United

1399 Kata
Gaya masih marah ketika Sky memberikan laporannya mengenai Kun yang di skorsing pihak sekolah gara-gara insiden "tai ayam". Sky juga tak luput dari amukan perempuan itu. "Kamu kan bisa ngomong baik-baik sama gurunya. Ini gak adil namanya menskorsing murid atas alasan yang gak jelas. Namanya juga anak-anak kan, mereka emang doyan becanda." Sky tak mengerti dengan jalan pikiran Gaya. Sky tak didik ayahnya seperti itu, bagi Adam, jika anaknya salah walau sekecil apapun kesalahan itu, tetap harus dihukum sesuai dengan perbuatannya. "Kun itu pada dasarnya memang salah Ge, ia mengintip celana dalam anak perempuan dan itu bukan lagi kelakuan wajar seorang anak kecil." "Justru itu! karena ia masih kecil, seharusnya tak diberi hukuman berat, skorsing cuma untuk anak SMA, seusia sekolah dasar harusnya diberi hukuman lebih ringan." Kini gantian Gaya yang heran dengan Sky yang justru ikut menyudutkan anaknya sendiri. "Kamu hidup di zaman apa sih Ge, sekarang anak-anak seperti Kun lebih cepat dewasa dengan segala perkembangan yang tak karuan, kamu pikir anak SD zaman sekarang gak tahu apa itu film porno? yang bener aja Ge, kamu kan wartawan." "Apa kamu bilang!" Sky mengangkat kedua tangannya menyuruh Gaya diam dan mendengarkan kelanjutan kata-katanya "Aku tidak mau anak-anakku menjadi bagian dari kegilaan itu, aku ingin Kun dan kedua saudaranya tumbuh layaknya anak-anak, dan itu berarti mereka tak boleh melecehkan perempuan." Sky sudah menduga Gaya pasti akan mengejeknya akibat ucapannya barusan "Okay i know, i'am a jerk, asshole, douchebag, penjahat kelamin, k*****t, bla..bla.." "Nah itu tahu, jadi jangan banyak alasan!" Sky memang berengsek, tapi bagaimanapun juga ia sekarang sedang berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik untuk anak-anaknya dan ia ingin Gaya menghormati hal itu. "Dengar Ge, seberapa burukpun aku di matamu, aku tidak peduli, tapi untuk anak-anakku, apapun itu akan kulakukan agar mereka bisa terhindar dari sifat jahat yang kau takutkan itu. Aku menyayangi mereka Ge, sangat." Sky berbalik dan tanpa pamit pergi meninggalkan Gaya yang terdiam di pintu rumahnya. ****************************************************** Suara dering ponselnya membuat Sky tersentak bangun, jam diatas nakas menunjukkan pukul 2 dinihari dan Sky baru terlelap 15 menit yang lalu, karena ia baru pulang dari luar kota mengecek venue untuk konser seorang musisi legendaris. Ia kesal dan langsung membentak si penelfon "lihat-lihat jam dong kalau nelfon, gue baru ma..." "Kontrakan Gaya kebakaran, Sky!" itu suara Troi. "APA!!" Yang Sky tahu, otaknya langsung bekerja cepat dan ia terjaga sepenuhnya. Ia meringis merasakan ada yang menumbuk hatinya dengan keras, jantungnya terpompa kuat dan rasanya ia ingin menangis. "Sid, Kun, Yuri..tunggu ayah." Ia berlari secepat yang ia bisa ketika menyambar kunci mobil dan melesat ke luar apartemennya, sambil terus berdoa agar Gaya dan anak-anaknya selamat dari kebakaran. Lalu lintas lengang, Sky memacu mobilnya seperti orang gila, ketika mendekati lokasi rumah Gaya, ia melihat asap hitam pekat membumbung tinggi ke udara, semakin ia mendekat, suara sirine pemadam kebakaran bersahut-sahutan di sekitarnya. Sky memarkir mobilnya sembarangan, keringat dingin mengalir dipelipisnya, ia cemas sekali memikirkan nasib anak-anaknya dan Gaya. Kontrakan Gaya terletak di kawasan padat penduduk. Rumahnya berderet berdesakan dengan kontrakan-kontrakan lain, akses masuk yang sempit ditambah banyaknya kerumunan massa membuat mobil pemadam kebakaran kesusahan untuk mencapai lokasi. Sky terus berlari dan mencari-cari, kepalanya pusing memikirkan hal-hal yang menakutkan yang dengan kurang ajar singgah di kepalanya. "Sky! hei Sky!" Ia mendapati Troi menuju kearahnya, abangnya itu tampak basah di bagian atas. "Mana mereka, mana!!" Sky mencengkram kaus Troi, tangannya gemetar. "Tenang, mereka selamat, sekarang mengungsi ke kantor lurah, sana!" Sky tak sempat mengucapkan terimakasih kepada kakaknya, dan ia juga tak tahu kenapa Troi ada di lokasi kebakaran, yang ia pedulikan sekarang adalah ketiga putranya dan Gaya. Sesampainya di kantor lurah, Sky menyisir satu persatu wajah, sampai ia menemukan 4 orang yang paling disayanginya tengah berpelukan di sudut ruangan. Dengan berselimutkan pasmina, Gaya menyelimuti Yuri yang menggigil kedinginan. "Ge?" hati Sky ditonjok godam raksasa ketika melihat pemandangan menyedihkan dihadapannya. Gaya yang tampak kotor terkena debu dan jelaga, Kun dan Sid yang terlihat pucat, lalu Yuri yang ternyata sedang menangis dipelukan ibunya. Melihat Sky datang, Kun langsung menubruk ayahnya dan mulai terisak, Sky mendekap sang buah hati dan memberikan semua kehangatan yang ia punya. Sidney datang dan mencengkram lengannya, bocah itu tidak menangis tapi gemetar ketakutan. "Darimana aja, kenapa baru datang." Sid menunduk dan Sky bisa merasakan lengannya sakit akibat cengkraman Sid yang semakin kuat. "Maaf." Hanya itu yang bisa diucapkan Sky, tangisan Kun semakin kencang didadanya. Mereka butuh Sky, Gaya sendiri ternyata tak cukup untuk mereka bertiga. Kedua tangan Gaya tak terlalu kokoh melindungi ketiga putranya, ketika Sky datang, Sid, Kun dan Yuri punya alternatif kedua untuk mencari rasa aman. Kedua lengan Sky serasa mau copot, karena Kun dan Sid mendominasi otot-ototnya, namun Sky tak ingin merampas rasa aman itu dari keduanya, biarlah lengannya patah, asal ketakutan yang dirasakan anak-anaknya bisa terbang menjauh. "Apa ada yang bisa kau selamatkan?" Gaya menatap Sky, mata perempuan itu berkaca-kaca, tapi ia menolak untuk menangis, ia tak ingin menambah rasa trauma anak-anak mereka. "Tidak, hanya mereka." Sky mengangguk "ayo pulang!" Gaya memandang Sky bingung "kemana?" "Ke apartemenku, kalian tinggal disana mulai sekarang." "Tapi.." "Lihat anak-anak Ge, mereka letih dan ketakutan, apa kau bisa meredam egomu dulu dan biarkan mereka beristirahat?" Gaya menutup matanya sebentar, tapi tak ada hal yang kunjung bisa dipikirkannya sekarang, Sky benar anak-anaknya butuh tempat untuk berbaring malam ini, dan satu-satunya orang yang bisa menawarkan hal itu hanyalah Sky, ayah anak-anaknya. Mereka meninggalkan kantor yang sudah disesaki warga yang masih syok dengan kebakaran yang menghanguskan puluhan rumah itu. Sky mengendong Kun yang tertidur, begitupun Yuri dalam pelukan Gaya, Sid masih memegang lengan bapaknya dan berjalan dalam kebisuan. Anak beranak itu meninggalkan puing rumah Gaya dan seluruh isinya yang ludes dimakan api. Matahari menerobos memasuki kamar Sky yang yang luas. Laki-laki itu terbangun dan menyadari ada sesosok kecil yang tertidur didadanya. Tangan Sidney tergolek lemah di kerah kausnya, sepertinya sejak semalam anak itu menolak untuk melepaskan Sky. Dengan pelan, Sky mengusap wajah putranya dan mengecup kening Sid dengan lembut. Dan suatu hal luar biasa terjadi, Sky merasakan nafasnya sesak dan mengalirkan rasa haru ke jantungnya, air mata mulai menggenang. Inilah pertama kalinya ia melakukan kontak fisik dengan anak kandungnya, memeluk tubuh dan mengecup keningnya. Dan Sky merasa ia sangat bahagia sekali. Lama ia memandangi Sid yang pulas. Wajah putra sulungnya itu tenang dan rupawan seperti malaikat. Hati Sky diliputi rasa haru yang luar biasa, tak satupun anak-anaknya yang kurang, mereka sempurna dimata Sky. Sky menjauhkan diri dari belitan lengan Sid, ia bangkit dan melihat Gaya, Kun dan Yuri yang menghuni ranjangnya yang luas. Tadi malam mereka tak lagi meributkan pengaturan tempat tidur, Sky merebahkan diri diatas kasur lipat yang dibentangkan di bawah dengan Sid sebagai partner tidurnya. Kun terlihat lucu dalam tidurnya, ternyata pipinya agak tembam, mungkin karena kebanyakan makan. Matanya sedikit terbuka, itu tandanya ia memang berbakat nakal. Sky tertawa dan mengecup pipi Kun, lalu perhatiannya tertuju kepada Yuri yang tidur tengkurap, Sky membalikkan badan anaknya dan Yuri langsung protes, mulutnya mengeluarkan suara-suara tak jelas, lalu ia menghantamkan kakinya ke perut Gaya yang berbaring disebelahnya, dan tidur lagi. Sky berusaha menahan tawanya yang hampir tersembur, melihat Gaya tak sedikitpun bereaksi akibat tendangan jurus memutar milik Yuri. Bibirnya masih tersenyum ketika memandangi Gaya, Sky memiringkan kepalanya dan memperhatikan wanita itu lamat-lamat. Mukanya bundar, lucu kayak dorayaki, hidungnya kecil dan kelihatan mancung dari samping, bibirnya tipis, alis matanya tak dirajah, dibiarkan sealami sejak ia diberikan Tuhan sebuah rupa, secara keseluruhan Gaya enak dipandang, kalau perempuan itu tak menekuk mukanya setiap berjumpa dengan Sky, mungkin ia akan betah berlama-lama memandang wajah Gaya disaat wanita itu bangun, bukannya diam-diam seperti ini. Lalu tatapannya meluncur kebawah. Kaus gombrong Gaya tak bisa membuat Sky berhenti mengagumi dua tonjolan di dadanya. Sky mencoba mengingat sebuah kenangan sepuluh tahun yang lalu dan tanpa sadar kedua telapak tangannya bergerak-gerak, sesekali membuat gerakan meremas-remas, seperti pawang hujan salah prediksi. "Hmm..cup D kayaknya, pasti" Sky bergumam sendiri sambil terus meneliti p******a Gaya yang semakin tercetak sempurna karena wanita itu tidur menyamping menghadap kearahnya. "s**t!" ia mengumpat, dalam otaknya ia mulai menghitung sudah berapa lamanya ia tak menyentuh perempuan, satu bulan yang lalu pastinya. What!! satu bulan!! lebih dua hari lagi ia akan mendaftar menjadi biksu di kuilnya Chinmi Kungfu Boy. Sky memandang adik kecilnya yang kedinginan di balik celananya, sudah 30 hari lamanya Sky belum mendapatkan kehangatan. "Lama-lama gue bisa impoten nih!" ia menggerutu dan berjalan menuju kamar mandi, mana tahu dengan sedikit jerking off di pagi hari bisa sedikit mengurangi pusing di kepalanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN