Chapter 17 - Penolong

2132 Kata
Ini adalah sebuah tempat yang aneh. Bahkan kalau boleh dibilang, ini lebih aneh daripada negara asing bernama Indonesia yang telah ditinggali Mika selama dua minggu lebih. Seluruh tempat ini terasa gelap gulita. Seluruh bagiannya berwarna hitam seperti ruang tak terbatas. Belum selesai Mika mencerna semua kejadian itu, dia tiba-tiba dibawa kembali ke ruangan raja yang ada di Kerajaan Mimika. Di sini sudah ada banyak orang yang duduk bekerja termasuk raja, ratu, sang perdana menteri, hingga para tetua. Untuk sesaat, pemuda itu memikirkan kemungkinan kalau dirinya sudah berada kembali ke tempat asalnya. Namun, seolah menyadari apa yang sebenarnya terjadi, Mika justru diingatkan dengan momen yang terjadi sehari sebelum Festival Sihir Akademi Atas Mimika dimulai. Benar juga, ini adalah ingatannya soal kejadian itu. Di sini, pemuda tersebut bisa melihat jelas bagaimana sosoknya waktu itu menatap tajam sang ayah yang berada di atas singgasana. Kilas balik pun seolah terjadi. Mika yang ada dalam kilas balik ini menatap ke arah anggota kerajaan lain, terutama para tetua dengan tatapan benci. Ia marah ketika dihujat oleh semua orang. Ayahnya sendiri yang menjadi raja bahkan juga tak mau mendengarkan penjelasannya. Sosok Mika asli yang menyaksikan ini semua hanya bisa mengepalkan tangan menahan emosi. Saat itu ia begitu kesal. Memangnya, siapa juga yang ingin dilahirkan di dalam keluarga kerajaan dan diberkahi kekuatan seperti yang dimiliknya sekarang? “Kakak, kakak, dan kakak!” Semua orang langsung terperanjat kaget dengan teriakan yang tidak sopan tadi. Di lain sisi, Mika yang asli hanya bisa memandang datar ke arah dirinya yang sudah seperti orang kesetanan itu. “Kalian semua selalu menyudutkanku! Aku bahkan tidak diberikan hak untuk mengatakan kebenaran! Kalau kalian ingin Pangeran Jordan dan tidak berharap ada keberadaanku di sini, maka aku akan pergi saja dari sini atau bahkan dunia ini!” Mendengar perkataannya sendiri yang seperti tadi, sosok Mika yang asli langsung membelalakkan mata tak percaya. Pemuda berusia 17 tahun ini baru menyadari apa arti ucapannya itu dulu. Secara tiba-tiba, seluruh kilas balik yang disuguhkan di hadapannya tadi kini telah sirna. Tempat ini berubah menjadi gelap dan dipenuhi oleh warna hitam seperti semula. Mika merenung tak berdaya di tempat ini seorang diri. Ia baru menyadari kesalahan apa yang telah diperbuatnya. “Kalau kalian ingin Pangeran Jordan dan tidak berharap ada keberadaanku di sini, maka aku akan pergi saja dari sini atau bahkan dunia ini!” Suara itu terus bergema dalam kepalanya berulang kali. Ia terus mendengarkan suaranya sendiri. “... aku akan pergi saja dari sini atau bahkan dunia ini!” Bagian perkataannya itu berdenging dalam kepala pemuda ini. Mika mencoba untuk menutupi telinga, namun ia tetap mendengar suaranya tadi. Ini memuakkan. Suara-suaranya tadi terus berputar dalam kepalanya seperti kaset rusak yang tak mau berhenti. Dengan frustrasi, pemuda ini berteriak, “Sialan! Kau b******n! Tunjukkan dirimu! Aku tahu kau pasti menjebakku di suatu tempat dengan sihir halusinasi kan?! Jawab aku, b******k!” Benar, Mika tak bisa menahan amarahnya lagi. Ia kesal dengan semua hal ini. Meskipun ia mengakui jika ini mungkin adalah kesalahannya karena hari itu dirinya berkata di depan semua orang ingin lenyap dari dunianya, tapi kenapa harus sampai seperti ini? “Ini pasti jebakan kan? Ada orang yang mempermainkan hidupku kan?! Jawab aku, kau b******n!” Hanya itu yang mampu Mika teriakkan. Dari dalam lubuk hatinya, Mika masih tak bisa menerima kenyataan kalau dia terdampar di tahun 2022. Semua hal yang ada di Indonesia teras asing dan membingungkan. Meskipun sebanyak apa pun orang di Kerajaan Mimika yang mengatainya jenius, tapi ini semua terlalu memuakkan ketika ia tak tahu apa-apa di tempat asing itu. Kenapa ia harus berakhir seperti sekarang? Dengan tubuh lemas, Mika yang sejak tadi berdiri pun akhirnya jatuh terduduk. Ia tahu tindakannya berteriak seperti orang gila di alam bawah sadar ini tadi adalah suatu hal yang bodoh. Tak mungkin ada orang yang bisa mendengarnya dari tempat ini. Mustahil juga kalau ada musuh yang ada di sini. Meskipun tempat gelap ini aneh baginya, Mika tahu jika setiap penyihir memiliki kemampuan untuk terjaga di alam bawah sadarnya ketika mengalami pingsan. Semua ciri-ciri yang disebutkan dalam buku yang pernah ia baca dulu persis dengan tempat ini sehingga pasti tak salah lagi. Dirinya pasti pingsan di luar sana dan kini berada di alam bawah sadar. Pemuda itu memandang sendu ke sekitar. Untuk sesaat, ia terpikirkan dengan sosok kakaknya yang telah tewas sejak 10 tahun yang lalu. Pangeran mahkota sebenarnya alias Pangeran Jordan itu telah tewas ketika Mika baru berusia tujuh tahun. Ia gugur dalam perang di usianya yang masih muda. “Kalau kakakku ada di dalam posisi seperti sekarang, kira-kira apa yang akan dilakukannya?” Tanpa sadar, Mika telah mengucapkan hal tadi. Sedetik kemudian, pemuda ini merasa kalau kedua matanya mulai berkaca-kaca. Ia langsung mengumpat saat itu juga. Segala sumpah serapah keluar dari mulutnya dengan begitu ringan. “Sialan, kenapa kau harus menangis di saat seperti ini? Sudah lama seklai sejak kau bisa meneteskan air mata. Kenapa tiba-tiba menangis coba?” gerutu pemuda itu seraya mengusap matanya dengan kasar. Untuk sesaat, suasana di tempat ini begitu hening. Mika hanya bengong dan merenung seorang diri memikirkan segala hal yang terjadi. Dalam aksi bengongnya itu, ia bisa melihat kalau tiba-tiba ada secercah cahaya yang masuk ke tempat gelap ini dari arah atas. Pemuda itu mendongak lalu menyipitkan mata kebingungan. “Cahaya apa itu?” Mata Mika kemudian membulat saat menyadari apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia tersenyum pilu. “Tak salah lagi, aku pasti akan segera sadar dari pingsan tadi.” Sebelum benar-benar membuka mata, pemuda itu tersenyum sebentar. Menyebalkan. Dia tahu kalau kehidupan di luar sana begitu memuakkan, tapi apa boleh buat kan? Ia harus bangun dari sini. *** “Lihat! Lihat! Anak ini bangun!” “Benar, akhirnya dia bangun!” “Astaga, syukurlah. Untung saja tadi aku belum memanggil ambulans.” Suara-suara gaduh yang ada di sekitarnya tadi langsung membuat perhatian Mika Jonathan terpecah. Begitu ia membuka mata, pemuda berusia 17 tahun ini bisa melihat kalau dirinya dirubungi oleh begitu banyak orang. Sontak saja, ia langsung terkejut bukan main. “Astaga, kalian. Tolong pergi sebentar. Anak ini baru sadar dari pingsannya jadi jangan biarkan dia kebingungan seperti ini." Suara berat dari seorang pria yang muncul dari balik kerumunan itu pun langsung membuat keadaan gaduh tadi menjadi hening. Satu per satu orang mulai meninggalkan Mika dan membiarkan ia seorang diri di emperan toko yang menjadi tempatnya berbaring sekarang. ‘Astaga, tidur di emperan toko lagi? Kenapa aku selalu menjadi orang miskin ke mana pun aku berada?’ Pemuda itu pun tersenyum masam. Lelucon ini menyebalkan. Beberapa saat telah berlalu sejak Mika mulai mengobservasi segala hal yang ada di sini. Sepertinya tadi ia memang jatuh pingsan dan ditolong oleh orang-orang. Posisinya yang sekarang tergelatak di emperan toko menjadi jawaban dari segala dugaannya tadi. Dengan susah payah, pemuda berusia 17 tahun itu mencoba untuk bangun dan duduk. Namun kepalanya seperti terasa berputar hebat sekarang. Ini memuakkan. Dengan spontan, dirinya langsung menekan sisi kanan kepalanya yang terus berdenyut sejak tadi. “Bocah, kau yakin dirimu baik-baik saja?” Suara itu langsung mengalihkan perhatian Mika. Di depannya kini ada seorang pria berkaos merah dengan rambut hitamnya yang dibelah tengah. Orang itu berdiri dengan melemparkan tatapan datar ke arahnya. Untuk sesaat, Mika terperanjat kaget. Ia merasa kalau dirinya tengah diobservasi oleh pria aneh ini. “Aku ... tidak apa-apa. Hanya saja, kepalaku terasa begitu sakit,” jawab Mika apa adanya. Ia telah berhasil duduk setelah berusaha susah payah sejak tadi. “Kapan terakhir kali kau makan?’ Menengara pertanyaan singkat itu, Mika hanya bisa berujar, “Tadi pagi.” “Mustahil rasanya kalau kau bisa pingsan dalam kondisi parah seperti tadi kalau hanya makan terakhir kali pagi ini. Aku tebak kalau jam makanmu tak rutin ya?” Mika tak bisa menyembunyikan wajah tertegunnya. Orang ini sepertinya punya pengamatan yang bagus jaga untuk urusan medis. Pemuda itu pun menghela nafas panjang dan mengangguk pelan. Apa boleh buat kan? Ia harus jujur kalau memang tak memiliki pola makan yang teratur sejak tiba di kota metropolitan ini. “Tunggu sebentar.” Perkataan itu sontak mengagetkan Mika. “Apa maksudmu?” Orang tadi keburu menghilang. Pertanyaan Mika pun tak sempat didengarnya. Ia yang memang tak tahu harus apa pun pada akhirnya lebih memilih untuk menunggu. Mika duduk seraya menyender ke dinding emperan toko yang pintunya tertutup setengah ini. Kalau melihat pria berkaos merah tadi dengan mudahnya memasuki toko, ada kemungkinan kalau orang itu adalah pemilik tempat ini. Untuk sesaat, Mika terlihat berpikir keras. Ada bagian dari dirinya yang seolah mengatakan kalau ia pernah bertemu dengan pria aneh berkaos merah tadi. Namun sebagian dirinya yang lain justru lupa siapa orang itu. “Hanya saja, kenapa orang tadi kelihatannya seperti tak asing bagiku ya?” Mika bertanya-tanya dalam hati. “Di mana aku pernah menemuinya?” Di saat pemuda itu merenung dan terus berpikir, tiba-tiba ada aroma enak yang tercium di dekatnya. Fokus Mika pun langsung teralihkan. Ia mendongak dan melihat kalau pria aneh dengan kaos merah tadi telah berdiri kembali di hadapannya seraya menyodorkan semangkok bola-bola daging beraroma lezat. Saat itu juga, mata Mika langsung membulat tak percaya. Ia melongo sambi berkata, “Tunggu, bukankah kau Pak Syarifudin yang menjual bola-bola seperti ini di Jakarta Pusat? Kau temannya Pak Agus, si pemulung itu kan? Bagaimana mungkin dirimu ada di sini?!” Meskipun masih menampilkan ekspresi datar, Mika bisa melihat jelas jika ada cahaya keterkejutan di mata pria sipit ini. Orang itu menunjukkan gestur kalau dia tampaknya mengenali siapa Mika, namun berusaha untuk menutupi hal itu. Tampaknya, orang dengan rambut hitam yang dibelah tengah ini masih berusaha bersikap tenang di depan Mika. “Kau sepertinya salah kira.” “Tidak!” Mika menjawab sanggahan tadi dengan lugas. Ia memelototkan matanya ke arah pria mencurigakan ini. “Jangan pernah meremehkan kemampuan mengingatku! Tak salah lagi, kau memang Pak Udin!” Untuk sesaat suasana hening menyelimuti kedua orang yang saling bertatapan intens itu. Bakso alias bola-bola daging yang disebut oleh Mika tadi masih terus berada di genggaman pria bermata sipit ini. Makanan itu diabaikan begitu saja baik oleh dirinya maupun Mika. “Tidak, tidak. Kau sudah salah paham. Aku bukan Pak Udin yang kau kira. Aku ini—“ “Selamat malam, Pak Udin! Tumben banget jam segani warung baksonya sudah habis?” Sial, pria bermata sipit itu langsung tersenyum masam. Ia melirik ke arah salah satu pedagang asongan yang menyapanya seperti tadi. Pria berkaos merah itu juga melirik sebentar ke arah Mika yang sepertinya ingin menerima penjelasan darinya. Kalau sudah begini apa boleh buat, orang bermata sipit ini pun menghela nafas panjang. “Aku tak bisa mengelak lagi kalau begini. Yah, aku akan menjelaskannya padamu nanti saja.” “Tidak! Jelaskan sekarang juga!” tuntut Mika dengan sengit. Pemuda yang kini duduk senderan di emper toko milik pria tadi pun justru menatap orang bernama Pak Udin ini dengan tajam. Sejujurnya pedagang bakso itu tak paham. Kenapa juga anak ini sangat penasaran dengan hal itu sampai menyuruhnya untuk menjelaskan semua hal sekarang? “Tidak! Aku akan menjelaskan nanti. Makan dulu makananmu. Kau sudah jatuh pingsan tadi. Jadi, cukupi dulu asuhan nutrisimu, Bocah!” ujar Pak Udin tak kalah sengit. Pandangan curiga langsung ditunjukkan oleh Mika. Pemuda ini dengan aneh memandang bakso dan orang bernama Udin tadi secara bergantian. Matanya tampak menatap selidik. “Kau ... tidak sedang menyuapku kan? Katakan padaku kalau kau bukanlah seorang penyihir!” “Hah? Bicara apa kau ini?” Tentu saja Udin tak mengerti. “Aku tadi adalah orang yang sudah menolongmu saat pingsan di sana. Kau juga sudah kuberi makanan gratis. Jadi ayo cepat makan sekarang!” Mika mengatakan hal tadi bukanlah tanpa alasan. Dia mengira kalau Udin pasti salah satu orang yang punya kekuatan sihir di masa ini karena bisa berpindah tempat sesuka hatinya. Tak salah lagi. Dugaannya yang mengatakan kalau Pak Udin punya kemampuan teleportasi pasti adalah suatu kebenaran. Perutnya berbunyi keras sekarang. Meskipun awalnya curiga, Mika pun pada akhirnya segera menyambar mangkok bakso tadi dan memakan hidangan itu dengan lahap. Diam-diam, Udin yang masih berdiri di posisinya tadi tampak menatap Mika dengan pandangan selidiknya yang sama seperti beberapa saat lalu. Sejak awal ia memang ingat kalau dirinya pernah bertemu dengan anak ini dahulu. Udin pun berinisiatif menolong Mika tadi karena tak tega melihat anak ini terkapar tak berdaya di tengah jalan dan dikerumuni banyak orang. Bagaimana pun juga, dia adalah kenalan Pak Agus, si pemulung baik hati itu. Jadi Udin pikir orang ini tak akan curiga padanya. Siapa yang akan mengira kalau pemuda yang sedang makan bakso lahap di depannya ini justru mengingatnya? Sialan, ini buruk. Bagaimana ia akan menjelaskan pada anak ini soal profesinya yang bekerja sebagai seorang anggota intel dan sekarang tengah menyamar sebagai tukang bakso? Sepertinya, setelah ini akan ada perbincangan yang cukup menarik antara tukang bakso gadungan dan seorang pangeran kerajaan sihir asing yang terdampar di tahun 2022. Apa pun yang terjadi nanti, Udin akan berusaha sebisa mungkin agar identitasnya sebagai intel tetap aman.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN