Chaper 60 - Suka

1900 Kata
Ini susah untuk dijelaskan. Pada dasarnya, ada banyak hal yang terjadi selama 10 hari terakhir. Sama seperti hari itu, di mana banyak kejadian yang terjadi di negara ini selama 1 hari, apa yang terjadi dalam 10 hari ini justru semakin beragam. Dalam 10 hari ini, Mika sadar jika ia telah melewatkan banyak hal karena tak sadarkan diri. Mulai dari aksi perundingan yang terus digencarkan oleh Indonesia dengan dua negara yang bersitegang dengannya hingga meminta pertanggung jawaban atas tembakan misil yang merugikan itu. Seperti dugaan Pak Udin saat itu, rapat rahasia yang terus digelar oleh OBB (Organisasi Bangsa-Bangsa) ternyata membuahkan hasil. Beruntungnya kali ini, karena organisasi dunia itu memihak ke negara Indonesia. Berkaca pada kasus dan motif yang terjadi pada perang dunia pertama, tampaknya OBB yang memiliki peran penting untuk menstabilkan perdamaian di dunia langsung ambil tindakan. Mereka tak mau mengabaikan konflik sebesar ini dan membiarkan perang meletus di zaman modern. Mika memuji aksi itu. Ia suka dengan cara kerja organisasi penjaga kedamaian tersebut. Andaikan penasihat-penasihat di kerajaannya dulu akan sebijak OBB dalam menangani masalah, Mika pasti akan tunduk dan bersujud pada mereka. Pemuda ini terkikik pelan setelah itu. Membayangkan bagaimana ia akan tunduk ke tetua kerajaan membuat perutnya tergelitik. Pemuda yang masih mengenakan baju pasien di ini tampak duduk santai di taman yang ada di area tengah rumah sakit. Taman ini begitu sejuk. Ia suka datang ke sini setelah kondisinya membaik dan dibolehkan untuk jalan-jalan. Tepatnya, ini sudah sepuluh hari sejak terakhir kali Mika sadar hari itu. Kondisinya semakin membaik karena ia sudah punya cukup energi untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Penyihir seperti dirinya tak akan mempan bila hanya meminum obat dan dirawat menggunakan alat-alat medis itu. Pada akhirnya, ia tetap memakai sihir penyembuhan agar bisa sehat seperti sedia kala. Putri juga membantunya sembuh menggunakan kekuatan sihir. Terdengar helaan nafas dari pemuda yang masih tersenyum simpul ini. “Pada akhirnya, aku ditolong lagi oleh orang-orang di dunia ini.” Kalau dipikir-pikir lagi, sudah berapa lama ya sejak ia tiba di dunia ini? Mika merasa kalau sifatnya berubah drastis. Mika yang ada di dunianya dulu bukanlah Mika yang sekarang. Ia lebih kalem dan bisa berpikir kritis di sini. Bagaimana ya, pemuda berambut hitam acak-acakan ini sulit untuk menjelaskan suasana hatinya. Mau berusaha seperti apa pun untuk mengelak, rasanya orang-orang di sini selalu mengejar dan ingin memberinya beribu kebaikan. “Kalau begini terus, rasanya kan aku jadi betah di sini. Berabe kalau nanti tidak mau pulang,” keluhnya pada diri sendiri sembari tertawa. “Dasar orang gila. Logikanya, tidak ada orang yang akan betah tinggal di rumah sakit, tahu!” Mendengar ejekan yang tiba-tiba muncul dari arah belakangnya itu, Mika langsung menoleh ke belakang dengan ekspresi kaget. Matanya melebar ketika melihat Asa yang masih mengenakan seragam SMA sudah berdiri di belakang kursi taman yang didudukinya. Senyum miring terukur di wajah gadis itu. “Kenapa ya aku selalu memergokimu mengucapkan kata-kata aneh seperti itu? Kalau bukan aku yang mendengarnya, orang lain pasti mengira kau gila.” Mika merengut. Ada sedikit semburat di wajahnya. Asa tahu betul jika Mika malu sekarang. Ia terkikik pelan lalu berjalan mendekati pemuda yang masih duduk di kursi taman itu. Mereka berdua kini berhadapan dengan posisi Asa yang berdiri di hadapannya. “Mentang-mentang aku dirawat di Jakarta, kau hobi sekali menjengukku ya?” tanya pemuda itu dengan ketus. Ia masih malu tampaknya. Asa pun tertawa saat mendengar hujatan itu. “Mau bagaimana lagi? Kalau kau dirawat di desa, mana mungkin aku akan ke sini setiap hari saat pulang sekolah?” Tanpa sadar, pemuda yang mempunya gelar pangeran mahkota ini mengalihkan pandangan. Pipinya yang terasa bersemu membuat Mika tak nyaman. Kenapa pipinya terasa panas saat melihat Asa yang tersenyum lebar seperti ini? Kenyataannya, Mika memang dirawat di salah satu rumah sakit terkenal yang ada di Jakarta Pusat setelah ditemukan dalam kondisi kacau malam itu. Rumah sakit daerah di tempat Mika tak dapat merawatnya karena luka yang diderita pemuda itu sangat berat. Butuh pertolongan ekstra, sehingga Mika harus dirujuk ke rumah sakit terkenal Jakarta. Jadi, Asa pun bisa menjenguk Mika dengan sesuka hati ke sini. Waktu yang ia habiskan untuk melakukan perjalanan dari Jakarta Utara ke Pusat yang memakan 30 menit jadi tak terasa. Gadis ini hanya ingin melihat Mika dan memastikan kondisi kesehatannya membaik. Pemuda ini langsung tersenyum remeh dan mendengus geli. “Menjenguk setiap hari apanya? Dua hari lalu dan kemarin kan, dirimu tidak ke sini.” Wajah Asa yang diledek seperti itu langsung masam. “Hehehe, habis mau bagaimana lagi? Ujian akan dilakukan minggu depan. Ada banyak hal yang kuurusi.” “Ujian apa memangnya? Semacam cara untuk bertahan hidup?” Pertanyaan Mika yang aneh ini membuat Asa tergelak. Bagaimana pun, rasanya pemuda ini sama sekali tak berubah sejak pertama kali mereka bertemu di stasiun hari itu. Mika malu. Sialan, ia merutuki pertanyaan yang keluar begitu saja dari mulutnya tadi. Melihat Asa yang terpingkal-pingkal, pertanyaan tadi pasti sangat bodoh. “Kau ini bilang apa sih, Mika? Bwahahaha. Kita kan anak sekolah. Ujiannya ya jelas ujian sekolah. Minggu depan kan UTS. Kau pikir kita hidup di zaman ninja yang ujiannya itu cara bertahan hidup?” Mika tertawa hambar. Ia merutuki kebodohannya lagi-lagi. Lain kali, Mika bersumpah tak akan menanyakan pertanyaan bodoh seperti itu agar tak ditertawakan oleh Asa. Gadis yang rambutnya diikat dua ini tampak menyeka air mata akibat terus tertawa. “Kau tahu? Pertanyaanmu tadi mengingatkanku saat kita pertama kali bertemu dulu, lho. Aku masih ingat dengan jelas bagaimana kau yang kaget dan mengira ada gempa di kereta.” Kali ini, wajah Mika benar-benar memerah karena malu. Ia memelotot tajam, sebuah tatapan yang bisa membuat seluruh pasukan ksatria di kerajaannya merinding. Namun, tampaknya hal ini tak berlaku pada Asa. Gadis itu terus tertawa. Mika yang kalah argumen pun akhirnya menerima kekalahan. Dia mengusah pangkal hidungnya dengan punggung tangan untuk menutupi ekspresi malunya. Pada akhirnya, dua pemuda itu terus mengobrol. Mereka tertawa bersama di setiap kesempatan. Saat ini, Asa menatap Mika dengan pandangan sayu. Senyum simpulnya terpatri jelas di wajah. Mika yang menyadari itu tampak terpaku. Kenapa Asa tiba-tiba diam dan menatapnya seperti ini? Gadis ini tersenyum haru. “Seperti katamu tadi, aku sudah dua hari tidak ke sini. Tiga hari yang lalu, kau masih terbaring di kamarmu. Namun ternyata tanpa sepengetahuanku, kondisimu semakin membaik. Kau bahkan bisa jalan ke sini sendiri.” Ah, angin yang berembus meniup rambut dari dua orang remaja ini membuat suasana menjadi trenyuh. Mereka saling terpaku satu sama lain. Situasi yang sepi di taman membuat keduanya merasa kalau hanya ada mereka di sini. Asa melanjutkan, “Saat datang ke ruang rawat inapmu, aku tidak menemukan siapa pun di sana. Aku ketakutan. Sangat ketakutan dan pikiranku sudah ke mana-mana. Kupikir kau kenapa-kenapa jadi harus dipindahkan ke ICU. Namun, seorang suster datang dan memberitahuku kalau kau ada di sini.” Senyum simpul yang terlihat begitu lembut langsung terukir di wajah Mika. “Kau benar, aku sudah tidak apa-apa. Jadi, jangan khawatir.” Ada ekspresi aneh yang sulit diartikan ketika Asa mendengar Mika mengucapkan hal itu. Tatapan gadis ini seakan berubah menjadi rasa bersalah. “Aku meminta maaf atas apa yang terjadi setelah kita pulang dari stasiun malam itu.” Mika kaget. Ia terkesiap saat melihat bagaimana raut penyesalan Asa sekarang. “Hari itu aku begitu egois. Yang kupikirkan hanyalah cara agar kau tidak dikenai masalah, jadi aku bersikeras mengajakmu kembali ke asrama dan tidak membiarkanmu keluyuran malam-malam. Namun nyatanya, hari itu aku tak memahami situasimu hatimu. Kita justru mendebatkan hal yang tidak penting.” Mika masih diam. Ia membiarkan Asa berbicara dan mengungkapkan segala keresahan yang menyelimuti hatinya. “Saat aku datang ke sini setelah kau siuman bersama teman-teman lainnya, kita tak punya waktu untuk mengobrol empat mata seperti sekarang. Jadi, mohon terima permintaan maafku.” Mika bingung. Ia tak tahu harus merespons bagaimana saat melihat Asa yang benar-benar menyesal. Pemuda yang dikenal sebagai cucu kepala sekolah ini langsung menghela nafas panjang lalu tersenyum miring. “Aku tidak pernah tahu kalau kau pernah berpikiran seperti ini. Kenyataannya, aku paham situasi yang terjadi hari itu. Semuanya runyam. Normal jika kau bereaksi seperti kemarin,” jawab Mika dengan nada yang begitu lembut. Asa yang sejak tadi menatap lurus ke arah mata Mika langsung terperangah. Ia tak mengira kalau jawaban seperti itu yang akan keluar dari mulut pemuda ini. Situasi di antara mereka menjadi hening kembali. Mika mendengus. Ia melebarkan senyumnya. “Kau tahu? Tidak usah meminta maaf seperti ini. Aku tidak pernah marah padamu. Aku akan selalu memahamimu. Jadi, kau tak perlu merasa bersalah.” Asa tersenyum haru. Tanpa disadari Mika, ada sedikit semburat di wajah gadis ini. “Lagi pula, kayak bukan dirimu saja meminta maaf untuk hal sepele.” “A-apa katamu?” Tiba-tiba atmosfer yang mengharukan ini langsung hancur ketika Mika mengatakan hal tadi. Asa langsung tersenyum lebar dengan kepalanya yang berdenyut kesal. Apa-apaan anak ini? Kenapa malah mengejeknya? Mika tertawa. Asa semakin amburadul melihatnya. Kok bisa-bisanya anak ini menggodanya di situasi yang penuh haru? Asa yang kesal pun langsung mengalihkan pandangan. “Astaga, kau benar sekali ya! Aku pasti kerasukan jin penunggu di taman ini tadi!” sahut Asa dengan ekspresi sewot yang dibuat-buat. Situasi ceria yang seperti tadi pun langsung kembali. Mika tertawa saat ia berhasil mengerjai Asa seperti ini. Dilihat dari sisi mana pun, sepertinya gadis ini marah. Namun, Mika bisa melihat kalau ada sorot kebahagiaan di mata Asa. Dan ketika mata mereka saling bertatapan, keduanya langsung tersenyum. Mereka berdua tak bisa menahan tawa lebih lama lagi. Baik Asa maupun Mika langsung tertawa ringan. Sambil mengerucutkan bibir, Mika melanjutkan aksinya untuk menggoda Asa, “Lagi pula, mana mungkin aku tidak akan memaafkan seorang gadis kurang ajar yang tiba-tiba berubah menjadi seorang bidadari saat mengucapkan permohonan maaf tadi?” “A-apa?!” Sekakmat, Asa tak berkutik sekarang. Wajahnya merah merona dan terasa begitu panas ketika Mika menyebut dirinya seperti bidadari. “Kau ini gila ya?!” ucap Asa tak terima. Meskipun wajahnya merona hebat, ia tampak menunjuk Mika dengan kesal. Mika yang pada dasarnya tidak peka akan reaksi Asa yang merona ini pun, hanya bisa menertawakan gadis ini. Ia puas ketika ucapannya tadi membuat Asa kesal. Saat itu, dengan wajah yang masih merona, gadis ini melebarkan senyumnya. Ia bersungut ke arah Mika. “Yah, apa pun itu terserah. Lagi pula mana mungkin aku tega membiarkan seorang pangeran tampan yang duduk di taman sendirian? Aku kasihan saat melihatnya berekspresi sedih dan kesepian di tempat ini. Ia pasti membayangkan alasan kenapa Rika Angkasa marah padanya, jadi aku harus minta maaf.” Kondisi berbalik, kini Mika yang dipenuhi oleh semburat merah. Pemuda ini melotot ke arah Asa dengan kepala berdenyut kesal dan senyum lebar menahan marah. “K-kau bicara apa sih? Mana mungkin aku melakukan hal itu!” “Sssst ....” Asa langsung meminta Mika untuk diam. Dia memandang pemuda ini dengan senyum simpul yang begitu menawan di mata Mika. Sambil menirukan ekspresi Mika bicara, gadis ini berujar, “Kau tahu? Tidak usah meminta maaf seperti ini. Aku tidak pernah marah padamu. Aku akan selalu memahamimu. Jadi, kau tak perlu merasa bersalah.” Sialan, Mika benar-benar kalah telak ketika wajahnya memerah saat Asa mengulangi apa yang telah dikatakan olehnya tadi. Gadis yang kini menyeringai lebar itu tampak terkikik. “Asaaa! Berhenti menggodaku! Argh!” Pada akhirnya, di sore yang masih terasa hangat dan panas itu, Mika dan Asa kembali tertawa bersama. Mau tidak mau, hari itu Mika harus meyakini suatu fakta jika Asa adalah ratunya menggoda orang lain. Ia tak akan mampu menggoda anak ini. Sialan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN