Chapter 7 - Kepergian

2395 Kata
Memulai kehidupan baru itu tak mudah. Semua orang pasti mengetahuinya. Akan tetapi, pemuda ini berbeda. Dia baru menyadari kenyataan menyedihkan ini beberapa minggu yang lalu. Dengan mata sayu, dia menengadah dan menatap langit yang mendung. “Apakah kau yakin akan pergi hari ini, Kak Mika?” Suara anak kecil yang tiba-tiba muncul dari arah belakang membuatnya kaget. Ia membuyarkan lamunan pemuda bernama Mika Jonathan itu. Matanya melirik ke arah belakang dan menemukan Riko, bocah laki-laki yang ditemuinya saat pertama kali tiba di tempat ini. “Ya, aku akan pergi sekarang.” “Apakah kau yakin?” “Kenapa tidak?” ucap Mika dengan seringai khasnya. Pemuda ini bisa melihat bagaimana ekspresi Riko yang sepertinya tak terima jika ia akan pergi meninggalkan desa ini. Bagaimana pun juga, Mika telah tinggal bersama keluarga Putri selama satu minggu lamanya. Tak mungkin ia akan menetap di rumah itu selamanya kan? “Kenapa kau memasang wajah jelek seperti itu?” tanya Mika dengan muka heran yang dibuat-buat. “Apa karena kau akan kangen denganku?” “Dasar bodoh! Aku tidak kangen denganmu, aarghh sialan! Aku kesal dan iri. Aku juga ingin pergi ke kota sepertimu, tapi Ibu tak mengizinkan. Tolong bawa aku bersamamu!” pinta Riko sembari mulai menitikkan air mata. Ekspresi kaget tertera jelas di wajah Mika. Ia memang tahu bagaimana obsesi bocah ini terhadap uang. Apakah mungkin Riko bersikap seperti ini karena berharap Mika akan membawanya ke kota, tempat yang diyakininya penuh uang itu? Ada sensasi tak tega yang tiba-tiba menyusup ke hati Mika ketika melihat Riko yang bersikap demikian. Ia tersenyum lalu berjongkok di depan bocah itu. Sambil mengelus-elus rambut hitamnya, Mika mengucapkan suatu hal pada Riko. “Kau ini kan sudah besar. Apakah alasanmu menangis hanya karena kau ingin aku membamu ke tempat penuh uang itu? Berpikir rasionallah, keluargamu ada di sini. Meskipun di kota nanti kau bisa menemukan banyak uang, apa kau yakin akan meninggalkan keluargamu?” Saat itu Riko tersentak. Ia menatap Mika degan pandangan kaget. “Tentu saja tidak, hanya saja aku ....” Ucapan itu tak bisa dilanjutkan oleh bocah kecil ini. Dari belakang pintu utama keluarga Riko, muncul sepasang suami istri yang hanya bisa diam memperhatikan. Keduanya adalah sosok Putri dan suaminya yang bernama Ahmad. Mereka menatap interaksi yang terjadi antara Mika dan Riko dengan pandangan teduh. Mika kembali menasihati bocah itu. “Kau tahu, uang bukanlah segalanya. Aku tak tahu alasan kenapa dirimu bisa terobsesi dengan uang. Akan tetapi, kau itu masih kecil. Tidak perlu bekerja terlalu keras yang malah menyakiti dirimu sendiri. Kau—“ “Aku perlu uang yang banyak!” teriak Riko sekeras mungkin. “Kenapa semua orang tak mengerti perasaan yang kurasakan?” Tentu saja Mika tersentak dengan teriakan itu. Ia bisa melihat bagaimana bocah ini merasa begitu tertekan di wajahnya. Ada yang tak beres di sini. Obsesi ini pasti bukanlah obsesi semata. Riko tampak menyembunyikan suatu hal. Sejak pertama kali tinggal dengannya, Mika mulai mengerti kalau bocah ini tidak menyebalkan seperti yang ia kira. Riko bertindak normal seperti bocah pada umumnya, tapi menurut Mika, seluruh tindakannya terlalu bijak untuk ukuran anak seusianya. Mika pun menyipitkan mata. Ia sedikit mendekat ke arah Riko. Pemuda itu pun berbisik, “Aku mulai paham jika ada suatu hal yang tak beres di sini. Apa kau menyembunyikan sesuatu?” Kedua mata Riko yang melebar sempurna pun membuat kesimpulan yang dibuat Mika tadi terasa benar. Bocah itu tampak menatapnya sedikit takut dengan air mata yang masih membasahi pelupuknya tadi. Riko menundukkan kepala seraya mengepalkan tangan sekuat mungkin. Bahu anak itu bergetar. Mika bisa melihatnya dengan jelas bagaimana bocah 6 tahun ini tampak jelas menyembunyikan sesuatu. Dilihat dari reaksinya, Riko seperti akan mengakui hal itu. Anak itu berbisik pelan. “Aku ... aku ... bisa melihat masa depan.” Bagaikan tersambar petir di siang bolong, Mika langsung membuat ekspresi kaget bukan main. Bagaimana pun juga, Riko tampak ketakutan mengatakan hal tadi. Itu menunjukkan kalau Mika adalah orang pertama yang diberitahunya soal ini. Tak aman bila membicarakan hal ini di sini kalau begitu. Pemuda itu tampak melirik sekilas ke arah Putri dan Ahmad. Dia kemudian berdiri dari posisi jongkoknya dan berjalan menuju mereka dengan senyum simpul. “Terima kasih atas bantuan kalian selama satu minggu ini. Aku benar-benar terbantu karena bisa tinggal di tempat ini,” ujar Mika seraya tersenyum menyipitkan mata. Riko yang melihat bagaimana Mika mengabaikannya itu pun langsung berbalik menatap ke belakang dengan pandangan tak percaya. Rasa diabaikan setelah ia mengatakan suatu hal tak masuk akal ini terjadi lagi. Setelah ayahnya, sekarang Mika. Sialan, Riko memaki dirinya sendiri. Kenapa juga ia harus mengatakan itu pada Mika tadi? Kalau begini, lebih baik dirinya menyimpan hal ini sendiri dan tetap tak memberitahukan pada orang. Secara tiba-tiba pandangan mata bocah itu bertemu dengan mata Mika yang menoleh ke arahnya. Riko pun bingung harus merespons seperti apa. “Nah, sepertinya sudah waktuku untuk pergi. Sesuai dengan apa yang kubilang sebelumnya, aku akan berkunjung kota dan hari ini aku berangkat,” ujar Mika sekali lagi pada sepasang suami istri itu. Ahmad, suami Putri sekaligus ayah dari Riko, tampak langsung mengukirkan senyum di wajahnya. “Kau seharusnya tidak perlu ke kota karena baru tiba di wilayah ini seminggu yang lalu. Masih banyak hal yang perlu kau lakukan untuk beradaptasi. Kota besar itu menakutkan.” Pria yang sehari-harinya bekerja di kantor kelurahan ini tampak memandang Mika dengan muka cemas. Mika yang melihat itu sontak saja teringat dengan ayahnya. Mereka sama-sama menjadi figur ayah yang mencemaskan banyak hal. “Sudahlah, Sayang. Bocah ini tak bisa diberikan nasihat. Kepalanya seperti batu. Aku yakin dia akan mengerti alasan kenapa kau menyebutkan kehidupan di kota itu keras setelah tinggal di sana nanti. Lagi pula, dia kan juga berjanji akan berkunjung ke sini sesering mungkin,” ujar Putri dengan senyum seringai kecil. Mika yang melihat itu sontak merasakan ada setetes keringat yang turun di dahinya. Akting wanita berambut sebahu itu tak buruk juga. Ia tampak meyakinkan sang suami agar mengizinkan Mika pergi dengan caranya sendiri. Sebelumnya, Mika telah membuat keputusan untuk pergi ke kota ini dengan merundingkannya bersama Putri diam-diam. Sejak pertemuan mereka dulu, segala hal yang Mika rencanakan pasti akan didiskusikan terlebih dahulu dengan Putri. Selama tinggal di sini pun, ia yang berpura-pura menjadi adik dari wanita itu tampak dihormati oleh para warga. Akan tetapi, Mika berpikir jika ia tak mungkin hanya diam saja di desa kecil seperti ini yang jaraknya ratusan kilometer dari wilayah kota. Ia juga harus bertindak dan pergi ke kota menjadi pilihannya. Putri yang mendengar keputusannya seperti itu pun mau tak mau juga setuju. Lagi pula, dia juga tak membutuhkan bantuan Mika selama membuat alat teleportasi itu. Membiarkan bocah ini pergi ke kota adalah haknya. Wanita itu tak ingin ikut campur selama dia berjanji untuk menjaga sikap dan mengendalikan emosinya. “Ambil ini,” ujar Ahmad seraya menyerahkan suatu kardus persegi panjang. “Ini adalah ponsel.” Dahi Mika tampak mengerut tak mengerti. Ia mengambil benda itu lalu membukanya dengan heran. “Ini apa?” Bukannya Ahmad yang menjawab, Putri justru tertawa keras. “Bocah udik ini sama sekali tak paham dengan teknologi ya? Ahahaha. Ini adalah ponsel.” “Ponsel?” Ahmad mengangguk. “Benda itu bisa membuatmu berkomunikasi dengan kita apabila menekannya.” Mata Mika langsung membulat sempurna. “Apakah ini alat yang bisa membuatku bertelepati dengan seluruh orang di dunia?!” Pertanyaan tak masuk akal itu langsung membuat Ahmad tersenyum canggung. Sepertinya susah menjelaskan hal ini pada Mika. Di sisi lain, Putri justru semakin tertawa keras. “Aku tak paham kenapa kau menyebut kata telepon dengan telepati. Tapi kalau kau memang menyamakan makna kedua kata tadi, maka akan kujawab dengan iya. Singkatnya, kau bisa menghubungi siapa pun di dunia asal memiliki nomor telepon mereka. Segala hal soal cara memakainya, tertera jelas di buku panduan yang ada di dalam kardus.” Mika membuka kardus ponsel ini tadi dan menemukan buku panduan kecil di dalamnya. Ia benar-benar tak bisa menyembunyikan decakan kagum. “Maaf karena aku tidak bisa mengajarimu banyak hal soal itu. Akan tetapi, aku percaya jika kau pasti bisa. Di dalam ponselmu, sudah kutambahkan nomor teleponku, Putri, dan Riko. Kau bisa menghubungi kami sesukamu,” ujar Ahmad. “Adikku yang dikenal jenius ini tampaknya plonga-plongo dengan teknologi sekarang ya?” goda Putri yang langsung membuat muka Mika merah karena malu. Sialan, harga diri pangeran itu dipertaruhkan. Mengabaikan ucapan Putri tadi, Mika pun langsung mengucapkan terima kasih pada pria itu. Dalam hati, Mika semakin tak sabar pergi ke kota dan melihat semua hal baru. Seakan teringat dengan sesuatu, pemuda itu tampak tersentak. “Oh iya, sebelum aku pergi, bisakah aku berbicara dulu dengan Riko di lapangan?” Di lain sisi, Riko yang masih memperhatikan Mika bersama kedua orang tuanya tadi pun langsung tersentak. Ia tak mengira jika namanya akan disebut. “Eh? Bukannya jadwal keretamu lima belas menit lagi? Aku takut kau terlambat,” ujar Putri dengan nada cemas yang baru didengar Mika untuk pertama kalinya. Senyum seringai langsung terukir di wajah pemuda itu. “Kau tenang saja. Ini kan aku, Mika Jonathan!” Pemuda itu pun akhirnya berganti tempat sekarang. Ia dan Riko saling berhadapan di lapangan, tempat mereka pertama kalinya bertemu seminggu yang lalu. Angin berdesir meniup rambut dan baju kedua orang itu. Riko tampak memandang Mika dengan tatapan tajam, di lain sisi pemuda berusia 17 tahun itu justru memandangnya dengan senyum aneh. Bagaimana pun juga, tipe sihir yang bisa memprediksi masa depan adalah suatu hal yang sangat jarang muncul di zamannya dulu. Mika sangat tertarik pada Riko ketika bocah ini mengatakan hal tadi. Akan lebih baik lagi, jika Mika bisa memanfaatkan bocah ini untuk membantunya. “Jadi, apakah kau berbohong soal dirimu yang bisa melihat masa depan itu?” tanya Mika dengan senyum simpul di wajahnya. “Tentu saja tidak!” “Apakah kau sudah memberitahu hal ini pada ayah dan ibumu?” Riko yang ditanyai hal itu tampak mengalihkan pandangannya ke bawah. “Aku sudah memberitahu Ayah tapi dia justru bilang ini hanyalah fantasiku semata. Setelah Ayah mengatakan itu, aku tak berani mengatakan hal ini pada Ibu karena takut diremehkan lagi.” Ah, jadi begitu. Mika mulai paham sekarang. Andaikan bocah ini memberitahu ibunya dulu yang sama-sama punya kekuatan sihir, pasti semuanya akan beda dengan sekarang. Mika pun tampak memegang dagunya seraya berpikir. “Jadi apa yang kau lihat di masa depanmu? Kenapa hal itu menjadikanmu terobsesi dengan uang?” Riko menjawab, “Aku bermimpi. Negara ini akan mengalami perang dalam waktu setahun lagi. Itu mengerikan. Semua orang mati dengan mudah dan tak memiliki apa pun untuk bertahan hidup. Aku ingin banyak uang karena membangun benteng pertahanan diri agar bisa selamat!” Kalau anak itu berkata demikian, maka jelas saja Ahmad tidak akan percaya dengannya. Ini lebih terdengar seperti mimpi buruk biasa bagi orang dewasa normal yang tak tahu apa-apa soal sihir di zaman ini. “Lalu, apa yang membuatmu yakin jika itu akan terjadi di masa depan?” Saat Mika menanyakan hal itu, Riko langsung memandangnya dengan tatapan tegas. “Aku telah mendapatkan beberapa pandangan soal masa depan lewat mimpi. Jika itu terjadi sekali saja, maka ini mungkin kebetulan. Tapi, aku telah memimpikan banyak hal, mungkin lebih dari 100 kali mengenai suatu hal dan itu benar-benar terwujud!” “Contohnya?” tanya Mika dengan ekspresinya yang masih tenang. “Banyak. Awalnya hal-hal ringan seperti aku akan menemukan uang, aku akan mendapat juara satu di sekolah, aku akan jatuh sakit, bahkan saat aku tertabrak motor pun aku juga memimpikannya. Semua itu terjadi persis sama dengan mimpiku. Pertemuan kita di hari itu juga telah dimimpikan olehku!” Ini semakin menarik saja. Mika tak bisa menyembunyikan senyum lebarnya. “Oh ya? Apa yang kau mimpikan?” “Di mimpiku itu, aku bertemu dengan orang aneh berjubah merah yang sibuk memaki-maki batu di lapangan seorang diri. Dan sebulan kemudian, aku justru bertemu denganmu!” Saat itu, Mika benar-benar tak mampu menahan decakan kagumnya. Ia memandang Riko dengan tatapan yang semakin tertarik. Reaksi aneh Mika ini justru membuat Riko memandangnya aneh. “Tunggu, kenapa kau justru tersenyum, Kak? Reaksimu aneh sekali dan tidak seperti orang normal!” ujar bocah itu dengan nada tak percaya. “Aku kan memang bukan orang normal.” Mika mengucapkan hal itu sembari berkacak pinggang yang menunjukkan betapa ia percaya diri dengan pernyataan tadi. “A-apa?” “Apa? Bukannya kau butuh orang yang bisa mempercayai hal ini?” Muka Riko yang semula heran kini berganti dengan ekspresi penuh harap. “Jadi, kau percaya jika hal yang kukatakan tadi benar?” “Tentu saja! Aku adalah orang yang suka berfantasi dan kupikir kau hebat! Apa yang telah kau alami itu sangat luar biasa, Riko! Aku bahkan iri denganmu!” Mika mengucapkan hal tadi dengan ekspresi kagum palsunya. Riko yang melihat reaksi ini pun semakin memperlebar senyumnya. Ia berteriak kegirangan karena akhirnya ada orang yang mempercayai hal-hal gila yang dialami olehnya. Di Iain sisi, pemuda berusia 17 tahun itu merutuk dalam hati karena ia harus pergi dari desa ini sekarang. Kalau tahu Riko punya kekuatan sespesial ini, pasti ia akan pergi ke kota beberapa hari lagi. Yah, nasi telah menjadi bubur. Meskipun demikian, dirinya masih punya benda bernama ponsel tadi untuk menghubungi Riko kapan saja. Seharusnya ini tak masalah jika ia harus pergi sekarang. Pada akhirnya, Mika pun menatap bocah itu dengan pandangan mantap. Ia menyentuh bahu Riko untuk menyemangatinya. “Aku akan membuat suatu penawaran menarik denganmu!” “Oh ya? Apa itu?” “Kau tak bisa menceritakan kemampuan sihir ini pada banyak orang kan?” “Tentu saja, aku tak akan melakukan itu karena tak mau semua orang jadi menganggapku gila!” Senyum Mika semakin lebar. Bagus, ini sudah lebih dari untuk membantu rencananya berjalan lancar. “Aku berjanji akan mengirimkanmu uang setiap hari saat tiba di kota nanti! Tapi, kau harus membantuku.” “Benarkah?!” seru Riko kegirangan. “A-apa ... apa yang harus kubantu?!” Saat itu, Mika mengeluarkan senyum seringai andalannya. Pemuda itu menaruh jari telunjuknya di depan mulut yang menandakan ini semua adalah rahasia. “Aku akan memberitahumu di telepon nanti. Sebenarnya aku ingin menjelaskan semua hal sekarang, tapi aku tak bisa karena bisa terlambat naik kereta. Aku harap kau akan mengerti. Nantikan teleponku nanti ya?” “Aku akan menantikanmu dan hanya menjaga rahasia ini di antara kita berdua saja!” Mendengar itu, seringai Mika semakin lebar. “Bagus. Aku suka dengan sikapmu ini, Bocah.” Dan sejak saat itu, Mika mempercayai Riko sebagai sekutu pertamanya yang akan membantu pemuda ini bertahan hidup.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN