bc

Life

book_age18+
219
IKUTI
1K
BACA
friends to lovers
arrogant
drama
sweet
highschool
royal
another world
witchcraft
school
crown prince
like
intro-logo
Uraian

Dia dikenal sebagai sosok yang hanya terlahir dalam seratus tahun sekali. Sang pangeran mahkota dari Kerajaan Mimika yang terkenal akan paras rupawan dan jenius itu tiba-tiba terlempar ke wilayah asing ketika Festival Akademi Sihir Mimika dilakukan.

Apa yang terjadi bila pangeran yang memiliki watak temperamental itu terbangun di sebuah negara antah-berantah bernama Indonesia?

Dengan bantuan dari orang-orang aneh di negeri ini, pangeran bernama Mika yang harus kerja jadi tukang bakso itu akhirnya mengenal arti sesungguhnya dari kehidupan.

Terlebih dari itu, di dunia yang aneh ini, dia tanpa sengaja bertemu dengan seorang gadis yang memberinya harapan. Gadis itulah yang mengajarkan Mika apa arti kehidupan dan cinta yang sesungguhnya.

***

Ini adalah sebuah kisah romansa komedi yang dibumbui dengan cerita fantasi. Drama kehidupan di cerita ini membuat kita sadar apa arti sesungguhnya dari hidup.

Sangat cocok untuk dibaca!

chap-preview
Pratinjau gratis
Chapter 1 - Kerajaan
Kilatan cahaya berwarna biru tiba-tiba muncul dari atas bukit hijau. Burung-burung yang semula terbang di atas bukit tersebut langsung berpencar akibat cahaya dan suara ledak yang begitu keras tersebut. Untuk sesaat, warga yang sedang beraktivitas pun langsung memusatkan perhatian mereka ke arah kegaduhan tadi. Matahari kali ini sudah berada di ufuk barat. Sang surya memancarkan cahaya kemerahan yang begitu indah untuk dinikmati sambil bersantai di sore hari. Warga yang sedang asyik bersantai di taman itu pun mengernyit heran. Cahaya dan suara apakah itu tadi? Semua orang di daerah ini merupakan penduduk dari sebuah kerajaan bernama Kerajaan Mimika. Tentu saja, cahaya menyilaukan yang tiba-tiba muncul itu bukanlah hal asing bagi mereka semua. Kerajaan Mimika adalah sebuah kerajaan dimana sihir menjadi bagian dari kehidupan mereka. Air melayang, tanah terbang, api dalam air, hingga berbagai hal di luar nalar lainnya menjadi hal wajar bagi seluruh penduduk. Akan tetapi, tetap saja mereka menampilkan raut khawatir ketika memandang bukit hijau di mana cahaya berwarna biru terang tadi muncul. Karena bagaimana pun juga, di bukit itulah letak istana kerajaan berada. “A-apa? Apa yang sebenarnya terjadi di sana?” “Aku sama sekali tak tahu.” “Mungkinkah kerajaan tengah diserang saat ini?” “K-kalau begitu, bagaimana kondisi Raja dan Ratu saat ini?!” Ini adalah musim gugur. Musim di mana guguran daun mulai berjatuhan dan terbang di bawa angin ke sana ke mari. Hawa yang sejuk, tidak panas, dan juga tidak dingin inilah yang dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat di Kerajaan Mimika untuk menyelenggarakan piknik akbar. Karena bingung harus apa, seluruh orang yang berada di taman itu pun akhirnya berbondong-bondong pergi ke istana kerajaan. Mereka ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sementara itu, istana kerajaan Mimika yang begitu megah ini juga diselimuti dengan kegaduhan. Beberapa kompi prajurit berbaju hitam berlari ke sana ke mari menyusuri lingkungan istana. Mata mereka terus menyelidiki sekitar, berusaha mencari objek yang ingin mereka temukan. Melompat pagar, membongkar semak, dan menerjang beberapa pelayan yang sedang sibuk rela mereka lakukan demi memenuhi perintah sang raja. “Cepat cari Pangeran Mika sekarang juga! Raja tidak akan diam saja melihat kita malas-malasan dan tidak mampu menemukannya!” teriak seorang pria berbaju prajurit hitam dengan kain merah melingkari lengannya. Pria berkain merah itu adalah panglima kerajaan yang kebetulan sore ini berada di lingkungan istana. Ia baru pulang memimpin peperangan beberapa hari lalu dan melaporkan hasilnya ke Raja hari ini. Akan tetapi, sebuah cahaya biru tiba-tiba keluar dari halaman istana dengan suara ledakan keras bagai petir yang menyambar. Tentu saja, halaman istana langsung hancur akibat kekuatan tersebut. Meskipun begitu, semua orang di lingkungan istana sudah tahu kalau cahaya dan suara itu bukanlah kegaduhan yang ditimbulkan dari aksi penyerangan kerajaan lain. Jika ditanya siapa orang yang paling suka membuat serangan jantung di lingkungan istana, maka jawabannya adalah seorang pemuda berusia tujuh belas tahun yang tak lain dan bukan merupakan seorang putra mahkota. PRANG. Piring-piring kerajaan yang semula tersusun rapi di rak dapur kini terpecah belah di lantai. Suara itu membuat beberapa pelayan kerajaan yang berada di sana memekik dengan keras. “Pangeran Mika?! Apa yang Anda lakukan?!” teriak seorang wanita tua dengan penuh emosi. Wanita itu merupakan seorang kepala pelayan di kerajaan ini. Ia langsung berlari menuju dapur begitu mendengar teriakan dari pelayan lainnya. Perempuan berambut hitam itu kaget dengan pemandangan yang ada di depannya. Bagaimana tidak, dapur kerajaan yang begitu luas dan megah itu kini bagaikan kapal pecah, dimana seluruh peralatan berserakan ke sana ke mari. Suara yang ditimbulkan dari barang-barang yang jatuh itu langsung menimbulkan kegaduhan. Objek yang dimaksudkan oleh kepala pelayan tadi pun tampaknya tidak peduli dengan hal ini. Ia masih berlari dengan cepat ke seluruh area dapur hingga naik ke atas meja. Sebuah anak panah tiba-tiba meluncur begitu saja ke arah pemuda bersurai hitam itu. Dengan tatapan mata kaget bukan main, ia memandang penuh kengerian ke arah sumber datangnya panah tersebut. “Pangeran Mika! Atas perintah dari Raja, kuperintahkan kau untuk pergi dari sana sekarang juga dan datang menemui Panglima Perang di halaman istana!” teriakan dari luar dapur itu langsung menggema di seluruh ruangan ini. “Sialan, mereka menemukanku.” Bukannya takut, sang objek yang dipanggil tadi justru mengukirkan senyum seringai yang begitu lebar. Hormon adrenalinnya tengah berpacu saat ini. Pemuda itu semakin bergerak gesit ke sana ke mari menghindari anak panah yang terus menghujani dirinya. Para pelayan yang ada di sini pun sontak berteriak ketakutan dan berlari keluar agar terhindar dari anak panah yang begitu banyak tersebut. Di sisi lain, kepala pelayan tadi hanya bisa menggemeletukkan giginya akibat menahan rasa kesal. Barang-barang di dapur yang berjatuhan pun semakin banyak akibat aksi Pangeran Mika yang bergerak gesit ke sana ke mari guna menghindari anak panah itu. Kepala wanita bergaun coklat tersebut seakan berdenyut kencang tatkala mendengar suara pecahan barang-barang itu. Demi keselamatannya, ia pun akhirnya berlari meninggalkan area dapur yang sekarang menjadi medan perang. Beberapa pasukan yang sudah tiba di dapur pun sontak membelalakkan mata tak percaya begitu melihat pemandangan di depan mereka. Dapur yang semula begitu rapi nan megah itu kini benar-benar hancur total dengan belasan piring berserakan di lantai. “Pangeran Mika! Berhenti sekarang atau aku akan menembakkan anak panah ini tepat ke arahmu sekarang!” Sang pemanah tersebut benar-benar sudah kehilangan kesabaran. Sang pangeran itu berhenti berlari untuk sejenak. Mata hitamnya menyipit, mencoba menilai seberapa aman posisinya saat ini. Mereka tampaknya juga melakukan gencatan senjata dengannya. Satu kompi pasukan kerajaan telah mengepungnya di area dapur istana yang begitu luas ini. Otaknya terus ia paksa untuk berpikir dan berpikir. Meskipun begitu, pemuda tersebut tak bisa menemukan solusi terbaik atas masalahnya sekarang. Mereka mengepungnya dari segala sisi dan tidak ada jalan lain selain menyerah. “Sial, kalian semua keterlaluan!” Tangan pemuda bersurai hitam itu mengepal dengan kuat. Ia memandang kesal ke arah mereka. “Ini rumahku! Aku bukan penjahat di sini dan kalian tak bisa melarangku untuk belajar melakukan sihir!” “Oh ya?” Pria yang memanahinya sedari tadi tampak mengernyitkan alisnya. “Seperti yang kau tahu, area pelatihan sihir itu ada tempatnya dan aku tahu kalau dirimu paham jika halaman istana bukanlah tempat latihan. Siapa pun dilarang untuk melakukan sihir di tempat umum kecuali untuk perlindungan diri, termasuk anggota kerajaan.” Pemuda berambut hitam lurus itu memelototkan matanya. Ia tak terima jika opininya dibantah. Dirinya adalah seorang pangeran, tentu saja dia tahu peraturan dasar dalam penggunaan sihir di kerajaan ini. Anak kecil pun pasti tahu soal itu, jadi dia tak terima diceramahi seperti tadi. Rahangnya mengeras. Pemuda itu mengepalkan tangan degan kuat. Mata sang pangeran yang semula berwarna biru itu kini tiba-tiba berganti menjadi hitam keruh. Hawa di ruangan ini tiba-tiba terasa tak enak. Beberapa pasukan kerajaan yang tengah mengepung pemuda berusia 17 tahun itu pun langsung saling melirik. Mereka melebarkan mata ketakutan begitu melihat kabut hitam mulai menyelimuti tubuh Pangeran Mika. Tidak, tidak. Bukan ini yang mereka inginkan. “I-ini...?” Suara dari pemanah tadi tercekat. Ia ketakutan sampai tak mampu mengutarakan sepatah kata pun. Tangannya yang tengah memegang busur pun gemetar bukan main saat ini. Pemuda berusia 17 tahun di depan seluruh pasukan itu tak melakukan apa-apa. Ia bahkan hanya berdiri diam dan tidak bergerak satu inci pun. Yang dilakukan oleh sang pangeran itu hanyalah diam, memejamkan mata, sembari mengepalkan tangannya dengan kuat. Amarahnya saat ini tengah mendidih. Ia kesal bukan main. “T-tidak, ... apa yang akan kita lakukan?” “P-pangeran, dia ...?” Satu per satu dari prajurit kerajaan itu melangkah mundur. Mereka gemetar ketakutan melihat pemuda berkabut hitam di hadapannya. Aura membunuh di ruangan ini semakin kuat tanpa disadari oleh pangeran itu sendiri. Dengan mata hitam yang mencolok, Mika menengadahkan kepalanya. Ia menatap mereka semua dengan alis yang menukik tajam. Sang pangeran itu menatap seluruh prajurit yang telah mengepung dan membantahnya saat ini. Darahnya mendidih bagai air panas saat ini. Ia tak bisa menahan rasa kesal dalam hati. “Beraninya kalian semua membantah ucapanku!” Nada berat dari pangeran itu langsung membangunkan bulu kuduk dari para prajurit. Tangan pemuda itu berayun ke samping dengan kesal. Rahangnya mengeras saat ini. “Aku tahu peraturan dasar seperti itu. Aku melakukan sihir di halaman tadi karena tak ingin berlatih di tempat pelatihan. Kenapa kalian tidak bisa memahami itu? Pelatih sihir kerajaan, dia itu—“ “Ordo : Hypnosis!” Tiba-tiba, terjadi sensasi sentakan aneh di jantung sang pangeran. Detak jantungnya seakan berhenti berdetak saat ini. Pemuda berambut hitam lurus itu hanya bisa melebarkan matanya dengan mulut yang sedikit terbuka karena efek kejut yang dialami tubuhnya. Kabut hitam yang semula muncul pun sontak lenyap dari dapur ini. Mata hitam sang pangeran perlahan kembali ke warna awalnya yang menyerupai biru laut. Melihat ekspresi dan diamnya Pangeran Mika itu, seluruh prajurit pun kebingungan. Mereka bertanya-tanya. Apa yang terjadi dengan pangeran sehingga dirinya tiba-tiba diam membisu? Langkah kaki tiba-tiba menggema di antara keadaan hening yang terjadi saat ini. Suara tapak sepatu itu terdengar dari luar. Para prajurit pun langsung menoleh ke belakang dan menemukan seorang pria yang mengenakan baju militer hitam dengan kain merah diikat pada lengannya. Wajahnya yang tegas hanya bisa menatap datar ke arah sang pangeran yang kini berdiri dengan pandangan kosong. Pria itu adalah sosok panglima perang kerajaan ini. Seluruh prajurit pun langsung membuka jalan dan membungkukkan badannya begitu sosok panglima tadi berjalan mendekati Pangeran Mika. Pria dengan rambut klimis itu berjalan sembari menaikkan dagunya. Ia adalah sosok yang telah meramalkan mantra sihir beberapa saat lalu. “Sudah lebih tenang, Pangeran?” Nada suara itu dingin. Sang Panglima bernama Ronald Zou itu memandang Mika dengan tatapan kesal. Pangeran di depannya ini selalu saja berulah sejak bayi. Meskipun begitu, ulahnya hari ini benar-benar sudah kelewatan. Ia telah mengagetkan seluruh orang di istana bahkan membuat kekacauan sebesar ini di dapur. Sang pangeran bernama Mika Jonathan itu sendiri saat ini hanya bisa menatap kosong ke arah Panglima Ronald. Matanya bergetar tanda ia emosi saat ini. Sihir yang telah dilakukan oleh Ronald tadi telah membuat Mika terhipnotis. Ia tak bisa bergerak satu inci pun dan tubuhnya dipaksa melakukan segala hal sesuai keinginan panglima perang Kerajaan Mimika tersebut. “Raja menyuruhku untuk membawamu ke hadapannya. Ayo ikut aku sekarang. Kau akan mendapat hukuman kali ini.” Tanpa mengucapkan satu patah kata pun, sang pangeran berjalan mengikuti Ronald keluar dapur. Matanya masih kosong yang menandakan bahwa dirinya saat ini masih dalam pengaruh hipnotis dari panglima perang itu. Belasan prajurit yang saat ini berada di dapur itu langsung berjalan mengekori Pangeran Mika menuju Ruang Utama. Sepertinya, pangeran rupawan bersurai hitam itu akan menerima ganjarannya hari ini.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

GARKA 2

read
6.2K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.0K
bc

Perfect Revenge (Indonesia)

read
5.1K
bc

Super Psycho Love (Bahasa Indonesia)

read
88.6K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.0K
bc

TERNODA

read
198.9K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook