Perlahan namun pasti, Mika mulai mengerti segala hal tentang negara tempatnya berpijak ini. Meskipun ia sudah paham bagaimana Bahasa Indonesia itu, tapi ada banyak istilah yang tak dipahami oleh pemuda bersurai hitam ini.
Biasanya dulu waktu di desa, Mika akan selalu dijelaskan arti dari suatu kata baru oleh Putri, Ahmad, maupun Riko. Namun sekarang ia harus mempelajari tiap arti kata itu sendiri. Beberapa hal yang tak ia pahami selama perjalanan di kereta tadi untungnya dijelaskan oleh gadis aneh bernama Asa itu.
Dalam satu kejadian saja, Mika mulai mengenal banyak kosa kata baru seperti tiket, masinis, rel, dan lainnya. Ia bersyukur mendapatkan bantuan dari Asa. Meskipun sisi lain dalam dirinya berpikir jika cewek itu sedikit mempermainkannya dengan terus tertawa pada setiap kelakuan Mika.
Menyebalkan memang, tapi Mika Jonathan bersyukur dapat bertemu dengannya. Perjalanan di kereta tadi menghabiskan waktu selama dua jam lamanya. Kini mereka telah sampai di suatu kota bernama Jakarta itu. Baik Mika ataupun Asa kini turun dari kereta dan tampak berjalan menyusuri stasiun.
“Jadi, kau masih belum tahu tujuanmu mau ke mana?” celetuk Asa yang langsung mengalihkan fokus pemuda itu.
Mika pun hanya bisa tersenyum kaku. Sejujurnya Putri tak memberikan informasi soal Jakarta maupun tempat yang harus ia tuju. Wanita berumur 30 tahun itu hanya menyetujui gagasan Mika untuk pergi ke Jakarta setelah ia mengusulkan ingin pergi ke sana. Mungkin saja, wanita itu akan memberikan info lewat ponsel yang diberikan Ahmad tadi.
Melihat respons Mika yang menyedihkan itu, Asa menghela nafas. “Sejujurnya aku tidak bisa menemanimu pergi ke mana-mana karena aku telah dijemput oleh ibuku. Tapi di lain sisi, aku khawatir kau akan tersesat atau bagaimana di sini kalau mengingat sifatmu yang sama sekali tak tahu apa-apa ini.”
“Sialan, kau menghinaku lagi?”
“Bukan seperti itu, hanya saja aku kasihan padamu tahu!”
Saat itu juga, Mika langsung menyipitkan mata tak terima. Harga dirinya sebagai seorang pangeran mahkota seakan sudah jatuh ketika gadis menyebalkan ini harus mengasihaninya. Kemudian, pemuda ini pun menghela nafas panjang. Raut mukanya menjadi tenang lebih ke datar saat ia serius.
“Kau tidak usah mengkhawatirkanku. Mulai dari sini kita akan berpisah. Bersikaplah seperti orang yang tidak akan mengenal satu sama lain padaku.”
Perkataan Mika itu pun langsung dibalas dengan ekspresi kaget oleh Asa. “Hah? Apa maksudmu itu? Bagaimana mungkin aku—”
“Sudahlah. Selamat tinggal. Terima kasih atas segala bantuanmu di kereta tadi!” Mika mengucapkan hal itu seraya berjalan menjauhi gadis yang rambutnya dikucir dua tadi.
“Oi, tunggu dulu! Apa kau yakin—“
Dan ucapan Asa kali ini terjeda ketika Mika yang mulai berjalan menjauhinya tiba-tiba berbalik arah menatap gadis itu. Ekspresinya masih sama seperti tadi. Pandangan mata datar serta ekspresi tenang di wajah pemuda itu entah kenapa membuat Asa tertegun.
“Sebelum kita bertemu di stasiun tadi, kita hanyalah orang asing bukan? Jadi bersikap seperti itulah sekarang. Aku tidak mau kau terlibat jauh denganku. Sampai jumpa.”
Mika pun akhirnya benar-benar meninggalkan gadis itu. Bagaimana pun juga, pemuda itu memiliki misi yang harus ia lakukan di kota ini. Kepergiannya bukan tanpa sebab, Mika harus menemukan beberapa artefak kuno milik Putri yang tersimpan di ruang bawah tanah rumahnya di Jakarta ini. Ia tak bisa membiarkan Asa terlalu campur dalam urusannya agar tak terlibat dengan masalah pemuda itu.
Putri bilang kalau artefak itu adalah salah satu komponen dalam pembuatan alat teleportasi, jadi Mika pun mengusulkan diri pergi ke Jakarta untuk mengambilnya. Wanita itu bilang kalau rumahnya sudah ia jual, tapi Mika sangat yakin akan bisa menemukan lokasi rumah lama Putri.
Dengan langkah tegap, pemuda itu memutuskan untuk segera mencari. Apa pun yang terjadi, ia akan menemukan artefak itu.
Di sisi lain, tanpa disadari oleh Mika, Asa yang ia tinggal seorang diri di area stasiun tadi tampak berdiri di sana dan tak bergeming dari posisinya. Gadis itu kelihatan jelas masih memperhatikan punggung Mika yang pergi dari sini beberapa saat yang lalu.
Bukannya menampilkan raut sedih atau kaget karena dicampakkan, senyum lebar justru terukir jelas di wajah gadis berambut coklat itu. Ia merona dengan mata yang berapi-api.
“Astaga astaga!” Asa bergumam seorang diri. Ia membekap mulutnya sendiri dengan tangan. “Aku tahu kalau anak tadi lumayan tampan, tapi ekspresinya beberapa saat lalu begitu ... aaaaa! Dia terlihat berbeda saat serius seperti itu!”
“Bung, kau tak apa?”
Suara adiknya yang tiba-tiba berdiri di depan Asa itu pun langsung membuat gadis ini memelototkan mata tak percaya. Astaga, dia pasti melamun tadi sampai tak sadar bila ada bocah laki-laki berusia 10 tahun di depannya. Demi menjaga citranya sebagai seorang kakak, Asa langsung batuk dan menenangkan diri agar pipinya tak merona.
“Ehem, kau sudah lama di sini?”
“Kalau memperhatikanmu bertindak gila dari kejauhan seperti itu sih sudah lama, tapi aku baru tiba di hadapanmu beberapa saat lalu untuk menghentikanmu agar tak jadi bahan gunjingan.” Adik Asa menjawab pertanyaan itu dengan datar karena entah kenapa kakaknya tadi begitu memalukan.
Gadis berambut coklat ini tertawa hambar. Ia menepuk-nepuk punggung adiknya agar ia melupakan hal aneh tadi dan tidak melapor pada ayah atau pun ibu. Astaga, Asa benar-benar kecolongan karena ketahuan bersikap seperti itu.
Adiknya pun hanya bisa berekspresi seperti ia tak melihat apa pun tadi.
Dalam hatinya bocah itu membatin, ‘Astaga kakakku yang selama ini diagung-agungkan oleh setiap orang ternyata memiliki kepribadian aneh seperti ini! Dan sekarang, dia menyuruhku agar tak melapor pada siapa pun!’
Di lain sisi gadis bernama Rika Angkasa ini justru tersenyum kecil. Ia tertawa dalam hati. ‘Kalau kau berharap agar kita tak usah saling mengenal lagi oke, Mika. Tapi aku punya firasat kalau kita pasti bertemu di suatu tempat! Tunggu saat-saat itu terjadi!’
***
“Sialan, aku tersesat.”
Hanya itu yang bisa Mika katakan sekarang. Pemuda bersurai hitam ini tampak menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri guna mencari petunjuk di mana lokasinya berasa saat ini.
Gedung-gedung yang menjulang tinggi di Jakarta, tidak seperti di desa, membuatnya bingung setengah mati. Apalagi populasi manusia di tempat ini begitu banyak sehingga Mika tampak kebingungan dikelilingi banyaknya orang. Suara kendaraan yang terus wara-wiri membuat pemuda ini pusing sendiri.
Dia butuh istirahat. Tidak ada yang bisa ia lakukan di tempat ini selain mengistirahatkan tubuh. Fakta kalau dirinya tersesat ini sangat memalukan. Padahal Mika tadi dengan percaya dirinya berkata pada Asa kalau ia akan baik-baik saja.
Pemuda itu pun menghela nafas. Ia mendudukkan diri di salah satu kursi taman. Kepalanya menengadah ke atas guna melihat bintang-bintang di langit. Benar, langit mulai diisi oleh bintang-bintang malam. Tak ada lagi matahari karena siang telah berganti menjadi malam. Mika menghabiskan waktu terlalu lama untuk berjalan ke sana ke mari hingga ia tersesat di tempat ini.
“Ini ... menyebalkan,” keluh Mika dengan suara lemah tak berdaya. Astaga, dia capek dan masih tak menemukan satu pun petunjuk soal rumah lama Putri.
Pemuda itu akhirnya mengambil ponsel yang ada di dalam saku jaketnya. Sejujurnya di kereta tadi Mika telah belajar bagaimana cara menggunakan benda yang bisa digunakan untuk telepati, eh telepon ini, maksudnya. Rika juga mengajarinya beberapa hal.
Mika bukanlah orang yang kesusahan dalam menyerap suatu informasi. Sejak kecil ia suka dengan membaca buku sehingga kegeniusannya soal ilmu pengetahuan tak diragukan lagi di seluruh Kerajaan Mimika. Di tempat ini pun sepertinya hal itu masih berlaku. Ia dengan mudah belajar menggunakan benda ini meskipun masih agak lupa beberapa hal.
“Kalau tidak salah tadi aplikasi yang bernama pesan itu adalah kotak berbentuk surat ini kan?” tanya Mika pada dirinya sendiri. Ia sibuk memainkan ponsel dan tidak memperhatikan orang-orang di sekelilingnya.
Mika mencari informasi alamat yang dikirimkan oleh Putri siang tadi. Di pesan ini tertulis kalau rumahnya ada di area Kelapa Gading. Untuk sesaat, Mika berpikir nama alamat ini lucu juga.
“Jadi rumah Putri ada di jalan melati nomor 234 Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara kan? Tapi, ... aku bahkan tak tahu di mana lokasiku sekarang.” Mika menggumamkan hal itu dengan nada penat.
Pemuda bersurai hitam ini pun menghela nafas. Ia mulai memosisikan duduknya dengan benar. Saat melihat ada orang yang akan melewatinya, pemuda itu langsung menghentikan pria yang memakai kaos hitam itu.
“Maaf, tapi apakah aku boleh bertanya padamu?” tanya Mika berusaha untuk sesopan mungkin.
Untuk sesaat, pria itu justru diam dan memperhatikan Mika dari ujung kepala hingga kaki. Mika sendiri merasa tak nyaman dengan pandangan itu. Pria ini rasanya aneh sekali. Ia berpikir untuk mengurungkan niat bertanya pada orang aneh ini.
“Ya? Apa yang bisa kubantu?”
“Ah, anu ... itu, bolehkah aku tahu di mana lokasiku sekarang?”
“Hmm, sekarang kau ada di Jakarta Pusat. Memangnya dirimu mencari lokasi mana?” tanya pria itu penasaran.
Mika yang menyadari ia berada di Jakarta yang ‘salah’ pun langsung melebarkan mata tak percaya. “Astaga, itu berarti aku masih jauh sekali? Aku mencari rumah yang ada di Jakarta Utara.”
“Wah kalau itu sih butuh waktu lama. Boleh kutahu alamatnya?”
“Alamatnya ada di Jalan Melati Nomor 234 Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Apa kau tahu itu di mana?” tanya Mika pada orang tersebut.
Di sini, keanehan mulai terjadi. Mika bisa melihat bagaimana reaksi pria berkaos hitam ini mulai sedikit aneh. Pria itu berkata, “Aku merasa asing dengan namanya. Boleh k****a langsung alamat yang kau cari itu? Siapa tahu kau salah mengeja.”
Tanpa ragu, Mika langsung memperlihatkan ponselnya pada pria itu. Akan tetapi, bukannya membaca alamat rumah Putri yang ditampilkan di aplikasi pesan tadi, pria aneh itu justru merampas ponsel dari tangan Mika secepat kilat.
Mika tanpa sadar langsung menahan nafasnya karena kaget. Matanya melotot tak percaya dengan ekspresi horor. Pria itu langsung berlari sekuat tenaga menjauhinya.
“Sialan, orang itu pencuri?!”
Tanpa tunggu lama Mika langsung mengejar orang berkaos hitam tadi. Bahkan dia tak sadar telah meninggalkan ransel hitamnya di atas kursi taman tadi. Prioritas pemuda ini sekarang adalah mendapatkan benda telepati bernama ponsel itu apa pun caranya.
“WOI PENCURI SIALAN! KEMBALIKAN PONSELKU ATAU AKU AKAN MEMBERIMU PELAJARAN!”