Hari ini cuacanya cukup indah untuk memulai suatu hal baru. Itu disadari oleh seorang gadis bersurai coklat kehitaman ini. Jaketnya yang ditali di pinggang tampak bergoyang akibat tiupan angin.
Rambutnya yang memiliki panjang sepunggung itu tampak diikat menjadi dua sehingga ia terlihat begitu manis. Mata hitam gadis itu tampak memandang peron stasiun kereta ini dengan tatapan yang penuh semangat.
Suara kereta yang tiba di penghujung stasiun langsung mengalihkan fokusnya. Gadis itu menatap keret yang datang dari arah barat. Alat transportasi inilah yang akan membawanya ke Jakarta sebentar lagi. Kalau dipikir-pikir, waktu yang ia habiskan di kota kecil ini sudah cukup banyak.
Gadis itu merasa begitu senang karena bisa berkunjung ke rumah neneknya yang ada di sini selama musim liburan semester dua. Bagaimana pun juga, ini adalah waktunya untuk pulang ke Jakarta mengingat dua hari lagi sekolahnya akan dimulai seperti biasa.
“Entah kenapa, aku selalu berpikir jika tempat ini terlalu indah untuk ditinggal.”
Gadis berparas cantik ini melirik ke belakang dan ia memperhatikan kaca-kaca besar yang dipasang di stasiun. Lewat jendela-jendela itu, dirinya bisa melihat indahnya pemandangan kota ini untuk terakhir kali. Tanpa sadar, senyumnya pun terukir. Ia menghirup nafas banyak-banyak lalu menghembuskannya pelan.
“Yah, nasi sudah menjadi bubur. Lagian aku sudah ada di stasiun. Tidak mungkin aku akan pergi ke rumah nenek lagi untuk bersantai-santai. Tahun ini aku sudah kelas tiga SMA dan semuanya pasti akan menjadi semakin rumit saja,” gumam gadis itu bermonolog diri.
Deru suara kereta memenuhi telinga setiap orang yang ada di peron ini. Beberapa orang lain yang sedang menuju ke Jakarta tampak mulai bersiap dengan barang bawaannya masing-masing, termasuk gadis berkucir dua ini. Ia menggeret koper lalu berjalan mendekati kereta untuk masuk.
Di saat dirinya tengah sibuk mengantre, suara asing tiba-tiba mengganggu fokus gadis bersurai coklat ini.
“Sialan, benda macam apa yang sebenarnya di depanku itu? Apakah ini yang dinamakan kereta? Seperti ular saja!”
Untuk sesaat, gadis yang tengah mengantre untuk masuk ke kereta ini merasa jika dirinya salah dengar. Akan tetapi, suara itu terdengar begitu jelas dari orang yang berdiri di belakangnya.
Karena penasaran dengan siapa orang yang mengucapkan hal memalukan seperti itu, ia pun menoleh ke belakang.
Embusan angin pagi langsung menerpa dua insan yang kini saling berpandangan tersebut. Rambut coklat gadis ini bergoyang pelan. Di depannya, ada seorang pemuda bersurai hitam yang sepertinya seusia dengan dirinya. Pandangan mata mereka tak sengaja bertemu dan saling menatap dengan ekspresi kaget.
Senyum aneh pun terukir di wajah gadis tadi. “Apakah kau ... tidak pernah melihat kereta?”
Sontak saja, pertanyaan itu langsung membuat wajah pemuda bersurai hitam ini memerah karena malu. Ia mengalihkan pandangan ke arah lain. Sialan, anak laki-laki ini tak pernah mengira jika akan ada orang lain yang mendengarkan ucapan katroknya tadi.
Gadis bersurai coklat ini pasti menilainya sebagai orang aneh. Padahal mereka baru saja bertemu, tapi pemuda bersurai hitam yang ternyata adalah sosok Mika Jonathan ini tak bisa menyembunyikan rasa malunya sekarang.
“A-aku memang belum pernah melihatnya! Lalu kenapa? Kau mau menertawakanku?!” Mika sengaja menggertak gadis itu dengan wajah galak yang dibuat-buat.
Bukannya takut, gadis ini justru langsung tertawa keras seolah Mika memang menyuruhnya untuk tertawa. Pemuda bersurai hitam itu bahkan bisa melihat bagaimana orang yang ada di depannya ini tertawa hingga meneteskan air mata. Karena diperlakukan seperti tadi, wajah Mika semakin memerah karena malu.
“S-sialan, kenapa kau malah tertawa hah?!” Mika menggeram pada gadis itu dengan suara tertahan karena ia tidak mau jadi pusat perhatian. Astaga, dirinya begitu malu sekarang.
Setelah lelah tertawa, gadis itu memandangnya dengan ekspresi aneh seolah baru menemukan suatu hal yang menarik. Ia tersenyum sampai matanya menyipit. Mika Jonathan yang melihat itu pun merasa wajahnya semakin merah sekarang.
Seraya menarik tangan pemuda itu, gadis ini berujar, “Aku Rika Angkasa, usiaku 17 tahun. Panggil saja Asa. Aku akan membantumu menjelaskan apa itu kereta agar tidak mengatakan hal memalukan seperti tadi ahahaha!”
“A-apa yang kau katakan? Aku tidak membutuhkan bantuan seperti itu!” elak Mika dengan wajahnya yang masih sedikit memerah. Meskipun ini tawaran menarik, tapi Mika tak mau jadi mainan cewek ini.
Karena antrean untuk memasuki kereta sudah habis dan kini giliran mereka berdua untuk masuk, gadis bernama Asa ini pun langsung menarik pemuda tadi. Mereka berlari bersama memasuki kereta, dengan tangan Mika yang masih ditarik olehnya.
Mereka berdua pun kini sudah memasuki kereta berwarna putih tersebut. Pintu dari kendaraan panjang ini tertutup beberapa saat kemudian setelah keduanya naik. Orang-orang yang menuju Jakarta dari kota ini bisa dikatakan cukup sedikit, sehingga banyak gerbong kosong yang masih lenggang untuk penumpang dari stasiun selanjutnya.
Rika Angkasa memanfaatkan kesempatan ini untuk mencari tempat duduk yang sepi di gerbong lain. Tangannya masih terus menarik pemuda tadi dan mereka berjalan bersama. Setelah tiba di gerbong pilihannya, gadis bersurai coklat panjang ini langsung menoleh ke arah pemuda yang ditariknya tadi.
“Jadi, siapa namamu?”
Bukannya menjawab, pemuda itu justru melemparkan tatapan kesal. “Oi, ini bukan lelucon. Lepaskan tanganmu! Kau sungguh tidak sopan sekali menarik orang yang sama sekali tak kau kenal!”
Mendengar hal itu, Asa pun dengan entengnya melepaskan tangan pemuda ini seolah itu bukan hal yang berat untuk dilakukan. “Hm, jadi kau tak ingin duduk di gerbong ini bersamaku? Ya sudah silakan saja pergi dan duduk bersama orang-orang tadi. Aku akan menikmati gerbong ini seorang diri.”
Ucapan angkuh dari gadis yang rambutnya diikat dua itu membuat Mika langsung menatapnya dengan tatapan tajam karena ia merasa sedang diremehkan. Dengan kesal, orang itu berbalik memunggungi Asa. “Aku akan mencari gerbongku sendiri!”
“Hm, hm carilah.” Bukannya peduli atau bagaimana, Asa justru acuh. Ia mengabaikan pemuda tadi dan duduk santai di salah satu kursi seraya tersenyum memandangi jendela. Matanya tampak begitu menikmati keindahan alam yang ada di kota kecil ini.
Pemuda bersurai hitam itu pun langsung berusaha sekuat mungkin agar tidak mengumpat di depan gadis aneh tadi. Ia langsung berbalik dan membuka pintu untuk mencari gerbong lain. Sebelum Mika melangkahkan kaki, gadis itu bertanya padanya.
“Jadi, siapa namamu?”
Dengan tatapan jengah, laki-laki tadi berbalik menatap Asa. “Aku Mika Jonathan! Selamat tinggal!”
Senyum gadis itu pun semakin lebar. Ia menyipitkan mata. Entah kenapa, firasatnya mengatakan kalau anak itu akan kembali ke sini untuk menemuinya.
Dengan santai, Asa langsung berujar, “Oke oke, selamat tinggal juga."
Beberapa menit pun telah berlalu, tapi kereta tak kunjung jalan menuju Jakarta. Asa yang semula menikmati pemandangan kota ini melalui jendela kereta pun dikejutkan dengan kehadiran seseorang yang tiba-tiba muncul di depan tempat duduknya.
Dan di depan gadis berambut coklat yang diikat dua tadi, pemuda bersurai hitam tadi kembali muncul dengan wajah merah karena menahan malu ketika ia berusaha melihatnya.
Padahal awalnya Asa berpikir jika siluet yang berdiri di depannya adalah petugas kereta yang meminta karcis. Siapa yang akan mengira jika siluet tadi justru cowok aneh yang ditemuinya pagi ini?
Saat itu juga, gadis berambut coklat ini tak bisa menahan tawanya. Apa yang telah ia katakan tadi itu terbukti benar kan? Firasatnya yang mengatakan jika Mika Jonathan akan datang lagi menemuinya ada suatu kebenaran mutlak.
“Wah, wah. Coba lihat siapakah Tuan Bijaksana yang sedang berdiri di hadapanku? Bukankah tadi pria yang dipenuhi harga diri ini bilang ingin mencari gerbong sendiri? Kenapa tiba-tiba dia muncul di hadapanku ya?” goda Rika Angkasa dengan senyum seringainya.
Karena malu dan kesal di saat yang bersamaan, Mika dengan spontan menarik kerah baju gadis bernama Asa ini. Untuk sesaat, gadis itu terkesiap. Baru kali ini ia melihat ada cowok yang cukup berani menarik kerah cewek di tempat umum seperti orang yang sedang ingin bertarung.
Astaga, cewek bernama Rika Angkasa ini benar-benar tak bisa menyembunyikan senyumnya. Mika yang kini berdiri di hadapannya adalah sosok yang berkepribadian unik.
“Aku tidak peduli kau wanita atau laki-laki karena di tempatku dulu itu semua tak ada bedanya. Begini-begini, aku adalah pangeran mahkota! Tolong sopan santunnya!” Mika yang sedang marah ini langsung mengancam gadis tadi dengan alis yang bertaut tajam.
Bukannya terintimidasi, Asa justru tertawa. Reaksi wanita ini benar-benar membuat Mika tak habis pikir. Kenapa orang-orang di negara ini sepertinya tak ada yang takut dengannya? Ke mana wibawa Mika yang selama ini begitu disegani oleh seluruh rakyatnya? Sialan. Karena malu sendiri, Mika akhirnya melepaskan tarikan tadi.
Pemuda ini menekuk wajahnya dengan kesal seraya duduk di kursi yang ada di hadapan gadis berambut coklat itu. Berpindah ke tempat antah berantah ini benar-benar membolak-balikkan hidup Mika 180 derajat. Padahal kalau orang-orang di kerajaan dulu mendengar gertakannya yang seperti tadi, mereka pasti akan ciut. Namun, gadis ini justru tertawa. Benar-benar menyebalkan.
“Nama kita cukup mirip bukan? Mika dan Rika. Apakah ini takdir yang menuntunmu untuk kembali bertemu denganku?” Pertanyaan aneh itu tiba-tiba keluar dari mulut Asa yang tampaknya sudah selesai tertawa.
Mika yang mendengarnya pun tampak masih kesal. “Daripada takdir yang menuntun kita untuk bertemu, aku justru menyalahkan ini sebagai nasib buruk karena harus kau tertawakan untuk yang ke sekian kali.”
Dan, gadis itu kembali tertawa. Untuk beberapa saat kemudian, suasana hening terajut dalam gerbong sepi ini. Mereka berdua saling memandang dalam waktu yang cukup lama.
Senyum Asa pun terukir samar. “Jadi, apa alasanmu datang menemuiku lagi setelah kau bilang ingin cari gerbong sendiri, hm?”
Seakan teringat dengan sesuatu, wajah Mika yang semula berekspresi kesal langsung berubah jadi kaget. Ia berdiri dari posisi duduknya dan mendekati Asa seolah ingin memberitahu kabar yang super duper gawat.
“K-kenapa ... kenapa kereta ini tak kunjung jalan? Jawab aku, Rika! Apakah kita diserang bandit sehingga pengemudi keretanya tak bisa segera menuju Jakarta?!” tanya Mika dengan ekspresi panik.
Meskipun saat itu Asa ingin tertawa terpingkal-pingkal, ia berusaha sebisa mungkin untuk menahannya agar tak menyakiti hati pemuda bersurai hitam ini. Gadis berambut coklat itu langsung menahan tawanya dengan menutup mulut menggunakan kedua tangan.
“A-apa yang lucu dengan pertanyaan tadi?” tanya Mika tak mengerti saat melihat ekspresi wajah gadis ini.
“Tidak, bukannya begitu. Maafkan aku karena tertawa lagi,” ujar gadis itu seraya menenangkan diri agar tak terus tertawa. “Kita bukan diserang bandit, kereta kan biasanya harus menunggu dulu. Jadi, tunggu saja. Biasanya hal ini sering terjadi dan memakan waktu sekitar 15 menit.”
“Apa? Kenapa hal itu justru terjadi? Tidak efisien sama sekali! Bagaimana jika ada orang di dalam kereta ini yang harus sampai ke Jakarta secepat mungkin?”
“Jangan khawatir. Kereta itu jalannya cepat lho. Kita bisa segera sampai di Jakarta.”
Kemudian suasana hening kembali terajut di antara mereka. Gadis yang rambutnya diikat menjadi dua ini memandang Mika. “Tunggu, apakah kau datang ke sini hanya untuk menanyakan hal itu?”
“Ah, sejujurnya ... iya.” Pemuda bersurai hitam ini tampak mengelus tengkuknya untuk menghilangkan rasa canggung. “Kau tahu, menurutku gerbong ini adalah gerbong yang paling indah karena banyak kaca. Aku bisa melihat sekitar. Dan kupikir, lebih baik ada di sini bersamamu karena ....”
“Karena ...?” Asa memiringkan kepala tak mengerti dengan ucapan yang digantung tadi.
Suara Mika pun justru terdengar begitu pelan ketika mengucapkan hal itu. “Ini karena ... aku tidak tahu harus apa. Jadi, kupikir bisa bertanya banyak hal padamu daripada orang lain.”
Saat itu juga, Asa yang telah berjanji untuk tidak tertawa akhirnya terpingkal-pingkal untuk ke sekian kali. Sejak pertama kali melihat pemuda ini, gadis bersurai coklat itu mengaku jika Mika Jonathan adalah sosok laki-laki yang cukup tampan.
Asa tertarik dengannya karena ada sisi pemuda ini yang terlihat begitu unik. Ia pikir akan menyenangkan jika menjadikan Mika sebagai teman dalam perjalanan ini. Siapa yang akan mengira jika cowok itu akan datang menemuinya lagi? Astaga, apa yang diprediksi oleh Asa kini benar-benar terjadi.
Dengan senyum yang terukir lebar dan tangan yang terangkat untuk saling berjabat tangan, gadis itu berujar, “Kalau itu maumu, oke. Ayo kita nikmati perjalanan kereta menuju Jakarta ini bersama.”
Mika yang mendengar hal itu langsung mengukirkan senyum simpul. Ia membalas jabatan tangan tadi. “Oke, tapi berjanjilah untuk tidak menertawakanku lagi!”
“Ya, aku berjanji ahahaha. Kau sangat lucu.”
“Astaga, baru saja kubilang dan kau justru tertawa lagi? Kumohon sudah. Aku malu tahu!”
“Ahahaha, oke. Karena sepertinya kita bisa jadi teman, panggil namaku dengan Asa. Jangan Rika. Aku terbiasa dijuluki Asa oleh teman-temanku.”
“Oke, panggil aku dengan Mika.”
Saat itu, dua remaja ini saling memandang untuk yang ke sekian kalinya. Tampak ada senyum samar yang terukir di wajah masing-masing. Mereka mulai mengobrol banyak hal sembari menunggu kereta berjalan.
Dan saat kereta berjalan, Asa benar-benar tak bisa menyembunyikan ketawanya saat melihat Mika yang panik. Laki-laki ini mengira jika getaran yang ditimbulkan oleh kereta berjalan ini adalah gempa. Astaga, perjalanan pulang ke Jakarta kali ini sepertinya akan begitu menyenangkam.