“Kenapa malah dirimu?!”
Ucapan tak percaya yang muncul begitu saja dari mulut Mika langsung menyambut sosok pria ini. Dengan pandangan malas dan datar yang terpancar dari mata sipitnya, pria itu menghela nafas panjang.
“Kenapa kau harus seheran itu? Nyatanya, aku adalah orang yang membawamu ke rumah sakit ini.”
Wajah Mika merengut. Orang yang sekarang berdiri di depannya adalah Pak Udin, si intel yang pernah menjadi bosnya di warung bakso dulu sekaligus ayah dari Asa. Bagaimana pun, Mika masih tak percaya kalau orang ini bisa tiba-tiba datang ke sini.
Rasanya mustahil. Kalau Udin yang menolongnya malam itu lalu kenapa dia berpakaian aneh dan menggunakan tudung hitam segala?
Di sisi lain, Mika sangat yakin jika apa yang dilihat dan dirasakannya malam itu adalah suatu hal yang nyata. Meskipun samar, namun pangeran mahkota ini bisa tahu kalau sosok bertudung hitam itu adalah pengguna sihir, sama sepertinya.
“Aku tidak percaya kalau itu adalah dirimu ....”
Udin yang baru saja tiba di ruangan ini hanya bisa saling pandang dengan Putri. Pria bermata sipit ini sama seklai tak paham dengan maksud bocah ini.
“Kenapa kau harus memikirkan hal tidak penting soal siapa yang harus membawamu ke sini, Mika? Yang terpenting kan kau sudah ada di rumah sakit, menerima perawatan, dan sembuh,” ujar Putri dengan nada pengertian.
Saat itu, mata Mika yang sedari tadi bertatapan dengan Udin langsung menatap Putri. “Ini tidak sesederhana itu, Kak.”
Kali ini, Udin yang terlihat penasaran. Alisnya naik sebelah. “Apa maksudmu?”
“Apakah malam itu kau menolongku dengan memakai jubah hitam beserta tudung yang menutupi kepala?"
Mendengar pertanyaan aneh tadi, Udin langsung mengedipkan mata untuk beberapa saat. Apakah Mika sedang mengigau sehingga ia bertanya seperti itu?
“Apakah kau sedang bermimpi saat itu?” ejek Udin dengan mata yang memencarkan ekspresi tak percaya atas pertanyaan aneh Mika.
“Sudahlah, jawab saja.”
“Aku memang tidak ingat memakai baju apa saat pergi mencarimu dulu. Tapi, satu hal yang pasti. Aku tidak punya jubah hitam bertudung seperti yang kau katakan.”
Ada raut terkejut yang muncul di wajah Mika untuk beberapa saat setelah Udin berkata seperti itu. Dengan cepat, pemuda ini segera memasang ekspresi normal kembali. Ia berusaha menyembunyikan rasa kagetnya.
Namun, gerak-gerik Mika kali ini disadari oleh Putri. Wanita yang sedang duduk di kursi itu memandang Mika dengan cemas. “Kau baik-baik saja?”
Mika mengangguk pelan. “Ya, aku baik-baik saja. Mungkin yang dikatakan oleh Pak Udin tadi benar, aku ... pasti bermimpi yang tidak-tidak malam itu.”
Pemuda dengan rambut hitam acak-acakan yang kini terbaring di kasur rumah sakit itu bisa melihat kalau Putri tampaknya masih khawatir. Bagaimana pun, soal kehadiran sosok misterius malam itu adalah urusannya. Ia tak ingin melibatkan Putri atau pun Pak Udin dalam masalah ini.
Entah kenapa pikiran Mika mulai berkecamuk. Insting pemuda ini berkata kalau sosok misterius itu mungkin ada kaitannya dengan terdamparnya Mika ke dunia baru ini.
Pada akhirnya, semua semakin rumit sekarang. Apakah mungkin Mika bisa memecahkan teka-teki kenapa ia bisa terlempar ke dunia ini?
Mika yang merasakan kalau suasana dan atmosfer di sekitarnya menjadi berbeda langsung sadar diri. Suasana hening ini terjadi karena dirinya yang bertanya aneh pada mereka berdua lalu terdiam begitu saja memikirkan hal lain.
Sialan, ia harus mencairkan suasana yang mengganggu ketenteraman hatinya ini.
“Anu, apakah ada kabar baik selama 10 hari ini?”
Perkataan yang tiba-tiba muncul dari mulut Mika itu langsung memecah keheningan. Bukannya memberikan reaksi yang ia harapkan, baik Putri maupun Udin langsung memelototkan mata ke arahnya.
“A-apa ... apa-apaan reaksi kalian ini?” Setetes keringat langsung mengucur dari dahi Mika saat mengucapkan hal itu.
“Kenapa kau bertanya seperti itu?” tukas Udin dengan ketus. “Kau ini sakit. Jangan memikirkan hal lain. Prioritaskan dulu kesembuhanmu baru menanyakan ini dan itu!”
Mendengar reaksi tak suka dari Udin yang seperti tadi, Mika langsung mengernyitkan dahi. Kenapa reaksi Udin berlebihan sekali? Masa iya orang ini tahu kalau malam itu ia menggunakan sihir besar-besaran untuk menyembuhkan seluruh orang?
Seutas senyum pun terukir di wajah pucat Mika. Ia berusaha menunjukkan kalau dirinya sudah baik-baik saja.
“Apa maksudmu menyuruhku seperti itu? Aku ini tidak apa-apa. Kemarin hanya pingsan karena kelelahan. Lagi pula, aku tidak tahu kabar apa pun selama 10 hari ini, jadi aku harus—“
“Aku sudah memberitahunya soal kau yang memakai kekuatan itu pada seluruh orang di desa, Mika.”
Mika langsung melebarkan matanya saat Putri berkata demikian. Ia memandang kakak gadungannya ini dengan tatapan tak percaya. Kenapa Putri mengatakan soal itu pada Udin?
“Aku harus memberitahukan hal ini padanya karenaa dia sudah mengerti siapa kau yang asli. Tak ada gunanya berbohong ini dan itu saat keadaan yang mendesak malam itu. Kau harus paham. Jadi, aku sesetuju dengannya. Kau ini kan masih sakit. Fokus dulu ke kesehatanmu.”
Raut wajah Mika menggambarkan ketidaksukaan yang jelas. Bagaimana pun, Udin ini orang gila alias manusia protektif yang suka melarang ini dan itu. Kalau dilihat dari reaksinya tadi, ia kayaknya masih kesal karena Mika melakukan aksi nekat seperti itu.
Tunggu, kalau dipikir-pikir tampaknya Putri dan Udin sudah akrab. Ada kemungkinan kalau mereka berdua sudah saling mengenal. Dua orang ini kan tidak pernah bertemu sebelumnya.
Udin hanya tahu kalau Putri adalah sosok kakak yang kejam. Pria ini selalu mengira jika Putri merupakan keluarga tiri Mika yang jahat dan hobi menghakiminya semena-mena. Di sisi lain, Putri mengira kalau Udin itu adalah anggota intel jahat yang hanya memanfaatkan Mika. Ia justru mengecap buruk pria ini, bahkan sebelum bertemu dengannya.
Gila, apa yang terjadi selama 10 hari ini? Mika tak bisa membayangkan bagaimana pertemuan dua orang yang sudah saling membenci, bahkan sebelum bertemu ini.
“Kak Mika!”
“Astaga, Mika! Kau sudah sadar?!”
Keadaan yang semula hening pun terpecah saat Ahmad dan Riko tiba-tiba datang ke ruang rawat inap Mika. Suasana menjadi semakin ramai, namun Mika justru tampak bahagia.
Mika menatap Ahmad dan Riko dengan senyum haru. Dilihat dari keadaan mereka sekarang, sepertinya dua orang yang berharga bagi Putri ini sudah tidak apa-apa. Ahmad tampak lebih sehat, padahal hari itu ia tengah sekarang. Riko juga terlihat sangat ceria.
Mika pun mengukirkan senyum haru di balik katup oksigen yang digunakannya. Ia memegang tangan kecil Riko, seolah berterima kasih pada bocah itu karena sudah bertahan dari serangan misil kemarin. Ia senang Riko bisa selamat.
“Terima kasih telah bertahan dari serangan misil itu. Namun, maafkan aku. Aku ... tidak bisa melindungi anak kecil sepertimu padahal sudah berjanji ini dan itu,” ucap Mika dengan nada lemahnya.
Riko pun terperanjat kaget dengan ucapan Mika yang seperti itu. Ia menoleh ke arah ayah dan ibunya, seolah meminta penjelasan mengenai maksud dari perkataan Mika tadi. Namun tampaknya dua orang itu juga tak paham.
“Kenapa kau bilang seperti itu, Kak Mika?” tanya Riko dengan ekspresi sedih.
Meskipun raut wajahnya menunjukkan rasa haru, Mika tak bisa menyembunyikan sorot mata sedih ke arah Riko yang kini sudah berada di sampingnya. Ia merasa bersalah atas semua hal yang terjadi.
Andaikan hari itu Mika mendengarkan keinginan Riko yang ingin membangun benteng, keluarga Putri pasti tak apa-apa. Mereka pasti tak akan terlihat tidak berdaya seperti yang dilihatnya malam itu.
“Entahlah, kenapa aku bilang seperti itu ya?” ujar Mika dengan nada ambigu. Ia mengukirkan senyum miring.
Sesaat kemudian, pemuda ini memejamkan mata sembari mengukirkan senyum tulus. Ia masih berpegangan tangan dengan Riko. Dengan nada lembut, Mika berujar, “Kau tahu? Aku sangat senang melihat dirimu baik-baik saja.”
Riko yang mendengar itu langsung terkesiap. Suasana haru di tempat ini terasa begitu nyata. Semua orang tersenyum bahagia. Riko yang terbawa suasana pun langsung bercucuran air mata. Anak itu tak bisa menahan tangisnya.
Pada akhirnya, Mika tak bisa menyembunyikan rasa syukur. Ia merasa beruntung karena semuanya sudah baik-baik saja sekarang.
Suasana ceria ini terus menemani Mika hingga beberapa jam berlalu. Setelah kedatangan Ahmad dan Riko, ibu kepala sekolah juga turut datang ke sini untuk melihatnya.
Tak hanya itu, ketika sore tiba, Mika tak percaya jika teman-temannya datang ke rumah sakit ini untuk menjenguknya. Mereka semua masih mengenakan seragam sekolah. Di depannya sekarang ada Dimas, Budi, Jojo, Asa, Dina, Dini, dan Ayu.
Sejak tadi, tujuh orang itu terus membuat suasana ruang rawat inap ini terasa begitu ramai. Meskipun mengganggu, namun Mika benar-benar bahagia.
“Oi, katakan padaku bagaimana rasanya memakai ini dan itu, Mika!” Jojo yang sejak tadi berdiri di sampingnya tampak begitu semangat.
Mika pun memandang bocah nyentrik ini dengan tatapan tak habis pikir. “Dilihat dari sisi mana pun, ini tak mengenakan tahu. Aku juga tak mau memakai alat-alat ini.”
“Tapi, kau kelihatan keren!” Dari sorot matanya yang berbinar, Jojo tampak begitu senang. “Ini terlihat seperti film-film super hero! Ini seperti kabel-kabel yang menyalurkan kekuatan ke dalam tubuhmu lalu— Argh!“
Budi yang sudah kesal dengan semua omong kosong itu langsung menginjak kaki Jojo dengan sekuat tenaga. Mika bisa melihat bagaimana rasa sakit yang dialami oleh temannya yang tidak memiliki alis itu. Pasti sakit sekali.
“Abaikan saja orang gila ini, Mika!” ujar Budi dengan kesal.
Mereka semua tertawa melihat interaksi Budi dan Jojo yang seperti itu, tak kecuali Mika. Pemuda yang sedari tadi berbaring di kasur rumah sakit ini terkekeh pelan. Ia merasa terhibur ketika teman-temannya datang ke sini.
“Dasar ya kalian ini pengacau semua,” ledek pangeran mahkota berambut hitam acak-acakan ini.
Di sela-sela tawanya, mata Mika tak sengaja bertemu pandang dengan Asa. Untuk sesaat, suasana tawa yang riuh ini berubah menjadi hening bagi mereka berdua.
Ah, Mika jadi teringat dengan apa yang terjadi sesaat setelah mereka berdua pergi dari stasiun hari itu. Mika pikir Asa masih marah. Namun, sepertinya gadis ini sudah memaafkannya dan ikut datang ke rumah sakit ini untuk menjenguk.
Mereka bertatapan dengan ekspresi datar, nyaris tanpa senyum atau mimik apa pun. Hanya saling menatap dalam diam dan lama, sehingga tak ada satu pun yang menyadari arti dari tatapan dua orang itu.
“Apakah kalian tahu sesuatu?”
Dimas tiba-tiba bertanya dan suasana yang awalnya penuh tawa itu berubah menjadi hening. Mika pun mengalihkan perhatian ke arah pemuda beralis tebal yang telah diselamatkannya hari itu. Ia memandang temannya yang satu ini dengan penasaran.
“Apa yang kau maksudkan?” tanya Dini, si ketua OSIS, dengan pandangan heran.
Dimas tersenyum. “Isunya sekolah kita akan mengadakan karya wisata setelah UTS nanti. Semua orang wajib ikut dan yang tidak ikut akan dikenai hukuman belajar selama musim panas.”
“Hah?!” Dan orang yang paling terkejut di sini adalah Mika Jonathan.