Chapter 64 - Tidak Beres

1525 Kata
Gemercik suara kran terus terdengar di kamar mandi ini. Di depan cermin besar yang ada di wastafel toilet itu, Mika menatap pantulan dirinya sendiri dengan mata serius. Alisnya menukik tajam. “Ini ... membuatku bingung.” Perkataan Bu Siti di ruang kepala sekolah tadi tak kunjung hilang dari pikirannya. Hati dan otak pemuda ini berkecamuk. Dia bingung dengan segala hal yang terjadi, terutama masalah anak wanita tersebut. Saat menatap wajahnya sendiri di cermin, pemuda itu baru menyadari suatu hal. Warna matanya berubah. Sialan, selama berbulan-bulan hidup di dunia aneh ini, kenapa ia baru sadar? Warna mata Mika yang normal adalah biru gelap. Di sini, ia sadar kalau iris matanya sudah berwarna hitam. Sejak kapan mata ini berubah? Mika sama sekali tak menyadarinya. Ia terlalu disibukkan oleh banyak hal. Pertanda apa lagi ini? Biasanya saat kedua mata Mika berganti warna seperti itu, dirinya selalu dikuasai oleh sihir hitam. Ia memang lebih sering menggunakan kekuatan sihir terlarang itu akhir-akhir ini, tapi dirinya tak mengira jika hal ini akan terjadi. Mika berpikir bahwa selama ini sihir hitam itu tak memberikan efek apa pun, namun dugaannya salah. Warna matanya telah berubah tanpa ia sadari. Ini merupakan tanda dan peringatan kalau ia tak memiliki energi sihir putih lagi. Bagaimana pun, sihir murni berwarna putih itu memang tak bisa digunakan di dunia ini. Jadi, ada kemungkinan kalau kekuatan asli itu menguap begitu saja dari tubuh Mika. Semua sihir yang kini berada di tubuhnya pasti hanya tersisa energi hitam. Pemuda itu pun mengerutkan wajah. Ia mengacak rambutnya frustrasi. “Ini semakin memuakkan. Kenapa situasi yang kuhadapi seakan tak bisa membuatku istirahat sebentar saja?” Kalau boleh jujur, dia sangat capek. Masalah datang silih berganti. Padahal beberapa saat yang lalu, dirinya merasa bebas dari beban untuk menyelamatkan negara ini dari perang. Pak Udin telah mengambil alih tanggung jawab itu dan bebannya pun hilang. Namun takdir seakan berkata lain, saat ini ia justru dihadapi oleh teka-teki yang memusingkan. Mika baru sadar akan perubahan warna iris matanya. Di lain sisi, pikiran pemuda ini juga dikacaukan oleh perkataan Bu Siti soal putranya yang memiliki kemiripan wajah dengan dirinya. “... hanya saja iris matanya berubah menjadi biru saat menggunakan kekuatan itu tanpa sadar....” Saat itu, detak jantung Mika seakan berhenti. Ia memelototkan mata tajam dengan wajahnya yang kosong. Perkataan Bu Siti beberapa saat lalu soal perbedaan iris mata membuat pemuda ini menyadari suatu hal. Jika Mika memiliki warna mata biru yang berubah menjadi hitam ketika menggunakan kekuatan sihir ini, hal yang sebaliknya justru terjadi pada putra Bu Siti. Pemuda yang tewas 11 tahun yang lalu itu justru mengalami perubahan warna iris dari hitam menjadi biru. “I-ini pasti bukan kebetulan semata! Pasti ada hal yang salah di sini.” Nafas Mika langsung pendek-pendek. Memikirkan semua hal ini membuat otaknya buntu. Tubuh pemuda ini menegang. Ia memegang tepi wastafel yang ada di kamar mandi ini dengan erat, seakan ingin meremas dan menghancurkannya. “Woi, Bro Mika!” Suara teriakan yang tiba-tiba terdengar dari arah luar kamar mandi itu membuat pemuda ini tersentak. Dia melirik ke arah kanan dan menemukan trio sableng yang merupakan teman sekamarnya sudah berada di teras. Mereka berjalan masuk ke dalam dan mendekatinya. Pada dasarnya, kamar mandi siswa ini sangatlah luas. Ketika kau masuk ke dalam, dirimu akan menjumpai wastafel besar dengan kaca lebar yang ada di atasnya. Di depan wastafel itulah, terdapat sekitar tujuh bilik toilet tertutup yang bisa digunakan siapa saja saat buang air. Mika berusaha sebisa mungkin untuk tak menunjukkan emosi kebingungannya tadi. Ia menarik nafas dalam-dalam lalu memandang ketiga temannya yang kini menatap pemuda itu. “Wow, aku tidak mengira kalau kau ada di sini. Apakah kau sudah dibolehkan pulang?” Dimas langsung menanyakan hal tadi. Dia memandang Mika dengan tatapan khawatir. Bagaimana pun, tanpa anak baru yang merupakan cucu kepala sekolah itu, Dimas pasti tak bisa kembali ke sekolah sampai sekarang. Ia bersyukur melihat Mika ada di sini dan dalam kondisi yang baik-baik saja. Senyum miring pun langsung tersungging di wajah Mika. “Ya, hari ini aku pulang. Namun Bu Si— maksudku kepala sekolah menjemputku lalu membawaku ke sekolah dulu.” Berbeda dengan Dimas yang berekspresi cemas, Budi justru menunjukkan raut wajah selidik. Ia sempat melihat kondisi Mika yang bernafas pendek-pendek tadi. Pemuda yang menjadi langganan juara olimpiade itu menyadari kalau ada hal yang tak beres dari Mika. “Kau yakin baik-baik saja? Aku tadi—“ “Hei, hei! Kalian bertiga kalau mengobrol di luar saja! Jangan seperti anak cewek yang hobi bergosip dalam toilet! Aku akan menyusul setelah menyelesaikan urusanku!” ujar Jojo dengan begitu kesal. Baik Dimas, Udin, maupun Mika yang menyadari tindakan ngerumpi mereka tadi pun langsung berjalan keluar. Ketiganya meninggalkan Jojo yang berlari menuju bilik toilet. Saat berada di luar, Mika baru sadar kalau sudah banyak siswa yang keluar dari kelas mereka. Sepertinya jam istirahat sudah dimulai. Berbeda dengan hari biasa, seluruh murid hari ini mengenakan kalung yang berisikan kartu identitas mereka. Apakah itu properti untuk ujian apalah itu namanya? “Hari ini kau tidak ikut UTS ya?” tanya Dimas secara spontan. Mendengar itu, Mika langsung melirik ke arah pemuda yang ada di sebelah kirinya itu. Bagaimana enaknya ia harus menjelaskan ini ya? Sejak awal kan Mika memang tak mau ikut UTS atau apalah itu. Pangeran itu cukup sadar diri jika ia bodoh dalam mata pelajaran di dunia ini. “I-itu ... begini, aku memang tidak ikut UTS. Kau tahu aku kan baru sakit jadi dibebaskan. Lagi pula tujuanku ke sekolah hari ini kan hanya ikut nenekku. Coba lihat, aku tidak memakai seragam sekolah. Jadi mana mungkin ikut UTS kan? Ahahaha.” Mika yang mengatakan hal tadi dengan wajah cengengesan pun membuat Budi menyipitkan mata. Ia yang sejak tadi bersender di dinding yang berada di belakangnya tampak memandang pemuda itu dengan curiga. “Kau yakin? Bukan karena kau cucu kepala sekolah jadi kau dibebaskan untuk tidak ikut?” “Hah?!” Wajah Mika langsung kesal. Ia menoleh ke arah Budi dengan pandangan mata apa-apaan. Ada rasa tidak terima yang terlihat begitu jelas dari pemuda itu. “ Kau ini bilang apa sih, Budi?” Budi menghela nafas. Sebagai orang yang selalu jadi juara umum di sekolah ini, ia cukup peka. Dilihat dari sisi mana pun, Mika memang aneh. Dia kelihatan canggung sekali saat berhadapan dengan mereka sekarang. Apalagi, tadi Budi juga melihat Mika membuat ekspresi aneh di depan wastafel. Sambil menghela nafas, pemuda berkacamata itu berujar, “Ya sudah lupakan saja.” Suasana hening pun terjadi setelah itu. Baik Mika, Dimas, maupun Budi tak ada yang buka suara lagi. Mereka menyadari kalau ketiganya sedikit canggung untuk mengobrol. Topik pembicaraan yang semula muncul di pikiran mereka pun seakan menguap begitu saja. Mika sendiri adalah pihak yang dirugikan di sini. Ia sama sekali tak mengira akan bertemu dengan trio sableng ini saat di kamar mandi. Padahal saat di rumah sakit dulu, mereka tak canggung sama sekali. Akan tetapi, kenapa suasana canggung ini menyiksa batin Mika? Apa karena hanya ada Budi dan Dimas di sini makanya ia jadi canggung? Pada akhirnya pemuda berambut hitam acak-acakan itu menghela nafas tanpa suara. Kenapa pula ia harus memikirkan hal itu? Lagi pula, sepertinya dia sudah tak ada kepentingan lagi di Jakarta setelah ini. Masalah perang itu kan sudah menjadi tanggung jawab Udin. Jadi, dia tak perlu sekolah di sini lagi. Selain itu, artefak penting yang digunakan untuk membuat alat teleportasi pun sudah ada di tangan Putri. Akan lebih baik jika ia kembali ke desa dan membantu kakak gadungannya itu untuk menyelesaikan alat teleportasi tadi agar Mika bisa cepat pulang. Saat ketiganya saling terdiam, suara bel yang berdering keras mencuri perhatian mereka. Baik Mika, Dimas, maupun Budi langsung saling pandang. Itu adalah bel masuk. Jam istirahatnya sudah habis. Mika yang berekspresi paling ceria di antara mereka pun langsung tersenyum kegirangan. Akhirnya ia jadi punya alasan untuk menghindari dua orang ini. Pemuda itu pun menoleh ke arah Budi dan Dimas secara bergantian. “Bel masuk sudah bunyi. Kalian harus segera kembali ke kelas dan mengerjakan ujian! Aku harus pergi menemui nenekku di ruangannya, jadi aku pergi dulu! Yang semangat ujiannya ya, sampai jumpa!” “A-apa? Tunggu dulu!” “Woi, Mika! Tunggu!” Pada akhirnya teriakan Budi dan Ahmad tadi sia-sia saja. Pemuda yang mengenakan hem coklat itu menghilang begitu saja dari hadapan mereka. Kesannya seperti anak itu sedang berusaha menghindari mereka. Dimas dan Budi pun langsung saling pandang. Mereka seakan mengerti apa arti dari pandangan masing-masing. Dengan serempak, dua orang pemuda tadi menganggukkan kepala. Mereka sepakat jika ada hal yang tak beres di sini. Budi pun menghela nafas panjang. “Yah, kita harus kembali ke kelas dulu deh. Nanti hal ini bisa dibicarakan setelah UTS.” “Oke, ayo pergi,” sahut Budi yang langsung dibalas anggukan. Kedua pemuda itu pun melangkah pergi dari toilet. Namun setelah menjangkahkan kaki beberapa langkah, Dimas menoleh ke arah Budi. Dia memasang wajah ragu. “Aku merasa kita melupakan sesuatu deh.” Bola mata Budi berputar. Ia menatap Dimas dengan jengah. “Kalau kau melupakan sesuatu, itu berarti hal yang tak penting. Ayo cepat kembali. Mata pelajaran selanjutnya PPKN. Pengawasnya galak abis.” “Oke deh.” Dan dua orang tadi pun meninggalkan Jojo yang masih ada di toilet karena perutnya mulas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN