Sky baik, ia cuma butuh seseorang mengendalikannya dan menunjukkan jalan pulang."
Ara mengangguk mengiyakan ucapan Edna "dan ketika tadi aku melihatmu membentak Sky, aku yakin kaulah perempuan hebat itu, menaklukkan Sky yang gila perempuan."
"Tidak semudah itu, aku dan Sky tidak pernah saling menyukai, 10 tahun lalu hanya ketidaksengajaan."
"Tidak." Helena menatapnya lekat-lekat "kalau selama ini Sky berpetualang dari satu wanita ke wanita lain, dan cuma kau yang hamil, berarti Tuhan sudah menunjukmu sebagai perempuan untuk Sky, percaya saja Ya, takdirmu takkan ditukar Tuhan dengan semena-mena."
Gaya tidak mengiyakan ataupun membantah ucapan Leen. Satu yang ia tahu pasti takdir yang dimaksud Leen adalah ia sebagai orang yang melahirkan Sid, Kun dan Yuri. Triplet tampan sebagai satu-satunya harta paling berharga yang dimilikinya dan akan terus menjadi miliknya. Pengakuan seluruh Kivlan kepada ketiga putra kembarnya takkan berpengaruh banyak kepada hubungannya dengan Sky untuk kedepan.
Sky cukup menjadi ayah anak-anaknya, tapi tak perlu menjadi suaminya.
Damn! Gaya sendiri meragukan apa yang baru dipikirkannya.
******************************************************
Hari ini hari Rabu. Dalam satu minggu, hari pertengahan masih termasuk hari-hari sibuk, begitu juga dengan Sky dan Gaya. Hari ini Sky akan ada meeting dengan klien yang akan menggunakan jasa EO nya untuk menyelenggarakan event berskala nasional yang akan memajang kain-kain khas tradisonal Indonesia, ada banyak booth yang akan memenuhi Ballroom Space Graha Mandiri. Kilennya sendiri adalah kementrian pariwisata, jadi event ini diharapkan akan menjadi salah satu daya tarik pariwisata, terutama dari wisatawan luar negri yang sangat mengapresiasi kebudayaan Indonesia.
Dalam agenda pertemuannya hari ini, Sky akan memaparkan konsep acara dan kesiapan tempat serta alat pendukung lainnya. Bekerjasama dengan Kementrian bukan urusan mudah, karena zaman sekarang, semua pihak swasta akan selalu berhati-hati jika berurusan dengan pemerintah jika tak ingin terseret kasus jika ada permainan anggaran.
Sky sibuk sekali, Gaya juga. Ada kasus pembunuhan disertai mutilasi di Bandung, pagi-pagi sekali ia langsung berangkat dan hanya menitipkan Kun dan Yuri ketangan Sid yang sudah telaten mengurus adik-adiknya dan ia sendiri berjanji akan pulang sebelum jam 9 malam.
Meeting berjalan lancar, karena memang reputasi il cielo tak diragukan lagi, pewakilan KemenPar tak banyak mengajukan pertanyaan seputar kesiapan event, Sky dan timnya juga mendapatkan pujian karena bekerja cepat dan teliti.
Ketika mengantarkan tamu-tamunya ke pintu keluar, ponselnya berdering ribut, Sky merasa tak enak, karena harus menerima telfon dan menyerahkan urusannya kepada Frida, wakilnya di il cielo.
"Kenapa Ge, aku sibuk nih."
"Sorry Sky, bisa gak kamu kesekolahan anak-anak, aku barusan ditelfon katanya Kun bikin masalah." Suara Gaya yang terdengar cemas membuatnya waspada.
"Kenapa? ada apa?"
"Ga tahu, gurunya bilang Kun udah bikin anak cewek nangis."
Sky menepuk jidatnya, Kun benar-benar anaknya, biang kerok dan selalu bikin keributan dimana-mana.
"Emangnya kamu lagi dimana sekarang?"
"Aku lagi di Bandung, Sky."
"Alamak, ya sudah, biar aku yang kesana."
Terdengar desah lega Gaya di ujung telfon "Thanks Sky, i owe you."
"It's okay, aku juga orangtua mereka kan?"
Tak ada jawaban, tapi Sky tahu Gaya membenarkan ucapannya.
Sambungan telfon berakhir, Sky memberitahu Frida untuk menghandle rapat dengan para staf untuk kelanjutan meeting tadi, ia berkata kalau ada keperluan mendadak.
Sampai saat itu, tak ada yang tahu kalau Sky ternyata punya anak, karena ia memang sengaja tak memberitahu S.K.Y ke orang lain kecuali keluarganya. Ia hanya belum siap, terutama belum siap jika ditinggalkan fans wanitanya.
Sesampainya di sekolah anak-anaknya, Sky langsung menuju ruangang guru. Ketika ia masuk, dilihatnya Kun tengah berdiri dengan satu kaki terangkat dan didepannya ada satu guru laki-laki tengah menatap anaknya dengan mistar panjang yang berayun-ayun ditangan kirinya, Sky tanpa sadar meneriaki si Pak guru.
"Hei! apa-apaan ini, bapak mau mukul anak saya?"
Si guru kaget, ketika tiba-tiba ada seorang laki-laki jangkung yang menyembunyikan matanya dibalik kacamata aviator, membentak dirinya secara tiba-tiba.
"Ba..bapak siapa?"
"Pake nanya lagi, saya ayahnya Kun!"
Pria kurus itu menciut dihardik berkali-kali oleh Sky. Ruangan itu kosong karena Sky datang saat proses belajar mengajar sedang berlangsung, jadi si pak guru tak punya sekutu untuk membelanya dari amukan si singa gondrong.
Ketika si pria itu gelagapan menghadapi Sky, Kun memeletkan lidahnya ke arah Pak gurunya. Sky mengedipkan matanya memberikan dukungan.
"Begini Pak, bapak tenang dulu, saya akan jelaskan permasalahannya." Ia mengagahkan sikapnya, karena sebagai guru ia harus punya wibawa yang cukup dihadapan murid dan wali si murid, karena sertifikasi guru setiap tahunnya juga naik, dan ia menghargai reward pemerintah itu dengan meningkatkan kualitas dirinya sebagai tenaga pendidik.
"Jelaskan kalau begitu." Padahal tak ada yang mempersilahkannya duduk, tapi Sky seenaknya menarik kursi terdekat dan duduk berlagak seperti bangsawan angkuh, punggung menyender dengan kaki yang ditumpangkan ke kaki yang lain.
Pak guru yang bernama Waryono itu berusaha tak terintimidasi, padahal didalam hatinya ia mengumpat si ayah yang tak tahu sopan santun dan sepertinya preman tanah abang lalu ke si anak yang kini duduk bersila dilantai sambil mengupil.
"Begini ceritanya pak..."