“Sepertinya aku pernah melihatmu.”
Ditanyai seperti itu, Mika yang sekarang bekerja menjadi kasir di salah satu toko kelontong ini langsung memandang pelanggan yang ada di depannya. Gadis yang ada di hadapan Mika memakai kacamata hitam dan masker sehingga ia tak bisa melihat dengan jelas siapa orang itu.
Mika pun mendengus. “Kau sepertinya salah orang, aku baru kerja di sini seminggu yang lalu.”
Orang itu terdiam. Ia menunggu Mika menghitung belanjaannya. Sambil terus menatap pemuda itu, gadis ini menyerahkan uang yang diminta lalu pergi meninggalkan toko. Meskipun begitu, tatapan matanya seperti tak lepas dari Mika yang ada di meja kasir itu.
Pemuda yang aslinya berasal dari dunia lain ini pun memandang orang tadi dengan aneh. Ia merasa tak nyaman saat ditatap intens seperti tadi. Dunia ini sungguh membingungkan.
Mika pun melirik ke arah jam yang ada di dinding toko ini. Di sana sudah menunjukkan pukul satu siang. Ini tandanya ia harus segera pergi ke warung Udin dan mempersiapkan dagangan bakso.
Ngomong-ngomong soal bakso, sejujurnya ia terlibat dalam masalah besar kemarin malam atau lebih tepatnya dini hari tadi. Namun setelah ia menceritakan hal itu pada Udin, pria tersebut justru memujinya. Ini aneh sekali. Padahal Mika berpikir ia akan dipenjara atau semacamnya.
Bagaimana pun juga, semalam Mika berhasil menemukan dalang dibalik kasus narkoba yang telah dijelaskan Udin hari itu. Karena rintihan dari orang gempal yang dikuliti oleh Mika semalam, beberapa polisi yang berpatroli di sekitar sana langsung menuju TKP.
Otomatis pria tua pendek yang diduga Mika sebagai pelaku utama dari kasus ini langsung kelabakan. Dia meminta Mika untuk menemuinya di jam 12 malam nanti. Mika juga disuruh untuk membawa uang sekalian nanti agar proses transaksi bisa cepat terselesaikan.
Semuanya berjalan begitu cepat semalam. Karena polisi sudah datang dan Mika belum bisa kabur dari sana, pemuda itu berpura-pura pingsan di samping tubuh pria gempal tadi. Ia tak mau disangka sebagai dalang penganiayaan atau percobaan pembunuhan. Lebih baik cari aman dengan bersandiwara sebagai korban juga.
“Yah, aku beruntung karena semalam Pak Udin berhasil datang sebelum para polisi itu membawaku ke rumah sakit. Kalau tidak, bisa gawat nanti. Bagaimana pun juga, aku kan hanya pura-pura,” gumam pemuda itu seorang diri.
Dia menghela nafas panjang sambil membersihkan meja kasir yang ditempatinya. Karena Udin mengajarinya banyak hal soal uang, Mika pun sedikit demi sedikit mulai mengerti sistem hitungan di dunia ini. Oleh karena itu, pemuda tersebut bisa menjadi kasir.
Akan tetapi, Mika yang pada dasarnya memang gagap teknologi dan belum menguasai hal-hal seperti itu menjadi tak bisa mengoperasikan mesin kasir. Ia beberapa kali melakukan kesalahan sejak bekerja di tempat ini seminggu yang lalu. Pemuda ini beberapa kali dimarahi oleh bosnya, tapi ia harus bersabar.
“Apa kau akan pergi sekarang?”
Pemuda yang sekarang sedang mengecek uang di kasir itu tersentak. Ia menemukan bosnya yang super cerewet sedang mengawasinya. Wanita paruh baya dengan kacamata kotak itu menatap Mika dengan tatapan tajamnya. Rambutnya yang disanggul memberikan kesan eksentrik.
“A-ah, iya. Aku memang akan pergi sekarang. Apa ada hal yang ingin Anda sampaikan padaku?” tanya Mika sesopan mungkin yang ia bisa.
Wanita itu tampak diam dalam beberapa saat. Ia melihat ke sekitar dan memastikan kalau tidak ada pelanggan yang berkunjung saat ini.
“Ikut aku sebentar.”
Mika menatap bosnya dengan pandangan heran. Entah kenapa, ia punya firasat buruk saat ini. Meskipun begitu, pemuda ini mengikuti bosnya menuju ruang kerja pribadi wanita itu.
“Aku tidak akan basa-basi,” ujar bos Mika yang kini telah duduk di kursi kerjanya. “Kau kupecat.”
Wajah Mika langsung berubah menjadi datar. Ia mengukirkan senyum tak percaya. “A-apa?”
“Sederhananya, kau adalah orang yang tak berguna. Kukira dalam waktu seminggu ini kau bisa belajar banyak hal, tapi harapanku itu terlalu tinggi. Memang kau bisa membaca dan menghitung, tapi itu saja tak cukup. Kau sangat bodoh dan payah. Mengoperasikan mesin saja tak bisa.”
Perkataan pedas dari wanita yang ada di hadapannya membuat kepala Mika terasa begitu mendidih sekarang. Ia tak tahu harus bereaksi seperti apa. Bagaimana pun juga, dirinya baru bekerja selama seminggu di tempat ini. Kenapa bosnya tak memberi kesempatan pada Mika untuk bekerja lebih lama lagi sebelum membuat keputusan seperti ini?
Padahal selama ini Mika senantiasa bersabar menghadapi perilaku judes dari wanita sialan ini. Kalau di Kerajaan Mimika, pemuda tersebut sangat yakin jika bosnya ini mirip dengan para tetua yang menyebalkan. Sialan, sialan, sialan. Mika sangat ingin mengumpat.
“Aku tidak menyangka kalau kau akan begitu syok hingga tak bisa berkata apa-apa setelah mendengar kabar ini. Tapi yang jelas, aku sudah tidak membutuhkanmu. Kau tidak usah datang lagi besok.”
“Tapi kenapa kau tidak memberiku kesempatan?” Mika akhirnya membuka suara. Ia tak menerima keputusan wanita iblis ini.
“Kesempatan katamu? Apakah seminggu tak cukup? Kalau seminggu tak cukup bagimu untuk belajar hal baru, bagiku seminggu cukup untuk mencari karyawan baru. Kau hanyalah karyawan cadangan yang tak berguna,” tukas wanita itu.
Mendengar ini semua, Mika mengepalkan tangan kuat. Ia tak boleh sampai tersulut emosi dan menganiaya bosnya. Pemuda itu menarik nafas dalam-dalam. Ia berusaha menenangkan diri.
Mika menatap bosnya dengan serius. “Kalau begitu oke. Aku akan terima keputusan Anda. Maafkan saya apabila selama ini berbuat kesalahan saat bekerja—“
“Oh, kau terlalu banyak melakukan kesalahan. Tak usah minta maaf.”
Dipotong seperti itu oleh majikannya, Mika hanya bisa menghela nafas. “Baik, saya mengerti. Akan tetapi, saya ingin meminta upah sebelum pergi dari sini.”
Perkataan serius Mika tadi dibalas oleh keheningan. Ruangan kerja ini menjadi begitu sunyi. Mika dan bosnya saling berpandangan dengan mata tajam. Sedetik kemudian sebuah gelas langsung terlempar ke arah Mika dan pecah mengenai kakinya.
“Dasar orang bodoh tak tahu diri. Sudah bodoh tapi sombongnya minta ampun ya? Ingat ini baik-baik, aku tak akan memberikan sepeserpun uang untukmu. Kau pikir aku sudah rugi berapa sejak memperkerjakanmu? Harga yang harusnya kau input 100.000 malah kau ketik 10.000. Aku tak akan menerima maafmu atau pun memberimu gaji.”
Harga diri Mika tercoreng. Ia tahu kalau posisinya sekarang hanyalah orang miskin tak berdaya. Akan tetapi, ini keterlaluan. Padahal kejadian salah input yang disebabkan mesin ketik rusak itu telah dijelaskan oleh Mika beberapa hari lalu. Sepertinya wanita ini pikun sehingga ia memutar balikkan fakta seperti tadi.
Mika benar-benar sudah tak bisa bersikap sopan di depan orang ini. Seringai langsung tersungging di wajah Mika. “Dasar wanita pelit. Kalau dipikir-pikir, sekarang aku tahu alasan kenapa pegawaimu dulu mengundurkan diri. Mereka pasti tak betah bekerja dengan iblis sepertimu.”
Berbicara soal omongan pedas, dalam kasus ini Mika juga tak bisa dikatakan kalah. Sejak kecil ia terkenal dengan lidahnya yang sangat kasar dalam berucap. Kalau dua orang ini saling menghina, mereka pasti imbang. Dilihat dari sisi mana pun, bosnya Mika langsung tersulut emosi.
“Bocah sialan! Berani sekali kau mengataiku seperti itu!”
“Kenapa kau marah, Nenek Lampir? Kenyataannya kau memang wanita kikir yang bahkan tak mau membeli alat ketik dengan uangmu atau memberikanku gaji. Kalau kau memecatku seperti ini, maka aku akan degan senang hati menerima. Selamat tinggal!”
Mika berlalu begitu saja meninggalkan ruangan tadi, sementara bosnya terdengar marah-marah di sana. Sialan, ia sangat kesal sekarang. Rasanya ingin meninju orang saja.
***
“Kenapa kau murung?”
“Jangan bicara denganku. Hatiku sedang hancur.”
Udin terkekeh pelan. Ia yang sibuk memasak kuah bakso ini hanya bisa geleng-geleng kepala. “Biar kutebak, apakah mungkin kau dipecat?”
“Sialan! Jangan berkata seperti itu! Itu adalah ... kenyataan,” sahut Mika dengan wajah frustrasi. Pemuda yang kini mengelap beberapa meja di warung tersebut hanya bisa bermuram durja.
Ia tahu kalau tadi dirinya menerima keputusan untuk dipecat dari toko itu. Akan tetapi, kalau memikirkan semua ini sampai sekarang entah kenapa rasanya sakit sekali. Padahal ia dipecat bukan karena dirinya yang salah. Wanita iblis itu saja yang tukang cari-cari kesalahan.
“Dipecat adalah suatu hal normal. Jadi, jangan terlalu sedih. Lagian bukannya kau juga bekerja sambilan sebagai tukang cuci baju?” tanya Udin tanpa melihat pemuda yang sedang lesu itu.
Mika pun menghela nafas panjang. “Kau memang benar. Jadi tukang cuci baju gajinya juga lumayan karena aku banyak mendapat bonus. Mereka bilang aku mencuci dengan sangat cepat.”
Mika tak bisa memberitahu Udin kalau dirinya menggunakan sedikit kekuatan sihir saat bekerja jadi tukang cuci baju. Pegawai lain di sana juga tak tahu. Bagi mereka yang terpenting adalah tempat cucian itu punya pegawai baru yang sangat ahli mencuci.
“Kalau begitu cerialah. Jangan menakuti pelangganku dengan wajah murungmu itu,” ucap Udin sambil sedikit tertawa. Pria itu melirik ke arah Mika. “Bukankah ini adalah yang kedua kalinya kau dipecat dari suatu pekerjaan? Kenapa sesedih ini?”
Apa yang dikatakan oleh Udin tadi ada benarnya. Sebelum ia menjadi kasir paruh waktu di toko itu, Mika sempat menjadi tukang sapu di lokasi wisata pusat kuliner ini. Ia bergabung dalam tim Dinas Lingkungan Hidup. Namun sayangnya, pekerjaan itu hanya bisa bertahan dua hari saja dan Mika dipecat.
Bagaimana pun juga, watak anak ini masih temperamental seperti dulu. Ia yang cekcok dengan ketua tim akhirnya terbawa emosi dan memukul orang tersebut secara spontan. Alhasil, Mika pun dipecat dari pekerjaan tadi secara tak hormat. Untung saat itu gajinya per hari, jadi ia sempat diberikan gaji untuk hari sebelumnya.
“Hah~ kenapa hidup di zaman ini sangat susah? Padahal seingatku dulu aku bisa bebas. Makanan selalu enak, baju disiapkan. Melakukan apa pun yang kusuka juga bebas. Ini menyebalkan.” Mika tanpa sadar berkeluh kesah.
Udin yang mendengarkan itu hanya bisa diam memperhatikan. Ia tahu kalau Mika sepertinya memang mantan orang kaya, mengingat rumahnya ada di kawasan elite Jalan Melati yang telah dirobohkan itu. Pasti tadi anak itu teringat dengan beberapa kilasan hidupnya.
“Kau tak perlu khawatir, Bocah. Dirimu bisa bekerja di sini. Aku juga memberikanmu upah kan?” hibur Udin secara tiba-tiba.
Perhatian Mika pun teralihkan. Ia menatap bosnya itu. “Sejujurnya aku penasaran. Kau bilang dirimu ada di sini untuk melakukan misi dari organisasi rahasiamu kan? Kalau misi ini selesai, bukankah warung bakso ini juga tutup?”
Udin tertegun. Anak ini memang punya pengamatan yang cukup baik. Kalau dia tak tahu apa-apa karena amnesia, Mika pasti dulunya seorang bocah jenius. Senyum Udin pun merekah.
“Kau tenang saja. Aku berjanji akan terus membuka warung bakso ini agar kau bisa dapat uang dari sini. Selain itu, kalau aku mendapat misi baru nantinya, aku pasti akan meminta bantuanmu. Kau kan juga kuberikan upah karena menjadi tangan kananku.”
Mata Mika berbinar. Ia menatap bosnya dengan pandangan tak percaya. “A-apa aku tak salah dengar?”
“Tidak. Lagi pula, kau tidak usah bekerja sekeras itu untuk mendapat uang kan? Kau ini masih kecil. Jangan terlalu sengsara. Dirimu juga anaknya sering kepanasan dan marah-marah, pasti kau akan susah mendapat kerja dengan sifat busukmu itu. Untungnya aku bisa menerimamu apa adanya ahahaha.”
Mika yang mendengar itu hanya tertawa cengengesan. Udin benar. Sifatnya memang terlalu busuk dan dia tak bisa mengubah itu secara spontan. Banyak orang yang membencinya hanya karena sifat Mika yang terkadang temperamental itu. Di sisi lain, Mika tak bisa mengatakan pada Udin kalau dirinya butuh banyak uang untuk diberikan pada Riko di desa.
Terlalu ruwet menjelaskan pada orang dewasa kalau akan ada perang di negara ini dalam kurun waktu satu tahun lagi. Untuk sekarang, Mika akan tutup mulut dulu. Ia harus memastikan dirinya bisa kembali ke dunia asalnya sebelum perang itu terjadi.
“Ngomong-ngomong, aku nanti tidak ada di warung. Setelah ini aku harus menemui organisasi rahasiaku,” ujar Udin secara tiba-tiba.
Mika pun tersentak. “J-jadi yang menjadi penanggung jawab warung hari ini adalah aku?”
“Ya, aku yakin kau bisa. Kau hanya tinggal melayani pembeli seperti biasa. Karena hari ini hari Rabu, aku yakin kita tidak terlalu ramai. Jadi sepertinya kau bisa.”
Mika sebenarnya ragu ia bisa atau tidak, tapi pemuda ini mengangguk. Dirinya kembali menatap Udin. “Apakah mungkin ini ada sangkut pautnya soal pertemuan kita dengan bandar narkoba itu?”
“Kau benar,” jawab Udin dengan nada serius. “Meskipun begitu, dirimu tak perlu khawatir. Kau bisa tidur nyenyak nanti. Serahkan semuanya pada organisasiku. Aku akan menyamar sebagai dirimu nanti.”
Mendengar ucapan penuh keyakinan dari Udin, Mika pun tak bisa menyembunyikan senyum kekagumannya. Mau berapa kali ia memuji orang ini, Udin memanglah orang yang sangat keren. Jujur ia ingin melihat bagaimana bosnya ini bertarung, tapi sepertinya kesempatan untuk tidur nyenyak malam nanti bukanlah hal buruk.
Di lain sisi, Udin juga sama-sama memuji bakat anak berusia 17 tahun itu. Bagaimana pun juga, Mika sangat banyak membantu dalam misi solonya kali ini. Anak itu bahkan hanya membutuhkan waktu seminggu untuk bisa menemukan para bandar narkoba yang ternyata pegawai pemerintahan tersebut. Dia sangat ahli dalam merumuskan taktik dan bersandiwara.
Kalau ada kesempatan nantinya, Udin ingin bocah yang sedang sibuk mengelap meja itu masuk ke Sekolah Tinggi Intelijen Negara kelak. Bakatnya sangat berguna untuk bangsa ini. Apa pun yang terjadi nanti, memiliki Mika sebagai asistennya tak buruk juga.