Chapter 6 - Drama

2096 Kata
Untuk sesaat, suasana menjadi hening di tempat ini. Mika, anak kecil berusia 6 tahun, wanita penyihir yang mengaku namanya sebagai Putri, dan seorang Pak Lurah duduk melingkari meja. Mereka masih berada di dalam tenda merah dari tabib pengobatan tradisional yang paling mujarab di desa ini. Sebagai orang dewasa yang sudah paham cara mengendalikan masalah, wanita berusia 30 tahun yang bernama Putri itu menjelaskan semua hal secara rinci. Sebelumnya, dia telah mendengarkan cerita pertemuan antara Mika dengan anaknya yang bernama Riko. Mika sendiri terlihat menghela nafas berat. Ia melirik bocah yang duduk di sampingnya dengan tatapan jengah tanpa disadari oleh siapa pun. Sejak awal, insting pemuda ini memang benar. Mika telah merasakan suatu firasat buruk akan terjadi padanya jika ia terus menempel dengan bocah menyebalkan ini. Segalanya pun terbukti benar. Di saat ia akan menemukan kunci permasalahan dan jalan keluar dari perkaranya, anak itu justru muncul sambil membawa seseorang yang bernama Pak Lurah ini. Meskipun Putri tampak menjelaskan semua hal tentang Mika kepada Pak Lurah itu dengan bahasa yang tak dapat dipahami olehnya, ia langsung merasa jika Pak Lurah itu adalah pemimpin di wilayah ini. Bisa saja orang tua berambut putih ini adalah raja. Ia harus hati-hati dengannya. “Sekarang aku mulai paham dengan situasinya. Jadi, anak muda ini adalah kerabatmu dari jauh yang secara kebetulan datang ke sini tanpa memberitahumu terlebih dahulu sehingga ia justru tersesat? Kalau begini, maka cerita yang disampaikan oleh Riko terasa masuk akal,” ujar Pak Lurah. Riko yang mendengar itu langsung memasang pose berpikir. “Ini menjelaskan kenapa mas-mas ini tampak begitu stres di lapangan tadi. Kondisinya memprihatinkan dan dia seperti orang gila.” Mendengar itu, Putri benar-benar tak bisa menyembunyikan ekspresinya untuk tak tertawa. Ia melirik ke arah Mika yang hanya diam kebingungan karena tak mengerti bahasa yang digunakan mereka bertiga untuk berbicara. “Begitulah, anak ini berasal dari suku yang sama denganku. Dia hanya datang berkunjung dan mungkin akan menginap sehari. Anda tak perlu khawatir. Selama dia ada di sini, aku akan menjadi walinya dan mempertanggungjawabkan segala hal yang ia perbuat nanti,” jelas Putri dengan senyum ramah. Bagaimana pun juga, Pak Lurah tahu kalau Putri bukanlah wanita biasa. Ia adalah sosok wanita terhormat yang begitu disegani, bahkan dirinya pun begitu menghormati wanita itu. Jasa-jasanya yang mendedikasikan diri untuk menjadi tabib desa di zaman modern ini sungguh perlu diapresiasi. Dulunya, Putri berasal dari daerah yang cukup jauh. Ia seperti gadis kota kebanyakan. Karena area desa ini bisa dikatakan terpencil, para warga harus datang ke rumah sakit kota ketika sakit. Keberadaan Putri selama bertahun-tahun di sini telah membantu mereka semua untuk memberikan pertolongan pertama bila ada orang yang kesakitan. Jika wanita ini telah berkata demikian. Tak ada alasan lagi bagi Pak Lurah untuk meragukan pemuda yang dibilang aneh oleh Riko tadi. “Saya percaya dengan apa yang Anda ucapkan. Kalau begitu, saya akan undur diri terlebih dahulu.” Saat itu, Putri langsung tersenyum ramah seraya mengangguk paham. Sebelum Pak Lurah meninggalkan tenda berwarna merah ini, ia melirik ke arah pemuda bersurai hitam itu. “Maaf kalau kesalahpahaman ini membuatmu merasa tak nyaman ya, Nak. Tolong nikmati masa liburanmu di sini dan semoga betah.” Mika terdiam dengan wajah aneh. Jujur, ia sama sekali tak tahu harus memasang ekspresi seperti apa selain tersenyum karena tak mengerti apa arti ucapan Pak Tua itu. “Kau juga harus pulang, Riko. Ayahmu pasti cemas nanti. Lagian kenapa sih harus cari pakan sapi di jam-jam sore begini? Ini kan bukan tugasmu,” tegur Putri dengan wajah lelah. Anak itu tampak cemberut. “Aku ingin menjadi kaya jadi aku harus bisa menghasilkan uang yang banyak. Pak Bambang memberitahuku jika aku terus membawakan pakan yang banyak untuk sapinya, aku akan diberi upah dua kali lipat.” “Astaga, anak ini benar-benar. Apakah uang saku yang ibu dan ayahmu berikan selama ini tidak cukup sampai kau harus bekerja hah?” “Bukan begitu. Aku ingin jadi orang kaya. Lagian orang kaya mana yang tidak mau menerima uang?” Berdebat dengan bocah ini tak ada gunanya. Putri yang sudah tidak tahan lagi untuk mencubit anaknya ini pun langsung memerintahkan Riko untuk pulang dan mandi. Meskipun anak itu terlihat ogah-olahan, dia akhirnya pergi dari tempat ini. Suasana menjadi hening kembali. Kini hanya tersisa Mika dan Putri yang duduk saling berhadapan di meja bundar tersbeut. Wanita berambut hitam sebahu itu tampak melirik ke arah jam yang sekarang sudah menunjukkan pukul delapan malam. Sepertinya, hari ini akan menjadi hari yang panjang baginya. “Sebelumnya aku akan memberimu sesuatu,” ujar Putri menggunakan Bahasa Kerajaan Mimika kuno yang dimengerti oleh pangeran yang satu itu. Dahi Mika Jonathan pun mengerut. “Apa maksudmu?” Saat tangan telunjuk Putri menyentuh dahi Mika secara tiba-tiba, pemuda bersurai hitam itu pun baru mengerti makna dari ucapannya tadi. Meskipun awalnya Mika ingin marah karena orang ini sudah tak sopan sebab berani menyentuhnya, keinginan itu tiba-tiba sirna ketika ia bisa mendengar suara bising dari luar. Mata pemuda berusia 17 tahun itu melebar kaget. “Suara ini?” “Ya, ini adalah suara orang-orang di luar. Lebih tepatnya Bahasa Indonesia yang kami gunakan dalam kegiatan sehari-hari. Aku juga memberikanmu kemampuan pemahaman Bahasa Inggris agar kau semakin mengerti bahasa-bahasa di zaman ini.” Mika tak percaya. Wanita yang merupakan rakyatnya di tahun 1900 ke depan ini ternyata adalah orang yang begitu baik. Ia telah menolong Mika dan pemuda itu tak tahu harus membalas seperti apa kebaikan ini. Kini, Mika benar-benar sudah mengerti bahasa yang dipakai oleh orang-orang di luar tenda sana. Bahasa yang digunakan oleh orang- orang di pasar malam yang sebelumnya sama sekali tak dimengerti oleh Mika pun, kini terasa mudah dipahaminya. Ia bahkan mencoba berbicara dengan Putri menggunakan Bahasa Indonesia yang begitu bagus. “Jujur saja, meskipun aku adalah keturunan terakhir dari bagian Kerajaan Mimika dahulu, tipe sihirku cukup hebat,” ujar ibu-ibu itu membanggakan diri. “Biar kutebak. Ini adalah tipe sihir penyembuhan bukan?” Mika menanyakan itu dengan seringai lebar di wajahnya. Ia disebut jenius bukan tanpa alasan, hobi pemuda berandalan yang suka membaca buku ini telah membuatnya mengetahui segala informasi mengenai tipe-tipe sihir. “Kau benar. Bukan suatu hal yang mengejutkan dari sosok hebat sepertimu jika tahu akan hal ini. Bakat sihirku ini dikenal sebagai penyembuhan sehingga aku pun bisa menjadi tabib di desa ini. Studiku soal kedokteran di perguruan tinggi pun menjadikanku punya gelar ternama dalam hal medis.” Mereka berdua yang kini berbicara dengan Bahasa Indonesia itu tampak memandang satu sama lain dengan raut serius. “Lalu yang kau lakukan padaku tadi adalah sistem penyembuhan dimana dirimu memaksa otakku untuk beradaptasi di masa ini kan?” Putri tersenyum mendengar tebakan Mika yang tepat sekali. “Kau benar. Kemampuan manusia yang paling hebat itu terletak di otaknya. Ia akan dipaksa dan terus dipaksa untuk beradaptasi dengan segala hal perubahan di dunia ini. Jika aku menyembuhkan otakmu yang syok dengan adaptasi ini menggunakan efek sihir, kau bisa hebat menyerap dan menerima semua hal di sekitarmu.” Wanita berusia 30 tahun ini melakukan semua hal itu tanpa alasan. Ia tahu jika Mika adalah seorang mesin berjalan. Meskipun dirinya memiliki kemampuan pengendali emosi yang buruk, calon raja terkuat dalam catatan sejarah Kerajaan Mimika ini punya otak cemerlang. Dengan sedikit bantuannya, ia yakin jika pemuda ini mampu beradaptasi cepat dengan sekitar. “Aku benar-benar tak tahu harus mengatakan apa lagi padamu. Aku sangat—“ “Itu bukan apa-apa. Aku akan membantumu lebih banyak hal lagi untuk kembali ke zamanmu. Meskipun ini rasanya mustahil dan memakan waktu lama, aku berjanji akan menciptakan alat teleportasi sihir agar kau bisa kembali.” Perkataan Mika yang dipotong oleh wanita berambut hitam itu mendapatkan sanggahan yang tak terduga darinya. Pemuda berparas tampan yang mendengar perkataan tadi pun tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Ia sangat bersyukur bisa bertemu dengan orang seperti Putri. “Astaga, apa yang harus kulakukan untuk membayarmu atas segala bala bantuan ini?” Saat itu, Putri langsung terdiam dalam waktu lama. Awalnya dia memang ingin menolong calon Raja Mimika ini karena takut masa depan bisa berubah, akan tetapi saat mendengar pertanyaan tadi keluar dengan begitu mudahnya dari mulut Mika, ia tampak berubah pikiran. “Apakah kau mengatakan tentang bayaran tadi?” tanya Putri untuk memastikan bahwa apa yang didengarnya tadi bukanlah kesalahan. Mika pun langsung mengangguk setuju tanpa berpikir dua kali. “Benar, aku akan melakukan apa pun untuk membalas semua hal ini.” Saat itu, senyum seringai langsung terukir di wajah ramah Putri. “Berjanjilah padaku saat kau kembali nanti, dirimu akan menemuiku lagi dan menyerahkan buah surga.” Untuk sesaat, otak Mika tak bisa merespons apa yang diucapkan oleh wanita ini. Ia tahu jika buah surga yang dimaksudkan oleh Putri tadi pasti adalah buah yang tumbuh di makam Raja Pertama dan membuat seluruh orang di zamannya hidup dengan kekuatan sihir. Apa yang ingin dilakukan wanita ini dengan itu? Apa pun rencananya, Mika tak mau ambil pusing sekarang. Prioritasnya sekarang adalah kembali ke Kerajaan Mimika secepat mungkin. Tanpa berpikir panjang, Mika langsung setuju dan akhirnya membuat kesepakatan dengan wanita tersebut. Di dalam tenda merah ini, kedua orang itu membicarakan banyak hal panjang lebar. Waktu tak terasa sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Ini adalah waktunya bagi Putri untuk pulang. Suaminya yang bekerja dari kantor pasti akan menjemput Putri ke sini dan membawanya pulang sebentar lagi. Dalam hati, wanita berambut hitam itu cukup bersyukur karena kebetulan hari ini tak ada pasien yang ingin berobat di tenda ini. Sebelum Putri ingin mengakhiri pembahasan, Mika tampak memandangnya dengan penuh tanda tanya. “Kalau dipikir-pikir lagi, kenapa dirimu yang punya gelar sebagai dokter, yang kau katakan adalah gelar hebat itu, kini justru disebut sebagai tabib di desa? Bukankah kata tabib terlalu kuno untuk menggambarkan pekerjaan ini?” “Warga desa itu masih sedikit primitif. Jalan pikiran mereka tidak seliar orang kota. Aku berharap dirimu bisa tinggal di kota agar membuka wawasanmu. Mereka memanggilku tabib karena aku membuat istilah itu agar orang-orang kolot yang susah berobat jadi mau menemui dokter sepertiku agar sembuh dari penyakitnya.” “Meskipun ini melakukan, tapi aku tidak mengira kau akan melakukannya,” puji Mika dengan tulus. Jujur saja, setelah mendengarkan segala kisah yang disampaikan oleh Putri tadi, pemuda berusia 17 tahun ini memiliki sedikit harapan untuk mengunjungi tempat yang dikatakan sebagai kota olehnya. Akan tetapi, ia pasti tak bisa melakukan itu karena prioritasnya sekarang adalah menemukan cara tercepat untuk pulang. Dan kemudian, sebuah pertanyaan yang baru terpikirkan oleh Mika muncul di dalam benaknya. “Tunggu, kira-kira kapan alat teleportasi sihir yang kau rencanakan ini bisa selesai?” Senyum Putri terukir dengan lebar. “Satu tahun, itu waktu paling cepat bagiku untuk membuatnya.” Saat itu, Mika benar-benar tak mampu untuk tidak menahan rasa syok di ekspresi wajahnya. Kabar ini sungguh menyiksa dirinya. Untuk sekarang, dia tak ada jalan lain selain menunggu Puri daripada hanya berdiam diri dan menunggu pertolongan dari pihak kerajaan. Akan tetapi, bukankah satu tahun itu terlalu lama? “Astaga, ini adalah akhir yang buruk bagiku.” “Sebenarnya satu tahun itu bisa dilakukan ketika aku cepat mengerjakannya. Paling tidak, waktu paling normal untuk membuatnya adalah dua tahun,” ucap Putri dengan wajah tanpa dosa. Muka Mika yang semula lesu kini justru bertambah pucat. “Sialan, itu lebih buruk dari apa pun!” Entah kenapa, menggoda bocah berusia 17 tahun ini begitu menyenangkan bagi Putri. Ia jadi merasakan bagaimana sensasi memiliki seorang adik yang bisa digodanya setiap saat. Sepertinya akan menarik jika menjadikan calon raja terkuat di Kerajaan Mimika ini sebagai keluarga. Sebuah drama komedi pasti akan terjalin. “Kalau begitu, sekarang kita harus menggunakan sandiwara. Mulai sekarang kau akan menjadi bagian keluargaku dan wajib memanggil aku sebagai Kakak!” perintah Putri dengan penuh semangat. “Sialan, hal bodoh apa yang kau katakan itu hah? Mana mungkin aku—“ “Hussh, hussh. Tidak ada penolakan, Bung. Diam dan turuti semuanya untuk keselamatanmu di zaman ini atau aku tidak jadi membantumu.” Saat itu, ingin rasanya Mika mengumpat dengan keras. Ini lebih buruk dari apa pun. Meskipun pemuda itu tahu kalau Putri telah menolongnya dan ia berusia lebih tua dari padanya saat ini, tapi tetap saja. Logikanya, Mika masih lebih tua karena ia berasal dari zaman baheula bukan? Jadi kenapa ia harus mengorbankan harga dirinya untuk menuruti perintah orang yang lebih muda darinya, apalagi berasal dari kalangan rendah Kerajaan Mimika seperti Putri? Sialan, kalau bukan karena bantuannya, Mika tak akan mau melakukan drama picisan seperti ini. Meskipun rasanya ingin mengamuk sebagai tanda tak terima, Mika harus bersabar. Setidaknya ia harus bertahan seperti ini sampai satu atau dua tahun ke depan. “Panggil aku Kakak sekarang!” “S-siap, Kakakku.” Pada akhirnya, Mika pun merasa kalau dirinya bisa gila kapan saja. Beruntung dia tidak muntah saat mengucapkan itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN