“Kesehatanmu membaik?”
“Seperti yang kau lihat, aku ada di sini. Jadi tak perlu cemas.”
Angin malam yang berdesir tampak menerbangkan beberapa helai daun. Di tempat yang temaram ini, dua orang pria tambak bertemu secara rahasia. Mereka berhadapan dengan sorot mata yang tajam.
Seorang pria yang lebih tua, mengenakan hoodie dan kacamata hitam, tampak menyunggingkan senyum simpul tatkala pemuda berusia 17 tahun yang ada di depannya berkata seperti tadi. Untuk ke sekian kalinya, Udin dan Mika bertemu secara rahasia di tempat yang tidak diketahui oleh orang lain.
“Bagaimana caraku untuk memujimu? Dalam status pasien yang baru menjalani masa kritis, kau sudah berani menyelinap keluar dari rumah sakit. Anehnya, tanpa disadari oleh siapa pun.”
Senyum miring tersungging di wajah Mika. Pemuda yang memakai topi hitam itu menyombongkan diri. “Ini trik. Manusia lemah sepertimu tak akan paham.”
Udin mendengus. Ia dan Mika kini berada di teras bangunan yang tidak terawat. Mereka terdiam selama beberapa saat. Pria berumur kepala empat itu menoleh ke sana ke mari, memastikan kalau situasi di tempat ini cukup kondusif.
“Jadi, kau memanggilku malam-malam ke sini hanya untuk mengajak bengong bersama?” Ucapan pedas itu meluncur begitu saja dari mulut Mika.
“Ada hal penting yang ingin kukatakan padamu.”
Mika langsung menunjukkan rasa tertarik. “Mungkinkah ... hasil penyelidikanmu di agen Travel itu?”
Udin benar-benar tak bisa menyembunyikan senyum puasnya. Anak ini memang berbeda. Kemampuan, intuisi, dan kekuatan Mika memang berbeda dari manusia normal. Instingnya benar. Sejak awal, Mika adalah anak yang istimewa. Konyol seklai kalau mengingat ia dulu pernah berpikir anak ini gila atau semacamnya.
“Tepat sekali, aku menemukan hal menarik di sana.”
Mika sama-sama tak bisa menyembunyikan raut bahagia. Ia memandang ayah dari Asa ini dengan senyum lebar. Dilihat dari reaksi Udin tadi, sepertinya petugas intel yang hobi menyamar tersebut telah menemukan jalan keluar dari masalah mereka.
“Apa kau tahu? Aku telah menyusupkan 10 pegawai baru di sana yang notabenenya adalah bawahanku semua. Di lain sisi, aku juga masih menjalankan peranku sebagai klien dari agen itu.”
Mata Mika menyipit. Ia seolah bisa membayangkan apa yang terjadi pada Udin beberapa hari ini, meskipun ia tak bersama pria itu. Pasti ada suatu hal yang menarik. Hatinya menggebu-gebu karena rasa tak sabar untuk mendengarkan kisahnya.
“Sungguh petualangan yang sangat menarik. Biar kutebak, kau pasti menyamar sebagai pimpinan sebuah instansi saat datang ke sana kan? Hal ini kau lakukan dengan tujuan untuk membawa lebih banyak bawahan untuk menyelidiki travel itu. Sepuluh orang ditambah bawahanmu yang lain, agen travel itu pasti tak berkutik.”
Udin terkesiap. Ia menatap Mika dengan pandangan kaget selama beberapa saat sebelum mengacak-acak rambut pemuda ini. Astaga, dia sama sekali tak mengira kalau Mika akan mengetahui rencananya. Jalan pikiran anak ini memang luar biasa.
“Astaga, Mika.” Udin tertawa. “Andaikan kau adalah anakku, aku pasti akan membanggakanmu ke mana-mana.”
Mendengar itu, Mika langsung tersenyum bangga. Kalau ini dongeng, hidungnya sudah pasti memanjang ketika Udin memujinya seperti itu.
“Heh, ini mah gampang. Sekarang ceritakan padaku hal menariknya!” desak Mika sambil menyengir lebar.
Sejujurnya Mika tak mengerti. Setelah Asa yang menghabiskan hari bersamanya kemarin sore, kini malah ayah gadis itu yang mendesaknya untuk bertemu di luar ketika tengah malam. Kalau dipikir-pikir lucu sih. Ayah dan anak itu memiliki kebiasaan yang mencolok. Mereka sama-sama membuat Mika merasa nyaman.
Sejak awal, Udin memang senantiasa baik. Mika sadar penuh akan hal itu. Pertemuan pertama mereka adalah ketika pria yang pernah menjadi bos bakso itu menolongnya ketika pingsan di pusat kuliner yang ada di Jakarta Utara dulu.
Sejak itu, ada banyak hal yang Udin lakukan untuk Mika. Pria ini mengajarkan ini dan itu, pokoknya semua hal yang belum diajarkan oleh keluarga Putri. Ia juga memberi uang pada Mika setiap bulan. Hubungan yang awalnya lebih terasa seperti kakak-adik itu kini malah terlihat jelas sebagai ayah-anak.
Diam-diam, Mika mengukirkan senyum simpul ketika menatap Udin. Pria yang terlihat awet muda itu adalah salah satu orang yang berjasa dalam hidupnya di dunia baru ini. Ia pasti tak akan melakukan semua kebaikannya.
“Begini, hal yang paling menarik adalah fakta kalau agen travel itu tak bersalah.”
Seketika, senyum Mika luntur. Raut wajahnya berganti menjadi keterkejutan yang begitu nyata. “A-apa katamu?!”
“Ya, aku tak salah ngomong kok. Nyatanya, mereka juga sama-sama korban.”
Tentu saja, Mika langsung membantah. “Ini tak masuk akal! Travel itu adalah satu-satunya pihak yang terlibat langsung dalam kecelakaan kemarin. Secara logika, coba dipikirkan. Kenapa bisa dua orang perwakilan negara penting dari negara-negara yang bersitegang bisa berada dalam mobil yang sama? Tanpa pengawalan lagi! Kalau bukan aksi mereka, siapa lagi?”
Udin mendengarkan Mika dengan saksama, seolah mempersilakan pemuda ini untuk melampiaskan keheranannya. Ia bisa melihat kalau Mika memiliki banyak hal yang ingin diucapkan.
“Pada awalnya, kupikir travel itu memang sudah mencurigakan seperti dugaanmu hari itu! Salah satu dari dua negara tadi, pasti menyewanya lalu—“
“Tepat sekali.”
Mika terkesiap ketika Udin memotong perkataannya sembari mengatakan hal tadi. “Apa ... maksudmu?”
“Nyatanya, salah satu dari dua negara itu memang ada yang menyewanya. Bahkan jauh-jauh hari sejak kedatangan mereka, pihak negara ‘ini’ sudah memesan travel itu. Beginilah hasil dari penyelidikan yang kulakukan.”
Mika sama sekali tak mengerti. Ia memandang Udin dengan bingung setelah agen intel ini mengatakan hal seperti tadi. Kalau memang benar ada salah satu pihak negara yang menyewanya, lantas kenapa agen travel itu dikatakan tak bersalah? Padahal kedua belah pihak telah bekerja sama jauh-jauh hari.
Udin tersenyum samar ketika melihat wajah kebingungan Mika. Ia bisa memahami alasan kenapa anak ini bingung. Pria berumur 48 tahun itu terkikik pelan.
“Begini Mika, apa kau tahu dari mana agen travel yang aku selidiki ini berasal dari mana?”
Dahi Mika mengerut. “Apa maksudmu? Tentu saja dari Indonesia kan?”
“Tidak.” Saat itu Udin memperlebar seringainya sembari berkata, “agen ini berasal dari Amerika.”
Mata Mika melotot sempurna. Seluruh kepingan teka-teka ini mulai tersusun dalam kepalanya. Benang yang awalnya kusut perlahan-lahan menjadi lurus kembali karena pemuda ini mulai memahami apa yang terjadi.
Udin memperlebar senyumnya ketika Mika mulai memahami apa maksudnya. Pria itu berkata, “Jadi bagaimana menurutmu?”
“Pada akhirnya, ini adalah kesalahan dari pihak negara ayahnya Dimas Fajar bukan?”
“Tepat sekali!” Udin menepuk kepala Mika beberapa kali. Matanya menerawang jauh, seolah pria itu memikirkan banyak hal. Ia melirik sebentar ke arah Mika.
“Seolah-olah ... ini memang sudah direncanakan sejak awal. Mereka memutar balikkan fakta, menyalahkan dua negara lain, dan merasa paling sengsara padahal ini semua adalah skenario yang dibuatnya sendiri,” ujar Mika dengan wajah kosong.
“Kau benar. Akan tetapi, ini semua bukanlah kesalahan Cina semata.”
“Maksudmu?” Mika memiringkan kepala sebagai tanda tak mengerti.
“Kalau memang ini semua sudah direncanakan sejak awal dan mengobarkan nyawa ayah dari temanmu itu, mereka pasti melakukan aksi ini untuk membalas kita.”
Wajah Mika terlihat kosong. Ia benar-benar tak mengerti mengenai situasi politik yang terjadi. Ada apa sebenarnya?
“Aku sama sekali tak paham ....”
“Indonesia sendiri yang telah memprovokasi negara itu. Tiga bulan sebelum kecelakaan kereta terjadi, negara ini pernah membuat kesalahan setelah kuselidiki. Salah satu perwakilan Indonesia dalam konferensi umum yang diselenggarakan OBB menyalahkan Cina sebagai pihak yang merugikan negara tanpa bukti. Mereka pasti kesal dan tak terima.”
“Kau ... serius? Bagaimana mungkin itu terjadi?” Mika semakin tak paham. Maksudnya, kenapa bisa seorang perwakilan tak bisa menjaga sikapnya dalam pertemuan penting?
Udin terlihat menghela nafas. “Pada dasarnya, ini adalah sifat alami manusia. Mereka semua egois.”
“Hah?”
“Tidak ada pihak yang sepenuhnya jahat dan baik, Mika. Meskipun kita bertindak sebagai korban sekarang, nyatanya semua ini terjadi karena kesalahan dari satu orang dari negeri kita sendiri. Cina tidak salah. Mereka hanya ingin menunjukkan kekuatan dan peringatan agar kita tak menuduh. Tuduhan tak berdasar adalah suatu hal yang tak bisa dimaafkan di sini.”
Udin benar. Tidak ada yang salah dan benar. Pada dasarnya, semua ini sama saja. Semua masalah terjadi karena terpusat pada sikap tamak manusia.
“Aku hanya berharap jika Amerika tidak mengambil masalah ini dengan serius. Persaingan dan lainnya membuat keadaan dunia menjadi mengerikan. Cukup kita saja yang mendapat getah dari apa yang terjadi, jangan sampai negara lain ikut rugi. Setelah semua ini, kita akan menunjukkan sikap tanggung jawab yang asli.”
“Dengan cara?”
Udin yang semula menatap langit malam langsung menoleh ke arah Mika saat pemuda ini bertanya demikian. Ia tersenyum simpul seraya mendengus geli.
“Percayakan semuanya padaku. Aku akan menangani masalah ini. Lagi pula, kita kurang 15% saja menuju akhir dari kisah pilu ini.”
Sialan, Mika benar-benar tak paham dengan perkataan Udin yang ambigu tadi. Apa maksud orang ini sebenarnya?
Mika terlihat ingin memberi saran. Ia menatap Udin dengan serius. “Katamu, OBB memihak Indonesia. Lalu tunggu apa lagi? Kita harus memanfaatkan situasi ini kan?”
“Serahkan ini padaku. Anak kecil sepertimu tidak perlu ikut campur lagi. Andaikan aku perlu bantuanmu, aku pasti tak akan segan meminta. Sekarang, hiduplah dengan normal. Aku yakin, sangat yakin malah. Perang yang diramalkan adik keponakanmu itu pasti tak akan terjadi.”
Mika mengepalkan tangan kuat. Ia terlihat mengalihkan pandangan ke bawah selama beberapa saat. Udin dan organisasinya adalah kesatuan yang hebat. Tanpa dirinya pun, pria itu berhasil mengungkap masalah ini bersama timnya di intelijen. Apa ia memang harus menyerahkan masalah ini pada Udin sepenuhnya?
“Ini adalah inti pembicaraan kita.”
Ucapan Udin yang tiba-tiba itu langsung membuyarkan lamunan Mika. Ia memandang ayah Asa dengan tatapan bingung. Lagi dan lagi. Ia jadi tak bisa memahami isi pikiran orang ini.
“Ucapanmu berbelit-belit sekali. Aku sama sekali tak paham,” ungkap Mika dengan jujur.
Saat itu, Udin tersenyum simpul. Dengan tatapan mata yang hangat, ayah dari Asa ini menepuk bahu Mika.
“Intinya, aku memanggilmu untuk menyampaikan kabar baik ini. Kita sudah menemukan jalan keluar dari masalahnya. Jadi mulai sekarang, jangan ikut campur lagi, jangan membuat dirimu berada dalam masalah, dan jangan menyakiti dirimu untuk kepentingan orang banyak.”
Mika terkesiap. Ia menatap Udin dengan pandangan kaget. Atmosfer yang ada di sini juga seakan berganti ketika pria ini berkata seperti tadi.
Jadi, alasan kenapa Udin memanggilnya ke sini semata untuk mengingatkannya agar tak perlu khawatir lagi dengan ini semua? Pria ini sungguh peduli. Ia memikirkan Mika sampai ke titik ini.
Ayah dari Asa itu memperlebar senyumnya. “Karena semuanya sudah beres, hiduplah normal lagi. Kembalilah ke sekolah dan melakukan aktivitas bersama teman-temanmu. Jangan pernah mengkhawatirkan masalah ini, karena aku bersumpah padamu untuk menangani semuanya. Perang tak akan terjadi, aku yakin itu.”
Suasana haru ini membuat perasaan Mika menjadi bercampur-campur. Ia sangat bahagia ketika orang-orang peduli padanya seperti sekarang. Pemuda itu tersenyum sambil mendengus.
“Dasar, Pak tua yang percaya diri.”
Udin balas tersenyum. Ia memandang Mika dengan tatapan seorang ayah yang bangga akan kehebatan anaknya.
“Dasar, Bocah tak tahu diri.”