Chapter 62 - Tidak Paham

1743 Kata
Pemuda bertubuh jangkung yang kini memakai kemeja kotak-kotak berwarna coklat itu tampak merenggangkan tangan tinggi-tinggi ke atas. Ia juga melemaskan lehernya ke kanan dan ke kiri. Sambil mengusap tengkuk, ia berkata, “Tidak tahu kenapa. Setelah berbicara dengan Pak Udin malam itu, rasanya beban di pundakku terasa ringan.” Senyum lebar pun terukir di wajahnya. Mata pemuda yang berwarna hitam itu terlihat begitu cerah. Beberapa orang yang lewat di sekitarnya langsung menyapa. Laki-laki bersurai hitam itu tampak membalas dengan ramah. Kenyataannya, orang yang mengaku kalau dirinya gagap teknologi itu mulai sadar jika ia populer di kalangan remaja masa kini. Entah bagaimana caranya, setiap orang selalu menyapa dan meminta foto bersamanya sejak dulu. Jojo pernah bilang jika fenomena ini terjadi karena ia adalah selebgram atau apalah itu. Bagaimana pun, memikirkan semua yang terjadi ini sangatlah merepotkan. Dia menarik nafas panjang-panjang. Sambil memperhatikan semburat cahaya matahari dari arah timur, pemuda itu tersenyum simpul. “Entah kenapa, hari ini rasanya indah sekali ya?” Sosok yang dikenal sebagai Mika Jonathan itu mulai bermonolog sendiri. Matahari yang masih belum tampak memberi pertanda bahwa ini belum menginjak pukul enam pagi. Meskipun begitu, penampilannya sekarang bisa dikatakan sangat rapi. Mika sudah bersiap sejak beberapa jam yang lalu. Pasalnya, setelah genap 15 hari dirawat di rumah sakit, ia diperbolehkan untuk pulang hari ini. Mana mungkin pemuda itu bisa menyembunyikan rasa senangnya kan? Sejak pukul empat pagi tadi, kakak palsunya yang bernama Putri, berpamitan untuk membeli beberapa barang dan menghubungi Ahmad agar bisa menjemput mereka sekarang juga. Namun entah kenapa, Putri tak kunjung kembali. Sebenarnya Mika agak cemas. Kakak palsunya itu pergi ke mana? Di lorong rumah sakit ini, pemuda itu terus menunggu Putri dengan suasana hati yang campur aduk. Saking bingungnya, Mika yang bengong di tempat ini pun terus mondar-mandir tak tentu arah. Pemuda itu tak henti menatap ujung koridor, di mana Putri bisa muncul kapan saja. Akan tetapi, ketika suara derap langkah kaki tiba-tiba terdengar jelas, Mika pun memasang wajah serius. Ia takut bila terjadi hal yang tak diinginkan. Suara langkah kaki kakaknya itu menggema di koridor utama rumah sakit yang masih terlihat lenggang ini. “Mika, aku punya kabar buruk!” “Hah? Apa yang terjadi?” Tentu saja anak ini kaget. “Ahmad tidak bisa menjemput kita berdua. Dia ada urusan di kantor desa pagi-pagi sekali. Katanya akan ada kunjungan penting dari Presiden ke desa kita. Jadi, dia sibuk dengan agenda yang tiba-tiba itu.” Mendengar penjelasan Putri yang seperti ini, Mika juga sama terkejutnya. Sudah 15 hari sejak kejadian itu, pemerintah pusat tampaknya ambil tindakan soal kerusakan dan kerugian yang ada di desanya itu. Bagaimana pun, tempat itu luluh lantah. Hanya puing saja yang tertinggal. Ada kemungkinan para warga diminta untuk relokasi. Wajah Putri menunjukkan ekspresi bimbang setelah mengatakan hal tadi. Mika yang bengong pun tanpa sadar melihat ekspresi wanita itu. Dahinya mengerut. Apa yang hendak kakaknya katakan tapi ia terlihat seragu itu? “Kak, ada apa? Katakanlah padaku.” Pada akhirnya, Putri menghela nafas panjang. “Aku bingung harus menjelaskan dari mana. Kalau Presiden benar-benar datang ke sana, aku juga harus kembali secepat mungkin, Mika.” “Apa?” Mika mengerjapkan mata dengan bingung. “Memangnya kau berencana pulang dengan apa?” “Rencana awal kan aku mengajakmu pulang naik mobil. Sekarang, Ahmad tak bisa menjemput. Kupikir kita bisa menggunakan kereta api. Namun karena ini disebabkan oleh kunjungan Presiden, maka aku harus secepat mungkin pergi. Aku ada rencana menyewa mobil dan pulang secepat mungkin.” Perkataan itu membuat pemuda berusia 17 tahun ini terkesiap. “Kau ingin mengendarai mobil sendiri? Apa kau serius?” “Itu adalah pilihan terbaik, Mika. Kalau naik mobil sendiri, aku bisa sat set sat set pulang lewat jalan pintas atau tol. Namun, masalahnya di sini adalah aku tak bisa mengajakmu. Kau habis mengalami kerusakan organ dalam, bagaimana mungkin aku mengajakmu ugal-ugalan dengan naik mobil cepat saat pulang?” Sialan, Mika benar-benar bingung harus merespons bagaimana. Di sisi lain, ia tak mau menjadi beban bagi Putri dan keluarganya. Mereka kan sudah bekerja dan terikat dengan aturan instansi, jadi ini kewajiban yang harus dilakukan lelah dua orang tadi sebagai abdi negara. Selama 15 hari ini, fakta yang Mika tahu adalah Putri mengambil cuti dari pekerjaannya sebagai dokter di puskesmas karena harus menunggu dirinya. Setiap hari, wanita bersurai pendek ini ada untuk merawat Mika. Jadi, mana mungkin pemuda ini membuat Putri kesulitan lagi setelah ia berusaha keras untuknya? Apakah seharusnya Mika biarkan saja Putri pulang sendiri? Namun, bagaimana dengan nasibnya? Apakah ia harus menunggu di rumah sakit ini selama beberapa hari dulu? Pada akhirnya, Mika pun menghembuskan nafas berat. “Aku tak bisa menahanmu, tapi kalau dirimu pulang sekarang lantas aku bagaimana? Apakah aku akan menunggu di rumah sakit ini?” Putri yang ditanyai seperti tadi pun berpikir keras. Ia juga sama-sama mencari jalan keluar untuk masalah ini. Secara tiba-tiba, nama Bu Siti Laila muncul dalam pikirannya. Wanita bersurai pendek ini pun tersenyum lebar. “Benar juga. Kenapa aku tak memikirkan hal ini sebelumnya? Aku bisa meminta bantuan Bu Siti!” “Hah?” Mika mengedipkan mata tak paham. “Ibu kepala sekolah? Bantuan apa yang kakak inginkan dirinya?” Saat itu, Mika sama sekali tak mengira jika akan terjadi hal seperti ini. Pemuda yang sudah duduk kaku di dalam mobil berwarna putih ini hanya bisa tersenyum masam. Di depannya, ada Bu Siti bersama dengan sang sopir. Semuanya terasa begitu tiba-tiba. Padahal Mika tadi masih ada di rumah sakit bersama Putri, sekarang dia sudah berada di sini. “Bagaimana kondisimu selama 15 hari ini? Maaf karena tak bisa menjengukmu lagi setelah hari itu.” Mika yang kaget dengan pertanyaan tiba-tiba itu langsung menyadari kalau Bu Siti sejak tadi memperhatikannya lewat kaca spion dalam mobil. Dia yang dipandang pun langsung balas tersenyum. “Ah, santai saja. Seperti yang kau lihat, aku sudah baik kok.” “Begitu ya.” Keadaan pun menjadi hening sekali. Mika sangat canggung astaga. Meskipun ia kadang bebas mengobrol dengan wanita lanjut usia itu, tapi entah kenapa sekarang seperti ada pembatas di antara mereka. Adanya sopir di dalam mobil ini juga membuat keduanya tak leluasa membicarakan masalah krusial. Dengan bosan, pemuda itu pun menoleh ke arah jendela. Dia melihat pemandangan sekitar. Entah kenapa, tempat ini terasa familier baginya. Saat menyadari kalau ini adalah jalan menuju asrama, Mika langsung menoleh ke arah nenek palsunya itu dengan kaget. “Bu Siti, apa ini tak salah? Kau akan membawaku ke sekolah?!” “Ya, itu jawaban pasti kan? Kenapa kau bertanya seperti itu? Hari ini kan hari Senin. Jadi aku harus bekerja. Kau hanya tinggal menunggu di ruanganku sampai keluargamu datang,” jawab Kepala Sekolah itu dengan santai. Mobil putih ini pun memasuki area sekolah dengan perlahan. Karena sekolah ini tipe asrama, jadi tak ada murid yang berdesakan di depan gerbang. Akan tetapi, Mika tetap merasa aneh. Setelah sekian lama ia bolos, kini dirinya kembali ke tempat menyebalkan ini. Terlebih, ada satu hal yang menjadi alasan kuatnya untuk tak datang ke sekolah hari ini. Mika yang dijawab seperti itu oleh sang nenek pun langsung menunjukkan ekspresi yang campur aduk. “Aku tahu kalau hari ini adalah hari kerja, tapi ... tapi ....” “Tapi apa Mika? Bicaralah yang jelas!” desak Bu Siti. Ia tetap berada di dalam mobil mendengarkan ucapan Mika meskipun kendaraan berwarna putih ini sudah terparkir rapi. Mika sendiri bingung harus mengatakan seperti apa. Ia bimbang saat meramu pemilihan kata yang tepat. “Alasan kenapa aku tidak mau dibawa ke sini karena hari ini ada UTS! Masa Bu Siti lupa sih?” Akhirnya pemuda itu mengatakan hal tersebut. Ujian yang bernama UTS itu menjadi momok menakutkan bagi Mika. Pasalnya, pemuda ini tak bisa apa-apa selain bahasa. Ia tak paham kimia, sejarah, fisika, atau pun yang lainnya. Butuh waktu bertahun-tahun untuk mempelajari hal itu dari dasar sementara Mika yang merupakan manusia zaman dahulu ini dipaksa melakukan ujian materi itu tanpa tahu apa pun. Rasanya sangat menakutkan kalau ada seorang guru yang memaksanya mengerjakan UTS sekarang. Namun bukan seperti reaksi yang ia bayangkan, Bu Siti justru tergelak penuh tawa. Ia tak mengira kalau alasan Mika menolak untuk datang ke sini dikarenakan dia takut dengan ujian. Saking tak habis pikirnya, wanita itu geleng-geleng tak percaya. “Dasar, kau ini. Untuk apa mencemaskan hal itu? Sudahlah. Aku tidak memaksamu ikut ujian kok. Ayo keluar dan ikuti aku ke ruangan.” Meskipun bisa bernafas lega saat mendengar pernyataan Bu Siti yang seperti ini, namun ekspresi keraguan masih terpampang nyata di wajah pemuda itu. Dia berjalan keluar dari mobil dan menuruti perintah neneknya tadi. Ketika Mika mulai menginjakkan kaki di area sekolah, suara-suara bising dari para siswa yang mengobrol sebelum jam masuk itu bisa didengar olehnya. Pemuda yang masih berjalan di belakang kepala sekolah itu tampak menoleh ke kanan dan ke kiri. Saat itu, Mika langsung mencuri perhatian dari anak-anak yang ada di koridor utama. Para siswa yang didominasi anak kelas 1 itu menatap Mika dengan takjub, seolah mereka memandang suatu hal legenda yang tak pernah ada. Bagaimana pun, anak kelas 1 di sini kebanyakan belum tahu kalau Mika Jonathan yang lebih dikenal sebagai Mas PK di dunia maya itu benar-benar sekolah di sini. Mereka menganggap berita itu sebagai rumor yang dibuat-buat oleh anak kelas 3. Akan tetapi, saat melihat wujud Mika yang asli di tempat ini bersama Kepala Sekolah, rasanya rumor itu memang benar. “Astaga, aku tak mengira kalau orang aslinya sekeren ini.” “Kau benar, foto-foto yang bereda di dunia maya itu tak sebanding. Dia lebih keren 1 juta kali lipat!” Mika dan Kepala Sekolah berjalan melewati anak-anak yang sedang bergosip tadi. Mustahil bagi keduanya untuk tak mendengar perbincangan aneh itu. Tampaknya, siswi-siswi tadi juga langsung malu dan menutup mulut mereka ketika Mika lewat. Saat berada tepat di depan gerombolan itu, Mika menoleh sebentar ke arah mereka. Pemuda yang memaksa kaos hitam dan kemeja coklat-coklat kotak ini mengukirkan senyum tipis. Dia mengangguk sebagai tanda menyapa dan berlalu begitu saja. “ASTAGA ORANG ITU SANGAT KEREN!” “AAAA!” Sialan, reaksinya sungguh tak terduga. Meskipun Mika menunjukkan raut tak peduli di luar, namun hatinya terus menjerit sejak tadi. Ia merasa malu mendengar ucapan mereka. Kalau ini bukan di tempat umum, ia pasti sudah memerah karena malu dipuji seperti itu. Astaga, kenapa reaksi mereka berlebihan begitu padahal hanya disapa? Apa sesuatu telah meledak di belakangnya tanpa ia sadari? Masa iya Mika punya sokongan penggemar sebanyak ini? Seakan-akan, ke mana pun ia pergi, setiap orang akan langsung mengenalinya dan memujinya setinggi langit karena suka. Dunia ini sungguh aneh. Mika benar-benar tak paham.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN