Kalau ada yang bertanya siapakah orang paling rajin di Kerajaan Mimika, maka Remon Sweda akan menjawab kalau dia adalah Mika Jonathan. Di hadapannya sekarang, dia bisa melihat bagaimana Mika yang tampak bergelut dengan bertumpuk-tumpuk buku di kamarnya.
Remon adalah teman Mika sejak kecil. Atau mungkin, bisa dikatakan bahwa dirinya adalah satu-satunya teman yang dimiliki oleh pangeran liar itu. Kedua laki-laki yang menempuh pendidikan di Akademi Sihir Mimika itu telah bersama sejak kecil mengingat Remon juga adalah bangsawan, di mana ayahnya merupakan Perdana Menteri di negeri ini.
Jadi, laki-laki jangkung dengan rambut biru itu sudah hafal betul dengan segala tabiat dan sikap Mika. Sambil menghela nafas, anak perdana menteri itu membenarkan posisi kaca matanya.
“Kau pikir ini jam berapa sampai kau lupa waktu dan berdiam diri di kamarmu sampai sekarang?”
Diam. Tak ada sahutan di antara tumpukan-tumpukan buku yang ada di dalam kamar itu. Padahal, Remon tahu pasti jika Mika sudah bangun mengingat ini sudah pukul 10 pagi.
Karena sudah tak tahan, pemuda berkacamata itu mulai melangkahkan kaki untuk berada lebih dekat dari posisi Mika berada sekarang. “Apa kau pura-pura tak mendengarku?”
Kalau bukan perintah ayahnya, pemuda berkacamata ini pasti tak akan mau pergi mengunjungi Mika di sini. Ia sudah membuang-buang waktu. Padahal acara festival telah dimulai sejak tiga jam yang lalu, tapi anak itu justru mengurung diri.
“Mika, apa kau lupa hari apa ini? Jangan terus bersikap seperti anak kecil. Kau tahu? Aku sudah capek menjadi pengasuhmu yang harus ini dan itu. Jadi—“
“Diam. Kau pergi saja.”
Dahi Remon mengerut. Bukan itu jawaban yang diinginkannya. Ia memang tak berniat berkata sekasar itu pada sahabatnya, tapi biasanya Mika akan tertawa ketika melihat dirinya yang marah-marah seperti tadi. Akan tetapi, sepertinya sekarang tidak seperti itu. Suasana hati anak ini memburuk. Remon menduga jika ini pasti disebabkan oleh insiden kemarin.
Dia pun menghela nafas. Kalau memang seperti ini apa boleh buat, ia tak seperti Mika yang punya jiwa pahlawan sehingga akan ikut campur dalam segala urusan orang. Jadi, Remon akan membiarkan anak itu. Sebelum ia melangkahkan kaki keluar dari kamar Mika, pemuda itu menoleh ke belakang.
“Kau tahu betul bagaimana sifatku kan? Kejadian kemarin mungkin adalah imbas dari aksimu yang menyelamatkanku dari pukulan pelatih hari itu. Akan tetapi, kau harus mengingat satu hal jika aku tak pernah memintamu untuk melakukan itu. Jadi, jangan salahkan aku atas semua hal ini.”
Tetap tak ada respons dari sana. Meskipun begitu Remon terus berujar, “Jadi kalau kau memang bukan seorang pengecut, kau harus datang ke festival ini. Orang gila mana yang terlambat menghadiri festival penting kerajaan coba?”
Remon benar-benar tak bisa menyembunyikan seringainya saat ini. Pemuda itu mendengus seraya melangkah keluar.
“Lawan duelmu kali ini adalah aku, jadi jangan bersikap pengecut dan melarikan diri. Aku tak pernah memintamu untuk menyelamatkanku, jadi jangan bersikap sok jagoan di antara bangsawan lain. Ingat, pertandingan kita akan dimulai lima belas menit lagi.”
Saat itu, anak semata wayang dari Perdana Menteri Kerajaan Mimika ini tahu betul jika sahabatnya mulai menaruh perhatian atas apa yang ia ucapkan. Ia menyeringai dan benar-benar pergi dari ruangan itu.
“Sampai jumpa di sana, ya, kalau kau memang punya nyali untuk datang sih.”
Festival Sihir Akademi Mimika adalah ajang paling bergengsi di seluruh dunia. Mengingat Mimika menjadi pusat perkembangan sihir dengan akademi megahnya, seluruh dunia pun langsung memusatkan perhatian mereka ke kiblat ilmu sihir itu.
Kerajaan Mimika tampaknya tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Bagaimana pun juga, dilihat dari berbagai sudut, kemeriahan festival bisa dilihat di mana-mana. Para pedagang, warga yang antusias, dan turis-turis asing menjadi spot terbaik untuk dilihat. Ditambah lagi sektor pariwisata negeri ini juga tak luput dari sorotan karena banyak dikunjungi.
Akan tetapi, karena Festival Sihir Akademi Mimika telah dimulai sejak tiga jam yang lalu maka seluruh orang pun kini terfokuskan pada area utama festival yang berada di Stadion Mimika.
Di sana sudah ada banyak siswa yang menunjukkan kemampuannya dengan sistem one on one, dimana siswa akademi akan bertarung satu sama lain lewat sistem duel dan yang menang akan bisa lanjut ke babak selanjutnya.
Sejak tiga jam yang lalu, total sudah ada 120 peserta yang telah bertarung.
Perlu diketahui juga jika hadiah pemenang festival ini tak main-main sehingga ada banyak siswa yang berambisi untuk memenangkannya. Bagaimana pun juga, ajang festival ini terbuka untuk umum. Jadi bukan hanya siswa Akademi Mimika saja yang ikut, melainkan siswa sihir di seluruh dunia. Oleh karena itu, tingkat kesulitan duel ini terasa tinggi.
Akan tetapi, kondisi stadion sekarang telah berbeda drastis dari beberapa saat yang lalu. Jika tadinya stadion terasa meriah karena pertarungan-pertarungan hebat para siswa yang membuat penonton heboh sendiri, kini situasinya justru menegang.
Saat nama Pangeran Mahkota Kerajaan Mimika yang kini juga menjadi siswa akademi sihir di negeri ini dipanggil untuk bertarung dan orangnya tidak muncul, entah kenapa penonton langsung merasakan ketegangan yang begitu kentara.
Sang Raja yang duduk di podium tertinggi tampaknya juga menunjukkan raut wajah tegang di ekspresi tenangnya. Pancaran mata Raja seolah menyiratkan bagaimana ia menahan emosi menghadapi anaknya tersebut.
Bagaimana pun juga, seluruh orang di negeri ini sudah tahu bagaimana sifat Pangeran Mika Jonathan yang akan menjadi penerus kerajaan kelak. Anak laki-laki berusia 17 tahun itu dikenal lir dan suka bertindak seenaknya. Bahkan di festival penting seperti sekarang pun, dia dengan beraninya terlambat atau bisa saja justru tidak datang.
Tentunya ini mencoreng nama baik kerajaan. Di sini banyak sekali kolega bangsa asing yang datang, tapi sikap Pangeran Mahkota justru tidak sopan dengan tak menghadiri festival. Kalau sampai orang luar tahu bagaimana hancurnya sikap Pangeran Mika, maka habis sudah martabat kerajaan ini.
Di tengah lapangan atau lebih tepatnya area untuk melakukan pertarungan, Remon Sweda telah berdiri di sana. Pemuda berkacamata itu tampak melirik ke arah ayahnya yang berada di samping Raja. Sang ayah terus menatapnya seolah bertanya dimana kah Pangeran Mika sekarang.
Melihat bahasa isyarat tersebut, Remon hanya bisa menggeleng pelan. Yah, ia tak peduli apa pun. Mau Mika datang atau tidak, dirinya sama sekali tak peduli.
Bahkan kalau martabat kerajaan ini hancur pun, Remon tak akan peduli. Itu bukan urusannya dan dia tak mau ikut campur. Semua itu adalah tanggung jawab dari Mika, Raja, dan ayahnya yang menjadi perdana menteri.
Kewajibannya sekarang adalah berduel dengan Mika dan melakukan tugasnya sampai tuntas.
“Ini adalah panggilan terakhir untuk Yang Mulia Pangeran Mahkota Mika Jonathan!” Seorang wasit yang berada di samping Remon langsung berseru dengan keras.
Pria berusia 30 tahunan itu tampak mengangkat tangannya ke atas untuk menarik perhatian seluruh orang di stadion dan mendengarkan pengumumannya. Remon yang berada di sampingnya hanya melirik malas ke arah orang itu.
“Kalau dalam hitungan ketiga Mika Jonathan tidak turun ke area lapangan, maka pertandingan ini akan berakhir dengan Remon Sweda yang dinyatakan sebagai pemenang dan kita akan berganti ke pertandingan selanjutnya.”
Ketegangan semakin menyelimuti area stadion ketika sang wasit berkata demikian. Pasalnya penduduk Mimika yang tahu bagaimana kekuatan Pangeran Mika pun merinding keakutan.
Kalau sampai anak itu tak terima dengan keputusan ini, dia pasti akan mengamuk di dalam stadion. Nyawa mereka benar-benar bisa terancam di tangan anak gila itu.
Kalau saja Mika bukanlah anak dari Raja Edward yang memimpin kerajaan ini, para penduduk pasti akan mengusirnya secara paksa mengingat bagaimana kemampuan pemuda tersebut seperti iblis. Benar-benar hal tabu ketika kerajaan memiliki keturunan seperti itu.
“Saya kan menghitung mulai dari angka tiga!” ujar sang wasit terdengar begitu lantang di antara keheningan dan ketegangan yang terjadi di dalam stadion ini.
“Satu!”
Remon tampak mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Entah kenapa, ia masih penasaran. Apakah Mika benar-benar tidak akan datang hari ini karena masih marah dengan orang-orang di kerajaan?
“Dua!”
Saat wasit menyebutkan hal tadi, Remon tampak menghela nafas. Apa boleh buat, sepertinya hinaan yang ia ucapkan pada sahabatnya itu tak mempengaruhi Mika sama sekali. Anak itu tidak akan datang ke sini. Ya, ia sangat yakin.
“Ti—“
“Kenapa kau harus berhitung seperti anak TK, Pak Tua?”
Suara yang berasal dari pintu masuk area lapangan itu langsung membuat seluruh orang menahan nafas. Sang wasiat yang merasa dirinya dihina oleh pemuda berusia 17 tahun itu pun sontak menoleh. Di tengah pintu, telah berdiri sosok Pangeran Mika yang tersenyum menyeringai dengan wajah marah.
“Aku sudah di sini, sialan! Kalian bisa melihatku kan?!”
Saat itu, seluruh penonton langsung bersorak dengan ekspresi bingung harus bagaimana. Nada bicara Mika yang kasar itu memang sudah menjadi ciri khasnya. Tapi entah kenapa, kali ini anak itu seperti kesal. Daripada membuatnya marah, lebih baik penduduk Mimika yang ada di stadion pun langsung bersorak meriah.
Mika melirik sebentar ke arah Ayahnya yang terlihat tak suka dengan sikapnya tersebut. Mengabaikan hal itu, pemuda ini justru melangkah maju mendekati Remon dan wasit. Ia berdiri angkuh di depan sahabatnya.
Mika menyipit dan langsung melebarkan senyum. “Sialan, kau harus membayar semua ini, Remon. Seenaknya saja mengatai seseorang pengecut setelah aku melakukan semua itu, kau benar-benar orang brengsek.”
Pemuda berambut biru gelap itu tampak mendengus. “Oh ya? Nyatanya aku memang tak selemah itu sampai harus mendapatkan pertolonganmu. Kau yang terus bersikap seperti anak kecil inilah yang menjadikanku lebih hebat darimu yang lemah. Camkan itu.”
Melihat situasi yang memanas antara Remon dan Mika, wasit yang sama sekali tak tahu apa-apa ini pun langsung merasakan sensasi keringat yang membanjiri dahinya. Ia batuk dengan sengaja untuk mencari perhatian kedua siswa akademi yang kini telah memakai jubah berwarna merah tersbeut.
“Karena kalian sudah berada di sini, bisakah kita mulai pertandingannya?” tanya sang wasit sambil menatap mereka secara bergantian.
Meskipun tak diberi jawaban, dari pancaran kedua mata anak muda ini, wasit berambut coklat itu bisa paham jika keduanya telah siap untuk bertarung. Ia langsung mengangkat tangannya ke atas. Ini adalah pertanda bagi seluruh orang kalau pertarungan duel akan dimulai.
“Dengan begini, aku nyatakan duel dimulai!”
Saat itu, tanpa basa-basi Remon dan Mika langsung maju. Mereka tak menunggu kesempatan untuk menunggu siapa yang akan menyerang dulu, melainkan langsung menyerang satu sama lain secara brutal. Kedua pemuda itu bagikan hewan liar yang saling bertuang dalam hutan.
Dari podium atas, beberapa kolega dari bangsa luar tampak kagum saat melihat bagaimana kemampuan yang ditunjukkan oleh Remon dan Mika di bawah sana. Salah satu pria pirang yang duduk di samping Pemimpin Kerajaan Mimika bernama Raja Edward itu pun langsung bersorak.
"Gila, sesi kali ini benar-benar sangat hebat. Para penonton satu stadion pun seolah lupa cara untuk bernafas saat melihat duel kali ini karena kaget akan cara bertarung mereka berdua.”
Pujian itu langsung dibalas senyum simpul oleh Edward. Pria bermata biru yang warna rambatnya kini memutih itu pun langsung berujar, “Anda terlalu berlebihan dalam memuji kemampuan mereka, Raja Charles.”
“Tentu saja tidak, Yang Mulia Raja Edward. Cara bertarung mereka sangat profesional. Putra Mahkota Kerajaan Mimika dan anak dari Perdana Menteri di negeri ini sangat tangguh. Mereka pasti akan menjadi tentara hebat suatu saat nanti,” puji raja dari negeri seberang itu.
Untuk sesaat, Raja Edward tampak melirik ke arah sang Perdana Menteri yang ada di sebelahnya. Untuk sekarang, sesi pertarungan antara Remon dan Mika adalah duel paling bagus di antara banyaknya siswa yang telah mereka lihat tadi. Ada rasa bangga yang terbesit di dalam hati kedua orang ayah itu.
Paling tidak, anak-anak mereka telah melakukan hal sebaik mungkin untuk menunjukkan kekuatan Kerajaan Mimika yang asli pada seluruh dunia. Dengan melihat bagaimana Remon dan Mika bertarung, negara lain di seluruh dunia pasti akan bertambah takut untuk menggoreskan taring di kerajaan ini.
Akan tetapi, sebuah ledakkan yang begitu keras langsung mengagetkan seluruh orang tak terkecuali bangsawan yang ada di kursi podium atas termasuk Raja Edward. Pemimpin kerajaan Mimika ini pun langsung berdiri dari singgasananya dan melihat apa yang terjadi di bawah sana secara jelas.
Kepulan debu dan asap yang membumbung tinggi pun membuat seluruh orang di stadion ini tak bisa melihat apa yang terjadi. Pertarungan dua orang siswa Akademi Sihir Mimika itu bahkan baru saja berjalan selama sepuluh menit, tapi kenapa bisa ada serangan ledakan sekuat itu?
Apa yang sebenarnya terjadi?
Ketika pemimpin Kerajaan Mimika yang bernama Edward ini tak bisa menahan kesabarannya lagi, ia langsung menghempaskan tangan kanannya ke samping. Dengan angin yang tiba-tiba bertiup kencang di stadion ini, seluruh debu dan asap yang mengepul langsung hilang dari area lapangan.
Pria berambut putih itu langsung membelalakkan mata tak percaya atas apa yang terjadi. Setengah dari area lapangan ini hancur dan telah menjadi kubangan yang begitu dalam. Di sana bisa terlihat jelas bagaimana Remon berbaring tak berdaya sembari batuk-batuk darah.
Ketika menyadari Mika tak berada di sana, Raja Edward langsung merasakan tubuhnya dipenuhi oleh keringat dingin. Di mana anak semata wayangnya berada?
Pria berambut putih dengan mata sipit itu benar-benar tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun dari tenggorokannya yang terasa kering secara tiba-tiba. Ia menggelengkan kepala tak percaya melihat pemandangan yang terjadi di bawah sana.
Akan tetapi, suara dari prajurit penjaga langsung menarik perhatian seluruh orang saat itu. “Ada penyusup! Kita diserang dan tolong waspada! Bantuan akan segera tiba!”
Edward langsung melebarkan mata tak percaya. Seluruh penonton di stadion tak bisa menahan kepanikannya.
“Apa yang sebenarnya terjadi?”