Chapter 12 - Persepsi

2581 Kata
“Apa kau lihat cowok di sana?” “Wow, bukankah dia terlalu keren untuk menjadi pemulung?” “Gila! Maksudku lihat saja bajunya. Bukankah itu terlalu bagus untuk seorang pencari sampah?” “Ayo kita foto dia! Biarkan seluruh dunia tahu soal ini!” Untuk sesaat, Rika Angkasa yang saat ini makan bersama dengan teman-temannya langsung fokus dengan sosok pemuda berkemeja hitam yang terasa familier itu. Di saat teman-temannya yang lain fokus memfoto aki-laki itu, ia justru hanya bengong memperhatikannya. "Asa! Asa! Kenapa kau justru bengong? Bukaankah biasanya dirimu heboh melihat hal-hal seperti ini?” tanya temannya bertubi-tubi. Asa yang mendengar itu hanya bisa tersenyum paksa. Hari ini dia menghabiskan waktu dengan teman-teman sekelasnya untuk makan-makan di salah satu mal ternama di Jakarta Pusat. Akan tetapi, apa yang dilihatnya hari ini entah kenapa begitu menarik. “Coba lihat ini, Asa! Bukankah dia sangat keren dilihat dari belakang?!” ujar teman Asa yang berambut sebahu dengan nada riang. Asa pun tak bisa menahan senyum antusiasnya. “Kau benar. Dia sangat keren.” Untuk sesaat, pemuda yang memulung sampah di sana mengingatkannya dengan orang asing yang ia temui kemarin. Baju yang dikenakan mereka terlihat sama dengan postur tubuh yang mirip juga. Meskipun Asa berpikir jika cowok itu adalah Mika, entah kenapa aneh saja untuk mempercayainya. Tak mungkin Mika jauh-jauh ke Jakarta hanya untuk memulung kan? “Sudahlah. Kita harus mencari peralatan sekolah untuk masuk besok. Biarkan mereka bekerja. Kita tak memiliki hak untuk memfoto anak itu tanpa izin seperti tadi,” ujar Asa kepada tiga orang temannya ini. “Yah, tapi sudah terlanjur kuunggah di media sosial,” ucap salah satu teman Asa dengan muka sedih. Ia tampak menujukan ponselnya ke arah gadis itu. “Lihat, dalam waktu dua menit saja dia sudah mendapat like sebanyak 450 orang.” Tanpa sadar, Asa pun mendengus geli ketika melihat semua ini. “Terserah kalian saja deh. Yang penting setelah ini kita harus segar mencari buku dan pulang.” “Siap, Kapten!” Hari itu Mika Jonathan tak mengetahui fakta jika dirinya kembali terkenal di negara ini untuk yang kedua kalinya. Setelah kasus penganiayaan di hutan kota semalam langsung jadi pusat perhatian, tampaknya cowok yang dicap sebagai pemulung keren itu kini menjadi artis dadakan di setiap media sosial. Dia menjadi semakin terkenal dan terkenal tanpa disadari. *** Pemuda bersurai hitam ini tampak mengelap peluh yang membanjiri dahinya. Ia kini beristirahat di salah satu emperan toko sambil menunggu Pak Agus yang saat ini masih mencari setoran, katanya. Pemuda bernama Mika Jonathan itu hanya bisa melirik ke arah karungnya yang sekarang terisi penuh oleh sampah. Pangeran mahkota dari kerajaan Mimika itu masih tak percaya jika sampah-sampah ini rupanya begitu berharga di masa depan. Kalau di kerajaannya dulu, bungkus-bungkus makanan seperti ini pasti akan dibakar oleh penduduk karena dicap sebagai barang tak berarti dan sifatnya hanya mengotori lingkung saja. Mika yang memikirkan itu semua pun tanpa sadar mengukirkan senyum samar. Ia kemudian melirik ke arah air mineral yang diberikan Pak Agus tadi. Dengan iseng, Mika mencoba untuk mengambil botol yang berjarak satu meter itu menggunakan kekuatan sihir. Akan tetapi, hasilnya nihil. Bukan botol mineral itu yang datang, melainkan debu-debu yang kini tampak menempel di telapak tangannya yang terulur tadi. Wajah Mika pun berubah menjadi kecewa. Dengan enggan, ia berdiri dan mengambil botol itu menggunakan kakinya sendiri. “Aku masih tak mengerti kenapa di dunia ini diriku jadi tak bisa mengendalikan kemauan sihir sama seklai. Kadang bisa, kadang tidak. Semuanya aneh sekali,” keluh Mika seraya meneguk air mineral itu. Masih teringat jelas di ingatan pemuda ini soal dirinya yang berhasil menarik ponsel dari jarak jauh dan merobek kulit manusia menggunakan kekuatan telekinesisnya semalam. Lantas, kenapa sekarang ia tak bisa mengambil botol mineral menggunakan kekuatan itu padahal jarak antara mereka cukup dekat? Ini benar-benar membingungkan. “Mungkinkah kekuatan sihirku hanya bisa bekerja di situasi darurat?” celetuk Mika secara tiba-tiba. Pemuda dengan kemeja hitam itu mulai memikirkan skenario tersebut karena ia tak tahu alasan kenapa kekuatan sihirnya bisa digunakan secara tiba-tiba semalam. Pasti ada suatu penjelasan kenapa sihirnya hanya bisa digunakan dalam kondisi terdesak saja. Tugas Mika sekarang adalah mencari jawaban itu. Pemuda itu pun menghela nafas panjang. “Yah, hal ini bisa kupikirkan sambil jalan saja nanti. Lagi pula aku belum bisa berhasil menemukan rumah lama Putri.” Ia pun memutuskan untuk mondar-mandir di sekitar tempat ini. Di depan emperan toko tutup yang ia singgahi sekarang, ada jalan raya yang dilewati oleh banyak pengendara. Tak jauh dari kawasan padat ini, Mika bisa melihat ada pusat belanja yang tinggi menjulang dengan jarak sekitar 50 meter dari sini. Pasti tempat itu yang sering disebut mal oleh Putri. Karena Pak Agus tak kunjung datang, Mika pun mulai bosan menunggu di tempat ini. Ia mendudukkan diri lagi di emperan toko tadi dan mengambil ponsel dari ranselnya. Kali ini pemuda itu tak ingin kejadian yang kemarin terulang lagi. Mika dengan kuat memegang ponselnya agar tak bisa diambil oleh siapa pun. “Gila, ini sudah jam 11 siang. Kapan aku akan tiba di rumah lama Putri?” keluh pemuda itu dengan nada tak berdaya. Tujuannya datang ke Jakarta benar-benar hancur total gara-gara insiden kemarin. Kalau saja ia tak berurusan dengan orang b******k yang membawa lari ponselnya, Mika pasti tak akan lontang-lantung seperti ini karena tak punya uang. “Apa pun yang terjadi nanti, kalau sampai aku tahu siapa orang yang telah mencuri uangku, aku berjanji akan membunuhnya!” Mika mengucapkan hal tadi dengan keras hingga ia tiba-tib sadar kalau beberapa pejalan kaki langsung menatapnya aneh. Sial, Mika langsung memaki kebodohannya. Ia tampak berpura-pura cuek seraya mengotak-atik ponsel seperti orang sibuk. Saat itu, pemuda bersurai hitam ini menyadari jika ada notifikasi berupa panggilan tak terjawab. Mata Mika pun langsung melebar kaget. “M-mungkinkah ... ini adalah panggilan telepati yang dimaksudkan oleh buku panduan kemarin?” gumam pangeran itu penuh kekaguman. Saat Mika mengeklik tulisan panggilan tak terjawab itu, tiba-tiba muncul nama Riko di sana. Sedetik kemudian Mika langsung sadar kalau ia masih ada suatu hal penting yang harus dibahas dengan bocah itu terkait pandangan masa depannya. Tanpa ragu-ragu, Mika mengingat baik-baik cara menelepon seseorang dari buku panduan yang ia baca di kereta bersama dengan Asa kemarin. Mika pun dengan gesit memencet layar ponsel itu dan kini menelepon Riko. “Halo ...? Kak Mika?” Saat mendengar suara Riko yang tiba-tiba muncul dari ponselnya, senyum Mika langsung semringah. Ia meletakkan ponselnya di dekat telinga dan berteriak kegirangan. “RIKOO! AKU BISA MENDENGARMU!” Untuk kedua kalinya, pemuda dengan kemeja hitam itu menarik perhatian dari beberapa pejalan kaki yang melintasi emperan toko itu. Ia pun hanya bisa tersenyum masam saat menyadari apa yang dilakukannya tadi pasti begitu memalukan. “Riko, aku bisa mendengarmu. Astaga, aku bahagia sekali,” ujar Mika dengan nada yang lebih pelan. “Iya, aku juga senang! Kenapa kau tak mengangkat teleponku dari semalam, hah?” Mengingat apa yang terjadi padanya semalam, Mika pun langsung mengukirkan senyum canggung. “Ada banyak hal yang terjadi, jadi aku minta maaf.” “Ibu dan Ayah juga khawatir karena kau tak bisa dihubungi lho!” “Benarkah? Apa kau bersama dengan mereka sekarang?” “Tidak, saat ini aku sedang di kamar sendiri. Maklum baru pukang sekolah. Di jam segini kan Ayah masih ada di kantor dan ibu di puskesmas desa.” Mendengar itu, senyum Mika langsung tersungging. Ia menyeringai karena ini adalah momen yang tepat untuk membicarakan seputar mimpi buruk Riko yang bisa melihat masa depan itu. “Kalau begitu, bisakah kita saat ini membicarakan soal mimpi burukmu yang mengatakan kalau akan terjadi perang di negara ini? Maaf karena baru menghubungi sekarang untuk membahas soal ini padahal aku berjanji ingin membahasnya selama perjalanan di kereta. Ada banyak hal yang terjadi soalnya.” Mika mengucapkan hal seperti itu karena ia tiba-tiba teringat dengan pertemuan tak terduganya dengan gadis aneh berama Rika Angkasa kemarin. Tak mungkin ia membahas soal masalah ini di depan manusia normal sepertinya. Pasti ia akan dicap sebagai orang gila. Untuk sesaat, Mika merasa seolah ia mendengarkan ada kegundahan dalam hati bocah yang saat ini berbicara dengannya. “Jujur aku bingung untuk jadi membicarakan soal masalah ini padamu atau tidak. Sebelumnya aku belum pernah berbagi apa pun soal pandangan masa depanku setelah mendapat respons tak baik dari Ayah.” “Apa yang kau katakan ini? Bukankah aku sudah bilang jika aku percaya denganmu? Ceritakan saja padaku dan tak perlu ragu. Aku kan sudah berjanji ingin mengirimkanmu uang saat tiba di kota. Apakah kau lupa?” Mika sejujurnya sedikit ragu dengan kalimatnya yang terakhir itu. Dirinya saja sekarang kehilangan uang yang diberikan Putri. Jadi, mana mungkin ia bisa mengirimi anak itu uang? Yah, sepertinya itu bisa dipikir nanti. Lagi pula dirinya juga ada rencana untuk menetap di Jakarta setelah menyerahkan benda artefak itu pada Putri. Pasti ia akan punya pekerjaan tetap di sini sebentar lagi. “Kau benar, tapi setelah kupikir-pikir, ini bukanlah suatu kesepakatan yang baik. Tak peduli seberapa besar permintaan bantuanmu itu, saudara harusnya ada untuk saling menolong kan? Tapi kau justru ingin memberikanku imbalan uang. Kupikir ini tidak boleh. Aku akan menolongmu meskipun kau tak memberiku uang.” Raut wajah Mika berubah dalam sekejap. Ia menunjukkan ekspresi datar sambil menatap lurus ke arah kendaraan yang berlalu-lalang di hadapannya. Ucapan Riko tadi seperti bukan ucapan bocah berusia 6 tahun saja. Anak itu entah kenapa tiba-tiba mengingatkannya pada sosok kakak yang sudah lama meninggalkan pemuda ini. “Saudara juga ada untuk saling berbagi kan?” Mika tiba-tiba mengucapkan hal itu setelah lama terdiam. “Aku akan menerima keputusanmu untuk tak menceritakan tentang ini padaku. Tapi kalau kau bersikap begitu, dengan kata lain kita ini sudah bukan saudara lagi kan?” “A-apa?” Tentu saja Riko cukup kaget dengan Mika yang memutarbalikkan fakta ini. Ia tampak menimbang keputusan di seberang telepon. “Kenapa kau berkata seperti itu, Kak? Bukan itu maksudku. Apa kau tak tahu betapa senangnya hatiku saat tahu Ibu punya adik yang bisa kujadikan sebagai sosok kakak? Aku jadi punya teman bermain selama kau ada di desa. Maafkan sikapku tadi, aku akan menceritakan segala hal padamu.” Saat itu, Mika tak bisa menyembunyikan senyum miringnya. Ia terlihat begitu licik karena harus bersikap seperti tadi untuk membujuk Riko bicara. Tapi yang terpenting sekarang, anak itu perlahan mulai terbuka dan menjelaskan segala hal padanya. Riko mulai menjelaskan segala kejadian di mimpinya mulai dari A sampai Z. Mika mendengarkan semua itu dengan wajah serius. Tanpa sadar, pembicaraan penting ini telah berlalu selama satu jam lamanya dan Pak Agus masih belum menunjukkan tanda-tanda kembali. Menyadari itu semua, Mika pun berinisiatif untuk membahas bantuan yang ia perlukan dari Riko sekarang. “Kalau begitu, bisakah aku mengatakan bantuan apa yang kuperlukan darimu?” “Oh ya! Tentu saja! Kau harus mengatakanya dan aku akan membantumu!” jawab bocah berusia 6 tahun itu dengan antusias. Mika pun tersenyum. “Apakah ada kemungkinan dirimu bisa melihat masa depan dari orang lain dan bukan masa depanmu saja?” Tidak ada sahutan dari telepon itu dalam waktu yang cukup lama. Sepertinya, Riko saat ini berpikir keras. “Kau tahu, itu terdengar susah tapi melihat masa depan orang lain bukanlah suatu hal yang mustahil. Beberapa hari yang lalu, aku melihat masa depan dari sapi ternakku yang selalu kupikirkan siang dan malam karena sakit. Kalau sapi saja bisa kuramal, kenapa orang tak bisa?” Astaga, Mika tak bisa menyembunyikan gelak tawanya saat mendengar ucapan bocah ini yang dipenuhi dengan nada kesombongan. Ia begitu percaya diri mengatakan hal seperti tadi di usianya yang berusia 6 tahun. Sepertinya anak itu ingin Mika menaruh harapan besar untuknya. “Jadi, kau berkata kalau dirimu bisa?” tanya Mika sekali lagi. “Akan kuusahakan. Tak peduli cepat atau lambat, aku pasti akan bisa menguasainya jika ini adalah sesuatu yang kau perlukan dariku, Kak!” Mika mendengus geli. “Aku benar suka dengan semangatmu. Maaf kalau aku merepotkan. Untuk sekarang, aku hanya ingin kau mengembangkan kemampuanmu. Entah itu cepat atau lambat, aku juga yakin dirimu pasti bisa. Setelah itu, ....” Ucapan Mika yang menggantung itu pun membuat Riko penasaran. “Setelah itu, ...?” Mika tersenyum seraya menengadahkan kepala untuk menatap langit biru di atas sana. Cahaya matahari yang terik membuat pemuda itu menyipitkan mata. Ia semakin memperlebar senyumnya. “Setelah itu, tolong lihatlah masa depanku. Apakah sebelum perang itu, aku sudah menghilang dari dunia ini?” Desir angin langsung berembus menerbangkan beberapa helai rambut Mika. Tak ada suara lagi dari telepon itu atau pun yang keluar dari mulut pemuda ini. Mereka berdua hening dalam waktu yang cukup lama. Bukannya Riko yang merespons, sosok Pak Agus yang kini sudah berdiri di samping Mika langsung membuat pemuda itu terperanjat kaget. Ia sontak mematikan panggilan ponsel tadi meskipun tampaknya Riko ingin mengutarakan suatu hal. Yah, itu tak penting sekarang. Mika bisa menghubunginya lagi nanti. Untuk sekarang, ekspresi kaget dari Pak Agus yang memandang ke arahnya lebih gawat dari apa pun. Mika hanya bisa cengengesan saat itu. “Eh? Pak Agus? Kapan kau sudah ada di sini? Kenapa kau membaut ekspresi wajah yang membuatku takut seperti itu?” “Aku tidak salah dengar kan tadi?” tanya Pak Agus dengan ekspresinya yang masih kaget. Mika pun sontak bingung. Ia menatap Pak Agus dengan pandangan melongo. “Apa yang kau maksudkan?” Melihat bagaimana ekspresi bodoh pemuda ini sekarang membaut Pak Agus mengurungkan niat untuk bertanya banyak hal. Anak bersurai hitam ini pasti punya masalah pelik. Tapi, Pak Agus tak ingin Mika menghilang dari dunia. Mungkinkah pemuda ini ada niatan tersembunyi untuk bunuh diri? “Nak, hidup ini keras. Tapi, orang yang menyerah pada kehidupan bukanlah orang yang bijak.” Mika semakin melongo. Ia tak mengerti dengan ucapan pria tua ini. “A-apa maksudmu?” Pemulung tua itu pun menghela nafas. Sambil merangkul dua karung yang berisikan sampah, Pak Agus melirik ke arah Mika. “Lupakan saja. Ayo kita pergi ke pengepul. Kau ingin mendapatkan uang kan?” Mendengar itu, Mika langsung tersenyum lebar. Ia memasukkan ponsel ke dalam ransel dan langsung mencangklongnya. Tak lupa, Mika juga menjunjung satu karung penuh sampah miliknya. “Ya, aku ingin uang itu! Ayo kita jual benda-benda ini sekarang!” Mereka pun akhirnya pergi dari emperan itu dan berjalan bersama menuju pengepul sampah. Saat dalam perjalanan itu, Mika hanya bisa berharap jika Pak Agus tak menganggapnya sebagai orang aneh ketika mendengar perbincangan di telepon tadi. Dan saat Mika menerima uang hasil jerih payahnya mengumpulkan sekarung sampah tadi, ia hanya mampu diam seribu bahasa. “Astaga, aku tak mengira kalau benda ini begitu murah.” “Syukuri saja. Kau tadi bilang ingin mencari uang kan? Ini adalah pekerjaan yang paling mudah dan bisa mendapatkan uang dalam waktu singkat,” ujar Pak Agus yang kini berjalan di samping Mika. “Tapi, ini bahkan tak cukup untuk beli makanan tiga kali sehari!” “Tunggu, apakah kau belum makan?” tanya Pak Agus kebingungan saat melihat perkataan Mika yang begitu menderita. “Aku belum makan sejak kemarin pagi.” Saat itu, pria tua ini berpikir jika Mika adalah orang yang benar-benar butuh pertolongan. Dia pasti sengaja mengosongkan perutnya sejak kemarin untuk melancarkan suatu aksi bunuh diri. Agus tak bisa membiarkan hal ini begitu saja. Ia harus memberikan Mika makanan yang layak. Dengan alasan itu, Mika pun langsung ditarik oleh pria tua itu untuk mendatangi warung bakso langganannya. “Eh? K-kita akan ke mana?” “Tempat makan. Aku akan membelikanmu seporsi makanan.” ‘ASTAGAA!! KENAPA ADA ORANG SEBAIK DIA?’ batin Mika langsung menjerit histeris saat itu juga, meskipun ia harus menerima risiko kalau Pak Agus telah salah mengartikan dirinya sebagai seseorang yang ingin melakukan bunuh diri di kota metropolitan ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN