Chapter 16 - Putus Asa

1430 Kata
Semuanya berjalan begitu cepat bagi Mika. Sesaat yang lalu, ia baru saja mendapatkan kabar bahagia kalau Pak Bagus, anggota Satpol PP yang terus menyusahkannya sejak pertama kali mereka bertemu, ingin menawarkan bantuan untuk mengantarkannya ke Jakarta Utara secara cuma-cuma. Akan tetapi, setelah hampir lima jam kedua orang itu terus berputar mencari alamat rumah Putri, baik Mika maupun Pak Bagus tak dapat menemukan kediaman itu. Jam yang ada di lengan kiri Satpol PP itu kini menunjukkan pukul tiga sore. Bagaimana pun juga, Bagus ingin tetap mengantarkan Mika menemukan rumahnya. Akan tetapi, ia juga harus profesional. Dirinya digaji dengan uang rakyat jadi harusnya tak boleh menyia-nyiakan waktu di luar jam kerja seperti sekarang. Sudah lama ia membantu Mika mencari, namun sayangnya rumah itu tak kunjung ketemu. “Mika, apakah dirimu yakin alamat itu benar?” tanya petugas ini sambil menghela nafas berat. Di luar masih terus diguyur hujan gerimis sejak tadi. Bagus ingin segera kembali ke kantornya yang ada di Jakarta Pusat, mengingat ia adalah pimpinan di sana. Akan tetapi, pria dengan tahi lalat kecil di bawah bibirnya ini tak kuasa meninggalkan Mika saat hujan-hujan begini. Mika tampak memperhatikan sekitar tempat-tempat ini. “Tak salah lagi. Aku masih ingat betul alamatnya. Rumah itu ada di Jalan Melati Nomor 234 Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara.” “Tapi, kita sekarang sudah ada di sini!” jawab Bagus seketika. Petugas berusia 39 tahun ini hanya bisa menghela nafas panjang setelah berkata demikian. Ia menatap Mika dengan prihatin. Sejujurnya, Bagus sedikit ragu apakah ingatan pemuda ini benar atau salah. Bagaimana pun juga, orang bernama Mika Jonathan ini amnesia kan? Dia pasti melupakan alamat itu dan hanya mengingatnya melalui sugesti saja. Kedua mata Mika tampak menyipit. Meskipun ia juga kesal karena sedari tadi hanya berputar-putar di wilayah ini, pemuda itu merasakan kalau ada suatu hal yang tak beres. Bagaimana mungkin rumah Putri tiba-tiba lenyap? Pemuda itu melirik ke arah Pak Bagus yang duduk di sampingnya. “Kau benar, Pak Bagus. Kita sudah ada di sini sejak tadi. Ini aneh sekali. Tak mungkin kalau kakakku berbohong soal alamat rumahnya sehingga kita kebingungan seperti sekarang.” Petugas Satpol PP itu justru menyunggingkan senyum remeh. “Hei, Nak. Aku justru meragukan ingatanmu. Bisa saja kau melupakan alamat yang ditunjukkan kakakmu kan?” Mika sejujurnya ingin meninju orang ini yang seenak jidatnya meragukan ingatan dari seorang Pangeran Mahkota Kerajaan Mimika yang jenius sepertinya. Namun karena orang ini sudah mengantarkannya gratis, ia tak bisa berbuat banyak. Pemuda itu pun menghela nafas. Ia menatap Bagus dengan serius sekarang. “Aku tak tahu harus membalas seperti apa kebaikanmu ini. Namun, kurasa bantuan yang kau berikan sampai di sini saja.” Bagus pun terperanjat. “Apa maksudmu?” Mika memasang ekspresi seramah mungkin yang ia bisa. Namun kalau boleh jujur, pemuda itu justru asyik melantunkan sumpah serapah pada Bagus karena ia harus mengulangi perkataannya tadi dua kali. Ini memuakkan. “Ya, sampai di sini saja,” ujar pemuda itu dengan muka serius. “Aku akan turun di sini dan mencarinya sendiri. Kau boleh kembali ke kantor sekarang.” “Hah? Apa kau yakin?” Tentu saja Bagus langsung kaget. “Kenapa tidak?” “Tidak, bukan begitu maksudku. Hanya saja, aku tak tega meninggalkanmu saat hujan. Kau bisa kehujanan nanti. Lagian aku juga tidak membawa payung. Mana mungkin aku tega membiarkanmu mencari alamat itu seorang diri di sini?” Mika sebenarnya juga tak tahu ia harus bagaimana, tapi dirinya berencana untuk memikirkan hal itu nanti. “Kau tak perlu khawatir. Serahkan saja padaku!” Mereka saling bertatapan dalam waktu lama. Bagus ragu untuk meninggalkan Mika, tapi dirinya memang harus segera kembali ke kantor. Pada akhirnya petugas itu pun menyerah dengan kemauan Mika. Ia mau tak mau harus meninggalkan anak ini sekarang. Dirinya pun membukakan pintu mobil dan akhirnya Mika keluar. Mereka saling berpandangan lagi, seolah menyampaikan salam perpisahan secara tak langsung. “Sekali lagi, terima kasih karena telah memberiku tumpangan sejauh ini,” ujar Mika seraya tersenyum. Bagus membalas senyuman itu. “Aku sama sekali tak keberatan. Semoga dirimu bisa menemukan rumah itu secepatnya.” Mika pun hanya bisa membalas ucapan tadi dengan anggukan. Dia melambaikan tangan ke Bagus dan akhirnya pergi dari hadapannya. Melihat punggung anak itu yang sudah hilang dari pandangannya, Bagus pun menghela nafas panjang. Ia mulai memutar mobilnya dan pergi menjauh dari lokasi tadi. Dalam perjalanannya, Satpol PP itu merenung dalam-dalam. “Mika tadi bilang kalau alamatnya ada di Jalan Melati Nomor 234 Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara?” Mata pria yang hampir berusia 40 tahun ini tampak menerawang jauh. Sebenarnya sejak tadi ia sudah berkeliling sepanjang jalan melati itu, namun tak ada kawasan rumah di sana selain tanah lapang. Tiba-tiba, Satpol PP ini terpikirkan suatu hal. “Bukankah kalau tidak salah dulu ada pembongkaran rumah di sepanjang jalan ini ya?” celetuknya tiba-tiba. “Aku tak tahu pasti, tapi rasanya Satpol PP area Jakarta Utara dan Dinas Lingkungan Hidup yang melakukannya.” Dia tiba-tiba jadi memikirkan nasib Mika. Anak itu mungkin saja mencari rumah di lokasi yang sudah diratakan tadi. Bagaimanapun juga, Bagus tiba-tiba ingat kalau lokasi itu dulu berisi rumah-rumah mantan orang kaya elite yang kebanyakan telah bangkrut. Beberapa dari mereka menjualnya, tapi tak kunjung laku. “Karena saat itu pemerintah ingin melakukan pembuatan lahan terbuka hijau besar-besaran, sepertinya kawasan itu dibeli oleh mereka. Sehingga, rumah-rumah yang ada di sana pun terpaksa dirobohkan dan rata seperti sekarang.” Sialan, Bagus mencaci dirinya sendiri karena baru teringat akan hal ini setelah jauh meninggalkan Mika. Mustahil kalau ia kembali sekarang. Lagi pula tak ada jaminan kalau anak itu masih ada di sana. Akan perlu waktu untuk mencarinya, jadi ia lebih memutuskan untuk kembali saja ke Jakarta Pusat. Pria ini tampak menghela nafas. “Semoga saja anak itu diberikan petunjuk.” *** Mika ingin mengumpat. Suasana hatinya terasa begitu buruk sekarang. Dia berjalan di antara orang-orang dengan baju yang basah kuyup. Bagaimana pun juga, pemuda ini tak memiliki payung sebagai pelindungnya dari hujan. Dia terus mencari rumah Putri di antara rinai hujan tadi. Beruntung karena malam ini hujan mulai reda. Ia bisa melihat kalau jam-jam yang ada di beberapa pertokoan sudah menunjukkan pukul enam. Sepertinya, ia telah menghabiskan waktu tiga jam untuk mencari rumah Putri dan tak membuahkan hasil apa pun. “Astaga, kepalaku pusing sekali. Dingin lagi. Kalau ini di kerajaan seperti dulu, aku pasti sudah mandi dengan baju hangat, mendapatkan pijat relaksasi, dan menyantap sup daging hangat bersama segelas teh hijau yang lezat,” gumam pemuda ini dengan datar. Mika sadar betul kalau di dunia ini dirinya dilanda kemiskinan. Ia tak bisa menghambur-hamburkan uang. Terlebih dari itu, dirinya tak punya sepeser pun uang untuk makan. Ini semua gara-gara pencuri dompet sialan itu. Laki-laki berpostur tinggi dengan kemeja hitam basah ini menatap ke sekeliling. Ia baru sadar kalau dirinya sejak tadi berada di kawasan kuliner atau semacamnya. Sejauh mata memandang, hampir 2 km Mika berjalan, yang ia lihat hanyalah gerobak makanan dan kedai. “Sialan, ujian macam apa ini? Apakah mereka tak tahu kalau ada seorang gembel di sini yang kedinginan dan kelaparan?” maki pemuda itu pada orang-orang yang hanya melihatnya sejak tadi. Aroma dari berbagai makanan yang ia hirup membuat perut Mika berbunyi. Ini menyedihkan. Ia menghentikan langkah gontainya seraya memandang sendu ke arah jalanan. Sebenarnya, apa kesalahannya hingga harus berakhir seperti sekarang? Sudah hampir dua minggu Mika di sini dan ia tak bisa menemukan satu petunjuk pun jalan untuk pulang. Mika hanyalah seorang remaja biasa. Dia bukan orang tua yang sudah memahami pahit manis kehidupan. Segala hal yang terjadi padanya begitu memilukan. Kenapa orang yang membawanya ke tempat ini justru tak membunuhnya saja? Kenapa ia harus dipermainkan untuk diuji hidup dalam negara antah berantah bernama Indonesia ini? Segala hal yang ada di sini serasa tak masuk akal. Ini memuakkan. Mika memperkuat pegangannya pada ransel yang ia cangklong satu sisi itu. Ia melampiaskan emosi kemarahannya dengan meremas tali ransel ini. Kepalanya yang berdenyut sejak tadi membuat pandangannya menjadi samar. Sialan, ia tidak mau pingsan di tempat ini. Atau jangan-jangan, dirinya akan mati sekarang? Seluruh dunia terasa begitu berputar. Mika berusaha sebisa mungkin untuk mempertahankan kesadarannya, meskipun ini terasa sulit sekali. “Hei, Bocah. Kau yakin tidak apa-apa?” Samar-samar pemuda ini bisa melihat kalau ada seseorang yang berdiri di hadapannya. Meskipun tidak terlalu jelas, Mika merasa kalau orang ini akan menolongnya. Akan tetapi, ia benar-benar sudah tak bisa mempertahankan kesadaran lagi. Sebelum dirinya ambruk menghunjam tanah, pangeran itu bisa mendengar suara kepanikan dari orang-orang di sekitarnya. Pemuda itu tak bisa melihat apa pun lagi selain kegelapan. Untuk sesaat ia berpikir. Bukankah lebih baik kalau dia mati saja sekarang daripada terus bertahan hidup di negara aneh ini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN