Chapter 2 - Permulaan

1976 Kata
Ada mitos yang sudah terkenal sangat lama di Kerajaan Mimika. Semua orang di negeri ini bahkan mempercayai mitos itu secara turun temurun. Kerajaan yang sudah terkenal dengan pusat perkembangan teknik sihir di dunia ini sudah ada sejak ratusan lalu. Selain itu, Mimika juga dipercayai sebagai kerajaan pertama munculnya sihir. Konon para warga mempercayai bahwa sang raja pertama adalah manusia setengah dewa. Mungkin terdengar hiperbola, namun kenyataannya memang begitu. Raja pertama dianugerahi kemampuan supranatural aneh yang tak dimiliki oleh siapa pun di dunia ini. Kemampuan itulah yang dikenal sebagai sihir di dunia ini. Raja pertama lalu bertarung dengan banyak orang dan membentuk wilayah kerajaan yang begitu luas seperti saat ini. Setelah Kerajaan Mimika terbentuk, sang raja akhirnya menikah dan mempunyai anak. Sama seperti sang ayah, anak dari raja tersebut juga memiliki kemampuan sihir. Sejak saat itu mereka percaya bahwa setiap keturunan dari raja akan memiliki sihir yang ada dalam tubuh mereka sejak bayi. Ketika sang raja tewas, semua rakyat sedih. Meskipun begitu, ada hal aneh yang terjadi. Beberapa puluh tahun setelah kematian raja tersebut, muncul sebuah pohon aneh yang tumbuh di atas makamnya. Petugas kerajaan pun berulang kali mencabut pohon itu namun sang pohon terus muncul dan bersemi. Karena aturan di Kerajaan Mimika yang mengharamkan aksi pencabutan pohon, akhirnya anggota kerajaan yang bingung pun menanam pohon-pohon itu di sepanjang jalan. Dari pohon itulah, muncul buah merah aneh bernama Pora. Awalnya orang mengabaikan hal itu, namun setelah seorang pengemis kelaparan memakan Pora, tiba-tiba ia mendapatkan kekuatan aneh seperti milik raja. Kabar tersebut pun sontak menghebohkan seluruh warga dan anggota kerajaan. Bahkan pengemis itu langsung diangkat sebagai prajurit kerajaan. Dari sanalah, akhirnya sang raja baru memutuskan untuk menyebar luaskan pohon-pohon yang muncul dari makam raja pertama. Rakyat bebas untuk memakan buah tersebut agar bisa memperoleh kemampuan sihir. Meskipun begitu, orang-orang di luar Kerajaan Mimika harus membayar mahal untuk mendapatkan buah pora. Kerajaan Mimika pun semakin makmu karena hasil penjualan pora yang mendunia. Dari situlah, sihir muncul di berbagai negara bahkan sekarang semua orang di seluruh dunia memilikinya. Meskipun begitu, Mimika masih menjadi pusat perkembangan sihir dunia karena kekuatan aneh ini berasal dari sana. Buah pora yang menjadi asal penyebaran kekuatan sihir pun sekarang digunakan oleh masyarakat dunia sebagai penambah stamina mereka. Layaknya cairan penambah MP (Mana/Magic Point) dalam game, buah pora berfungsi untuk meningkatkan status energi untuk mengeluarkan kemampuan sihir. Mitos yang berkembang di Mimika mengatakan kalau kekuatan raja akan muncul dalam 100 tahun sekali. Dalam sejarah, sudah ada tiga anggota kerajaan lain pada zaman dahulu yang memiliki kemampuan setara dengan raja pertama. Mereka dikenal begitu hebat dalam bertarung, kejeniusan, dan kemampuan sihirnya yang sangat mengerikan. Raja pertama terkenal akan kemampuan sihir gila yang dalam pemakaiannya harus pintar-pintar dalam mengendalikan emosi. Jika ia tersulut emosi sedikit saja, maka kemampuannya akan meledak dan bisa melukai banyak orang. Sialnya, kemampuan raja pertama itu turun di tangan yang salah kali ini. Sang raja yang menjabat sekarang baru mengetahui hal itu beberapa belas tahun lalu. Ia sangat tidak menyangka jika putra keduanya yang memiliki kemampuan pengendali emosi buruk ini mempunyai kemampuan sihir yang setara dengan raja pertama dulu. Dari sekian anggota kerajaan yang muncul dalam 100 tahun ke belakang maupun ke depan, kenapa harus Mika Jonathan yang harus dianugerahi kemampuan itu? Sang raja, Edward Jonathan, saat ini hanya bisa memandang datar seorang pemuda yang bersimpuh di hadapannya. Singgasana kerajaan dibuat lebih tinggi dari aula utama. Raja pun harus naik sejauh dua puluh anak tangga untuk duduk di kursinya. Meskipun begitu, singgasana yang tinggi ini membuat Raja Edward dengan mudah memandang jelas ekspresi dari orang yang menghadap dirinya. Seperti sekarang, Pangeran Mika hanya bisa menunduk. Tentu saja Raja Edward bisa melihatnya dengan jelas. Pemuda berusia tujuh belas tahun itu tak berani menatap ayahnya. Kali ini ia telah bebas dari belenggu sihir hipnotis milik Ronald. Sang panglima perang itu pun sekarang tampak duduk di kursinya. Semua anggota kerajaan yang berada di aula utama saat ini tahu betul kenapa Pangeran Mika hanya bisa menunduk lesu. Dalam sebulan terakhir, sudah hampir lima puluh kali dirinya menghadap sang raja. Atas perbuatannya yang sudah menghancurkan dapur dan membuat anggota istana ketakutan hari ini, ia akan mendapat hukuman dari raja. “Jadi, apa pembelaanmu?” Suara Raja Edward yang begitu berat itu membuat Mika menengadahkan kepala. Ia menatap langsung mata sang ayah. “A-aku .... aku hanya—“ “Yang Mulia!” Kepala pelayan berbaju coklat yang tadi ditemui oleh Mika langsung berdiri. Ia menunjuk pemuda yang saat ini diam bersimpuh itu. Seluruh anggota kerajaan yang berada di aula utama ini langsung menarik perhatian ke arahnya. Alis Mika mengernyit tatkala memandang sosok tersebut. “Pangeran Mika telah merusak seluruh dapur. Dia membuat kekacauan dan menjadikan dapur sebagai ruang persembunyian lalu digunakan oleh medan perang olehnya. Anda harus bertindak tegas terkait hal ini. Pangeran bukanlah anak-anak lagi,” ujar kepala pelayan tersebut sambil menunjuk kesal ke arah Mika. Mika pun langsung menukikkan alisnya. Ia mendelik tak terima. “Apa katamu, wanita tua? Aku tadi—“ “Pangeran Mika! Bahasa!” Suara berat dari sang raja itu sekali lagi membuat detak jantung Mika seolah berhenti berdetak. Ia meneguk ludahnya kasar kemudian menatap sang ayah. Mika sangat berharap jika ayahnya akan mengerti bagaimana kondisinya sekarang. “Yang Mulia, mohon dengarkan apa kataku. Pelatih sihir kerajaan begitu menyebalkan. Ia bersikap arogan dan selalu bersikap kasar dengan anggota kerajaan lain yang berlatih sihir kecuali aku. Aku sama sekali tak suka dengan aksinya, bahkan Remon kemarin dipukul olehnya dengan sebatang kayu hanya karena—“ “Pangeran Mika.” Kini perhatian Mika teralih oleh suara berat dari sang perdana menteri kerajaan. “Remon, anakku, pasti melakukan kesalahan sehingga ia menerima hukuman dari pelatih. Itu pantas didapatkannya. Pelatih sihir kerajaan tidak arogan, ia hanya menjalankan tugasnya dan bersikap tegas bagi siapa pun yang melakukan kesalahan.” Dahi Mika mengerut. Ia menatap pria berambut putih yang menjabat sebagai perdana menteri di kerajaan ini, sekaligus ayah dari sahabatnya yang bernama Remon tadi. “Sialan, ceritanya tidak seperti itu. Dia—“ “Pangeran Mika, sudahlah. Kami semua tidak ingin mendengar dongengmu. Sudah berapa pelatih sihir kerajaan yang diganti oleh Raja demi dirimu? Jika Raja mengganti pelatih yang ini, apakah kau bersedia menjaga sikapmu? Jawabannya tidak. Kau sudah mengatakan itu berulang kali dan nyatanya kau tidak mengubah sikapmu sama sekali,” ujar Ronald yang merupakan panglima perang kerajaan ini. Mika hanya bisa berdecap kesal. Ia tidak tahu harus mengatakan apa lagi agar anggota kerajaan percaya padanya. Alasan kenapa Mika selalu meminta ganti pelatih karena pelatih yang selama ini dipanggil Raja untuknya selalu bersikap kasar pada anggota kerajaan lain. Ia diperlakukan berbeda dan setiap kesalahannya pun tidak diberikan hukuman apa pun. Tapi, Remon sahabatnya yang hanya salah mengucapkan mantra langsung dipukul oleh pelatih itu. Tentu saja, Mika tak suka dengan tipe orang seperti itu dan seluruh orang di sini tak mengerti hal tersebut. Mengabaikan bantahan dari perdana menteri dan panglima perang kerajaan tadi, Mika langsung menatap ayahnya. “Karena perilaku pelatih yang seperti itu, aku kesal dan tanpa sengaja melepaskan sihir berkekuatan besar saat belajar di halaman istana. Itu tak sengaja. Tapi, kenapa kalian memburuku seperti itu?” “Apakah alasan itu bisa kau gunakan untuk bersembunyi di dapur dan menghancurkan segala hal?” Kali ini bukan ayahnya lagi yang membalas melainkan ketua pelayan tadi. Mika yang mendengar itu hanya bisa mengepalkan tangannya kuat-kuat. “Itu juga bukan alasan agar dirimu bisa melukai prajurit lainnya, Pangeran.” Sang panglima perang bernama Ronald itu menyahut. Ia cukup kesal pada Mika yang tak mampu mengendalikan emosinya. Kalau ia datang terlambat tadi, pasti para prajurit di sana akan terluka parah akibat ulah pangeran ini. “Tunggu dulu.” Sang raja yang dari tadi diam langsung memandang ke arah Ronald. “Apakah tadi Pangeran Mika lepas kendali?” Panglima itu mengangguk pelan. Ia menjelaskan segala hal yang terjadi di dapur tadi pada Raja Edward. Bagaimana pun juga, kekuatan sihir milik Mika bukanlah sihir biasa. Tipe sihir yang dimiliki oleh pemuda itu begitu mirip dengan milik raja pertama yang ditakuti oleh seluruh dunia. Sang raja pertama dulu bahkan mampu membunuh seseorang hanya dengan berada satu ruang dengannya. Perlu diketahui bahwa kabut hitam yang dikeluarkan oleh Mika tadi adalah kabut beracun. Teknik sihir kabut itu sangat mirip dengan kemampuan raja pertama yang berbahaya. Apabila Panglima Ronald datang sedikit terlambat saja, maka seluruh prajurit tadi akan binasa. Melihat situasi yang semakin tak kondusif, beberapa tetua kerajaan yang merupakan penasihat raja langsung berspekulasi tidak-tidak. Selama ini Pangeran Mika selalu susah dalam mengendalikan sihirnya. Ia juga sosok pangeran temperamental yang suka tersulut emosi. Terkadang, Mika juga selalu menyombongkan sihir yang ia miliki dengan memandang rendah orang lain tanpa alasan. Perilaku seperti itu sangat tidak cocok dengan sikap seorang pangeran meskipun dia sangat jenius. “Raja, aku mohon beri hukuman terberat untuknya.” Sang ketua pelayan menunjuk Mika dengan marah. “Meskipun begitu, tolong kesampingkan hal ini, Raja. Besok adalah acara Festival Sihir Akademi Mimika. Hukuman berat boleh saja, tapi jangan sampai memberatkan pangeran untuk ikut kompetisi besok.” Perdana menteri yang sedari tadi berdiri di tempatnya tampak membujuk Raja Edward. Salah satu tetua kerajaan terlihat menghela nafas dengan panjang. Ia sengaja memperkeras suaranya agar seluruh orang yang berada di ruangan ini mengalihkan perhatian ke arah mereka. “Masalah lagi, masalah lagi. Pangeran Mika hanya tukang membuat maslahat. Bagaimana mungkin kita mempercayainya sebagai raja nanti? Akan hancur kerajaan ini kalau berada di bawah pimpinannya.” Ucapan dari wanita tua itu langsung disetujui oleh anggota tetua kerajaan yang lain. Seorang pria tua yang duduk tak jauh darinya langsung memandang Mika dengan tatapan jijik. “Berkah raja pertama telah jatuh ke tangan yang salah. Kalau ini dibiarkan maka Kerajaan Mimika akan menemui titik hancurnya. Dilihat bagaimana pun juga, Pangeran Jordan lebih baik darinya.” “Benar, Pangeran Jordan adalah yang terbaik.” “Andaikan Pangeran Jordan masih hidup sampai sekarang maka kita tak perlu pusing memikirkan penerus takhta kerajaan yang bermasalah ini.” Ucapan para tetua itu telah membuat darah Mika Jonathan mendidih. Ia marah dan kesal. Tangannya terus terkepal sejak tadi namun ia tidak bergerak satu inci pun. Untuk sesaat, Mika bisa merasakan sensasi kekuatan besar yang meluber dari tubuhnya. Ia pun segera fokus dan mencegah agar dirinya tak lepas kendali lagi. Tanpa perintah dari siapa pun, pangeran itu tiba-tiba berdiri dari posisi yang awalnya bersimpuh. Sontak saja, hal itu membuat mereka semua terkejut. “Pangeran Mika, siapa yang memberikan hak untukmu berdiri?” tanya sang raja yang langsung dibalas tatapan tajam oleh putranya. Mika menatap tajam sang ayah yang berada di atas singgasana. Ia kini ganti menatap ke arah anggota kerajaan lain, terutama tetua tadi. Bagaimana pun juga, sang ayah sama saja dengan mereka. Ayahnya tak ingin mendengar penjelasan apa pun darinya. Ia hanya tahu memerintah dan menghukum sementara yang lain hanya bisa menghujat. Memangnya, siapa juga yang ingin dilahirkan di dalam keluarga kerajaan dan diberkahi kekuatan seperti ini? “Kakak, kakak, dan kakak!” Teriakan Mika yang sangat keras itu membuat anggota kerajaan membelalakkan matanya. “Kalian semua selalu menyudutkanku! Aku bahkan tidak diberikan hak untuk mengatakan kebenaran! Kalau kalian ingin Pangeran Jordan dan tidak berharap ada keberadaanku di sini, maka aku akan pergi saja dari sini atau bahkan dunia ini!” Mika mengatakan hal tadi dalam satu tarikan nafas. Tanpa mengucap sepatah kata pun, pemuda itu berlari menuju pintu keluar dan mengancam penjaga yang ingin mencegahnya pergi agar tidak menutupi jalannya. Kepergian Mika itu sontak membuat anggota kerajaan lain geleng-geleng kepala. Pangeran yang satu itu sama sekali tak bisa diatur. Sementara itu, dari kursinya, ada seseorang yang sejak tadi hanya bisa memandang Mika dengan tatapan cemas. Ia adalah sang ratu, permaisuri pertama raja, sekaligus ibu tiri dari Mika Jonathan yang baru saja pergi dengan tidak sopan dari hadapan raja. Apa pun yang terjadi, baik raja, ratu, maupun seluruh anggota kerajaan, hanya bisa berharap jika Mika mampu melakukan yang terbaik untuk festival sihir di Akademi Mimika besok. Seluruh martabat kerajaan sedang dipertaruhkan di pundak sang pangeran mahkota itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN