“Apakah kau memerlukan bantuanku?”
Kehidupan itu memang unik dan pemuda bernama Mika Jonathan ini mengakuinya. Di balik suatu kisah kehidupan akan selalu terbesit cerita lainnya yang menyertai. Ia yang selama ini cukup bangga dengan gelarnya sebagai pangeran mahkota justru baru menyadari hal tersebut.
Selama ini Mika selalu dipuji karena kemampuan sihirnya yang luar biasa. Ia membanggakan hal itu di atas segalanya karena tahu bahwa tidak ada orang yang akan berani macam-macam dengannya. Akan tetapi, seluruh kejadian yang melanda hidupnya hari ini membuat pemuda itu menyadari bahwa itu semua bukanlah apa-apa.
Ini menyebalkan. Ketika sesuatu yang kau banggakan musnah begitu saja dari dalam dirimu, rasanya pasti begitu hampa. Begitulah yang dialami oleh Mika sekarang. Dirinya pusing karena mendengar begitu banyak bahasa asing nan aneh yang sama sekali tak dimengerti olehnya.
Anak yang bersamanya beberapa saat lalu berkata soal Indonesia terus berulang kali. Mungkinkah tempat antah berantah ini adalah wilayah yang dijuluki sebagai Indonesia itu?
“Apakah kau memerlukan bantuanku?”
Suara aneh ini kembali datang. Suara seorang wanita yang terdengar di kepalanya ini menggunakan Bahasa Mimika yang dipahami olehnya. Awalnya Mika mengabaikan hal itu karena ia dipusingkan oleh suasana bising di sekitar yang menggunakan bahasa aneh.
Akan tetapi, kali ini ia tak mungkin salah dengar. Suara wanita ini terdengar dari arah kerumunan orang seperti suasana pasar ini. Pasti ada orang yang menggunakan kemampuan sihir telepati padanya dari sekian banyak manusia yang mengerubungi area ini.
Mika yang linglung berusaha untuk terus berjalan melewati banyaknya orang seorang diri. Ia harus menemukan sosok yang melakukan telepati ini padanya sekarang juga. Apa pun yang terjadi, Mika percaya bahwa suara ini mampu memberinya petunjuk tentang lokasi keberadaannya sekarang.
Ngomong-ngomong soal kesendiriannya, pemuda bersurai hitam legam ini dengan sengaja meninggalkan anak kecil yang telah menolongnya tadi ketika mereka berdua melintasi area pasar malam ini. Meskipun sepertinya anak kecil itu berniat menolongnya, entah kenapa Mika merasakan perasaan buruk ketika berdua dengannya.
Anak kecil itu aneh. Ia membawa suatu senjata tajam dengan karung di tangannya yang lain. Akan tetapi, kenapa setiap orang yang melihatnya justru tampak terbiasa dengan hal itu dan bahkan menyapanya ramah?
Apakah semua penduduk di wilayah ini sudah gila? Padahal seluruh orang tahu jika kepemilikan senjata tajam adalah suatu tindak kriminalitas di Kerajaan Mimika dan seluruh dunia ini. Orang-orang di sini pasti tidak ada yang beres karena bersikap biasa saja ketika ada anak kecil membawa celurit dengan santainya seperti tadi.
Karena dibutakan oleh gangguan panik yang terus menerpanya, Mika pun tak tahan lagi dan memutuskan untuk kabur dari anak tersebut. Ia tak tahu ke mana bocah enam tahun itu akan membawanya tadi, tapi sepertinya keputusan Mika untuk kabur darinya adalah pilihan terbaik. Pemuda itu kini tampak menyusuri area pasar malam yang begitu luas.
Di dalam pasar inilah, dirinya tiba-tiba merasakan jika ada seseorang yang mencoba melakukan telepati dengannya menggunakan Bahasa Kerajaan Mimika yang dipahami oleh pemuda tersebut. Keberadaan Mika di sini untuk mencari sosok wanita yang berbicara dengannya sekarang.
“Meskipun lemah, tapi aku yakin sekali jika ada kekuatan sihir yang mengarah ke jalan ini.”
Dengan wajah ragu yang bercampur cemas, laki-laki itu terus nekat mencari. Ia terus menyusuri jalan-jalan yang diyakini olehnya berisi kemampuan sihir yang akan menuntun Mika ke tempat sosok wanita yang bertelepati dengannya tadi.
Pada akhirnya, langkah pemuda jangkung itu berhenti di depan sebuah tenda berwarna merah aneh yang tertutup. Meskipun di sekitar sini Mika ada banyak pedagang yang dipenuhi oleh pelanggan, anehnya tempat ini justru terasa begitu sepi.
Pemuda yang mengenakan jubah merah itu pun semakin yakin jika tenda ini pasti bukan tenda biasa. Jika dirinya masuk ke dalam, pasti Mika akan menemukan informasi soal alasan keberadaannya di tempat aneh ini, di mana manusia-manusia yang ada di sini menggunakan bahasa yang sama seklai tak dapat dipahami olehnya.
Dengan satu tarikan nafas, pemuda itu membulatkan tekad untuk melangkah masuk. Ia membuka tenda dan menemukan seorang wanita berusia sekitar 30 tahun yang memandangi bola kristal. Tanpa hitungan lama, wanita itu menengadahkan kepala dan tersenyum penuh arti ke arahnya.
“Ah, aku sama sekali tak menyangka jika kau akan datang.”
Saat mengetahui bahwa wanita ini memang benar-benar bisa berbicara dengan Bahasa Mimika yang dapat dipahami olehnya, Mika pun merasa begitu lega. Ia langsung berjalan cepat mendekati sosok tersbeut.
“K-kau! Bagaimana mungkin kau bisa menggunakan bahasaku dan melakukan telepati tadi? Apakah kau yang sudah membawaku ke sini?!” tanya Mika secara bertubi-tubi.
Melihat bagaimana orang ini yang langsung marah-marah kepadanya, wanita ini langsung tersenyum tak mengerti. “Tunggu, tunggu! Sepertinya kau sudah salah paham!”
“Salah paham katamu, hah?!” Mika langsung menarik kerah baju wanita yang lebih tua dua kali lipat dari umurnya tersbeut. “Kau adalah satu-satunya orang yang mencurigakan di sini. Jadi, bagaimana mungkin aku percaya jika kau bukanlah orang yang membawaku ke sini?!”
Wanita bersurai hitam sebahu yang mengenakan anting-anting kertas berwarna merah di telinganya itu langsung tersentak kaget. Ia tak menyangka jika bocah ini akan berani pada wanita, terlebih lagi orang yang lebih tua darinya. Meskipun begitu, dirinya tetap berusaha untuk bersikap tenang.
“Sebelumnya mari kita perkenalkan dulu, namaku adalah Putri Pangestu. Aku adalah seorang peramal ahli di desa ini.”
“Kau pikir siapa yang akan peduli dengan itu, hah?!” Mika berteriak dengan begitu marah. Ia semakin menguatkan tarikan di kerah baju wanita ini. “Cepat kembalikan aku ke Kerajaan Mimika sekarang juga atau kau akan mati sekarang!”
Meskipun awalnya terkejut bukan main dengan teriakan tadi, wanita bernama Putri itu seolah menyadari sesuatu beberapa saat kemudian. “Kerajaan Mimika katamu?”
“Iya! Apakah kau sudah lupa dari mana asalmu menculikku ke sini, hah? Aku adalah Putra Mahkota dari Kerajaan Mimika, namaku Mika Jonathan!”
Saat itu, Mika bisa melihat bagaimana decakan kagum keluar dari wanita ini. Ia yang sejak tadi emosi pun langsung memandangnya penuh heran. Apakah wanita ini gila?
“K-kau adalah Raja Mika Jonathan?”
“Hah? Apa?” Karena saking kagetnya, Mika tanpa sadar melepaskan tarikan tangannya dari kerah baju wanita berusia 30 tahunan ini.
“Aku tidak salah lagi! Kau memang dia! Akan tetapi, kenapa dirimu terlihat seperti bocah sekarang?” tanya Putri yang langsung membuat Mika semakin heran.
Wanita ini terus mengobservasi Mika dari ujung kaki hingga pucuk rambut. Daripada dikatakan sebagai sosok penjahat yang telah menculiknya, orang gila ini lebih mirip seperti penggemar yang baru saja bertemu dengan idolanya.
“Apa kau tahu tahun berapa sekarang ini?” tanya wanita yang bernama Putri ini secara tiba-tiba.
“Tentu saja aku tahu. Ini adalah tahun 122 Masehi, bukan?”
Tawa langsung keluar dari mulut wanita itu. Ia terpingkal-pingkal. “Kenapa bisa orang kuno sepertimu ada di sini? Ini adalah tahun 2022! Sepertinya dirimu telah berpindah tempat ke masa depan, melompati 1900 tahun!”
Ketika Mika ditunjukkan kalender oleh wanita berambut sebahu itu, ia langsung membelalakkan mata tak percaya. Ini bukanlah tipuan. Waktu ini nyata. Mika yang awalnya berpikir jika dirinya telah diulik oleh penyusup tadi, ternyata justru terlempar ke tahun 2022. Pantas saja semuanya terasa begitu asing dan aneh baginya.
“T-tunggu, jika semua ini benar lantas kenapa kau masih bisa mengenalku? Buktikan kalau kau memang bukan pelaku yang telah membawaku ke tempat ini!” tuntut Mika dengan nada gugup karena masih tak percaya.
“Sederhana saja, Kerajaan Mimika telah musnah di zaman ini. Orang-orang tidak akan ada yang mempercayai sihir dan semacamnya. Kalau kau berteleportasi ke zaman ini, pasti kutebak sihirmu melemah kan?”
Mata Mika membulat sempurna. “Bagaimana kau juga tahu hal itu?”
“Sihir tetap akan ada selama banyak orang terus mempercayainya. Karena di zaman ini orang-orang menganggap hal itu sebagai kisah dongeng saja, maka eksistensi sihir di muka bumi ini melemah. Oleh karena itu kau pun juga kehilangan sihirmu,” jelas wanita itu.
Mika yang masih bingung ketika mencerna semua hal ini langsung terdiam membisu. Dalam satu hari saja, hidupnya tekah berubah drastis. Ia ada di negara antah berantah setelah berteleportasi ke tahun 2022. Fakta yang mengatakan kalau kerajaannya musnah pun semakin membaut Mika tak berdaya.
Melihat bocah berusia 17 tahun ini hanya bisa bengong, wanita itu tampak berjalan menuju rak-rak buku yang berada di belakang meja kerjanya. Ia mengambil suatu buku tebal yang menyerupai ensiklopedia mulai dari jilid satu hingga delapan saja.
Mika yang tak mengerti pun hanya mampu memperhatikan wanita ini. Ia begitu kaget ketika melihat judul buku bersampul coklat itu ditulis menggunakan Bahasa Mimika. Di sana tertulis jelas jika judul bukunya adalah Sejarah Kerajaan Mimika.
Saat itu, senyum dari wanita bernama Puteri ini langsung merekah. “Apakah kau tahu? Aku adalah satu-satunya keturunan dari Suku Kerajaan Mimika yang hidup di masa ini. Meskipun kerajaan kita hancur, namun nyatanya aku masih bisa terlahir di zaman sekarang dan mengerti seluk beluk ajaran sihir.”
“J-jadi, kau bukan orang yang telah menjebakku dan menculikku ke tempat ini?” tanya Mika sekali lagi untuk memastikan.
Meskipun biasanya ia ganas dan emosional, tapi di saat-saat seperti ini dirinya benar-benar dikuasai oleh rasa bingung dan tak berdaya akibat kekuatan sihirnya yang lemah. Ia tak mau mati dan putus asa sekarang. Wanita bernama Putri ini pasti tahu suatu cara yang membuatnya bisa pulang kembali ke zamannya.
“Ini adalah dirimu bukan?” tanya wanita itu secara riba-tiba seraya menunjuk potret orang tua yang mengenakan mahkota Raja Mimika di dalam buku tersbeut.
Saat ditanyai demikian, Mika pun langsung mengerutkan dahinya. Dia bahkan tak mengenali orang tua ini, lantas kenapa Putri bertanya demikian? Ketika pemuda itu melihat tulisan Mika Jonathan di sana, ia barui adar jika orang tua ini adalah potret dirinya nanti.
“Entah kenapa, tadi aku tiba-tiba bisa merasakan suatu energi sihir dari kerajaan Mimika yang sama dengan milikku. Padahal selama aku hidup, aku hanya bisa mendeteksi sihir-sihir ini dari keluargaku saja yang berasal dari Suku Mimika. Jika ada seseorang yang muncul dan memiliki energi sama, sensorku pun langsung memberitahu.”
Saat dijelaskan seperti itu, Mika langsung memperhatikan wanita yang lebih tua darinya tersbeut. Ia mulai memahami situasi yang ada sekarang dan bisa menganggap kalau orang ini benar-benar dapat dipercayai. Putri pasti bukanlah orang yang telah menculiknya.
“Karena energi sihirmu yang mirip dengan Suku Mimika dan terasa begitu kuat bagiku, aku pun berusaha untuk melakukan telepati menggunakan bahasa kita. Dan sekarang, kau benar-benar datang menemuiku. Siapa yang mengira kalau orang yang terasa di sensorku tadi justru versi anak muda dari salah satu raja hebat di Kerajaan Mimika dulu?”
Dipuji begitu, kebanggaan yang ada dalam diri Mika langsung melonjak drastis. Ia mengalihkan pandangan dengan muka yang sedikit memerah karena malu dan bangga. Pemuda berusia 17 tahun ini kemudian memegang buku yang diperlihatkan oleh Putri tadi.
“Tunggu, apakah aku bisa membaca isi buku ini agar tahu alasan kenapa Kerajaan Mimika bisa hancur?”
“Tidak!” tolak wanita itu secara langsung. “Keberadaanmu di sini saja adalah sebuah kesalahan, Mika Jonathan. Kau bisa mengubah masa depan yang akan terjadi sekarang. Jadi, dirimu harus cepat kembali!”
Saat itu, kepala Mika langsung berdenyut lagi karena ras stres, “Kalau aku bisa kembali, maka aku sudah melakukannya sejak tadi. Aku sama sekali tak tahu alasan kenapa diriku di sini dan bahkan aku juga tak punya kemampuan teleportasi. Jadi, aku tak bisa kembali sebelum ada pihak kerajaan yang membawaku pulang dari sini.”
Mika langsung menjelaskan segala hal pada wanita penyihir berusia 30 tahun itu. Mereka mengobrol cukup lama dimana Mika menceritakan apa yang terjadi di kerajaannya tadi dan Putri yang menjelaskan segala informasi yang ada di zaman sekarang. Wanita itu menjelaskan soal negara ini, sistem kerjanya, dan mata uang yang berlaku.
“Aku adalah orang biasa dari kelas rendahan di keluarga Kerajaan Mimika. Jadi, tak mungkin aku bisa menggunakan alat teleportasi untuk membantumu. Apalagi pekerjaanku di desa ini adalah sebagai tabib yang membantu pengobatan warga. Kalau sampai ketahuan fakta jika diriku bisa menggunakan sihir, maka habis sudah. Bisa-bisa mereka membunuhiku!”
Saat Putri mengucapkan hal tersebut, mata Mika langsung membelalak tak percaya. Apakah di zaman ini keberadaan orang-orang yang bisa menggunakan kekuatan sihir begitu dikecam oleh masyarakat? Bisa gawat kalau ia masih nekat menggunakan sihir di dalam dunia ini.
Meskipun Putri mengucapkan hal tadi dengan hiperbola dan tak mungkin ada masyarakat yang akan membunuhnya, ia tak sadar jika calon raja yang ada di depannya malah menelan informasi itu mentah-mentah.
Wajah Mika yang pucat justru disalahartikan oleh wanita itu sebagai tanda kalau pemuda tersebut begitu kebingungan sebab tak bisa pulang ke zamannya. Ini memang merepotkan. Akan tetapi, ia juga tak bisa membiarkan Mika berkeliaran di abad ini.
Keberadaannya terlalu mencolok dan Mika Jonathan bisa membuyarkan segala sejarah yang ada sekarang. Putri meyakini teori jika setiap pergantian perilaku kita di masa lalu, walaupun sedetik saja, itu pasti akan mengubah hal-hal penting di sejarah nantinya.
Hal yang menjadi momok baginya adalah kenyataan kalau bisa saja dia tak akan terlahir karena insiden Raja Mimika yang terlempar ke masa depan ini. Itu adalah hal buruk. Putri tak bisa tinggal diam melihat ini semua. Setelah cukup lama berpikir, akhirnya wanita ini tampak membuat keputusan.
“Begini, setelah kupikir-pikir kukira aku punya solusi atas masalahmu. Aku akan membantumu kembali—“
“Pak Lurah, itu mas-mas aneh yang kubilang tadi! Tolong bantu dia karena aku sama sekali tak mengerti bahasanya!”
Suara anak kecil yang dikenali oleh Mika dan wanita bernama Putri itu langsung menarik perhatian keduanya. Wanita bersurai hitam sebahu itu pun langsung kaget ketika Pak lurah datang ke sini bersama putranya.
“Anakku, ada apa ini? Kenapa kau membawa Pak Lurah ke sini?”
“Ibu, mas-mas itu tersesat dan ia menggunakan bahasa aneh yang sama sekali tak kupahami. Jadi aku membawa Pak Lurah ke sini untuk menolongnya!”
Saat itu, Mika yang kebingungan pun langsung memandang bocah berusia 6 taun yang ditemuinya tadi dan Putri secara bergantian. Pemuda itu menatap wanita yang ada di depannya dengan ekspresi kaget.
“Tunggu, dia anakmu?”
Dan sekarang, sepertinya suasana semakin runyam saja. Mika hanya bisa berharap jika ia tak akan gila berada di tempat ini dalam jangka waktu yang lama.