Di ruangan yang hanya diterangi oleh cahaya api itu, sosok bertudung hitam tengah bertekuk lutut. Ada seorang pria yang berdiri tegap memunggunginya. Jubah pria itu terlihat mencolok karena warna merahnya memantulkan cahaya lilin. Suasana di sini pun terasa sunyi.
“Laporkan,” titah pria tadi dengan suara tegas.
Sosok yang sejak tadi bertekuk lulut itu menengadahkan kepala. Ia memperbaiki posisi tudung hitamnya. Dengan berani, sosok tadi menatap tuannya. Ada helaan nafas sebelum ia mengucapkan sepatah kata.
“Ada banyak hal yang telah terjadi secara tak terduga. Saya memohon maaf karena sangat terlambat memberi laporan.”
Pria yang menghadap ke belakang dengan jubah merah tadi tampak mengelus dagunya. “Sudah berapa hari ya? Apakah telat 20 hari?”
“Hampir sebulan.”
Suara gumaman yang tak jelas bisa terdengar dari sosok berjubah itu. Dia tampak merenung. “Jadi, bagaimana?”
“Situasinya rumit setelah konflik politik terjadi di negara itu tanpa kita perkirakan. Desa tempat ia pertama kali datang dulu diserang. Kacaunya, Mika Jonathan justru terlibat. Dia melakukan suatu hal.”
“Apa yang dilakukannya?”
Suara berat dari sosok bertudung hitam itu terdengar gundah. “Ini soal wahyu raja pertama Mimika.”
“Maksudmu Pangeran Mahkota tak bisa mengendalikan kekuatannya lagi? Dia melawan manusia biasa karena terbawa emosi?”
“Lebih tepatnya ... dia memakai kekuatan sihir penyembuh untuk menyelamatkan seluruh orang menggunakan kekuatan terlarang itu.”
Ada jeda sejenak. Ruangan ini menjadi sunyi. Suara decap kagum pria berjubah merah tadi pun bisa terdengar. Dilihat dari sisi mana pun, orang itu tampak terpukau mendengar perkataan tadi.
“Dengan kata lain, dia sudah bisa menguasainya?”
“Aku pikir begitu. Pasalnya, setelah kuselidiki ternyata energi sihir murninya meluap. Selama ini, dia selalu menggunakan kekuatan itu saat kepepet. Dia menggunakan telekinesis yang biasa ia gunakan itu menggunakan sihir hitam karena sihir aslinya tidak berfungsi akibat transmigrasi itu. Jadi, kupikir dia memang sudah menguasainya. Hanya saja ....”
Ucapan sosok bertudung hitam yang menggantung itu membuat alis pria berjubah merah tadi mengernyit heran. “Hanya saja?”
“Beberapa jam sebelum dia menggunakan sihir penyembuh secara besar-besaran menggunakan kekuatan itu, dia tampak lepas kendali. Ada manusia biasa yang saat itu mampu menghentikan luberan kekuatannya. Aku tidak tahu siapa dia, tapi sepertinya Pangeran kenal.”
“Teman di dunia sana kah? Jadi dia berhasil membuat teman?”
“Sepertinya begitu.”
Suasana terasa hening kembali. Pria berjubah merah tadi terlihat bergumam kembali seraya memikirkan sesuatu. Bagaimana pun, kabar ini adalah hal baru baginya. Ia tak tahu kalau kekuatan yang digadang-gadangkan itu ternyata sudah bisa dikuasai dengan hampir sempurna.
Dengan sedikit melirik ke belakang, pria tadi bertanya, “Lalu bagaimana kondisi Pangeran itu setelah menggunakan sihir penyembuhan secara besar-besaran?”
“Dia sekarat.”
Mata dari orang berjubah merah tadi langsung menggambarkan keterkejutan. Dia tak mengira efeknya akan separah itu. “Bisa kau jelaskan?”
“Aku menemukannya dalam keadaan mengenaskan setelah melakukan sihir itu. Karena kekuatannya masih belum bisa dikendalikan sempurna, Pangeran itu sekarat dalam waktu 10 hari lamanya.”
Setelah terdiam cukup lama, ada suara helaan nafas yang terdengar dari sosok berjubah merah tadi. Dia menengadahkan kepala, seakan menerawang sesuatu yang jauh sekali.
“Ini kabar baru untuk kita. Terima kasih telah melapor. Kau akan kuberi waktu istirahat, setelah itu dirimu bisa mengawasinya kembali.”
Orang bertudung hitam yang masih bertekuk lutut itu mengangguk patuh. “Siap dimengerti, Tuan!”
Dalam sekejap, sosok itu sirna dari ruangan ini bagai tertelan ketiadaan. Suara helaan nafas kembali terdengar dari satu-satunya orang tersisa. Pria berjubah merah itu berjalan pergi lalu ruangan rahasia ini menjadi gelap sempurna karena seluruh lilin padam dengan sendirinya setelah kepergiannya.
Jauh dari lokasi yang tak diketahui keberadaannya tadi, Mika merenung di bawah gazebo sekolah yang ada di taman. Taman yang dipenuhi oleh pohon-pohon besar yang terletak di pojok halaman sekolah itu terasa sejuk. Angin terus bertiup sepoi sejak tadi. Embusannya menggoyangkan helai rambut Mika.
Pemuda bersurai hitam yang masih duduk itu tampak menengadahkan kepala. Matanya menerawang jauh, dia melamun.
“Sejak kapan mataku berwarna hitam ya? Bagaimana mungkin aku tak menyadarinya?”
Itu adalah pertanyaan yang masih bergelut dalam pikiran Mika. Mau dipikirkan seperti apa pun, iris matanya yang berganti warna ini sudah terasa aneh. Warna biru adalah lambang bahwa ia keturunan kerajaan dan warna hitam adalah tanda bahwa ia dirasuki oleh kekuatan raja pertama. Bagaimana mungkin matanya yang semula berwarna biru bisa berganti seperti ini?
Sayup-sayup pemuda yang sejak tadi ada di sini itu bisa mendengar dering bel berbunyi dari arah gedung sekolah. Fokusnya langsung teralihkan. Ia menatap heran ke arah gedung sekolah.
“Kenapa belnya sudah berbunyi ya? Ini kan masih jam 12 siang. Tak mungkin mereka pulang jam segini kan?”
Tentu saja Mika sedikit keheranan. Pasalnya yang ia tahu selama sekolah di tempat ini, bel pulang biasa berbunyi pukul 3 sore. Aneh sekali saat mendengar bel pulang berbunyi jam 12 siang.
Mengesampingkan hal tadi, Mika kembali menatap kosong ke arah pemandangan yang ada di depannya. Namun, niatnya yang hendak kembali melamun itu terhenti saat derap langkah kaki mulai terdengar. Ia melebarkan mata tak percaya saat menoleh ke arah sumber suara.
Seluruh siswa mulai dari kelas 1 hingga 3 berjalan keluar dari gedung sekolah sambil menenteng tas. Sepertinya dugaan Mika tadi benar, bel yang berbunyi beberapa saat lalu adalah bel pulang. Ia yang tak mau bertemu dengan teman-temannya pun langsung berjongkok, bersembunyi di bawah meja gazebo dengan empat kursi itu.
“Aku tidak bisa bertemu dengan yang lainnya. Bertemu dengan teman sekamarku saja tadi rasanya canggung sekali, apalagi semuanya. Aku tak mau ada ikatan lagi bersama orang-orang itu, bagaimana pun setelah ini aku kan berencana keluar sekolah.”
Mika kembali merenung saat mengucapkan hal tadi. Sejujurnya hati pemuda ini masih bimbang. Apakah ia benar-benar bisa keluar sekolah setelah ini?
“Mikaa~”
Bagaikan orang yang terkena serangan jantung, Mika langsung terperanjat kaget. Ia merasa jantungnya seolah berhenti berdetak. “WUAGGGHH!”
Suara kikikan tawa sontak terdengar. Orang yang membuat Mika kaget itu tampaknya bahagia ketika rencana mengerjai anak ini sukses. Pemuda yang sudah berdiri dari posisi jongkoknya itu pun tampak mengelus d**a. Ia mencoba untuk menenangkan detak jantungnya yang tak beraturan.
“Asa! Bercandamu ini tak lucu!” gertak Mika dengan kesal.
Orang yang sejak tadi tertawa itu langsung melebarkan mata kaget, seolah ia telah melakukan kesalahan yang fatal. Asa langsung memandang Mika dengan cemas. Bagaimana pun, ia terbiasa menggoda anak ini. Mengagetkannya adalah suatu hal yang menghibur namun, kali ini Asa lupa jika Mika baru pulang dari rumah sakit.
“Mika, apa ada yang sakit? Apakah aksiku tadi membuatmu sakit? Apa kita perlu ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan?”
Mendengar pertanyaan yang bertubi-tubi itu, Mika pun menghela nafas. “Ini tidak separah itu, jadi tak perlu ke rumah sakit. Hanya saja kau ini suka sekali mengerjaiku. Tentu saja aku kesal. Mood-ku sedang tidak enak hari— uwaaaghh!”
Pemuda bertubuh jangkung dengan kemeja berwarna coklat itu langsung berteriak kaget ketika Asa memeluknya secara tiba-tiba. Ia terkesiap, namun di saat bersamaan wajahnya mulai memanas.
Ah, perasaan ini lagi. Ini adalah sensasi yang ia ingat ketika Asa memeluknya di stasiun hari itu. Untuk sesaat, ia merasa hangat.
“Astaga, kupikir ada apa-apa denganmu!” celoteh Asa dengan wajah yang masih cemas.
Mika sendiri hanya bisa kesal dengan wajah yang agak memerah karena posisi mereka yang seperti ini. “K-kau sendiri keterlaluan! Kenapa suka sekali menjahiliku sih?!”
Saat itu, Asa langsung melepas pelukannya. Ia terkekeh pelan dan meminta maaf berulang kali kepada Mika. Sambil menggaruk bagian belakang kepalanya yang tak gatal, gadis itu berujar, “Maafkan aku. Aku janji ini yang terakhir kalinya aku menjahilimu.”
Mendengar itu, sorot mata Mika langsung tajam. Ia membuat mimik serius dengan dagu terangkat. “Kau yakin?”
Jika melihat Mika yang berekspresi serius seperti ini, Asa tak bisa menahan sensasi panas di wajahnya. Gadis itu tak berani menatap pemuda ini lagi. Ia memalingkan wajah. “A-aku serius!”
“Kalau serius tatap aku! Kenapa kau malah berpaling sih? Kayak orang yang tidak punya salah begini!”
“Aku minta maaf. Tadi itu, aku tak sengaja melihatmu di sini sendirian. Kau seperti sedang melamun. Aku juga melihatmu panik dan bersembunyi di bawah meja. Menurutku lucu saja. Jadi, aku menjahilimu.”
Sorot mata Mika berubah. Dia yang masih kesal itu pun hanya bisa menghela nafas panjang. Secara tak sadar, pemuda ini bergumam, “Aku hanya memikirkan iris mataku yang berubah secara tiba-tiba.”
“Apa? Kupikir kau memakai softlens loh.”
“Hah?” Tentu saja Mika terkesiap, ia tak tahu kalau gumamannya tadi bisa didengar oleh Asa.
Terlebih pemuda ini tak mengerti maksud dari gadis yang ada di hadapannya. “Apa itu softlens?”
“Itu loh, lensa mata. Biasanya kan memang berwarna-warni. Aku juga tidak kaget melihat warna matamu yang beda karena kupikir kau memakai softlens.”
Kalau dipikir-pikir, Asa adalah salah satu orang yang ditemuinya paling awal di dunia aneh ini. Bisa jadi, gadis cantik dengan rambut yang diikat dua itu menyadari kalau warna matanya berubah sehingga ia berkomentar seperti tadi.
Dengan mimik serius, Mika bertanya, “Tunggu, memangnya saat itu warna mataku apa?”
“Kalau yang kau maksud saat kita bertemu di stasiun pertama kali sih, warna matamu biru kan?”
Kedua mata Mika langsung melebar. Ini dia. Ini dia jawaban atas pertanyaannya tadi. Kalau waktu pertama kali pergi ke stasiun menuju Jakarta dulu warna matanya masih biru, lantas sejak kapan mata ini berubah menjadi hitam?