Chapter 4 - Wilayah Asing

1877 Kata
“Apa ... apa yang sebenarnya telah terjadi?” Nada suara lemah itu muncul begitu saja dari mulut seorang pemuda yang hanya bisa duduk termenung di padang rumput luas. Ia menatap kedua telapak tangannya yang dipenuhi lecet dengan mata tak percaya. Ketika kepala anak berusia 17 tahun itu menengadah, ia baru menyadari jika dirinya kini tak berada di lapangan stadion yang sama dengan tempatnya berada tadi. Mata pangeran bernama Mika ini langsung membulat tak percaya. Tempat ini begitu asing bagi Mika. Suasana hening di antara embusan angin kencang yang meniup jubah merahnya membuat sensasi tak nyaman semakin menyelimuti hatinya. Ini bahaya. Jika ia berubah tempat secara tiba-tiba seperti ini maka pasti ada hal yang tak beres terjadi. “Dimana aku sebenarnya?” tanya Mika kebingungan. Pemuda yang biasanya bertindak liar karena susah mengendalikan emosi ini pun langsung bangkit dari posisi duduknya. Dia mulai berjalan ke sana ke mari mengitari lapangan untuk mengobservasi tempat ini. Berapa kali pun dirinya berusaha, Mika Jonathan sama seklai tak mengenali wilayah asing ini. “Tipe sihir Remon adalah sihir teleportasi, tapi mungkinkah dia yang menyebabkan aku pindah ke tempat antah berantah seperti ini?” tanya Mika tak habis pikir. Karena terus memikirkan hal aneh ini dengan begitu keras, pemuda itu sekarang dibanjiri oleh keringat dingin. Dia memegang kepalanya yang berdenyut sakit dengan kedua tangan. Hal terakhir yang Mika ingat sebelum ada di tempat ini adalah seseorang datang menginterupsi pertarungan antara dirinya dengan Remon. Kalau orang itu adalah penyusup, maka bisa saja bukan Remon yang memindahkannya ke tempat asing ini. Penyerang itu mungkin mengasingkannya ke tempat ini sebagai ajang penyanderaan agar Raja Edward, yang notabenenya ayah dari Mika, untuk menyerah. Seluruh negara sudah tahu kalau ayahnya adalah tipe penyayang keluarga dan akan melakukan segalanya untuk Mika, meskipun ia sering kali bertindak tegas terhadapnya. Kalau sampai ada musuh yang memanfaatkannya sebagai tawanan, maka habis sudah. Sang ayah pasti akan menyerah dengan mudah demi keselamatannya. Tanpa dikatakan pun, pangeran mahkota yang bernama Mika Jonathan ini tahu betul jika kerajaannya pasti begitu kacau balau sekarang. Sialan, sialan, sialan. Pemuda berusia 17 tahun itu benar-benar terus mengumpat dalam hatinya. “Arghh!” Mika langsung meluapkan emosi hingga berteriak begitu keras. “Aku tidak bisa teleportasi! Aku juga tidak tahu di mana aku berada sekarang! Bagaimana caranya pergi dari sini, sialan?!” Pemuda itu berteriak dramatis seraya menatap horor ke sekitar. Seakan baru menyadari sesuatu, Mika merasakan kejanggalan ketika dua matanya melihat bahwa lapangan ini begitu terbuka. Jika musuh itu menggunakannya sebagai sandera, maka seharusnya lokasi ini dipenuhi oleh barier sihir atau pun penjaga kan? Ini terasa begitu aneh sekarang. Apa motif musuh-musuh yang menyusup ke dalam Festival Akademi Sihir Mimika itu sebenarnya? Sebagai seorang pangeran mahkota yang kemampuannya cukup ahli di dalam Akademi Sihir, Mika tak boleh bersikap gegabah atau pun putus asa di saat-saat seperti ini. Setelah berdiam diri dalam waktu lama, ia mulai menjernihkan kepalanya yang terus berdenyut pusing sejak tadi. Perlu diketahui saja jika tipe sihir Mika adalah telekinesis. Untuk mengecek apakah ada barier sihir tak kasat mata yang mengitari padang rumput ini, Mika harus mengecek sesuatu menggunakan teknik sihirnya. Ia pun segera memejamkan mata seraya menarik nafas dalam-dalam. “Ordo : Telekinesis!” ujar Mika sekuat tenaga seraya mencoba untuk menggerakkan batu yang ada di sampingnya tanpa menyentuh benda tersebut. Rencana Mika sekarang adalah memecah batu besar itu menjadi beberapa keping lalu melemparkannya ke segala sisi padang rumput ini, untuk mengetes apakah ada barier sihir tak kasat mata yang melindungi area ini. Barier sihir tak kasat mata lebih berbahaya daripada barier sihir berwarna pada umunya. Jika Mika nekat keluar dari suatu wilayah yang dipasangi barier sihir tak kasat mata, bisa saja tubuhnya nanti langsung terbelah menjadi beberapa bagian karena sifat barier magis tersbeut. Jadi untuk mengetesnya, pemuda berambut hitam itu langsung melemparkan baru ke beberapa area. Namun, raut syok tertera jelas di ekspresinya ketika menyadari bahwa ia hanya bisa mengangkat batu itu beberapa inci lalu kekuatan sihirnya menghilang. Mata Mika pun langsung membulat sempurna. Apa lagi sekarang? Mungkinkah para musuh kerajaan yang telah menculik Mika ke tempat ini telah memberikannya racun tanpa disadari sehingga kemampuan sihirnya melemah begitu drastis? “Sialan, apa ini sebenarnya?!” geram Mika. Ia mencoba untuk meramalkan sihir berulang kali namun tetap tak bisa. Semakin ia coba, semakin melemah kemampuan sihirnya. Mika langsung menyadari hal itu ketika percobaan sihirnya yang kelima pada batu itu gagal dan ia sama sekali tak mampu mengangkatnya dari tanah menggunakan telekinesis sekarang. “Arghhh! Apa yang sebenarnya mereka lakukan padaku?!” Teriakan frustrasi dan marah itu pun langsung terdengar jelas darinya. Mika mengacak-acak rambutnya kacau sehingga penampilan pemuda itu kini lebih mirip seperti ilmuwan gila yang baru saja gagal dalam melakukan suatu percobaan. Ia benar-benar stres hingga kepalnya tanpa henti berdenyut. Sebenarnya apa yang terjadi? Kalau dipikir-pikir, Mika sama sekali tak pingsan sejak tadi. Ia hanya berpindah tempat ke lokasi asing ini dalam satu kedipan mata. Tak mungkin orang yang menculiknya ke sini punya waktu untuk melemahkan kemampuan sihirnya yang digadang-gadang mirip dengan kemampuan sihir Raja Pertama Mimika yang melegenda. Kalau memang benar, jika orang yang telah menculik Mika ke sini meracuninya sehingga kemampuan sihir pemuda itu melemah, maka habis sudah riwayatnya. Ia benar-benar akan terjebak di tempat ini selamanya tanpa diketahui oleh satu orang pun dan tak bisa bebas dari sini. “Sialan, aku akan menua di tempat ini seorang diri. Aku tak punya cara untuk kembali bahkan tak tahu di mana tempatku berada sekarang. Aku akan mati di tanah asing ini. Namaku akan hilang dari peradaban. Bahkan yang lebih buruk, sekarang kemampuan sihirku lenyap tanpa suatu alasan. Kalau begini, aku ... tak akan bisa memakai sihir lagi?” Mika jatuh terduduk di padang rerumputan ini dengan ekspresi hampa. Seluruh kejadian yang tiba-tiba menerpa hidupnya dalam waktu singkat ini seperti mimpi di siang bolong. Apa ini maksudnya? Bukankah lebih baik baginya untuk mati sekarang saja daripada melalui semua hal seperti ini? “Argh! Sialan! Kenapa hal seperti ini harus terjadi?! Aku adalah Mika Jonathan! Penerus Kerajaan Mimika yang memiliki kemampuan sihir terhebat di seluruh penjuru ngeri! Beraninya kau menculikku ke tempat ini dan—“ “Ehm, maaf, Kak.” Suara asing yang tiba-tiba memasuki indra pendengaran Mika itu langsung membuatnya tersentak kaget. Ia merasakan sensasi seolah jantungnya sedang berhenti beretak. Dengan gerakan kaku, pemuda tampan bersurai hitam itu mendongakkan kepala dan melihat ada seorang anak kecil laki-laki berusia 6 tahun yang memandangnya dengan tatapan khawatir. Tunggu, ia tak salah lihat kan? Kenapa ada anak kecil di area ini? Apakah mungkin ia adalah salah satu pengguna sihir modifikasi tubuh dan kini menyamar sebagai anak kecil untuk menjebaknya? Mika yang meyakini hal tersebut langsung menyipitkan matanya tajam. Ia menatap anak itu dengan pandangan membunuh. Anak ini pasti salah satu penyihir kuat sehingga ia bisa menerobos masuk melewati barier sihir tak kasat mata. Umurnya saja terlihat seperti 6 tahun, tapi Mika yakin jika orang ini pasti manusia licik yang telah membawanya ke sini. Di lain sisi, anak kecil berambut hitam yang kaget dengan tatapan tak suka dari pemuda di depannya ini langsung terenyak. Ia mengalihkan pandangan karena rasa canggung. Di lihat dari mana pun, siapa orang aneh yang terus berbicara seorang diri di lapangan ini sejak tadi? Jubah merah yang dikenakan oleh mas-mas ini juga terlihat aneh baginya. Untuk sesaat, anak kecil itu berpikir bahwa orang tersebut adalah pemain film. Namun karena ia tak bisa menemukan kamera atau pun kru di sini, jadi dugaannya tadi pasti salah. Kalau tidak khawatir, mana mungkin anak tersebut mau menemui orang gila seperti mas-mas yang menatapnya tajam ini? Harusnya ia mengabaikan orang ini tadi dan melanjutkan aksinya yang mencari pakan rumput untuk hewan ternak. Dengan helaan nafas panjang, anak kecil itu berujar, “Apakah kau tidak apa-apa?” Diam. Orang aneh yang sepertinya masih menduduki bangku SMA ini bertindak seolah dia tak memahami bahasa yang diucapkan olehnya. Tentu saja, anak itu mengernyit heran. Di zaman sekarang, orang mana yang tak bis memahami Bahasa Indonesia yang baik dan benar coba? “Apakah kau tak memahami apa yang kukatakan tadi, Kak?” tanyanya sekali lagi untuk memastikan. Raut wajah kebingungan dari mas-mas ini semakin membuat anak itu heran. Sejak awal ia tahu kalau orang ini aneh karena terus berteriak dan berbicara sama batu, tapi dirinya sama sekali tak menyangka jika orang ini malah tak mengerti Bahasa Indonesia. “Kau berasal dari daerah mana? Apakah kau dari daerah pelosok sehingga tak mengerti Bahasa Indonesia?” “Indonesia ...?” Anak kecil itu mengangguk sebagai tanda untuk membenarkan pertanyaan dari mas-mas yang ada di depannya. Padahal kalau dilihat dari sisi mana pun, orang ini tampak begitu modis dengan baju berkualitas dan jubah merah kerennya. Tapi, siapa yang mengira jika ia justru tak paham Bahasa Indonesia? Ketika pemuda yang memakai jubah merah itu berbicara, si anak yang mendengarnya semakin kebingungan karena tak pernah tahu ada bahasa aneh seperti itu di negara ini. Dahinya mengerut sebagai tanda tak paham. Orang gila dari manakah mas-mas yang diajaknya bicara sekarang? “Argh, aku sama sekali tak mengerti apa yang kau katakan. Tapi kalau dilihat-lihat, sepertinya kau kebingungan. Apakah mungkin dirimu tersesat?” Anak kecil itu pun menghela nafas lagi ketika pertanyaannya tadi hanya mendapatkan respons bingung dari orang di depannya. Orang ini benar-benar tak paham satu pun arti dari kata yang diucapkan olehnya. Kalau begini apa boleh buat kan? Ia tak mau berlama-lama dengan orang aneh ini karena harus mencari pakan untuk sapi di rumahnya. Akan lebih baik jika dirinya membawa mas-mas ini ke rumah Pak Lurah agar dibantu. Anak kecil berusia enam tahun itu pun akhirnya membuat gestur seolah meminta mas-mas tadi untuk berjalan mengikutinya. Awalnya, ia bisa melihat keraguan di wajah mas-mas itu tapi pada akhirnya dia mau mengikutinya. Dengan cepat, anak bersurai hitam tadi langsung mengambil celurit dan karung yang masih sedikit dipenuhi oleh rumput di samping kanannya. Ia melirik ke arah mas-mas tadi yang berdiri di belakangnya. “Aku akan mengantarmu ke rumah Pak Lurah, jadi jelaskan saja semuanya di sana. Sebenarnya aku tak mau melakukan ini karena harus mencari pakan sapi. Tapi, apa boleh buat kan? Menyaksikanmu kebingungan juga membuatku tak tega. Jadi, ayo ikuti aku!” Saat itu, anak kecil berusia enam tahun itu pun merutuki kebodohannya sekali lagi karena telah berbicara dengan mas-mas tersebut menggunakan Bahasa Indonesia yang sama sekali tak dipahami olehnya. Ia benar-benar buang waktu saja. Anak itu pun pada akhirnya langsung berjalan dan mas-mas berjubah merah tadi mengikutinya. Ia tidak tahu kenapa, tapi bocah laki-laki ini sekaan merasa jika orang aneh di belakangnya terus saja menatap celurit yang ada di tangan kiri anak tersebut. Masa iya mas-mas aneh ini takut dengan celurit yang digunakannya untuk memotong rumput? Aneh-aneh saja. Keduanya pun berjalan terus menyusuri jalan aspal yang mengarah ke selatan ini. Dari kejauhan, terdengar suara meriah dari area pasar malam yang sebentar lagi akan buka. Anak itu baru teringat kalau untuk menuju rumah Pak Lurah, maka mereka harus melewati pasar malam itu. Meskipun ia bersikap tenang di luar, anak berusia enam tahun ini berharap jika mas-mas aneh yang ia kira awalnya sebagai artis ini tadi bukanlah orang jahat. Bisa gawat kalau ia diserang atau dirampok olehnya secara tiba-tiba. Sambil melirik ke belakang, anak ini menghela nafas dalam-dalam. Ia kemudian bergumam pelan, “Ehm, lagi pula tak mungkin ada perampok yang memakai baju bagus seperti itu kan? Yah, semoga saja hal yang kutakutkan tadi tak terjadi.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN