Chapter 67 - Intrik Pribadi

1447 Kata
“Mika, keluarlah. Ayo makan bersama. Sudah dua hari kau mengurung diri di kamar.” “Kalian makan saja dulu. Tidak perlu mengajakku.” Putri dan Ahmad yang kini berdiri di depan pintu kamar tidur pemuda itu hanya bisa saling pandang. Kedua mata mereka menyiratkan rasa cemas. Senyum mereka turun. Tak dapat dipungkiri, dua orang dewasa itu tengah khawatir sekarang. Sudah dua hari Mika bersikap seperti ini, lebih tepatnya sejak perbincangannya dengan Ahmad sore itu. Sejujurnya Putri tak tahu apa yang terjadi, saat ia pulang suasananya sudah kacau. Meskipun Ahmad sudah menjelaskan kronologisnya, wanita ini tak paham apa yang terjadi dengan Mika. Pemuda berusia 17 tahun itu mengurung diri dan selalu melewatkan makan. Sementara itu, Ahmad adalah pihak yang paling merasa bersalah dalam kasus ini. Pria itu menghela nafas panjang. Ia bersender di dinding dekat pintu. “Mika, maafkan aku atas kejadian kemarin. Tolong keluarlah dan makan sedikit saja. Kau bisa sakit.” Ada nada tulus dan perhatian yang bisa terdengar dari ucapan Ahmad kali ini. “Ini bukan salahmu. Tolong mengertilah, kalian berdua. Tinggalkan aku sendiri." Nada suara pelan itu terdengar dari seberang pintu. Namun, jawaban seperti tadi tak bisa memuaskan hati Putri dan Ahmad. Sepasang suami istri itu hanya bisa saling pandang dengan mata cemas. Sepertinya usaha mereka untuk mengajak Mika makan malam bersama gagal lagi. Sebenarnya kalau dipikir-pikir, Mika tak memberikan respons kesal atau marah saat diajak bicara dari luar. Ia masih menjawab pertanyaan ataupun perkataan dari anggota keluarga ini saat dipanggil. Tak seperti anak yang sedang mengambek, responsnya terdengar normal. Pemuda itu seperti memiliki alasan lain kenapa ia mengurung diri di dalam sana. Sayangnya, alasan itu tak bisa diketahui baik oleh Putri maupun Ahmad. Helaan nafas terdengar dari mulut Putri. Wanita yang masih memakai jas dokter itu menatap suaminya dengan cemas. “Bagaimana ini? Kita harus membujuknya seperti apa?” Di sisi lain, Ahmad yang juga masih mengenakan seragam dinasnya saat bekerja di kantor kelurahan itu terlihat lesu. Sebelas dua belas dengan istrinya, ia juga tak tahu harus melakukan apa. Pemuda itu sama sekali tak bisa dibujuk. Ia mengacak rambutnya dengan frustasi. “Aku tak tahu. Padahal kemarin aku hanya mengajaknya bermain catur, mengobrol, dan membahas masalah sekolah. Maksudku, kau tahu keputusan Mika yang ingin keluar dari sekolahnya kan?” “Aku tahu soal itu. Kupikir, dia kesal denganmu karena membahas masalah sekolah lalu bersikap seperti ini. Tapi, dia justru bilang seperti tadi. Ini tandanya aksi Mika tak dilatarbelakangi oleh hal itu." “Makanya aku juga bingung, ada apa dengannya? Kenapa remaja zaman sekarang susah dipahami sih?” gerutu Ahmad sembari berjalan menjauh dari depan kamar Mika. Bagaimana pun, Ahmad hanya ingin yang terbaik untuk anak itu. Mika sudah berusia 17 tahun, tapi dia masih kesusahan beradaptasi dengan pelajaran-pelajaran sekolah. Tentu saja ini aneh. Saat menceritakan masalah ini pada Putri, ia justru baru tahu kalau ijazah SD dan SMP Mika itu palsu. Putri melakukan pemalsuan itu untuk formalitas semata. Bagaimana pun, latar belakang Mika masuk ke SMA kan karena ia ingin menghentikan perang dingin yang terjadi. Jadi tampaknya Kepala Sekolah tak memedulikan ijazah tadi dan menerima Mika begitu saja. Saat semuanya selesai, kontrak sekolah itu sudah pasti berakhir. Ada kemungkinan Mika kesal saat Ahmad mengungkit masalah ini. Dirinya telah memaksa pemuda itu untuk sekolah kembali tanpa tahu apa yang terjadi. Mengabaikan Ahmad yang baru saja pergi, Putri yang saat ini berdiri sendirian di hadapan kamar Mika langsung menatap lurus ke arah pintu kayu di depannya. Ia menarik nafas dalam-dalam, lalu memejamkan mata dengan perlahan. Kalau Mika tak bisa diajak bicara terus terang, ia akan mencoba bertelepati dengannya. “Mika, apakah kau bisa mendengarku?” “Hah?” Tentu saja Mika kaget karena Putri menggunakan telepati secara tiba-tiba. “Apa-apaan ini?!” Saat itu, senyum miring langsung tersungging di wajah Putri. Dia membuka mata dan menatap pintu kamar ini bagaikan singa yang telah berhasil menangkap mangsa. Wanita itu bisa membayangkan bagaimana reaksi terkejut Mika. “Lancang sekali kau menggunakan kekuatan telepati ini padaku?!” Putri mendengus geli. “Oh tidak, Yang Mulia Pangeran Mika Jonathan marah! Apa yang harus kulakukan ya?” “Pergi dari pikiranku sekarang, wanita sialan! Apa kau tidak mengerti kalau aku sama sekali tak mau diganggu oleh siapa pun? Aku ingin sendiri!” Putri langsung terdiam mendengar ucapan Mika yang seperti itu. Pasalnya, sudah lama sekali anak ini tak pernah berkata kasar seperti tadi. Bermain kakak-adik dengannya dalam jangka waktu yang lama membuat wanita berambut pendek itu lupa siapa Mika yang sebenarnya. Padahal selama ini Mika sudah bersikap cukup baik, lantas kenapa kepribadiannya yang jelek ini datang kembali? Maslahah apa yang dihadapi anak itu sekarang? “Jangan bersikap seperti anak kecil, Mika,” ujar Putri dengan nada tegas lewat telepati ini. “Kau itu sudah besar. Kalau dirimu punya masalah, ceritakan padaku! Mengurung diri tak akan membawamu menemui jalan keluar!” “Diam! Aku tak mau mendengar siapa pun!” Saat itu, sentakan yang tiba-tiba dirasakan oleh Putri membuatnya oleng. Untuk sesaat, wanita ini bisa merasakan jantungnya seolah ditebas. Kekuatan Mika memang mengerikan. Pemuda itu bekali-kali lipat lebih kuat darinya. Mau dipaksa seperti apa pun, ia tak bis lagi melakukan telepati dengannya. Putri menghela nafas panjang. Kepalanya tertunduk degan lesu. Anak ini sama seklai tak mau didekati. Terlebih, ia menujukan reaksi yang berbeda saat melakukan telepati tadi. Sudah jelas kalau emuda itu menahan amarahnya. Sia-sia saja. Akan lebih baik kalau Putri membiarkan Mika tenang dulu untuk sementara waktu. Mau berbuat seperti apa pun, rasanya mustahil. Bocah itu keras kepala. Kalau tidak ada keinginan, ia pasti tak akan mau keluar. Pada akhirnya, wanita itu beranjak pergi dari depan kamar Mika. Keluarga yang berisikan tiga orang itu melakukan makan malam tanpa kehadiran Mika lagi hari ini. “Kak Mika, kalau kau mau makan, semuanya masih ada di dapur. Jadi, keluarlah sebentar nanti ya?” Setelah mengucapkan hal tadi, Riko pun beranjak pergi dari depan kamar Mika. Anak kecil itu sama sekali tak paham dengan segala hal yang terjadi. Yang ia tahu, Mika memang jadi aneh sejak pulang dari rumah sakit dua hari yang lalu. Ia berharap semuanya akan baik-baik saja. Situasi menjadi hening dan semakin hening. Rumah yang semula diisi oleh cahaya lampu itu menjadi gelap total. Semua orang sudah terlelap. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul satu malam. Mengamati situasi yang hening ini, Mika bisa menduga kalau seluruh orang sudah tidur. Suara knop pintu yang diputar terdengar jelas di dalam kesenyapan ini. Di balik pintu kamar Mika yang selalu tertutup rapat, pemuda itu menunjukkan batang hidungnya. Ia menghela nafas panjang dan berjalan keluar. Mika menoleh ke kanan dan ke kiri. Rumah ini menjadi begitu gelap saat semua orang tidur. Kantung hitam yang ada di bawah matanya menunjukkan betapa stresnya anak ini. Teka-teki dalam hidupnya terasa begitu pelik hingga Mika enggan berinteraksi dengan siapa pun dua hari ini. Mika berjalan menuju dapur. Ia menuang air yang ada di dalam botol dan meminum beberapa teguk. Saat meminum segelas air itu, kedua matanya tanpa sengaja melihat secarik kertas yang tergelatak begitu saja di meja makan. Alis pemuda ini mengernyit. Ia meletakkan gelasnya di meja kembali dan mengambil kertas itu. Dalam diam, Mika membaca seluruh isinya. Jelas sekali, kertas ini adalah surat undangan dari sekolahnya karena ada stempel SMA Unggulan Esa. 'Karya wisata sekolah? Undangan? Apa ini? Kenapa firasatku berkata buruk?' Pikiran Mika kembali berkecamuk. Ia bisa merasakan ada suatu hal yang terjadi sebentar lagi. Jangan bilang Putri dan Ahmad akan memaksanya mengikuti kegiatan tak berguna ini? Astaga. Mika tak tahu apakah surat undangan ini memang sengaja ditaruh di meja makan atau memang benar-benar ketinggalan di sini. Akan tetapi, sepertinya ini adalah bagian dari rencana dua orang itu agar dirinya mau mempertimbangkan keputusan untuk berhenti sekolah. Mika kesal. Ia menghela nafas panjang, memutar bola mata dengan jengah, lalu merobek surat undangan tadi menjadi serpihan-serpihan kecil. Semuanya semakin menyebalkan saja. Dengan langkah kaki berat, pemuda bertubuh jangkung dengan tatapan mata lelah itu kembali menuju kamarnya. Ia menutup pintu dan membanting tubuh di atas kasur. Badannya terasa berat. Ia lelah. Mika berusaha memejamkan mata dalam dia, namun ia tak kunjung bisa. Pemuda itu memijit pelipisnya. Sebagai pengalih perhatian agar pusingnya hilang, tangannya yang bebas langsung mengambil ponsel yang berada di atas meja. Cahaya biru dari perangkat elektronik itu sontak menerangi ruangan yang gelap ini. Mika yang berbaring sambil memainkan ponsel itu pun jadi terlihat jelas ekspresinya. Saat menggeser-geser layar telepon ini, alis pemuda itu terangkat sebelah. “Apa-apaan ... ini?” Tentu saja Mika terkejut. Ada 20 lebih panggilan masuk yang tak ia jawab sejak kemarin, terlebih panggilan ini berasal dari satu orang. Tidak diketahui siapa nomor yang memanggilnya berulang kali. Nomornya tidak disimpan oleh Mika. Terlebih, ia memang sengaja mematikan telepon sejak kemarin jadi tidak tahu. Kira-kira ada apa ya? Semoga saja bukan hal yang buruk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN