Sky duduk bersila, kedua lengannya tersilang di d**a, di depannya ada Gaya yang menatapnya jijik. Rumah Gaya yang mungil semakin menciut oleh aura kebencian yang dilontarkan oleh keduanya. Kepala anak-anak mereka beradu di atas meja bundar, sesekali Kun memandang takut-takut kearah Gaya.
"Apa mereka anak-anakku?"
Gaya menggerakkan bibirnya tak bersuara "f**k you!"
Sky menutup matanya sejenak dan mengatur udara diparu-paru, mencari sebuah kedamaian agar kemarahannya tak muncul selama pembicaraan itu akan berlangsung.
"Mereka anak-anakku kan?"
"f**k you!" sekali lagi tanpa suara, matanya yang menyorot tajam, cukup memberikan bukti bahwa Gaya tak memiliki rasa kasihan terhadap Sky.
"Gaya? apa mereka putra-putraku?" kesabarannya makin menipis. "Just tell me, please..." Sky butuh sebuah jawaban, jawaban yang nanti akan mengubah hidupnya.
Gaya tak menjawab, kepedihan, penghinaan tergambar dimatanya yang semakin membulat marah. Bibirnya terkatup, bergetar.
"Ge?" Gaya tak suka Sky memanggilnya Ge.
"Kalaupun mereka benar anak-anakmu, semuanya takkan memperbaiki apapun, apa kau lupa kalau kau sendiri yang tidak ingin mengakui mereka?"
Perkataan Gaya membuat Sky menarik nafas, penyesalan membuat udara yang dihirupnya semakin berat, ya..10 tahun yang lalu ia memang menolak mereka, bahkan tak mengakui bahwa dirinyalah yang sudah membuat Gaya hamil.
"Bisakah kau memberikanku kesempatan kedua?" Kalau perlu ia akan berlutut dan memohon ampun di kaki mereka.
Gaya menggeleng, "bahkan Tuhanpun akan berpikir seribu kali untuk orang sepertimu Sky! mereka bertiga adalah anak-anakku, bukan milikmu, aku yang mengandung, membesarkan, memberi mereka makan dan menyekolahkan mereka. Aku! AKU! AKU!! do you hear me? AKU! kau bukan siapa-siapa mereka, sekarang pergi! jangan berani lagi kau datang kesini!! PERGI!"
Sky memutuskan untuk tak menghiraukan hardikan Gaya, ia tak suka bertele-tele, kalau bisa semuanya harus selesai hari ini juga.
"Justru itu, akulah ayah biologis mereka, jangan kau pikir aku tak punya hak apapun!"
"Diam! DNA tidak mempengaruhi kenyataan kalau kau memang tak berhak mengakui mereka!"
"Aku akan melakukan tes DNA secepatnya, jika bukti itu cukup, aku akan menggugatmu ke pengadilan!" itu hanya ancaman, Sky benar-benar tidak akan menggugat Gayatri, ia hanya ingin berbagi hak pengasuhan ketiga putranya dengan sang ibu.
Tiga anak bebek pergi kepasar, masuk sungai dan menghilang, ayah bebek memanggil...guk.. guk!!......hilang satu tinggal si kriting..!
Gaya dan Sky tak menghiraukan nyanyian Kun.
"Kau tahu apa masalahmu Ge, so much more drama in you!!! menyimpan dendam bertubi-tubi di dalam hatimu, kau sakit, kau tahu itu!!"
"Apa? aku sakit? justru kaulah yang bukan manusia, kau seperti kucing jantan kurap yang hobi tengkurap di selokan dan menyebar benihnya kemana-mana!!"
"Aku takkan terpancing dengan kata-katamu Ge, kau tak tahu siapa aku!"
"Oh ya, aku tahu kau siapa, kau b******n berengsek, k*****t nomor wahid, penjahat kelamin, itu kau, Sky!"
Tiga anak cacing pergi kehutan, kecebur rawa lalu menghilang, ayah cacing memanggil......nguik.....nguik!!............hilang satu tinggal si kriting
Nyanyian Kun semakin kacau, sekarang ia dan kedua saudaranya sedang menggambar sesuatu diatas kertas masing-masing.
"Penjahat kelamin itu apa, Mi?" Gaya yang sedang mati-matian mempertahankan kontak matanya dengan Sky, langsung gugup dengan pertanyaan Sidney.
"Oh..itu artinya..mmm..itu.." Rasanya ia ingin menembak kepalanya sendiri, karena sudah bertindak ceroboh dengan berkata-kata kasar dihadapan anak-anaknya yang masih dibawah umur.
"Artinya di tititmu ada lesernya Sid, iya kan mak?" Jawaban Kun hampir membuat Sky mati tercekik.
"Bagus sekali Ge, lihatlah apa yang kau perbuat, berbahasa tak pantas dihadapan mereka!"
"Diam Sky, jangan sok mengajariku tentang apa yang pantas ataupun tidak!!"
"Paling tidak salah satu dari kita harus dewasa dan menjadi contoh untuk mereka, agar kelak tak tersesat dalam berperilaku."
"What? mengajari mereka berperilaku? look who's talking here? kau baru belajar kepribadian dimana Sky? dihutan? siapa suhumu? kera hidung merah? kau LUCU sekali, Skylar!!"
Tiga anak kera pergi ke rawa, lagi pipis hilang tititnya, ayah kera memanggil..auo..auo..hilang satu tinggal si kriting..
"SHUT UP KUN!!"
Kun langsung terdiam, karena ditegur oleh ayah dan ibunya, nyanyiannya berubah menjadi bisikan.
Tiga anak babi pergi ke plaza, masuk toko langsung dimakan..ayah babi memanggil..miew..miew..hilang satu tinggal si kriting
Sky tak tahan lagi, ia terbahak-bahak mendengar plesetan lagu anak-anak hasil karya Kun, anak-anaknyaa sungguh ajaib sekali, aneh dan tidak biasa.
Gaya mencoba tak tertawa, ia memalingkan mukanya untuk menutupi seulas senyum yang terukir lebar. Kun secara tak sengaja mengakhiri ketegangan antara dirinya dan Sky.
"Mereka anak-anak hebat Ge, terimakasih sudah melahirkan dan membesarkan mereka."
Senyum Sky tulus sekali, senyuman yang dirindukan Gaya.
"No problem, harus ada yang berbuat kan?" Dan Tuhan memilihku untuk melakukan pekerjaan indah ini, membawa mereka ke atas dunia." Pandangan mata Gaya melembut ketika melihat ketiga putranya, apa jadinya jika mereka tak ada, Gaya mungkin tidak akan merasakan hidup sebahagia ini.
"Apa aku boleh menjadi ayah mereka?"
"Maksudmu?" Gaya menatap Sky bingung.
"Aku ingin mengasuh mereka juga, memberikan fasilitas dan penghidupan yang layak, membayar semua yang sudah kulewati sebagai seorang ayah."
"Kau tak ingin mengambil mereka dariku kan?"
"Tidak, aku hanya ingin berbagi hak asuh denganmu."
"Aku tidak sedang mengemis Sky, kalau kau merasa harus membayar hutang kepadaku, lupakan saja, aku sanggup membesarkan mereka seorang diri."
"Jangan keras kepala, aku sedang tidak berniat mengasihimu, aku hanya ingin mereka juga seperti anak-anak yang lain, punya orangtua lengkap."
"Sama saja, kita tidak menikah, hak waris mereka dibawah namaku, bahkan akte kelahiran merekapun tak ada namamu disana, untuk apa kau repot."
"Untuk terakhir kalinya Ge, mereka anak-anakku, bahkan jika mereka minta dibelikan bintang sekalipun, akan kuberikan untuk mereka."
Gaya terdiam, banyak hal dipikirannya sekarang, tentang apa yang menjadi prinsipnya, dan tentang Sky yang tiba-tiba meminta izin untuk menjadi bagian dari hidupnya dan anak-anak, Gaya tidak tahu harus berbuat apa lagi sekarang, ia bingung, suara hatinya saling sindir.
Melihat Gaya yang terdiam, membuat Sky berinisiatif untuk meminta izin kepada anak-anaknya secara langsung.
"Guys?"
Ketiga kepala itu serentak menoleh kearahnya dan membuat Sky agak grogi.
"Mmm.. apa aku boleh menjadi ayah kalian?"
Ketiganya terdiam, tak memberikan reaksi apapun. Sky dan Gaya menahan nafas menanti jawaban anak-anak atas permintaan Sky.
Kun mengacungkan telunjuknya dan menjadikannya horizontal lalu mulai menggorok lehernya sendiri, kemudian bocah itu berkata "You see i'm not like a boss, I'm The boss."
Melihat Kun yang seperti Don Corleone, Sky langsung melototi Gaya. "Kau membiarkan Kun menonton Godfather?"
"NO! aku bukan ibu jahat seperti yang kau sangka Sky!"
Sky tak percaya, tapi ia takkan memperpanjang soal film mafia paling terkenal itu."How 'bout you, Sid?"
"Nai..nai..over my dead body!" Sky langsung mengeluh, anak-anaknya kenapa? siapa yang mengajari hal-hal yang belum sepatutnya kepada mereka?
"Yuri?
Yuri yang sedari tadi tak menegakkan lehernya hanya menatap Sky dengan wajahnya yang merana, lalu ia mengambil spidol dan menuliskan sesuatu diatas kertas, setelah selesai ia memperlihatkannya ke khalayak ramai.
Kertas putih itu bertuliskan Rp di depan lalu disusul angka satu yang ditemani tujuh angka nol. Yuri ingin sepuluh juta.
Tawa Gaya langsung meledak.
Huahaha...................