10 Years Later
Setelah pertemuan tak terduga dengan Gaya dan ketiga putranya, Sky tak dapat tidur sesampainya di rumah. Selain selangkangannya masih sakit, kepalanya juga pusing oleh pikiran-pikiran yang berebutan masuk. Berawal di Il Cielo, ketika ia bertemu lagi dengan Kinan Gayatri, teman lamanya sewaktu di perguruan tinggi. Perempuan yang dikenalnya pemalu itu sudah banyak berubah, tidak lagi menyembunyikan wajahnya dengan topi, tak lagi penggugup dan canggung. Sky menemukan Gayatri yang baru, yang tegas, mandiri dan berani menantang matanya ketika berbicara, dan entah kenapa, justru Sky-lah yang tiba-tiba jadi mati langkah oleh sikap Gaya.
Setelah pertemuan pertama, ia semakin sering memikirkan wanita itu, bahkan ia berharap banyak agar bertemu lagi dengan Gaya disaat reuni angkatan mereka di C-Plan, tapi harapannya tak terkabul, Gaya tak ditemukannya dimana-mana.
Lalu, s**t!! ia justru menemukan Gaya sepaket dengan kembar tiga yang sangat mirip dengan dirinya. Kembar tiga yang diyakininya adalah anak-anak kandungnya, berasal dari benih dan darahnya. Peristiwa sepuluh tahun lalu di pesta Hannah, dan Gaya yang datang kekantornya meminta pertanggungjawaban Sky yang tak dilupakannya begitu saja.
Ketika melihat ketiga putranya, Sky serasa lupa bagaimana caranya bernapas. Mereka menakjubkan, tampan, sehat dan tak kekurangan apapun, mereka luar biasa dan hal seajaib itu sudah dibuang Sky sepuluh tahun lamanya. Skylar bukan laki-laki cengeng, ia jarang menangis, tapi malam itu air mata tak mau berhenti mengalir dari kedua matanya, ia sungguh menyesal.
*************************************************************
"You have a kid? sorry...KIDS??"
Sky mengangguk, suara Troi yang menggelegar membuatnya berjengit.
"Triplet? tiga? wow..." Edgar geleng-geleng kepala. Ia menatap Sky yang duduk di depannya tak percaya.
Hari ini di sebuah kedai kopi langganan mereka berempat, Sky meminta ketiga saudaranya untuk datang. Ia tak menemukan satupun jalan keluar dari masalahnya sejak malam tadi, otak dikepalanya sudah panas dan siap-siap meledak karena tak berhenti bekerja. Ia butuh solusi, dan Troi, Ed, Nino adalah hal terbaik yang dimilikinya.
"Dimana mereka sekarang?" Nino mendesah dan memegang lengan abangnya.
"Dengan ibu mereka?"
"Apakah kami mengenal perempuan ini?" Troi masih dengan nada yang sama, dipenuhi amarah.
"No."
Troi berdecak. "Sudah kuduga, kau mengencani semua perempuan bodoh dimuka bumi ini, bagaimana kami akan tahu siapa saja mereka."
"Troi, please." Edgar memperingatkan abang sulungnya, ia sudah cukup kasihan melihat Sky yang sedari tadi tampak semakin merana dengan kekesalan Troi
"Lihat hasil yang kau perbuat, menelantarkan anak-anakmu sendiri. Aku baru tahu kau begitu pengecutnya."
"Troi!" Edgar kaget dengan kata-kata Troi yang kasar.
"What? aku mengatakan yang sebenarnya, cuma laki-laki yang tak bertanggung jawab yang menelantarkan buah hatinya sendiri."
Nino bersuara, ia masih bisa menerima keadaan Sky, beda dengan Troi yang sudah dikuasai amarah. "Apa anak-anak itu tahu kau adalah ayah mereka?"
"No, not yet."
Brak!
Troi menggebrak meja.
"Apa kau tak belajar dari pengalaman kita Sky? apa kau tak ingat dengan apa yang pernah terjadi dengan kita. Dulu Adam tak tahu kalau ia punya anak, tapi tetap saja kita tak mudah memaafkannya. Sekarang kau jelas-jelas tahu ada perempuan yang mengandung anakmu, tapi kau malah lari dari tanggungjawab, apa kau berharap mereka akan menerimamu sebagai ayah mereka, sungguh Sky, apa benar kau adikku?!"
"I'm sorry." Sky tak bisa membantah satupun ucapan Troi, abangnya benar, selalu benar. Ia sudah bersikap pengecut karena sudah menelantarkan putra-putranya selama sepuluh tahun.
"Minta maaflah kepada perempuan itu dan anak-anakmu, jika mereka tak mau, berharap saja agar Tuhan masih mau mengasihinimu!!"
Troi pergi meninggalkan ketiga adiknya, laki-laki itu kesal bukan main.
Sky semakin terbenam di kursinya, mukanya merah menahan tangis dan rasa sesal. Kalau Troi bisa semarah itu padanya, bagaimana dengan kedua orangtuanya, apa yang harus dikatakan Sky kepada Adam dan Eva.
"Temui mereka Sky sebelum semuanya terlambat." Ed menepuk bahu Sky, memberikan saran terbaik yang ia punya.
Nino mengangguk, karena cuma itu satu-satunya jalan yang bisa ditempuh Kakaknya.
*****************************************************************
Dengan berbekal petunjuk dari Maha, kini Sky sudah berada di depan pintu kontrakan Gaya. Rumah itu kecil dan mungil, hati Sky serasa ditinju, ia ingat masa kecilnya dulu yang serba kekurangan, sekarang ia membiarkan hal itu terjadi pada anak-anaknya.
"Ya? sebentar." Terdengar suara dari dalam, suara anak kecil, jantung Sky sudah mulai berdetak kencang.
Pintu terkuak, satu anaknya menatap Sky dengan pandangan ragu.
"Siapa?"
Bocah itu tampan, wajahnya sendu tapi kelihatan cerdas.
"Mamamu ada?" Sky gugup, ini kali pertama ia berbicara langsung dengan sang buah hati.
"Bunda? nggak tuh, kan kerja, Om siapa?" Anak itu mengucapkan setiap kalimatnya dengan nada yang lambat, seolah ia takut cedera jika berbicara terlalu cepat.
"Namamu siapa?"
"Yuri"
Yuri? nama yang bagus. Sky menyukainya.
"Adik-adikmu yang lain kemana?"
"Aku nggak punya adik, abangku dua." Oh, Sky baru bertemu dengan putra bungsunya.
"Oh ya, siapa nama mereka?"
"Siapa tuh?"
Yuri belum sempat menjawab, ketika satu lagi kepala menyembul dari balik pintu, kali ini adalah Yuri dalam versi cepat dan ringkas.
"Nggak tahu." Yuri mengangkat kedua bahunya.
Si kedua memandangi Sky sebentar, lalu menyeringai. "Ahh..si keriting. Lu bego ya Ri, ini si Oom keriting yang gangguin emak di C-Plan, lo nggak inget apa?!"
"Oh..yang kau tendang tititnya? dia Kun, abangku yang nomor dua."
"Yep..it's me! Kun! apa tititnya masih sakit, ting? syukurlah." Seringai Kun semakin lebar, Sky mengerutkan keningnya, Kun benar-benar adalah dirinya, nakal dan kurang ajar.
"Siapa Kun?" Yang ketiga datang dan memasang tampang curiga di wajahnya. Ia tak menyukai Sky.
"Ini Om-om m***m yang kemaren gangguin emak, yang ini Sid, Sidney, abangku dan abangnya." Kun menepuk bahu Sid dan menyenggol Yuri.
"Ngapain kesini?" Sidney tampak tak peduli dengan lagak Kun yang sok, ia masih memandang Sky dengan tatapan tak suka.
"Aku mencari mamamu." Sky gugup bukan main, aura putra sulungnya mirip Troi, mengerikan.
"Nggak ada, sana!"
Sky diusir anak berumur sembilan tahun.
Brakk!!
Daun pintu berayun tertutup tepat di hidung Sky.
Laki-laki itu mengumpat pelan, lalu pintu diketuknya lagi, ia belum selesai dengan mereka.
"Apa lagi?" wajah kesal Sid yang kini menyambutnya.
"Boleh aku masuk?"
"Lo pikir ini terminal, boleh masuk sembarangan."
"Aku ingin menunggu mamamu di dalam." Ia takkan kalah dengan putranya sendiri, Sky takkan lari dari arena pertarungan.
"Biarin, Bang. Om punya duit berapa?" Yuri muncul dibelakang abangnya.
Dan ia tadi menanyakan apa, duit? for what?
"Buat apa?"
"Katanya Om mau masuk, anggap saja ini Dufan, Om harus beli tiket dulu biar bisa masuk." Tangan mungil Yuri terjulur kedepan.
Sky yang bodoh, menyerahkan selembar 100 ribuan ke tangan Yuri yang mengangguk dan menilai uang yang diberikan Sky.
"Masuklah, tapi duduknya dilantai yah, karena uang Om cuma cukup untuk air putih, kalau mau sirop dan kue, berarti ada biaya tambahan."
WHAT? sejak kapan bertamu kerumah orang dikenakan biaya masuk dan makan?
"Wow, lu emang jenius Ri, kereeennn.." Kun berusaha mengambil uang itu dari tangan Yuri, tapi adiknya itu dengan lihai menyelipkan lembaran tersebut ke dalam kancutnya.
Celana dalam??
Sky semakin syok.
Ketiga putranya berdiri berjajar didepan Sky yang duduk menyender kedinding. Kontrakan Gaya kecil sekali, ruang tamunya kosong, tak ada kursi, yang ada hanya meja bundar berukuran sedang, TV dan rak buku. Kamar tidur ada dua, lalu bagian belakang yang ditebak Sky adalah dapur dan kamar mandi, persis kontrakannya dulu, sebelum Adam datang dan menikahi ibunya.
Hidup seperti ini yang dijalani Gaya dan anak-anak mereka, dan Sky tak ada untuk mereka selama ini. Laki-laki itu malah hidup enak di apartemen mewah, mengendarai mobil mahal, dan setiap malam selalu membawa wanita yang berbeda ke atas ranjangnya.
Tak ada manusia yang lebih kejam daripada dirinya di atas dunia ini.
Pandangan Sky beralih ke arah triplet yang juga sedang menatapnya.
Sidney berbaju kaus hitam dengan gambar Pat Morita, pemeran Mr.Miyagi dalam film legendaris Karate Kid. Berambut ikal, mukanya serius. Tubuhnya tegap dengan sikap yang selalu siap jika ada yang berani menantangnya berkelahi.
Kun, berbaju merah dengan gambar buaya menganga dan bertuliskan May Bite When Hungry. Berambut ikal, raut wajahnya santai dan mencemooh, ia pasti nakal sekali.
Yuri berbaju hijau kusam dengan gambar dolar bertumpuk di dadanya. Sedari tadi selalu menelengkan kepalanya ke samping kiri, mungkin engsel lehernya lupa dilumasi. Berambut ikal, berwajah murung dan tampaknya mata duitan.
And...they are my sons.
Sky bersorak di dalam hati. Tak terbantahkan lagi kalau triplet yang berdiri didepannya adalah anak-anaknya, ia yakin sekali, seyakin Monica Lewinsky benar-benar selingkuhan Bill Clinton. s**t, sekali bertemu Sky sudah bisa menebak seperti apa karakter anak-anaknya dengan begitu mudah. Inikah yang disebut dengan pertalian darah?
"Apa aku boleh menumpang ke toilet kalian?"
"Tentu, Yuri?" Kun mendorong Yuri yang dengan patuhnya melaksanakan perintah sang kakak.
Sky mengikuti Yuri dari belakang, tapi belum sempat ia menarik gagang pintu kamar mandi, Yuri menjulurkan tangannya.
"Karena Om orang asing, berarti bayar"
APA! UANG LAGI?
Sky tak percaya dengan sikap putra bungsunya, namun tak urung membuka dompet dan memberikan selembar uang lima ribuan.
"Lima ribu? dengan uang segini om hanya boleh pup setengah dan pipis seperempat, karena septic tank-nya kecil."
Sky tertawa resah lalu menghembuskan nafasnya, bagaimana caranya pup setengah, pipis seperempat? tapi ia tetap mengangsurkan satu lagi lembar lima ribuan ke tangan Yuri.
"Sekarang boleh, full tank kalau mau." Yuri beranjak dari depan pintu, mempersilahkan Sky menuntaskan hajatnya. Sky melihat Yuri memasukkan uang kebersihan yang tadi di berikannya ke dalam celana dalam si bocah.
Tak hanya cara bicaranya yang lambat, Yuri juga berjalan pelan dan hati-hati. Bocah itu meninggalkan Sky berdiri di depan kamar mandi dengan tatapan pasrah. Setelah selesai, ia kembali ke depan dan mendapati ketiga anaknya membentuk lingkaran dan berbisik-bisik, sepertinya sedang merencanakan sesuatu.
"Om mau apa kesini?" Sidney belum berhenti menginterogasinya.
"Mau ketemu ibu kalian?"
"Om temen mami?'
"Ya, dulu waktu kuliah."
Suara hati Sky ingin sekali mengatakan kepada mereka, bahwa ialah ayah Sid, Kun dan Yuri, tapi lidahnya seperti tak mau berkompromi..
"Teman kenapa main ke rumah, ketemu aja disekolah." Kun bertanya, mungkin kuliah itu sama seperti sekolah dasar untuknya.
"Kami sudah tak bersekolah lagi."
"Nama Om siapa?'
"Sky."
"kami juga Sky. Sidney, Kun, Yuri." Yuri menjelaskan tanpa diminta.
Sky terperanjat oleh satu lagi informasi berharga. Sidney, Kun dan Yuri diambil dari ketiga huruf namanya. Apa Gaya memikirkannya ketika memberikan mereka nama? Apakah ia boleh mengeluarkan tangis bahagia oleh kenyataan ini?
"Kenapa kau memasukkan uangmu k edalam celana dalam, Yuri?"
"Oh..bunda yang ngajarin. Bunda punya celana dalam yang ada saku kecilnya, tempat taroh uang jika bepergian jauh, untuk cadangan."
Butuh seribu tahun untuk mendengarkan perkataan Yuri sampai habis, tapi setelah anak itu berhenti bicara, Sky tak ingat lagi apa yang dikatakannya tadi. Padahal saku di celana dalam adalah hal yang paling menggelikan.
"Pengki!!" Kun berteriak.
Sky kaget, "Apa? kau barusan bilang apa, Kun?"
"Pengki itu sama dengan cool or awesome buat Kun, iya kan Kuntjoro??" Sidney terbahak ketika melihat muka Kun berubah merah karena marah. Sid baru menyinggung egonya dengan menambahkan nama Kun menjadi Kuntjoro.
"Shut up! my name is Kun, just Kun, you hear that, s**t?!"
"It's Sid, with D, not s**t!!!"
Lalu keduanya mulai saling tendang dan pukul. Sky langsung menarik kerah belakang Kun dan dengan mudah mengangkat anak itu dan menjauhkannya dari sang kakak.
"Let me go! you curly head!" Anak-anaknya tinggi dan Kun bertubuh gempal, Sky agak kesusahan ketika menjinakkannya. Kaki Kun berusaha menendang Sky yang kali ini sudah mengantisipasi dengan kelitan halus.
"Calm down, son!"
"I'M NOT YOUR SON!!!"
Kali ini Kun melayangkan tinjunya ke lengan Sky yang langsung menangkap tangan si bocah yang hampir mengenainya. Putra keduanya sungguh berdarah panas dan gampang marah.
"CALM DOWN!!" Suara keras Sky membuat ketiganya terkejut. Kun menjauh dan menatap Sky kaget, Yuri merapat ke balik bahu Sid, sedangkan Sidney memandangnya tak percaya.
Fuck! ia baru saja membuat ketiganya ketakutan.
Suara pintu terbuka membuat keempatnya mengalihkan perhatian. Di depan pintu ada Gaya yang berdiri memandang mereka bergantian, lalu pandangannya terhenti pada Sky, suara perempuan itu dingin sekali.
"Ngapain lo disini?!"
*******************************************************************