Chapter 13 - Penyerbuan

2173 Kata
Berada di Kota Jakarta selama seminggu membuat Mika mulai belajar banyak hal. Hidup di zaman ini begitu keras. Semuanya butuh uang. Beberapa barang yang sudah ada di masanya dulu bahkan mengalami kenaikan hampir 1000 kali lipat. Selama tinggal dengan keluarga Putri di desa, ia telah belajar banyak hal seperti perbedaan nilai mata uang di kerajaan Mimika dengan negara ini. Ia masih ingat betul kalau beras 1 kg di kerajaannya dihargai sebesar dua koin perak. Tapi di negara yang uangnya berbentuk kertas ini, diperlukan nominal sebesar 10.000 hanya untuk membeli beras per kilo. Semuanya menjadi semakin mengerikan saat Mika tahu harga beras di kota metropolitan seperti Jakarta. Benda-benda di kota ini begitu mahal, beda drastis dengan harga jualnya di desa. Ini memuakkan karena Mika harus bekerja lebih keras mencari sampah. Awal-awal melakukan pekerjaan ini sih dia tidak keberatan, tapi semakin lama Mika merasa jenuh dan muak. Ia sadar kalau upah yang diterimanya dari mengumpulkan sampah ini tak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan. Itu tak adil rasanya. Ia ingin gaji lebih, tapi tak tahu harus meminta pada siapa. “Oi, kau sepertinya ada masalah?” Seorang pemuda yang tampak lebih tua beberapa tahun dari Mika terlihat menghampiri pemuda yang sedang merenung di tepi trotoar itu. Orang ini adalah Farel. Ia juga salah satu pemulung sampah yang dikenalinya tanpa sengaja beberapa hari lalu. “Aku tidak apa-apa,” balas Mika dengan muka terganggu. Jujur saja, ia lebih ingin menghabiskan waktu sendiri sekarang. Farel dengan seenaknya langsung duduk di samping Mika tanpa seizin pemuda itu. Dengan santainya, pemuda berambut hitam itu merangkulkan tangan kanannya ke pundak Mika. Sorot tak suka langsung Mika keluarkan, namun pemuda itu justru acuh tak acuh. Sialan, Mika benci dengan orang yang menyentuhnya tanpa izin seperti ini. Kenapa orang seperti Farel suka sok akrab dengannya sejak pertama kali mereka bertemu? “Kutebak, kau pasti memusingkan soal uang kan?” Mata Mika yang sedari tadi menatap Farel tajam, tiba-tiba menjadi tersentak. “Bagaimana kau tahu?” Senyum lebar Farel langsung terukir. Ia hafal dengan orang-orang seperti Mika yang tak bisa menikmati hidupnya santai dan hanya memikirkan uang, uang, dan uang untuk memuaskan diri. Atau mungkin, memenuhi kebutuhannya. “Uang adalah suatu hal paling krusial di dunia ini. Tanpa uang, kau tak bisa makan. Kau tak bisa punya baju. Kau tak bisa punya rumah. Begitu menyedihkannya orang-orang seperti kita. Jadi, aku bisa langsung tahu apa masalahmu.” Mika yang mendengar ucapan itu pun sontak menghela nafas sendu. Jujur, sejak pertemuannya dengan Pak Agus seminggu lalu, ia terus luntang-lantung tak tahu harus ke mana. Setiap kali Mika pergi ke terminal, uang yang dikumpulkan dari hasil memulung masih kurang untuk beli tiket ke Jakarta Utara. Ia pun akhirnya bertemu dengan Farel hari itu dan diberi tumpangan rumah yang bisa digunakannya tidur setiap malam. Memang, itu bukan rumah yang besar. Farel adalah orang yang tak punya sepertinya. Rumah yang ia bangun dari tripleks-tripleks kayu, begitu yang Farel bilang, hanya bisa ditinggali oleh satu orang saja. Sejak kedatangan Mika, rumah itu menjadi sempit karena ia harus menumpang tidur setiap malamnya. Meskipun Mika tak suka dengan sikap Farel, tapi orang ini sangat berjasa dalam hidupnya. Sejak saat itu, Mika mengenal pekerjaan lain sebagai kuli bangunan. Setiap pagi hingga siang ia bekerja memulung sampah dengan Farel dan sore hingga malamnya, Mika selalu diajak bekerja sebagai kuli di salah satu proyek pembangunan gedung. Ini melelahkan. Terkadang, uang-uang yang ia kumpulkan itu pun akan habis untuk keperluan beli makanan saja. “Andai saja kita punya kekuatan sihir ya?” celetuk Farel dengan nada masam. Dahi Mika mengerut tak mengerti. “Apa maksudmu? Kenapa kalau kita punya kekuatan sihir?” “Ya, pasti semuanya menjadi enak. Kita bisa melakukan semua hal yang kita suka tanpa usaha keras. Selain itu, kita juga langsung terkenal. Setiap orang akan membicarakan kita di mana-mana dan viral. Kita pasti diundang ke mana-mana, mulai dari acara TV, podcast Youtube, dan semuanya.” Sejujurnya Mika masih belum tahu apa arti podcast Youtube yang dibilang oleh Farel tadi, tapi sepertinya hal-hal yang disebutkan olehnya itu bisa mendatangkan uang yang begitu banyak. Untuk sesaat, pandangan Mika teralihkan ke telapak tangannya. Jika berbicara soal sihir, ia juga bisa melakukannya. Hanya saja, kekuatan sihirnya di dunia ini bekerja dengan cara yang aneh. Kemampuan Mika yang digadang-gadang begitu hebat ini tak bisa digunakan sesuka hatinya. Ini memuakkan sekali. “Jujur, kalau hanya sihir saja aku juga bisa melakukannya,” celetuk pangeran dari Kerajaan Mimika itu. Seakan menyadari kebodohannya, Mika langsung membulatkan mata kaget. Ia menoleh ke arah Farel yang kini menatapnya dengan pandangan syok. Saat itu Mika ingin menjelaskan kalau ia hanya bercanda, tapi pemuda itu malah tertawa terbahak-bahak sebelum ia sempat bicara. “Apa kau seorang wibu yang bermimpi punya kekuatan super di siang bolong? Ahahaha, sudahlah Mika. Kita ini memang miskin, tapi jangan sampai akal pikiranmu ikut miskin. Ahahaha.” “A-apa maksudmu dengan wibu?” tanya Mika tak mengerti. Mendengar itu, Farel hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia tersenyum lalu bangkit dari posisi duduknya tadi. Menjelaskan itu semua tak ada gunanya sekarang, akan lebih baik kalau mereka segera pergi menuju proyek pembangunan gedung itu dan memulai kerja kembali mengingat ini sudah waktunya untuk mencari uang lagi. “Sudahlah, ayo kita berangkat ke proyek. Ini sudah waktunya bekerja. Jangan kasih kendor kalau soal uang, oke?” Farel yang sudah berjalan lebih dulu daripada Mika itu pun membuat pemuda ini hanya bisa menyunggingkan senyum simpul. “Dasar. Kau selalu mengataiku orang yang gila duit, padahal sendirinya juga orang seperti itu!” Melihat Mika yang sudah berjalan mengikutinya dari belakang, Farel pun meliriknya sebentar lalu tertawa. “Kita ini beda, Bodoh. Jangan samakan aku dengan orang yang tak bisa menabung untuk membeli tiket bus saja, ahahaha.” “Apa katamu?!” Mika tersenyum marah lalu mengejar orang yang sudah memberinya tumpangan tidur selama beberapa hari itu. “Sini kau, Farel! Aku akan meninjumu dengan tanganku sendiri!” “Ahahaha! Kejar saja kalau kau bisa!” Tanpa sadar, mereka berlarian di sepanjang trotoar seperti anak kecil. Untuk sejenak saja, dunia yang kejam seolah tersingkirkan dari pikiran dua orang yang harus dipaksa dewasa karena keadaan ini. Farel hanya berharap kalau Mika bisa melupakan masalahnya dengan cara seperti ini. Ia tak suka melihat ada orang yang menderita di hadapannya. *** Kalau Mika boleh bilang, setelah ia berpindah ke dunia aneh ini, dirinya selalu bertemu dengan orang-orang baik. Mulai dari Putri dan keluarganya, Rika Angkasa, Pak Agus, dan sekarang Farel. Orang-orang ini begitu baik. Mereka memberikan bantuan kepadanya dengan cuma-cuma. Rasanya begitu lega karena ia tak harus pusing memikirkan nasib nyawanya meskipun ia tak punya sepersen pun uang. Kalau di Kerajaan Mimika dulu, di mana setiap orang masih sering membunuh satu sama lain, ia pasti akan terancam dalam situasi seperti ini. Untung saja sekarang orang-orang tak seliar di zamannya dulu. Mereka tak akan dengan mudah membunuh orang karena ada hukuman yang membatasi hal itu. Sekarang, Mika dan Farel sudah ada di rumah tripleks ini. Hari berganti menjadi malam dan mereka baru saja pulang dari proyek bangunan. Jam yang ada di rumah kecil Farel kini telah menunjukkan pukul 11 malam. Kedua pemuda itu tampak bersiap untuk istirahat, di mana Farel sudah ada di atas kasur dan Mika tidur di kursi. “Hei, Mika. Kau tamat sekolah apa? SD? SMP? Atau SMA? Kalau aku, dulu aku berhenti sekolah di SMP.” Pertanyaan yang tiba-tiba keluar dari mulut Farel itu membuat Mika kebingungan untuk menjawab. “Apakah SMA yang kau maksudkan itu adalah Akademi?” “Hah?! Kau lulusan Akademi?!” Reaksi kaget dari Farel itu membuat Mika merasa kalau ia telah salah bicara. “Sepertinya ini salah sambung.” Mika tampak tersenyum canggung di posisinya sekarang. “Di daerahku, SMA disebut sebagai Akademi. Jadi, kurasa kau terlalu berlebihan untuk kaget mendengar itu.” Farel pun bangkit dari posisi tidurnya. Ia duduk menatap Mika yang masih santai tidur di kursi kayu panjang ini. Karena pembahasan ini tadi, Farel seakan tertarik untuk mengobrol sekarang. “Aku sebenarnya heran. Kau ini berasal dari mana? Cara bicaramu juga kaku sekali. Selain itu, aku baru tahu kalau ada bagian dari Indonesia yang menyebut SMA sebagai Akademi. Bukankah Akademi itu levelnya setingkat universitas alias jenjang pendidikan yang ditempuh setelah SMA?” Mika yang terus ditanyai oleh Farel itu pun akhirnya bangkit dari posisi tidurnya tadi. Mereka berdua saling pandang sekarang. Mata dari Pangeran Mahkota Kerajaan Mimika ini tampak mengalihkan pandangan ke kanan dan ke kiri. Ia bingung harus merekayasa seperti apa lagi. “Sejujurnya ... aku tak tahu daerahku itu berasal dari mana, ehehe.” Melihat Mika yang mengatakan itu sambil cengengesan, Farel langsung memandang curiga ke arah pemuda berusia 17 tahun ini. “Kau ini sebenarnya bodoh atau bagaimana? Bagaimana bisa seseorang lupa dengan asalnya?” Astaga, Mika seakan merasa sekakmat dengan ucapannya sendiri. Ia tak tahu harus bilang apa lagi. Karena putus asa dan tak tahu harus menjawab apa, Mika pun menghela nafas dan menatap kosong ke arah Farel. “Maaf, tapi aku benar-benar tak tahu.” Untuk sesaat, suasana di rumah ini berubah menjadi hening. Farel tampak berpikir keras dan sedetik kemudian ia membelalakkan mata tak percaya. “Aku tahu! Mungkinkah kau mengalami amnesia?!” “Apa?” Mika langsung kaget. “Apa itu amnesia?” “Amnesia adalah suatu kondisi di mana seseorang lupa dengan ingatannya. Aku sering melihatnya di film. Ini pasti alasan kenapa kau lupa dengan daerah asalmu dan kau juga tak tahu beberapa istilah gaul. Tapi, kau masih ingat kalau dirimu berhenti sekolah di akademi. Jadi, ini amnesia atau bukan ya?” Farel tampak bingung sendiri. Mika langsung terperangah mendengar penjelasan dari pemuda ini. Ia tak tahu sebelumnya kalau ada istilah seperti amnesia. Sangat lumrah bagi Farel jika ia mengiranya seperti itu karena Mika benar-benar tak tahu apa-apa. “Tapi, Farel. Aku bahkan tak tahu amnesia itu seperti apa. Apa kau yakin dengan dugaanmu?” tanya Mika ragu. “Tidak, aku sangat yakin kali ini! Kau pasti terkena amnesia. Pasalnya dirimu tak tahu apa-apa soal masa lalumu. Kau juga tak tahu beberapa arti kata karena ingatanmu pasti hilang. Seingatku, ada juga kok beberapa orang amnesia yang masih ingat soal masa lalunya meskipun sedikit. Jadi ini pasti alasan kenapa kau masih ingat soal akademi tadi, tapi lupa soal daerah asalmu!” Mika bengong. Ia tak tahu harus berkata apa. Dirinya memang mengerti kalau Farel ini adalah orang aneh, tapi ia tak pernah mengira jika seliar ini pikiran pemuda itu. “Apa ... kau yakin kalau aku amnesia?” “Tidak salah lagi!” jawab Farel dengan nada menggebu. Sedetik kemudian, pemuda itu tampak memandang prihatin ke arah Mika. “Aku tidak pernah mengira kalau hidupmu sesusah ini. Mungkin saja saat dalam perjalanan menuju Jakarta kau mengalami kecelakaan dan kau tak mengingat hal itu. Hal yang kau ingat hanyalah tujuanmu di sini untuk mencari rumah lama kakakmu.” Mika yang tak tahu harus berkata apa lagi hanya bisa bilang, “I-itu tidak seperti yang kau kira. Aku tidak mengalami kecelakaan!” “Tidak, tidak. Kau berkata seperti itu pasti karena tak ingat!” Farel tak menerima bantahan dari argumen yang dikatakannya tadi. Ia merasa begitu hebat karena berhasil memecahkan masalah tersembunyi yang dihadapi Mika. Pemuda yang ditemuinya lima hari lalu ini pasti menderita. Farel turut merasa bahagia karena telah menolong orang kesusahan sepertinya. Saat pertama kali melihat Mika, Farel merasa kalau bocah remaja ini tak cocok disebut miskin dengan wajahnya yang seperti orang kaya dan sifatnya yang kadang arogan itu. Tak ada orang miskin seperti Mika. Akan tetapi, jika pemuda ini amnesia maka sudah jelas alasannya memulung sampah tiap hari karena kehilangan ingatan. “Aku sekarang semakin yakin kalau kau ini aslinya orang kaya!” Perkataan yang tiba-tiba muncul dari mulut Farel itu membuat Mika melongo sendiri. Astaga, orang ini sudah kebanyakan berkhayal sejak tadi. “Oh ayolah! Aku bukan orang—“ Tiba-tiba, suara riuh terdengar dari luar. Beberapa orang tampak berteriak dan berlari. Mika yang mendengar itu langsung menghentikan ucapannya dan memandang Farel dengan muka syok. “Apa ... apa yang sedang terjadi? Apa yang terjadi, Farel?!” Mika bertanya dengan panik. Ini adalah hal yang pertama kali ia alami di sini. Mana mungkin ada pembantaian klan atau semacamnya kan? Ini dunia modern. Lagi pula orang mana yang ingin membunuh penduduk miskin di kolong jembatan ini? Mereka semua bahkan tak punya harta berharga. “Tenangkan dirimu, Mika! Cepat kemasi barang-barangmu dan kita pergi dari sini!” Farel berteriak seraya mengambil barang-barang yang harus ia bawa. Mika pun langsung mengambil tas ranselnya. Ia memandang Farel dengan ekspresi ketakutan. “Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa orang-orang berteriak ketakutan seperti itu?!” “Mereka datang!” jawab Farel dengan lugas. “Mereka siapa?” Beragam spekulasi langsung muncul di pikiran Mika. “Apakah pembunuh bayaran?!” “Bukan!” “Monster?!” “Bukan!” “Lalu siapa? Mungkinkah serangan dari para penyihir?!” “Ini lebih mengerikan dari itu semua!” jawab Farel yang langsung membuat detak jantung Mika seolah berhenti berdetak. Pemuda itu mulai meneteskan keringat dingin di sekujur tubuhnya. “A-apa maksudmu? Siapa mereka?” tanya Mika dengan terbata-bata. Wajah Farel langsung memandang Mika dengan serius. “Mereka adalah Satpol PP!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN