Chapter 66 - Gundah

2286 Kata
“Mika, apa kau tahu kalau alat teleportasi yang kubuat untukmu itu sudah mencapai tahap 40%?” “Benarkah?” “Iya! Untung saja aku menyembunyikannya di bawah tanah klinik milikku yang ada di pasar malam. Kalau tidak, alat itu pasti sudah hancur bersamaan dengan tembakan misil kemarin. Jadi, kau masih punya peluang kembali. Apa kau senang?” “Ya.” Dalam sedetik saja, atmosfer hangat yang ada di dalam mobil ini berubah drastis. Putri yang sedari tadi berbicara panjang lebar dan bersikap hangat pada pemuda itu tampak kesal. Ada apa sebenarnya dengan Mika? Tadi pagi saat ia meninggalkannya di rumah sskait, anak ini masih bersikap bias saja. Dia masih cengengesan tidak jelas dan bersikap kurang ajar seperti biasanya. Lantas, kenapa tiba-tiba Mika jadi acuh tak acuh seperti ini? “Apa sih yang salah denganmu? Kenapa kau terlihat melamun sejak tadi?” Dokter yang juga merangkap sebagai tabib di desa itu benar-benar tak mampu menahan rasa kesalnya. Dia melirik kursi belakang lewat spion dalam mobil dengan pandangan tajam, lebih tepatnya tatapan itu tertuju pada sosok Mika. Mika yang sejak tadi memandang jalan dari jendela mobil pun langsung menoleh ke arah Putri yang menyetir di depan. Bagaimana pun, siang telah berganti menjadi malam. Sekarang ia sudah dalam perjalanan meninggalkan sekolah dan pulang ke rumahnya. Namun saat mengetahui kakak gadungannya itu telah menatapnya tajam sedari tadi, Mika justru membalas lirikannya dengan pandangan kosong. Pikirannya masih belum jernih. Bukannya menjawab pertanyaan Putri, ia justru menanyakan hal aneh. “Hei, bagaimana kalau ternyata kau masih punya keluarga?” “Hah?” Putri meliriknya dari spion yang ada di dalam mobil, seolah memandang pangeran dari Kerajaan Mimika itu dengan heran. “Apa kau sudah gila?” Mobil hitam ini hanya dikendarai oleh Mika, Putri, dan Riko. Suasana menjadi sunyi setelah Mika bertanya demikian. Riko yang notabenenya adalah manusia paling muda di dalam kendaraan ini pun hanya bisa melirik dua orang dewasa tadi secara bergantian. Ia sama sekali tak mengerti dengan topik pembicaraan aneh ini. Anak berusia 6 tahun itu melirik jam tangan yang melingkar di lengan kanannya. Baru jam tujuh malam. Ada kemungkinan mereka akan tiba beberapa jam lagi. Kedua mata anak itu terus memandang Mika yang duduk di sebelahnya. Mereka berdua duduk berdampingan, sedangkan Putri menyetir di kursi depan. “Kau sejak tadi melamun. Bicara pun hanya pendek-pendek. Sekarang, kau menanyaiku hal yang aneh? Apa kau salah makan?” Putri langsung geleng-geleng kepala. Melihat Mika yang sama sekali tak merespons ejekannya tadi pun membuat Putri menghela nafas panjang. Ia mengabaikan pemuda yang hanya diam itu dan kembali menatap jalan di depan. Di lain sisi, kedua mata Mika tak sengaja bertemu dengan tatapan Riko. Dua orang laki-laki yang berjarak 11 tahun itu seolah sedang mengobrol lewat telepati. Mika tahu apa yang ada di pikiran anak ini. Dia pasti mengkhawatirkan tingkah lakunya yang tak biasa, sama dengan Putri. Pemuda berusia 17 tahun itu pun akhirnya membanting punggungnya ke kursi mobil. Ia bersender lalu menengadahkan kepala ke atas. Tangannya yang bebas tampak mengacak-acak rambut dengan frustrasi. “Lupakan saja ucapanku tadi. Aku baik-baik saja.” Saat itu, Putri ingin menanggapi sesuatu. Akan tetapi, melihat Mika yang berekspresi tak biasa seperti itu membuat wanita berusia 30 tahunan ini enggan mengajukan pertanyaan. Pada akhirnya ia menghela nafas lagi. Membiarkan Mika sibuk dengan pikirannya adalah jalan terbaik untuk sekarang. Ia tak mau ikut campur dalam masalah anak itu kalau Mika sendiri tak mau menceritakan lebih dulu apa masalahnya. Pada akhirnya, perjalanan menuju desa itu hanya diselimuti oleh keheningan. Di sanalah, Riko yang masih kecil hanya bisa bergulat dengan pikirannya sendiri. Ia menatap jengah ke arah Mika dan ibunya yang sibuk menyetir di depan. Bagaimana pun, orang dewasa itu benar-benar tak bisa dipahami. Mereka suka menyembunyikan berbagai hal dengan dalih kebaikan. Menyebalkan sekali. Anak kecil yang terus terang justru 1000 kali lebih baik dari itu. Tanpa sadar, hari demi hari telah berlalu. Sebelum Mika dijemput pulang oleh Putri hari itu, pemuda berambut acak-acakan ini telah mengungkapkan keinginannya pada Bu Siti, si kepala sekolah. Mika dengan terus terang mengatakan bahwa kelanjutan dari misi penyelesaian perang ini akan ditangani oleh Pak Udin. Dengan kata lain, ia sudah tak terlibat dengan ini semua. Mika akan mengundurkan diri dari sekolah. Ia bakal mengirim berkas-berkas untuk kelengkapan informasi keluarnya dalam kurun waktu seminggu sejak saat itu. Dan sekarang, setelah tiga hari menghabiskan waktu di rumah baru Putri karena rumahnya yang dulu hancur akibat tembakan misil, Mika telah menjadi pengangguran sejati. Dia hanya diam, menghabiskan waktu untuk berpikir dan melamun. Mika Jonathan menjadi karakter yang berbeda dari watak aslinya. Orang yang paling tak bisa tinggal diam dengan situasi ini adalah Ahmad, suami Putri. “Tampaknya, beberapa hari ini kau jadi lebih pendiam dari biasanya. Apa ada masalah?” “Tidak.” Kebetulan sekali, di sore hari yang cerah ini, Mika dan Ahmad hanya berdua. Mereka ditinggal pergi oleh Putri dan Riko yang hendak ke supermarket. Kemungkinan besar, mereka membeli kebutuhan rumah tangga. Di teras yang menghadap barat itu, Mika dan Ahmad sedang sibuk adu strategi. Sejak tadi mereka fokus memainkan catur. Karena menghadap barat, sinar matahari sore tampak menyinari keduanya. Wajah mereka lebih bercahaya, namun ekspresi dua orang itu justru kontras. Mereka tampak serius dan beraura gelap. “Ada hal yang sebenarnya ingin kukatakan padamu, Mika.” Nada bicara yang dipenuhi syarat akan keseriusan itu menarik perhatian pemuda yang tengah memakai kaos putih ini. Dia menengadahkan kepala dan menatap Ahmad dengan bingung. Sejak tadi Ahmad menggambarkan ekspresi yang tak bisa dibaca. Ia tampak berpikir sembari memegang dagunya. “Ini masalah sakitmu." "Maksudmu?” “Seperti yang kau tahu, dirimu tidak ada di desa saat penembakan misil itu terjadi. Namun, mengapa luka yang kau derita sebesar itu?” Tangan Mika yang sudah memegang pion kuda berwarna hitam pun langsung menegang. Ia mengurungkan niatnya untuk menjalankan bidak catur tadi. Dengan pandangan kosong, pemuda itu melirik Ahmad. “Kalau kubilang, aku punya kekuatan untuk menyembuhkan seseorang apa kau akan percaya?” Saat mengucapkannya, tawa hambar keluar dari mulut Mika. Namun berbeda dengan reaksi diperkirakan olehnya, pria itu justru bersikap tenang. Seolah, ucapan Mika tadi hanya angin lalu. Tentu saja, pemuda yang menginjak kelas 3 SMA ini kebingungan. “Kenapa reaksimu setenang ini?” Mika yang tak sabar pun langsung mencurahkan isi hatinya. Sudut bibir pria yang bekerja di kantor kelurahan itu terangkat. Ia tersenyum ke arah Mika. “Kalau dirimu berkata seperti tadi, aku akan percaya.” “Hah? Kau bercanda ya?” Ini adakah reaksi yang di luar dugaan. Selama ini Mika mengira jika Ahmad adalah tipe orang realistis. Anaknya sendiri yang mengatakan hal itu. Bagaimana pun, Riko pernah bilang pada Mika kalau ayahnya tak percaya dengan kemampuan sihir bocah tersebut. Jadi, ia berpikir Ahmad akan bereaksi sama saat dirinya mengatakan omong kosong tadi. “Daripada aku yang kaget tampaknya kau lebih kaget,” ejek Ahmad. Pria itu mendengus ke arah adik iparnya ini. “Aku sudah tahu soal kemampuan unik keluargamu itu.” “A-apa?” Sungu, Mika sama sekali tak mengerti situasi yang dihadapinya sekarang. Apakah sejak awal Ahmad memang sudah tahu soal kemampuan sihir turun temurun yang dimiliki oleh keturunan dari Kerajaan Mimika sehingga ia masih bisa bersikap sesantai ini? “Aku sudah tahu soal kemampuan magis Putri yang sama sekali tak bisa dinalar. Dia bilang itu adalah kekuatan khusus keluarga kalian. Aku sudah menduga ini sejak lama. Jika Putri saja punya, pasti dirimu juga punya kemampuan yang sama dengannya. Akan tetapi, sepertinya kekuatanmu jauh lebih besar dari istriku.” Diam, Mika sama sekali tak punya pilihan untuk merespons ucapan Ahmad. “Jadi, apakah orang yang mengobati seluruh penduduk itu adalah dirimu?” Mika benar-benar ingin menghentikan permainan catur ini. Kalau saja dirinya tahu Ahmad akan membahas masalah itu, harusnya ia tak mau diajak main catur bersama di sini. Pemuda itu pun menghela nafas panjang. Dia bergumam pelan, memfokuskan pandangan tajam ke depan, lalu membuat pasukan bidak catur Ahmad sekakmat. “Kau benar, orang itu adalah aku.” Ada keheningan yang terajut di antara dua orang ini. Namun saat mendengar perkataan Mika yang seperti tadi, suami dari Putri ini langsung membentuk senyum simpul. “Terima kasih. Sekarang, aku bisa mendapatkan jawaban yang sebenarnya dari mulutmu sendiri. Saat aku menanyakan soal ini pada Putri, dia selalu membuat berbagai alasan dan mengalihkan topik. Untungnya, dugaanku tak salah. Ada banyak warga desa yang berhutang budi padamu, Mika.” “Kau ... berlebihan.” Selama masa pembangunan ulang rumah penduduk dan fasilitas umum yang ada di desa itu belum diselesaikan, pemerintah memberikan hak kepemilikan rumah di kompleks perumahan ini. Dalam beberapa minggu terakhir, para warga yang menjadi tetangga Ahmad terus saja menceritakan keajaiban yang dibuat oleh Mika hari itu. Mereka membahas ini di mana-mana sehingga pemuda itu pun sudah tahu mengenai hal tadi. Semua orang terus mengagung-agungkan kejadian itu seolah mukjizat. “Tidak, ini bukan berlebihan. Nyatanya aku bisa sembuh sekarang. Meskipun, bayarannya kau harus sakit seperti kemarin. Maafkan aku.” “Santai saja. Aku melakukan semua itu karenaa sama seklai tak ingin ada orang baik seperti kalian yang harus menjadi korban.” Suasana pun kembali menjadi hening. Hanya ada suara pion-pion catur yang bergesekan dengan papannya saat dijalankan. Ahmad yang saat ini memakai baju hitam dan sarung itu tampak menyesap kopinya pelan-pelan. Dari balik cangkirnya, ia bisa memperhatikan ekspresi Mika yang terkesan aneh. Anak ini tampak menyembunyikan masalah pribadinya. “Hal serius lain yang ingin kutanyakan padamu adalah masalah sekolah.” “Aku ... mungkin akan keluar.” Ada raut tak senang dan kecewa yang terlihat jelas di wajah Ahmad. “Sekolahmu yang ada di Jakarta kemarin kan sangat bagus. Jadi kenapa kau ingin keluar? Kau tidak bisa keluar begitu saja.” Atmosfer yang terajut antara dua orang laki-laki ini tampak berat. Mereka saling terdiam dengan ekspresi serius. Ahmad sendiri dengan sabar menunggu penjelasan dari Mika. “Begini, aku ingin terus terang padamu. Jadi, tolong simpan masalah ini untukmu sendiri.” “Apa maksud—“ “Kau ingat jika Riko pernah menceritakan suatu hal padamu soal mimpinya yang berubah menjadi kenyataan?” Ahmad langsung terkesiap. Ia memang ingat dengan kejadian itu, namun kenapa Mika tiba-tiba membahasnya? Dia sama sekali tak paham. Riko dan mimpinya kan tidak berhubungan dengan sekolah Mika. Ada kebohongan yang terlihat samar di mata Mika saat ia memberanikan diri menatap Ahmad. Bualan demi bualan dirangkai oleh pemuda iti menjadi suatu pernyataan logis. Ia berterus terang pada Ahmad soal kekuatan Riko yang nyata dan masalah perang yang telah diprediksi oleh anak kecil itu sejak dulu. Sekarang, reaksi terkejut yang alami langsung tergambar jelas di wajah Ahmad. Ayah satu orang anak ini sama sekali tak mengira jika apa yang dikatakan oleh Riko hari itu adalah kenyataan. “Alasanku pergi ke sekolah itu adalah untuk menghentikan perang ini. Seperti yang kau tahu, anak dari salah satu delegasi yang tewas kemarin kan sekolah di tempat itu. Jadi, ini adalah alasan kenapa Kak Putri mendaftarkanku di sana, bukan karena dia alumni sekolah tersebut.” Mengesampingkan fakta soal anaknya yang sama-sama punya kekuatan aneh, Ahmad langsung menatap Mika dengan pandangan tak terima. Ia tak setuju dengan gagasan pemuda ini. “Mika, dengarkan aku. Alasanmu sekolah itu bukan hanya karena situasi dingin ini. Kau juga berhak memperoleh pendidikan untuk masa depanmu. Saat semuanya sudah lebih kondusif dan ditangani oleh banyak pihak yang berwenang, bukan berarti kau harus keluar.” “Tapi, tanggung jawabku sudah selesai. Aku—“ “Kau masih muda. Aku tidak tahu apa yang menyebabkan dirimu tak memiliki motivasi untuk sekolah. Apa karena kau pernah dirundung oleh teman-temanmu dulu? Kau harus punya teman dan bahagia. Ingat itu!” Ada setetes keringat yang mengucur di dahi Mika. Ia mengerutkan kening dan menatap Ahmad dengan pandangan kesal dan malu di saat yang bersamaan. Raut wajahnya mengeras, ini adalah pertanda kalau Mika benar-benar marah. “Aku tak mengerti apa pun. Berada di sekolah itu membuatku tersiksa. Aku sama sekali tak paham dengan pelajaran di zaman sekarang!” Saat itu, wajah Ahmad yang sudah serius dan bersiap dengan argumen Mika pun langsung sirna. Dia membuka sedikit mulutnya tanpa sadar. Bagaimana pun, pria ini cukup kaget saat mendengar pernyataan Mika tadi. “Ini ... ini lebih kompleks dari yang kau kira! Aku punya masalah lain yang harus diprioritaskan dan mencari jalan keluarnya, jadi ... argh! Tak tahulah!” Mika kesal. Ia menggebrak meja yang di atasnya ada papan catur itu. Beberapa bidak langsung oleng dan terjatuh. Dengan kondisi hati yang kalut, pemuda ini pergi begitu saja dari teras. Dia meninggalkan Ahmad yang mematung seorang diri di sana dan menuju ke kamar. Mika terbawa suasana. Kalau ia terus berdebat dengan Ahmad, bisa-bisa kesabarannya habis. Ia bisa emosi dan marah kapan saja. Namun sekarang fisik dan batinnya terasa begitu lelah, Mika benar-benar tak tahu harus apa. Memang benar jika masalah perang itu telah ditangani oleh Udin dan kemungkinan besar semuanya akan baik-baik saja seperti yang dikatakan Riko hari itu. Namun, masalah yang dialami Mika sendiri tak kunjung usai. Seluruh teka-teki yang menjadi alasan kenapa ia bisa terperangkap di dunia ini selama berbulan-bulan masih menjadi tanda tanya. Belum selesai masalah sosok bertudung hitam itu, kini Mika malah dipusingkan dengan kemiripan yang tak biasa antara dirinya dan anak Bu Siti di zaman dahulu. Ada juga masalah matanya yang kini tak berwarna biru. Apakah ada jaminan saat pulang nanti ia akan disambut ramah oleh keluarga kerajaan karena tanda pengenalnya sebagai bangsawan telah hilang? Bagaimana kalau nanti ia justru dipenjara karena dianggap sebagai penyihir hitam yang tak punya izin dan membahayakan penduduk? Sialan, sialan, sialan. Ia seolah tak bisa fokus. Mika terus dibayangi rasanya hidup di dua dunia. Karena rasa kesal yang membuncah di kepalanya, pemuda itu memasuki kamar sembari membanting pintunya keras. Dia tak peduli apa Ahmad akan marah atau bagaimana. Dirinya hanya ingin istirahat dari segala hal yang membuatnya lelah. Mika bimbang. Manakah yang harus dipilih antara tetap tinggal di dunia ini atau kembali?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN