Two Weeks Before Married.
Gaya tahu persis kapan ia merasakan perasaan mendalam terhadap Kivlan Skylar, waktu pertama kali mereka bertemu, awal perkuliahan 4 tahun yang lalu. Ia sudah terlambat mengikuti kelas pertama karena pagi-pagi ia harus mengantar ayahnya ke terminal bus yang akan berangkat ke Sumedang. Tubuhnya yang besar dipaksa berlari secepat yang ia mampu, bunyi langkah kakinya bergema di sepanjang koridor, ranselnya yang besar berayun-ayun di belakang, tiga wadah plastik besar dipegangnya erat agar tak terjatuh dan menumpahkan seluruh isinya.
"Anjing gue terlambat!" Sebuah suara dan disusul tabrakan keras di sisi bahunya, membuat Gaya limbung dan akhirnya terjatuh, untunglah wadah plastiknya tertutup erat, kalau tidak semua risolesnya takkan layak jual hari itu.
Cowok yang menabraknya bahkan tak susah-susah meminta maaf, dia hanya melirik sebentar dan terus berlari menuju ruang kelas, Gaya merutuk dan merangkak memungut wadahnya.
"Woi hati-hati dong!" Lalu ada suara lagi yang berteriak kepada orang yang menabraknya tadi, sesosok besar membungkuk membantu mengumpulkan tempat risoles miliknya, ketika Gaya melihat siapa dia, Gaya terkesiap.
Ia belum pernah melihat pemuda setampan dia.
Ia belum pernah melihat pemuda sejangkung dia.
Ia belum pernah bertemu pria yang sebaik dia.
Ia baru menyadari kalau rambut ikalnya yang berantakan sangatlah seksi.
"Kau oke?" Ketika cowok itu menatapnya, Gaya cepat-cepat menunduk dan menurunkan topinya lebih dalam. Ia belum pernah bertemu laki-laki itu, ia tak pernah melihatnya sewaktu Ospek, atau mungkin saja pria itu adalah seorang senior yang tak dikenalinya.
"Oke, thanks ya." Gaya memaki dirinya sendiri karena hanya mampu mengucapkan kata-kata tersebut. Tapi mau bagaimana lagi, lidahnya kelu.
Didengarnya pemuda itu tertawa pelan. "Kau tahu? jika kau menyembunyikan wajahmu terus, pria yang akan dijodohkan Tuhan untukmu akan kesusahan mencarimu, kau tak mau kan, pria itu nyasar dan lebih memilih perempuan lain?"
Setelah menyusun tiga wadahnya dengan rapi, cowok tampan itu bangkit dan berjalan menjauhinya. Gaya mendongak dan melihat punggung tegapnya menjauh, di koridor sepi, dan dipagi hari yang cerah, Gaya jatuh cinta dengan seorang pangeran.
Pangeran yang sama dan saat ini pulas disampingnya, tak berpakaian dan tampak damai. Kivlan Skylar-lah yang semalam bercinta dengannya, yang mengambil keperawanannya, yang berkali-kali menariknya menuju surga. Dalam hati gaya menghitung berapa kali dalam semalam mereka bercinta. Ia memejamkan matanya rapat-rapat ketika ia berhenti di jari ketiga, karena untuk melanjutkan ke jari keempat rasanya ia sudah tak sanggup menahan rasa malunya walaupun tidak seorangpun yang menyaksikan tingkah anehnya.
Pria itu tidur menelungkup, sebagian wajahnya tertutup lengannya yang kekar. Alisnya melengkung tajam, hidungnya sempurnya, otot-ototnya liat dengan kulit coklat terang. Dalam hatinya, Gaya mengira-ngira sudah berapa banyak jemari yang menelusuri semua keindahan maha karya sang Pencipta itu.
Semuanya seperti mimpi dan mimpi terbaik seumur hidupnya, bercinta dengan laki-laki yang diam-diam she gives her heart for, yang ia tahu walaupun pria itu b******k tapi tak mengurangi sedikitpun perasaannya. Anggap Gaya bodoh, tapi apapun yang terjadi semalam, ia takkan pernah menyesalinya, dan pagi ini Gaya ingin merekam wajah Sky yang tertidur dan menyimpannya di setiap saraf yang ia punya.
"Apa aku setampan itu?" Satu matanya terbuka, satu senyum menyusulnya.
Gaya gelagapan karena ketahuan mengintip, cepat-cepat ditariknya selimut untuk menutupi tubuh besarnya, ia tak ingin Sky melihat semua lemak itu.
"Kenapa? aku kan sudah melihatnya semalam?" Pemuda itu tertawa melihat tingkah Gaya yang t***l.
"Semalam lampu nggak nyala."
"Nggak juga, pas kamu tidur, aku nyalain."
What? jadi..jadi..Sky sudah melihatnya naked?
Disaat Gaya panik, Sky dengan santainya turun dari ranjang dan dengan bertelanjang bulat mengitari kamar mencari pakaiannya. Gaya disuguhi pemandangan paling eksotis yang pernah dilihatnya, p****t bulat Sky tepat di depan matanya dan hal itu lebih indah daripada sunrise yang kau saksikan dari puncak gunung atau di tepi pantai atau di atas gedung atau...SHIT!
"Ayo Emma, kita pulang, nanti orangtua cemas dirumah, hehehe..."
Sky sudah menghilang ke balik pintu, Gaya masih duduk dengan mulut ternganga, ia tak bisa mencerna dengan baik. Lama kemudian...
WHAT DID HE JUST CALL ME??
WHO THE f**k IS EMMA?????
******************************************************
Sudah lama sejak peristiwa itu berlalu, ia tak pernah lagi bertemu dengan Sky. Gaya sendiri sibuk dengan urusan pernikahannya. Hari tak lagi mengulang ucapannya mengenai sesuatu yang bekaitan dengan "cinta" dan "suka" lagi, mereka berbaikan dan mencoba untuk tak terlalu banyak mengungkit hal-hal yang berhubungan dengan Laras dan kenyataan tentang isi Hari yang sebenarnya.
Suatu hari pada pukul delapan pagi Gaya merasa ada yang salah dengan perutnya, dengan setengah berlari, ia menuju kamar mandi dan memuntahkan isi lambungnya yang ternyata hanya berisi sedikit cairan, namun rasa mual itu masih dirasakannya.
Kemudian, ide itu terlintas begitu saja, Gaya kembali kekamar dan memeriksa kalender datang bulannya, ia sudah beberapa hari telat menstruasi. Gaya menangis satu jam lamanya, dan tepat pukul sembilan, ia memacu vespanya ke kota sebelah, ia tak ingin orang-orang disekitarnya tahu kalau Gaya membeli testpack jika ia nekat membelinya di apotik di depan rumah.
Dengan tangan gemetar dan menahan tangis, dua tanda merah yang tertera di alat bewarna putih sudah cukup menyampaikan sebuah hal, bahwa,
Gayatri hamil.
***************************************************
Gaya menunggu dengan gelisah di depan sebuah kantor advertising ternama di Jakarta, ia mencari tahu tempat kerja Sky dari Lala yang ternyata lebih hebat dari wartawan gosip sekalipun. Sky datang menemuinya setelah lima belas menit menunggu. Pria itu tampak heran ketika melihatnya, keningnya berkerut, sikap tubuhnya tampak kaku.
"Ya, ada apa?"
"I'm pregnant."
"Yah?" laki-laki di depannya kaget.
"Aku hamil."
"Ya, ya, gue ngerti bahasa inggris, terus?"
"Maksud kamu?"
"Ha..lu hamil, terus lu mau apa? tunggu, udah berapa lama?"
"Lima minggu."
"Mmmm...lima minggu lalu sama siapa ya?"
"Jadi?"
"Sandra, Puti...mmm..Gwen, arrghh!!"
"Jadi kita musti bagaimana?"
"Lu mual?"
"Belum." Bohong, ia tak berhenti muntah sejak tadi.
"Oke."
"APA ITU OKE!!!"
"Hah...i see."
"................"
"..............."
"..................................................."
"WHO ARE YOU?"
"gh@#hkl&lj*kkn%vhN#vhjjnlhcj............................."
*****************************************************************
Ia tak tahu mau kemana lagi. Gaya tak ingin pulang, ia tak mau bertemu siapapun, ia takut bertemu Hari, tak tahu harus mengatakan apa kepada pria baik itu. Apa yang akan dikatakan Hari, jika tahu calon istrinya hamil oleh pria lain. Gaya benar-benar kacau, ia yang bodoh tak pernah berpikir kalau hubungan seks tanpa pengaman itu bisa menyebabkan kehamilan.
Dan sekarang satu-satunya orang yang mampu menolongnya mencari jalan keluar justru lupa dengan dirinya. Sky dengan gayanya yang santai tak mengenali Gaya, bahkan setelah itu, ia pergi begitu saja dan masuk ke dalam kantornya dan meninggalkan Gaya seperti wanita t***l.
FUCK YOU SKY!
Setelah puas berkeliling sambil mengumpat dan memaki, Gaya memarkir vespanya disebuah mall. Pandangannya tak fokus, otaknya hampa, ia berjalan mengelilingi mall seperti zombie yang buta arah, ia mengikuti arah kakinya melangkah. Lampu kerlap kerlip dari arah Timezone menyihirnya, berbagai macam permainan memenuhi setiap ruang, karena hari itu adalah hari kerja, hanya ada beberapa orang tua dan anak-anak mereka di dalam ruangan yang dibuat agak sedikit gelap itu.
Gadis itu membeli segenggam koin dan mencoba beberapa permainan. Godzilla Wars, Stomp Fest, Zoo Keeper, Grazy Fish, Lucky Chance dan Drum Kid. Perempuan itu memainkan semuanya dengan brutal, ia menembaki ikan yang berbaris rapi seperti parade tentara di Grazy Fish layaknya Rambo yang sedang mengamuk.
"Mati lo ikaaaan, nih gue kasih peluru pelet!!"
Anak berusia TK di sebelahnya gemetar ketakutan melihat si jumbo Rambo yang kesurupan jin putih hutan sss. Gaya hampir menaiki mini carrousel yang terletak ditengah-tengah ruangan, tapi niatnya tak terlaksanakan, ada perempuan berjilbab yang mendelik kearahnya, anaknya yang balita memandang sang gajah yang ingin naik kuda poni dengan pandangan heran.
Di Zoo Keeper, Gaya melempari buaya hijau dengan lemparan sekuat tenaga. Gaya tidak memasukkan bolanya kedalam mulut, tapi melempari muka si buaya yang tak berhenti menyeringai.
"Buaya k*****t, sana ke neraka!! BB looo...buaya b******n!!!!!" Gaya berteriak, pengunjung lain langsung menutup kuping anak-anaknya, ada perempuan gila barbar yang baru keluar dari penangkaran dan meracau dengan bahasa dari zaman batu.
Pernah memainkan Drum Kid? itu lho, kau harus memukul drum mungil di depanmu jika kau ingin menyingkirkan kera bodoh bertopi aneh yang turun beramai-ramai di dalam layar dan Gaya bersemangat sekali, ia terus memukul dengan kencang, semua binantang yang mencoba keluar dari sarangnya langsung tewas dihajar Gaya.
"Monyet! monyet lo! sana matiii!!!! rasain kutukan gue, mati!! matiiiiiiii.........!!! huaaaaaaaa...."
Gaya menangis sambil terus memukul drum, anak kecil disebelahnya juga ikut-ikutan menangis "Huaaaaaaa...mama..tantenya nakutin...aaaaaa.."
Akhirnya satu Timezone dibuat ribut oleh tangisan anak-anak, Gaya diusir oleh tiga security sekaligus.
*********************************************
Hari mencengkram lengannya kuat-kuat, menolak melepaskan Gaya yang sudah setengah jalan menuju halaman depan rumahnya.
"Jangan pergi, jangan pergi, ayo kita menikah hari ini, aku akan jadi ayah dari anakmu."
Gaya menangis, tapi tak ada suara yang keluar dari mulutnya, justru Lala-lah yang menangis terisak-isak menyaksikan Gaya dan Hari yang sama-sama kuat memegang keputusannya masing-masing. Ia sudah memutuskan untuk pergi ke Sukabumi, kerumah orangtua Lala. Perempuan itu akan menghabiskan masa kehamilannya disana, dan akan meninggalkan Jakarta untuk sementara serta membatalkan pernikahannya dengan Hari.
Sedangkan Hari bersikeras tak mau peduli dengan kehamilan Gaya, ia hanya ingin sesegera mungkin menikah dan menerima semuanya dengan ikhlas.
"Sudah tidak ada gunanya, Ri, aku sudah mengkhianatimu."
"Tidak."
"Lepas, Ri, nanti kami ketinggalan bus."
"Tidak."
"HARI!!"
"TIDAK!! AKU TAKKAN MEMBIARKANMU PERGI!!"
Gaya berbalik dan mendapati Hari sudah berurai air mata, perasaan bersalahnya semakin bertambah, Gaya merasa seperti b******n sekarang, menyakiti pria paling baik yang pernah dikenalnya dan ia takkan sanggup memaafkan dirinya sendiri jika sampai Hari semakin terluka oleh dirinya.
"Aku mencintaimu Gaya, aku menyayangimu, dari dulu, bahkan ketika Laras masih ada."
"Jangan katakan itu, STOP!!"
"Tidak! kau yang harus mendengarkanku!! perasaanku tak pernah berubah untukmu, aku selalu mencintaimu Gayatri, sekarang ayo kita menikah. Anak itu akan menjadi anakku, aku ayahnya, tak peduli siapa laki-laki yang sudah menghamilimu!"
"Ini tidak adil untukmu, Ri, aku tak mencintaimu!"
"Aku tidak peduli!" laki-laki itu memeluknya, tangis Gaya teredam di bahu Hari yang gemetar.
Pernikahan antara Hari dan dirinya tidak akan pernah terjadi, sedari awal ini semua hanya keegoisan Gaya semata. Ia tidak mencintai Hari dan tak yakin bisa. Hari pantas mendapatkan gadis baik, gadis yang bisa mencintai dengan setulus hati, bukan Gaya yang sudah ternoda.
Gaya melepaskan pelukan Hari yang melonggar dengan sendirinya. Wajahnya tertunduk, air mata masih mengalir di pipi laki-laki itu, tapi ia tak mencegah Gaya sedikitpun, ia membiarkan gadis itu pergi.
"Maafkan aku, maaf Ri."
Gaya berjalan dengan langkah tersuruk-suruk, wajahnya basah oleh air mata. Disampingnya Lala berjalan memegang tangannya sedangkan satu tangannya yang lain menenteng tas yang berisi pakaian Gaya.
Gayatri tidak lagi menoleh kebelakang, karena tak sanggup melihat wajah Hari untuk terakhir kalinya.
*************************************************************