“Kau menjadi terkenal ya akhir-akhir ini?”
Pertanyaan yang tiba-tiba keluar dari mulut Bu Siti ketika Mika hendak duduk di sofa ruang kerjanya itu membuat pemuda ini mengernyit heran. “Maksudmu?”
“Aku tahu kalau sejak awal kau ini memang terkenal di kalangan anak muda. Kelas 3 menjadi heboh saat melihat dirimu bersekolah di sini. Di koridor tadi pun sama, anak-anak kelas 1 memandangmu seperti publik figur saja.”
Wanita dengan rambut yang digelung ke belakang itu tampak duduk dan membuka laptopnya. Dia menggulung kemeja batik berwarna coklat yang dikenakannya agar lebih leluasa.
“Aku sama sekali tak tahu kalau kau akan mengerti soal hal itu juga. Aku saja tak tahu kenapa aku bisa terkenal di kalangan remaja. Rasanya aneh dan risih tahu!” sahut Mika tak terima. Nyatanya, ia memang agak risih.
“Aku juga tak mengerti soal ini awalnya,” balas Bu Siti tanpa memandang Mika. “Ada beberapa guru yang bilang, jadi aku penasaran dan meminta penjelasan soal dirimu.”
Suasana menjadi hening sekarang. Hanya suara ketikan larap Bu Siti yang terdengar di ruangan ini. Mika terus memperhatikan gerak-gerik nenek palsunya itu. Sejak awal, ia memang tak terlalu dekat dengannya. Namun entah kenapa, pemuda ini merasa kalau Bu Situ terlihat sangat peduli dengannya meskipun kadang juga agak cuek.
“Boleh aku tanya sesuatu?” Mika berbicara dengan ekspresi yang tak bisa diartikan.
“Tanya saja.”
“Kenapa kau terlihat peduli padaku? Bahkan, kau juga terlihat dekat dengan Kak Putri. Hubungan kepala sekolah-murid pasti tak akan sedekat itu tanpa suatu alasan. Apa yang sebenarnya menjadi motifmu?”
Saat bertanya demikian, Mika terbayang dengan kejadian-kejadian di mana Bu Siti selalu melarangnya ikut dalam kegiatan berbahaya, termasuk misi yang direncanakan Udin kemarin. Meskipun terlihat cuek, tapi ia juga memperhatikan Mika yang stres. Dirinya bahkan memaksa anak itu untuk pergi jalan-jalan bersama Asa di hari Minggu kemarin.
Tak hanya itu, pemuda ini masih ingat betul bagaimana ia dipeluk oleh Bu Siti saat misinya untuk membawa kabur Dimas kemarin sukses. Bagaimana menjelaskannya ya? Yang pasti, Mika merasa aneh dengan kasih sayang ini. Mereka kan hanya orang asing. Sebatas itu saja.
Tangan Bu Siti yang sedari tadi mengetik lewat laptopnya langsung terhenti. Wajahnya menampilkan ekspresi yang kosong. Dia seolah mengingat suatu kenangan yang tidak diketahui oleh Mika.
“Motif ya katamu?” Kepala Sekolah itu seolah mempertanyakan maksud dari Mika. “Aku tak memiliki motif apa pun. Kenyataannya seperti itu.”
“Kau tahu? Rasanya aneh. Kita kan bukan keluarga, tapi setiap aku terlibat dalam bahaya, dirimu selalu cemas dan mengkhawatirkanku,” ungkap Mika terus terang. Ia memandang lurus ke arah Bu Siti yang tampak melamun di meja kerjanya.
Melihat tak ada respons darinya, Mika pun menghela nafas panjang. Sepertinya ia telah salah menanyakan hal ini pada Bu Siti. Padahal wanita itu selalu bersikap baik padanya. Dia jadi merasa keterlaluan.
“Maaf telah menanyakan hal aneh padamu, aku—“
“Kau benar, kalau dipikir-pikir lagi sepertinya aku punya motif.”
“A-apa?” Setetes keringat mengucur di dahi Mika. Pemuda ini bingung dengan ucapan spontan tadi.
“Aku punya motif tertentu melakukan ini. Saat melihatmu, aku jadi teringat dengan anak laki-lakiku. Aku peduli padamu semata hanya karena kau sangat mirip dengannya. Bagaimana pun, wajah kalian terlihat sama.”
Bu Siti yang sedari tadi melamun tampak memandang lurus ke arah Mika. Karena situasi yang canggung ini, pemuda itu jadi bingung harus merespons bagaimana. Apakah Kepala Sekolah sedang bercanda? Rasanya aneh sekali mendengar fakta tak masuk akal tadi.
Bagaimana pun, ia kan dari dunia lain. Tak mungkin ada yang mirip dengannya di dunia ini.
“Putraku tewas 11 tahun yang lalu, tepat di usianya yang ke-17 tahun. Dia seusia denganmu saat kecelakaan itu terjadi.”
“Hah?”
Mika menatap heran ke arah Bu Siti. Entah kenapa, perasannya jadi aneh ketika membicarakan orang yang telah tiada. Pemuda yang memakai hem kotak-kota itu bisa melihat jika Bu Siti saat ini tengah sibuk mencari sesuatu di laci mejanya.
“Kalau masalah aku dan Putri, sebenarnya kami punya hubungan yang cukup rumit,” sambungnya tanpa menatap ke arah Mika.
Ini menjadi semakin kompleks saja. Mika benar-benar tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Ia ingin tahu kenapa Bu Siti yang notabenenya adalah kepala sekolah dari salah satu sekolah elite di Jakarta tampak peduli dengan Putri. Padahal wanita itu telah lulus dari sini setelah sekian lama.
Rasanya aneh kalau memikirkan Bu Siti yang cuek ini bisa peduli dan dekat dengan seorang murid, apalagi Putri. Mika sangat yakin jika ada suatu alasan tertentu.
“Boleh kutahu apa maksudmu?”
“Aku adalah ibu tirinya, namun dia belum tahu mengetahui hal ini sampai sekarang.”
Saat itu, Mika yang kaget langsung berdiri seraya menggebrak meja. Ia memandang tak percaya ke arah neneknya ini. Kok bisa? Kok bisa Putri tidak tahu kalau Bu Siti adalah ibu tirinya?
Mendengar gebrakan tadi, Bu Siti langsung geleng-geleng kepala. Ia mengabaikan reaksi anak itu dan berusaha mencari benda yang ingin ditemukannya tadi. Saat benda itu sudah berada di tangan, wanita lanjut usia ini berjalan menuju ke arah Mika.
“Kau tampak kaget sekali ya?”
“Tentu saja! Maksudku, selama ini Kak Putri bilang kalau dia yatim piatu. Dirinya adalah mantan anak orang kaya dan terpaksa meninggalkan rumahnya setelah ayah dan ibunya tewas. Kalau kau mengatakan hal ini padanya, dia pasti akan bahagia kan? Kenapa dirahasiakan?”
“Itu tak pernah terjadi.” Dengan tegas, Kepala Sekolah itu langsung menolak saran Mika.
“A-apa?”
Bukannya menjawab pertanyaan Mika yang terlihat kebingungan, Bu Siti malah menyerahkan secarik kertas padanya. Mika merasa tak habis pikir, namun ia tetap menerimanya.
Saat melihat apa yang ada di kertas itu, kedua mata pemuda ini langsung melebar tak percaya. Badannya menegang karenaa rasa kaget. Mika pun tak bisa mengeluarkan sepatah kata. Suaranya seolah tercekat.
Sebenarnya benda apa ini?
“Itu adalah foto anak yang kumaksudkan tadi. Dia tewas di usianya yang 17 tahun dulu.”
Sialan, Mika benar-benar masih tak percaya. Anak berusia 17 tahun yang ada di foto ini memang sangat mirip dengannya. Mulai dari rahang, hidung, kelopak mata, hingga bentuk bibir pun menyemai Mika.
Meskipun ia tak langsung mengungkapkannya, Mika terlihat bergidik ngeri melihat kebetulan ini. Ia merinding. Bagaimana pun, foto yang ada di tangannya ini memang mirip dengannya, tidak, mungkin kata yang lebih tepat adalah foto ini sudah seperti dirinya. Seolah-olah Mika yang difoto, bukan anak Bu Siti.
“B-bagaimana mungkin?”
Melihat reaksi Mika yang terkejut, Bu Siti pun tersenyum sayu. “Anakku bernama Jonathan Mikael. Bisakah dirimu menebak kebetulan macam apa ini? Namamu dan dia hampir sama, wajah kalian pun sangat mirip. Rasanya aku jadi bernostalgia.”
“I-ini tak mungkin. Pasti cuma kebetulan!” elak Mika dengan keras kepala. Ia tak mau menerima fakta-fakta tak masuk akal ini.
“Bahkan sejak pertama kali melihatmu, aku langsung teringat anakku. Aku seolah mendoktrin diriku sendiri untuk selalu melindungimu. Kalau melihatmu terluka, aku jadi mengingat bagaimana kondisi anakku yang menderita hari itu. Jadi, aku tak ingin melakukan kesalahan yang sama!”
Mika terperangah. Ia menatap Bu Siti dengan mata takjub. Bagaimana pun, perhatian dan rasa peduli yang dilimpahkan olehnya selama ini tidak dibuat-buat. Ia sudah berprasangka yang buruk dengannya.
“Apa ini ... adik tiri Putri?” Mika mencoba untuk menanyakan hal yang mengganjal di hatinya.
“Bukan, ia justru kakak tirinya. Anakku meninggal sebelum Putri lahir. Bagaimana pun, dia tewas karena kelalaianku. Suamiku marah dan menceraikanku. Dia menikah lagi dan Putri terlahir dari istri barunya.”
Saat Bu Siti mengatakan hal tadi, kedua mata Mika langsung melebar. Tanpa sadar, ia mengucapkan, “Ibu ...?”
Bu Siti langsung memiringkan kepala saat mendengar gumaman Mika yang tak jelas itu. “Kau mengatakan sesuatu?”
“Ah, tidak. Bukan apa-apa! Kau pasti salah dengar!” ujar Mika sambil tersenyum kikuk. Ia tampak gugup ketika menyadari apa yang telah dikatakannya tadi. Mika pun refleks mengibas-kibaskan tangan.
Bagaimana pun, kisah Bu Siti tadi membuat Mika terbayang dengan nasib ibu tirinya alias Permaisuri Ratu. Mereka sama-sama ditinggalkan oleh suaminya, seorang pria yang telah menemukan hati baru. Tampaknya Bu Siti diceraikan setelah sang suami menemukan tambatan hatinya yang tak lain adalah ibu Putri.
“Kau tahu kalau Putri juga memiliki kemampuan spesial kan? Aku tidak tahu pasti, tapi katanya kemampuan unik itu turun temurun diwariskan.”
Suara dengan nada berat itu terucap dari mulut Kepala Sekolah. Seketika atmosfer berubah menjadi lebih berat. Mika yang kini berhadapan langsung dengan wanita itu pun hanya diam dan menunggu ia melanjutkan perkataannya.
“Aku bertemu Putri secara tak sengaja di sekolah ini ketika aku menjabat sebagai kepala sekolah. Dia berbeda. Anak itu menunjukkan kekuatannya dan aku langsung menyadari jika dia adalah anak lain dari suamiku. Kenapa aku bisa yakin? Karena pada dasarnya, anakku yang telah meninggal juga memiliki kekuatan yang sama.”
Mika mulai bisa menghubungkan titik-titik petunjuk ini menjadi suatu garis lurus. Dia kembali memandang foto seorang pemuda berumur 17 tahun yang sangat mirip dengannya ini.
Saat itu, Bu Siti menatap dengan mata serius ke arah Mika. “Yang menjadi pembeda di sini adalah Putri memiliki kekuatan penyembuhan meskipun lemah dan anakku memiliki sesuatu yang disebut sihir hitam. Dia tewas karena kekuatannya sendiri.”
Tak ada yang bersuara. Hanya bunyi detik jam yang mengisi keheningan ruang kerja tersebut. Pikiran Mika terlalu berkecamuk untuk mengucapkan sepatah kata. Sialan, fakta apa lagi ini?
“Kau tahu? Kalau sejak awal aku tahu suamiku memiliki garis keturunan aneh itu, mungkin aku tak akan menikah dengannya. Anakku menjadi korban. Sejak kecil, dia menjadi sakit-sakitan karena digerogoti kekuatan aneh itu. Dia mulai mengenal teman ketika masuk SD dan kesehatannya membaik.”
Mika terus mendengarkan dan menatap horor ke arah Bu Siti yang menceritakan kisah masa lalu putranya.
“Kupikir, tak ada lagi masalah. Namun ketika anakku menginjak pendidikan SMP, dia salah pergaulan. Dirinya menjadi liar. Teman-temannya sering mengajak bertarung dan berkelahi, seperti tawuran. Emosinya pun tak stabil. Saat kelas 2 SMP, mimpi buruk itu muncul. Anakku lepas kendali dan kekuatan mengerikan itu muncul dari dalam dirinya.”
Mika semakin tegang. Keringat membasahi tubuhnya. Ia takut dan panik di saat yang bersamaan. Kemiripan kisah antara dirinya dan anak Bu Siti di zaman dahulu sangat ambigu. Seolah, itu merupakan petunjuk mengapa dirinya bisa ada di dunia ini.
“Dia menjadi orang berbeda. Saat kubawa ke psikolog, dokter mengatakan jika anakku terkena gangguan DID. Sangat tidak masuk akal, padahal dia masih orang yang sama. Hanya saja iris matanya berubah menjadi biru saat menggunakan kekuatan itu tanpa sadar. Dan pada akhirnya, dia tewas karena memforsir tubuhnya untuk meluapkan kekesalan menggunakan kekuatan itu.”
“Memforsir katamu?”
Bu Siti mengangguk. “Ya. Bagaimana pun, suamiku sudah berselingkuh sejak anakku masih SMP. Saat dia tahu ayahnya main belakang, dirinya sangat marah. Puncaknya saat di tahun akhir SMA, dia benar-benar kesal dan akhirnya ingin memukul sang ayah. Namun kecelakaan justru terjadi. Dia tak bisa mengendalikan kekuatannya dan berakhir tewas.”
“Aku ... turut berduka cita,” ujar Mika dengan ekspresinya yang masih syok.
Wanita tua ini justru mendengus ketika ia mendengar perkataannya. “Santai saja. Dulu Dokter memvonisnya tewas karena serangan jantung mendadak, tapi aku sangat yakin jika ini lebih kompleks dari itu. Anakku meluapkan emosi penuhnya dan boom, semua berakhir.”
Mika mematung. Ada kemungkinan, sihir hitam yang dimaksudkan oleh Bu Siti tadi adalah wahyu dari kekuatan raja pertama Kerajaan Mimika. Entah kenapa, pemuda ini jadi berprasangka kalau dia dan anak itu punya hubungan.
Apa mungkin Mika terdampar di dunia ini karena disebabkan oleh anak Bu Siti yang telah tewas beberapa tahun lalu? Teka-teki macam apa ini? Sebenarnya, siapa dia? Apakah dia benar-benar berhubungan dengannya?