Sky datang lagi keesokan harinya, pagi-pagi dengan dua tentengan di kedua tangan. Wajah Gaya yang kusut muncul dari balik pintu.
"Jam delapan dan kau baru bangun?"
"Jam delapan dan kau sudah bertamu?" Gaya membalas kesinisan Sky. Ini hari minggu dan dirinya berhak untuk mendapatkan jam tidur tambahan setelah enam hari membanting tulang, apalagi malam minggu adalah malam tersibuk dan terlama di C-Plan.
"Anak-anak?"
"Di dalam. Aku ingatkan Sky, ini rumahku, wilayahku dan aku tidak mau kau bertingkah seolah kau diterima disini, bertingkahlah seperti tamu, mengerti?" Melihat telunjuk Gaya yang menekan dadanya, Sky memikirkan hal lain, dan itu pastinya berhubungan dengan hal-hal dewasa.
"Terserah." Sky tak mendengarkan peringatan tuan ruma dan dengan santai ia masuk dan meletakkan bawaannya, ada Kun yang duduk dan menempelkan sebelah pipinya di atas meja, matanya terpejam. Sidney datang dari dalam kamar, rambutnya kusut, bertelanjang d**a dan tak suka melihat Sky. Yuri muncul dengan handuk dikepalanya, ia baru selesai mandi.
Gaya sudah tidak ada lagi, pintu kamarnya tertutup, sepertinya perempuan itu kembali melanjutkan tidur.
"Kenapa abangmu?"
Yuri memandang Sky lalu meneliti Kun. "Om tahu bagaimana cara mengetahui nanas yang baik?"
Nanas? ada apa dengan nanas pagi-pagi begini?
"Tida." Sky penasaran.
"Tarik aja daun keras bagian tengah diatas kepala nanas, jika daun itu bisa ditarik dengan mudah, berarti nanasnya segar." Kun menatap Sky dengan matanya yang sayu.
"Apa hubungan nanas dan abangmu?"
"Om bisa lakukan hal yang sama." Yuri memandang Kun lambat-lambat, lalu ia beranjak ke kamarnya dan meninggalkan Sky yang kebingungan.
Hmmm tarik ya?
Sky mengambil sejumput rambut Kun bagian atas dan menariknya pelan, Kun langsung terlonjak bangun.
"Apa!" Mata bocah itu liar mencari-cari, setelah mendapati Sky cengengesan Kun memberikan ayahnya sebuah kepalan tangan.
Sky mengacak rambut ikal Kun. "Kau masih hidup ternyata."
Kun masih marah karena rambutnya dijambak, akibatnya bubur ayam jatah Gaya diembatnya juga, bahkan ia meminta Yuri untuk hanya memakan setengah buburnya biar nanti Kun yang menghabiskan setengahnya lagi.
Bunyi ketukan di pintu menengahi pertengkaran Sid dan Kun yang berebut sisa bubur Yuri, Sky yang akhirnya membukakan pintu.
Seorang laki-laki muda, kurus, pendek, berkulit terang, berambut pendek, berkacamata dan tampaknya habis pulang nyantri tampak kaget ketika mendapati wajah preman Sky dari balik pintu rumah Gaya.
"Gayatri ada?"
"Siapa kau?" Padahal pria itu dua kepala lebih pendek dari Sky, tapi tampak tak takut ketika menyebutkan nama Gayatri di depannya.
"Saya Hari, Gayatri nya ada?" Laki-laki itu tersenyum, ia tak terpengaruh dengan Sky yang kini memandangnya tak suka.
"Untuk apa cari Ge pagi-pagi begini?"
Mata Hari menyipit dari balik lensanya. "Anda siapa? saudara Gayatri?"
"Bukan, saya..."
"Om Hari? masuk om!" Sidney muncul dari bawah ketiak Sky yang merentang ke kusen, putra sulungnya berbinar-binar melihat tamu itu, Sky semakin tak menyukai situasinya.
Ketiga putranya disuntik semangat baru ketika melihat laki-laki yang dipanggil om Hari ini. Hari apa? Senen, Rabu, Kliwon, Ahad, what a ugly name!
Hari datang, Sky tersingkir pelan-pelan. Kini ia duduk di pojokan dan memandang Sid, Kun dan Yuri bercengkrama dengan riang gembira bersama si kak Seto wannabe. Sky kesal sekali. Siapa sih cowok nerd ini? pasti petugas perpustakaan kecamatan.
Sky jadi ingat abang Saleh di Upin without Ipin.
"Jangan conteng buku!"
"Jangan lipat buku!"
"Jangan jual buku tau!"
"Ha! banyak nye..satu saja lah cukup tu!"
Fuck abang Saleh!
"Hai Ri, baru datang?" Wajah Gaya tersembul dari balik pintu kamarnya, dan what the hell tadi waktu Sky datang perempuan itu berantakan sekali, mukanya luntur, rambutnya seperti sapu yang kelamaan dijemur dan bajunya lebih cocok untuk kain pel. Tapi lihatlah sekarang, perempuan itu sudah berpakaian pantas dengan penampilan layaknya orang yang mau wawancara, rapi dan.... s**t! berapa botol parfum yang disemprotkan ke badannya, sampai-sampai hidung Sky geli membaui wewangian murahan itu.
Ada apa dengan keluarganya? mereka menyambut Hari seperti menyambut mentri!
They're not your familiy, Sky! ada suara keras yang meneriakinya.
Yeah, so neither this jackass! suara hatinya mencibir.
Hati Sky langsung mencelos melihat betapa dekatnya Hari dengan anak-anaknya, bahkan Gaya juga tampak santai sekali di dekat laki-laki itu, padahal kalau sudah bertemu dengannya, perempuan itu langsung meledak seperti kembang api.
Who the hell this Harakiri ?
"Ehmm..kayaknya kamu udah siap Ge, kalau begitu kita bisa pergi sekarang?"
Gaya menoleh, keningnya berkerut ketika mendengar Sky berbicara. "Pergi? where to?"
Sialan! gara-gara si Hernia ini, Gaya sampai lupa janjinya semalam.
"Kau berjanji mengizinkanku membawa anak-anak berenang?"
Diluar perkiraannya, Hari lah yang bereaksi pertama kali. "Gaytri tidak akan kemana-mana dengan anda." Suaranya pelan, namun mematikan, nyali Hari ternyata lebih besar dari yang Sky sangka.
"Saya tidak mengajak kau bung!"
"Gayatri dan anak-anak akan menghabiskan liburan mereka dengan saya."
Hari sudah berdiri dan kini berhadapan dengan Sky, Gaya semakin gugup ditempatnya.
"Saya sedang tidak mood adu jotos hari ini, anak-anak saya dan ibunya akan ikut bersama saya hari ini, sekarang minggir kau!" Sky mendorong bahu Hari dengan tinjunya, laki-laki kecil itu terhuyung kebelakang, Gaya mencegah Hari sebelum pria itu membalas Sky.
"Ri, ini Sky, bapaknya anak-anak" ia belum sempat bercerita kepada Hari tentang Sky, jadi wajar saja jika perkataan Gaya membuat Hari terkejut.
"Maksudmu..pria yang dulu memperkosamu dan penyebab kita batal menikah?"
Perkataan tajam Hari, membuat Sky naik pitam, bagian atas kemeja Hari dicengkram Sky, bogemnya sudah bersiap-siap didepan muka pria kecil itu, jika Hari sampai melanjutkan ucapannya, ia bisa mengucapkan selamat tinggal pada lensa kacamatanya.
"Sky!"
"Diam!" Gaya terperanjat ketika Sky membentaknya.
"Kau bilang apa b*****t! memperkosa? apa kau tak kroscek dulu info yang kau dengar? atau jangan-jangan kau sama saja dengan ibu-ibu komplek yang suka gosip murahan!"
Lengannya ditarik Gaya, namun Sky bergeming, emosinya sudah diubun-ubun.
"Asal kau tahu, 10 tahun yang lalu, saya dan Gaya bercinta tanpa ada paksaan apapun, anak-anak kami bukan hasil perkosaan, mereka ada karena cinta, mengerti kau?!"
Sky tidak ingin Sid dan kedua adiknya memandang ia sebagai ayah yang suka menyerang orang secara fisik. Dengan kasar dilepaskannya cengkraman di leher Hari.
"Ayo berangkat Ge, kalian juga."
Dengan suara yang lebih lunak, ia memerintahkan ketiga putranya dan Gaya yang masih berdiri kaku di sebelah Hari yang terbatuk-batuk akibat sikap Sky yang represif.
"Maaf Ri, seharusnya aku memberitahukanmu tentang dia."
Gaya takut-takut memandang pria yang kini menjadi sahabat baiknya itu, pria yang dulu pernah disakitinya, namun masih bersedia menjadi teman untuk dirinya dan anak-anak.
"Nggak apa-apa Ya, aku yang tadi duluan memulai, pergilah."
Gaya mengangguk, dan mengantar Hari kedepan, ketika sudah berada di dalam mobil, ia masih bisa melihat Hari yang memandangi mobil Sky dengan tatapan sedih.
"Apa kau tak bisa bersikap lebih bijak didepan anak-anak, Sky?"
"Aku bisa berkompromi dengan siapapun Ge, tapi tidak dengan manusia yang berani menghalangi jalanku."
"Tapi kalian baru saja berkenalan, dia tak tahu kau siapa!"
"Kalau memang belum tahu, seharusnya pria itu lebih bisa menjaga sikapnya ."
"Katakan hal itu juga untukmu!"
"Jangan membantahku!"
"Apa kau bilang! siapa kau!"
"Aku, ayah anak-anak kita, bukan laki-laki itu!
"Hembus lilinnya..hembus lilinnya..hembus lilinnya sekarang juga..sekarang juga...sekarang juuu...gaaaa.."
Kun yang tidur terlentang di jok paling belakang, bertepuk tangan dan bernyanyi.
"Hanya kau adalah bapak mereka, bukan berarti kau berhak mengatur hidupku!"
"Kau sepaket dengan mereka!"
"Jangan katakan hal yang tidak masuk akal, aku muak denganmu!"
"Tabok kuenya..tampol balonnya....tendang yang ultah sekarang juga..sekarang juga..sekarang juuuu....gaaaaa."
"Bilang ke pacarmu itu, jangan dekati anak-anakku lagi!"
"Kau lelaki busuk, Hari adalah sahabat anak-anak, mereka saling menyukai, bukan seperti kau yang mereka benci!"
"Anak-anakku tidak membenciku, akulah ayah terbaik buat mereka, bukan pacar cebolmu itu!"
"Apa yang kau banggakan dengan tubuhmu yang jangkung itu, otakmu cuman seupil, kau tak ada gunanya!"
"Lebih baik daripada setiap tahun dikentutin bumi seperti dia!"
"Diam!! dasar kau manusia setengah babi, Hari bukan pacarku!"
"Oh ya, aku bukan engkong-engkong pikun, jelas-jelas tadi si kontet bilang kalau pernikahan kalian pernah batal!"
"Telan engkongnya, telan engkongnya, makan singkongnya sekarang juga..sekarang juga..sekarang juuuuu...gaa.."
"KUNNNNNNN DIAMMMMMMMMMMMMMM..!!!!!!!"