Chapter 20 -Gila

1990 Kata
Ada banyak hal yang telah Mika lalui setelah dirinya membuat kesepakatan dengan Udin hari itu. Hari-harinya selalu ia habiskan untuk bekerja dan bekerja. Banyak pekerjaan sampingan Mika lakukan agar ia bisa bertahan hidup. Meskipun awalnya Udin memberikan kesempatan pada Mika untuk tinggal di warung baksonya, pemuda itu akhirnya bisa tinggal di sebuah rumah yang bisa dikatakan cukup layak daripada rumah reot milik Farel yang digusur oleh para Satpol PP kemarin. Selama seminggu Mika mengumpulkan uang, ia pun bisa bernafas lega karena punya tempat tinggal sekarang. Orang-orang di negeri ini menyebut tempat tinggal yang disewa oleh Mika sebagai kontrakan. Lokasinya tak terlalu jauh dari Jalan Melati dan pusat kuliner yang menjadi tempat berdirinya warung Udin, sehingga ia bisa mengakses kedua tempat itu dengan mudah dari sini. Mika benar-benar beruntung. Sejujurnya, uang hasil bekerjanya selama seminggu masih belum cukup untuk membayar sewa kontrakan tadi. Atas saran Udin, ia pun memutuskan untuk menjual beberapa emas dan perhiasan yang masih menempel rapi di baju bangsawannya karena benda tersebut ikut terbawa ke sini bersama Mika hari itu. Pemuda berusia 17 tahun ini sama sekali tidak mengira kalau perhiasan di bajunya akan dibeli dengan harga yang begitu mahal karena si pembeli berkata jika emas yang dijual oleh Mika adalah jenis paling murni yang pernah ia lihat. Ini menguntungkannya. Kalau tahu begini, sejak awal Mika pasti akan menjual benda-benda itu untuk bertahan hidup. Di sisi lain, ia tak bisa berhenti untuk memanjatkan rasa syukur karena terus bertemu dengan banyak orang baik di dunia ini. Udin membantunya cuma-cuma untuk mengenalkan berbagai hal pada pemuda itu, termasuk cara kerja bank dan rekening tabungan. Atas semua bantuan itu, Mika benar-benar mengalami peningkatan pesat dalam hidupnya seminggu ini. Sekarang dirinya bahkan punya rekening atas namanya sendiri yang berisikan uang sisa dari hasil jual emas kemarin. Selain itu, Mika mulai mengerti lebih banyak soal hal modern di dunia ini berkat ajaran Udin. Meskipun begitu, anehnya setiap Mika menanyakan alasan kenapa pria itu baik padanya, Udin hanya mengalihkan pandangan. Ia selalu bilang kalau Mika itu mirip dengannya. Pria aneh dengan rambut dibelah tengah itu hanya ingin agar Mika tak memiliki pengalaman buruk seperti dirinya dulu yang dikucilkan oleh keluarga. Sejak hari itu, Mika mulai paham jika ada sebuah kesalahpahaman lagi di sini. Selama hampir sebulan ia menginjakkan kaki di Indonesia, dirinya selalu bertanya-tanya. Kenapa ada banyak sekali orang yang salah paham tentang dirinya? Pemuda ini pun menghela nafas panjang. Ia kini berada di sebuah lokasi perumahan terbengkalai di gang kecil, tepatnya berada di belakang lahan terbuka hijau di Jalan Melati. Mika duduk santai di tanah dan bersender di tembok. Tepat di belakang pemuda itu, tampak beberapa orang sedang berkomunikasi. “Setelah seminggu ini aku terus mencari, setidaknya aku bisa menemukan suatu petunjuk hari ini,” gumam pemuda itu dengan santai. Sejak tadi ia telah melemparkan mikrofon berukuran sangat kecil, sekitar 0,5 cm, ke tanah yang berada dekat dengan lokasi orang-orang tadi. Benda canggih itu berasal dari Udin. Dengan mikrofon itu, dirinya bisa bersantai duduk di sini seperti orang mabuk dan mendengarkan semua perkataan mereka melalui earphone nirkabel di telinganya. Orang-orang yang berada di belakangnya memakai baju biasa. Kalau ada orang awam yang melihat mereka, pasti mereka tak akan dicurigai. Tapi, Mika tahu betul kalau orang-orang itu tak ingin mencolok dan menyita perhatian aparat keamanan. Para b******n itu menyamar sehingga Mika pun awalnya kesusahan menemukan mereka. Untung kemampuannya sudah terlatih di Akademi Sihir dulu, jadi Mika pun menyadari penyamaran mereka lebih dulu daripada Udin yang hari ini juga mencari informasi di wilayah lain. Setelah kegiatan menguping ini selesai, ia bisa melaporkannya pada pria itu. “Bagaimana pun juga, kau sudah memeriksa barang-barang itu kan?” “Tenang saja, aku sudah mengeceknya setiap hari. Ruang bawah tanah akan senantiasa aman. Para cecunguk polisi itu tak akan menemukan apa pun jika mereka menggeledah tempat ini.” Mika mengerutkan dahinya mendengar percakapan orang-orang itu. Kenapa mereka bilang kalau polisi tak akan bisa menemukan apa pun di tempat ini? Apakah maksudnya rumah kosong yang dijadikan mereka sebagai tempat mengobrol itu bukanlah markas mereka? “Kita sangat beruntung menemukan ruang bawah tanah itu saat kau dan timmu meluluh lantahkan perumahan elite ini dulu. Isinya bisa kita gunakan untuk menyimpan barang-barang tadi.” “Inilah gunanya kerja di pemerintahan. Aku tahu kalau gaji PNS saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Aku kan Kepala Dinas, masa iya kalah kaya dari pegawai biasa di kantorku? Kalau tidak menjalankan bisnis ini, bagaimana mungkin aku bisa terlihat menjadi pemimpin di mata mereka?” “Kau adalah Kepala Dinas paling pintar, Tuan Budi.” “Ahahaha, kau terlalu memujaku. Nyatanya, mainmu kurang jauh. Perlu kau ketahui ya, 8 dari 10 Kepala Dinas di daerah ini pasti punya bisnis sampingan seperti ini, kalau tidak mereka pasti terlilit korupsi.” “Wah, berarti sisanya orang jujur semua dong?” “Ya mana saya tahu, kok tanya saya?” Orang-orang itu terdengar saling tertawa. Mika mendengarkan ini semua dengan ekspresi datar. Kenyataan kalau di dunia ini ada orang pemerintahan yang bersikap busuk seperti tadi membuat pemuda itu menyimpulkan jika Kerajaan Mimika dan di sini sama saja. Manusia selalu dimakan oleh ketamakan dan ego mereka. Bahkan Mika sendiri paling benci jika ada orang yang dengan bangganya melakukan tindakan buruk seperti ini. Orang-orang gila itu harus dihukum seberat-beratnya. “Sejujurnya aku tidak tahu. Kenapa orang-orang sok seperti para polisi itu tak bisa menyadari hal ini ya? Padahal 10 tahun sudah berlalu.” Mendengar ucapan itu, Mika langsung melebarkan mata tak percaya. Orang-orang ini sangat gila. “Diam, jangan bilang seperti itu. Kita tidak tahu kapan para cecunguk dan babu pemerintah itu akan datang. Tapi satu hal yang pasti, kita akan tetap aman karena barang bukti tidak ada di sini. Mau tentara, polisi, BNN, atau pun intel, aku sama sekali tak takut. Mereka hanya orang bodoh.” “Ya, orang-orang i***t itu menyebalkan. Mereka pasti tak akan bisa menangkap kita. Seharusnya orang-orang seperti mereka lenyap saja dari dunia ini, menyebalkan.” Saat itu, ada sensasi panas yang menyelimuti hati Mika. Ia yang sedari tadi hanya duduk bersender tiba-tiba mengepalkan tangan kuat. Pemuda itu berdiri dan kini justru menunjukkan batang hidungnya ke arah dua orang yang saling mengobrol di rumah tua itu. Beberapa orang lain tampaknya sudah pergi dari sana. “Hei, Pak. Siapa anak muda yang berjalan ke sini itu?” Seorang pria pendek dengan usia yang sudah berumur tampak memperhatikan Mika. “Entahlah, mungkin anak muda yang mabuk. Tempat ini kan terbengkalai. Dia pasti tak sadar datang ke sini.” Orang berbadan gempal yang ada di samping pria itu hanya mengerutkan kening. Dirinya tampak mengobservasi Mika yang semakin dekat dengan posisi keduanya. Karena penasaran, orang itu berdiri dari posisi duduknya tadi. “Biarkan aku memeriksanya. Orang ini sangat mencurigakan.” “Ya, silakan. Kau pukuli saja juga tidak apa-apa. Anak muda yang mabuk sangat menjijikkan. Mereka hanya tahu menghabiskan uang saja,” gerutu pria tua tadi. Kini Mika dan orang berbadan gempal itu saling berhadapan. Bukannya menatap orang tadi, Mika justru membungkuk mengambil sesuatu dan memasukkan benda itu ke dalam saku jaketnya. Orang gempal ini pun heran. “Apa yang sedang kau lakukan di tempat ini? Apa kau mabuk sehingga tak sadar datang ke sini?” Hening, tak ada jawaban dari Mika. Pemuda ini mengacuhkan orang gempal yang berdiri di depannya. Ia hanya menundukkan kepala dan bersiap kembali. “Hei, Bocah. Jawab pertanyaanku!” ujar orang berbadan gempal ini seraya memegang bahu Mika yang sudah ingin berbalik. Ia tak tahu kenapa, tapi orang aneh ini sangat mencurigakan. Kali ini Mika melirik orang itu sekilas. Tatapan kedua matanya begitu tajam hingga membuat pria berbadan gempal ini tersentak. Sudah jelas sekali, pandangan yang ditunjukkan pemuda ini bukanlah tatapan orang mabuk. Senyum remeh terukir di wajah angkuh Mika. “Aku tak ingin berurusan denganmu karena buang-buang tenaga. Aku ke sini hanya mengambil mainanku yang jatuh!” Orang itu langsung tersulut emosi. Wajahnya memerah karena kesal. “Jangan bercanda denganku, Bocah! Kau harus menerima pelajaran karena tahu lokasi tempat ini!” Sebuah tinju langsung terarah menuju Mika. Namun anehnya, pemuda itu justru lihai menghindar. Orang berbadan gempal dan pria tua tadi langsung terkejut bukan main. Sudah jelas sekali jika bocah ini bukan bocah biasa. Tak salah lagi, anak ini pasti punya suatu tujuan datang ke sini. “Ah, kenapa kau harus meninjuku seperti ini saat aku hanya mengambil mainanku, Paman?” Senyum pemuda itu semakin lebar. “Biar kutebak, otakmu pasti kecil sekali sehingga hanya mengandalkan badan jumbomu ini ya?” “Sialan! Jangan berani-berani, kau bocah! Katakan tujuanmu datang ke sini untuk apa!” Pria berbadan gempal yang semakin emosi ini justru berusaha memukul Mika dengan membabi buta. Di lain sisi, Mika semakin bahagia karena rencananya sukses. Ia sangat yakin jika tipe orang seperti pria ini akan mudah tersulut emosi. Saat ia dikendalikan oleh emosi seperti sekarang, gerakannya menjadi mudah ditebak. Mika pun dengan lihai menghindari pukulan tadi. Saat menghindari pukulan-pukulan tadi, Mika tak lupa menempelkan tangannya ke beberapa bagian tubuh pria gempal ini dengan gesit. Sat set sat set dan semuanya berhasil sesuai rencananya. Senyum seringai pemuda ini pun melebar. Dia melompat ke belakang sehingga jaraknya cukup jauh dari pria bertubuh gempal itu sekarang. Dilihat dari mana pun, orang yang berdiri di hadapannya ini terlihat tersengal-sengal nafasnya. “S-sebenarnya apa maumu?” Pria tadi bertanya dengan nada lelah. “Aku yakin kau pasti bukan orang biasa.” “Aku? Aku cuma orang miskin biasa kok.” Mika tersenyum dengan penuh arti seraya berkata, “Tapi, aku kesal dengan perkataanmu yang menyebutkan orang lain bodoh.” Seketika detak jantung pria bertubuh gempal dan orang tua yang ada di belakang sana seolah berhenti berdetak. Mereka melebarkan mata tak percaya. Tak salah lagi, pemuda ini memang tahu sesuatu dari percakapan mereka tadi. “Sialan! Beraninya kau menguping pembicaraan kami! Kau harus—“ Pria berbadan gempal ini tak bisa melanjutkan perkataannya ketika melihat Mika yang menjentikkan jarinya baru saja. Tak ada satu detik dari kejadian itu, tiba-tiba ia merasakan rasa sakit yang luar biasa dari seluruh tubuhnya. Beberapa dari kulitnya terkelupas secara tiba-tiba. “Argh!” Pria itu langsung menjerit kesakitan. Mika sendiri semakin memperlebar senyumnya. “Rasakan itu, b*****h gila! Orang busuk sepertimu patut dihukum!” Suara teriakan menyakitkan dari pria bertumbuh gempal itu terdengar begitu memilukan di tempat ini. Melihat Mika yang tersenyum mengerikan, pria tua bertubuh pendek yang melihat seluruh kejadian tadi hanya bisa melebarkan mata tak percaya. Ia meneguk ludah kasar ketika membayangkan dirinya akan dikuliti seperti itu juga oleh anak ini. Ketika pria tua ini menyadari sesuatu, ia menunjuk Mika dengan tangan yang bergetar hebat. “M-mungkinkah kau orang yang menguliti seseorang di hutan kota Jakarta Pusat kemarin?” Mika tersenyum dengan angkuh. “Astaga, apakah aku terkenal sampai seperti itu?” Mengabaikan bawahannya yang pingsan karena rasa sakit tadi, pria tua ini berlari menghampiri Mika. Ia menatapnya penuh kekaguman. “Astaga, aku tidak akan pernah mengira jika kau datang ke sini untuk mencariku.” Mika bingung. Kenapa tiba-tiba pak tua pendek ini menatapnya seperti seorang raja? “Kau pasti sudah dengar dari penjahat lainnya jika aku menjual narkoba kan? Aku sama sekali tidak mengira akan mendapatkan pelanggan menakjubkan sepertimu! Tolong maafkan aku karena perilaku kurang ajar dari bawahanku ini. Yang pasti, kau akan mendapatkan harga spesial jika membeli narkoba dari tangan pertama sepertiku!” Mika semakin melebarkan senyum tak percayanya. Ia mengedipkan mata beberapa kali untuk memastikan bahwa dirinya sedang tak berkhayal sekarang. Astaga, kesalahpahaman macam apa lagi ini? Kenapa orang ini malah mengira ia akan membeli narkoba? Apakah ia boleh membunuh manusia gila yang ada di depannya ini? Mika menggeleng kuat-kuat. Tidak, tidak. Ia tak boleh membunuh orang ini. Bisa gawat kalau dirinya dipenjara atau bagaimana. Dengan senyum canggung, Mika berujar, “A-ah, iya. Aku akan beli barang itu dari Tuan Hebat sepertimu.” Mika merasa akan gila. Bagaimana ia menjelaskan semua hal ini pada Udin nanti? Kalau tahu kalau begini, seharusnya ia tak usah memberi pelajaran pada orang gempal itu. Semuanya semakin merepotkan. Ia dan pria tua itu akhirnya tertawa bersama. Dia bisa gila kalau begini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN