Kun lama memperhatikan Bonita, teman sekelasnya yang gendut dan berpipi bulat. Entah kenapa dirinya penasaran dengan gadis gemuk itu.
"Bon, tadi lu sarapan pake apa?"
Bonita menyipitkan matanya yang kecil, ia yang tengah berkonsentrasi menulis tampak terganggu oleh Kun yang duduk di meja sebelahnya.
"Apa urusan lo!"
"Gak, pengen tahu aja."
"Gue makan nasi lah, semua orang juga gitu!" bibir Bonita mencebik, ia tak suka Kun, walaupun tampan, tapi bodoh dan m***m.
"Gue kira yang lu makan cuma majig jar nya doang, nasinya nggak, tuh lihat perut lo kembung gitu, kayak sapinya mang Udin."
Afif yang duduk disebelah Kun tak bisa menahan tawanya, Bonita mengembungkan pipinya yang lebar, gadis kecil itu ingin mencabik-cabik muka Kun yang memasang tampang innocent dan tak peduli sudah menyinggung perasaan orang lain.
Kun pernah membaca majalah kesukaan Gaya sewaktu kecil, Bobo judulnya. Disana ada sebuah cerita tentang seekor gajah dan teman-temannya. Gajah itu bernama "Bona gajah kecil berbelalai panjang" Kun pun mendapatkan ide untuk memberikan julukan sama kepada Bonita "Boni gajah kecil berbokong besar". Sejak saat itulah perang antara Kun dan Bonita dimulai, karena gara-gara Kun, satu sekolahan akhirnya menamai gadis itu dengan julukan sadis lainnya " Boni gajah gemuk doyan makan", "Boni gajah gendut bermata semut", "Boni gajah gemuk berhidung pesek" atau " Boni gajah jumbo berlengan rambo".
Kun menikmati sekali jika ada seseorang kesusahan karena ulahnya, ia tak peduli jika harus di hukum gurunya karena sering membuat teman-temannya menangis.
Siang itu, ia berniat membelanjakan uang jajannya diluar pekarangan sekolah. Di bawah pohon, tepat dibalik pagar, biasanya ada Bang Jono mangkal dengan sepeda ontel yang membawa barang dagangannya. Bang Jono menjual beragam mainan anak-anak, ada balon seuprit warna-warni, tato-tatoan, jepitan rambut, gambar monster-monsteran, baling-baling plastik dan semua yang disukai anak-anak seusia Kun.
"Oi..den Kuntoro, apa kabar den?" Bang Jono tertawa riang melihat pelanggan favoritnya mendekat.
Kun mendengus ketika mendengar laki-laki itu memanggilnya Kuntoro "Sekali lagi abang manggil gue Kuntoro, abang gue pecat jadi teman."
Bang Jono makin tergelak melihat si aden kecil mengancamnya. Belum tahu saja si Kuntoro ini, kalau ia dulunya sering keluar masuk penjara, spesialis maling celana dalam gitu lho.
"Apa yang baru, Bang?" Kun berlagak memeriksa kelengkapan tempur Bang Jono, lagaknya seperti orang-orang dari kantor balaikota yang sidak ke pasar mencari obat kuat ilegal.
"Gak ada yang baru den, belum diimpor dari cina katanya hehehehe.." Bang Jono merasa dirinya manusia intelek yang hobi baca koran, impor itu apa artinya, ia tak peduli.
Kun manggut-manggut seperti pejabat kelurahan. Ia kemudian tertarik dengan sebuah benda berbentuk bulat sebesar koin seratusan lama dan ada kaca mungil yang menempel diatasnya.
"Ini apaan, Bang?"
Bang Jono meneliti temuan Kun "Oh ini, rautan antik den Kun, abang juga dikasih orang, ini rautan sudah berabad-abad umurnya."
Kun yang t***l percaya saja, padahal benda itu masih diproduksi sampai sekarang.
"Aden mau gak saya kasih sebuah trik ajaib?"
Mendengar kata trik, naluri kejahilan Kun berdendang senang, ia paling suka dengan hal-hal yang menantang "mau!"
Bang Jono makin sumringah, paling tidak, ada ilmu yang bisa diwariskannya kepada pemuda tumpuan harapan bangsa, kalau ilmunya bisa dimanfaatkan Kun dengan baik, ia ingin diberi tanda jasa oleh presiden.
"Gini den, taroh rautan ini dibalik tali sepatu dengan kaca menghadap keatas, trus aden pura-pura berdiri di belakang anak perempuan yang aden taksir, julurkan kaki tepat di bawah rok tu cewek, nah...nanti aden bisa tahu warna celana dalamnya, gituuuu..."
"Wow..." mata Kun membulat senang, ia baru mendapatkan jurus terbaru dari Jono Gendeng dengan senjata rautan naga geni, Kun merasa dirinyalah satu-satunya murid perguruan yang mendapatkan warisan ilmu terhebat abad ini.
"Baiklah, doakan saya guru." Kun memberikan hormatnya kepada Bang Jono yang membalasnya dengan sikap hormat yang sempurna "selamat berjuang den Kun, semoga kita bertemu lagi dilain kesempatan." Bang Jono seperti penyiar TVRI yang menayangkan Dunia Dalam Berita.
Kun memasuki halaman sekolah dengan langkah pasti, ia sudah menentukan target eksperimennya, "Boni gajah gendut berpantat melendut."
Itu dia orangnya, Bonita tengah membelakanginya, gadis itu sedang melihat-lihat Mading yang ditempelkan di antara kelas VI dan V. Boni tampak serius sekali sampai tak menyadari kehadiran Kun dibelakangnya.
Kun memasukkan rautan berkaca ke dalam tali sepatunya, setelah dirasa takkan terlepas, ia berdiri dibelakang Boni dan menjulurkan kakinya keantara kaki Boni yang sedikit melebar, lalu..
"Kuning bunga tai ayam" tanpa sadar bocah itu menggumam, dan ia tak tahu kalau Boni sudah menoleh kebelakang dan memelototi Kun yang masih menunduk dengan kaki terjulur.
"Apa yang kau lakukan bodoh?!"
Kun kaget, ia menatap Boni yang menyalak galak kepadanya. Ketika melihat kaki kun dibawah roknya, Boni mengaum.
Refleks, Kun berlari menghindari cakaran Boni, sambil tertawa-tawa, ia berteriak ke anak-anak yang ramai bermain di halaman "Boni pake k****t tai ayam, kancutnya Boni kuning kayak tai!!!"
Kemudian Bonita mendengar anak-anak tertawa dan mengatainya dengan nada berirama " Boni tai ayam, Boni tai ayam..." nyanyian koor "Boni tai ayam" menghentikan pengejarannya, Bonita terduduk persis ditengah lapangan dan menangis meraung-raung.
"KUNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNN...............!!!!!"
****************************************************
Sky menahan nafas ketika Pak waryono mengakhiri cerita tentang "Boni si tai ayam".
"Begitulah Pak Sky, Kun sudah melukai perasaan seorang anak dengan candaannya yang tidak lucu."
Sky menatap Kun yang kini sedang jungkir balik di depannya, anak itu tak mempedulikan apapun. Terus terang Sky ingin tertawa mendengar kisah Kun dan si Boni ini, tapi ia masih punya hati dan pikiran sehat selayaknya seorang ayah dari anak nakal seperti Kun.
"Ehmm..saya minta maaf kalau begitu pak, saya berjanji akan memberikan Kun hukuman setimpal, kalau boleh saya tahu, anak yang bernama Boni itu sekarang masih disekolah? saya ingin meminta maaf secara langsung."
Bibir Pak Waryono mengkerut mengejek, walaupun ganteng tapi ayah Kun si pembuat onar ini tak mengerti cara mendidik anak dengan baik, ia tak menunjukkan tanda penyesalan sedikitpun dari wajahnya yang tampak tenang, tak heran kelakuan Kun berantakan, ayahnya random begitu.
"Boni sudah dijemput orangtuanya Pak Sky, gadis cilik itu trauma dengan kelakuan anak bapak, jadi pihak sekolah sudah memutuskan untuk menskor Kun tiga hari lama..."
"Horeeee!! nggak sekolah!!!" Kun melompat-lompat di belakang Sky, ia riang sekali mendengar kata skor.
Sky menahan rasa kesalnya kepada Kun dan keputusan sekolah yang menurutnya tak adil. Sky ingin menanyakan kembali soal skorsing untuk anaknya, tapi mengingat pekerjaannya menumpuk, ia tak punya banyak waktu, mau tak mau ia hanya mengangguk pasrah dan menyeret Kun keluar dari ruangan.
"Seriously, Kun? tai ayam? siapa yang ngajarin kamu hal kayak gitu?"
Kun mengangkat bahunya, ia tak menyesal sama sekali "mak bilang, om dulunya juga nakal dan suka gangguin cewek." Melihat Kun yang menatapnya dengan pandangan menuduh, Sky ingin meracuni Gaya yang berhati dingin dan memberikan anak-anaknya info yang menyesatkan.
"Sudahlah, sekarang ambil tasmu, om mau ngizinin Yuri dan Sid, kalian ikut om kerja!"
Kun berlari kegirangan ke kelasnya. Sky menatap anaknya dengan perasaan merana, ternyata menjadi orangtua itu sulit sekali, apalagi yang berperilaku kurang mencukupi seperti dirinya. Bagaimana cara mendidik anak yang baik? Sky sungguh perlu belajar dan itu dimulai dengan dirinya sendiri.