Tempat ini dingin.
Jam berapa sekarang? Mika sama sekali tak tahu. Dia memejamkan mata erat. Rasa sakit yang terus memakan dan menggerogotinya sejak tadi terasa begitu menyiksa.
Badan pemuda ini bergetar hebat. Sudah berapa lama sejak ia melepaskan sihir penyembuhan besar-besaran menggunakan sihir hitam tadi? Apakah Mika berhasil? Apakah ia bisa bermanfaat dan membantu orang-orang di seluruh desa ini?
Nafasnya yang terdengar pendek dan cepat begitu memprihatinkan. Pemuda yang kini ambruk di atas rumput di perbukitan itu hanya bisa tak berdaya. Seluruh energinya habis. Ia tak bisa bergerak. Jangankan untuk bangun, seluruh organ dalamnya terasa hancur. Jantungnya seakan dipaksa meledak ketika Mika melakukan sihir tadi.
“Apakah aku akan mati?” gumam Mika dengan nada suara lemah.
Matanya yang sedari tadi terpejam tampak terbuka dengan sayu. Di hadapannya, ia bisa melihat darah yang baru keluar dari mulutnya beberapa saat lalu. Hidungnya yang tak henti untuk mimisan pun semakin menambah kacau penampakan Mika sekarang.
Kepalanya terasa dipukul menggunakan batu besar. Ia tak bisa fokus sejak tadi. “Aku pasti mati.”
Pada dasarnya, yang bisa dilakukan oleh pemuda ini sekarang hanya pasrah dengan keadaan yang ada. Ia tak berdaya dan tak ada satu orang pun yang tahu keberadaannya di sini. Apalagi yang ditunggunya kalau bukan kematian?
Sialan, padahal Mika masih ingin hidup. Ia ingin kembali ke dunia aslinya dan bertemu dengan ayah dan ibunya yang ada di sana. Namun, senyum miring yang terlihat nanar di wajah pemuda itu justru mengatakan hal yang sebaliknya dari harapan tersebut.
“S-setidaknya ... aku sudah berguna bagi orang lain kan?” Pemuda ini berkata dengan suara serak yang lemah.
Apa yang dikatakannya benar. Setidaknya, pemuda yang dikenal sebagai pangeran mahkota itu bisa berguna di sini. Ia berhasil menyelamatkan banyak orang. Kalau di dunianya yang dulu, orang-orang membencinya.
Bukan itu saja, Mika juga sadar diri dengan posisinya. Ada banyak dari penduduk kerajaan yang menginginkan ia mati karena kekuatan mengerikan milik Raja Pertama yang masih belum bisa dikendalikan olehnya. Di sana, hanya ada ayah dan ibunya.
Akan tetapi, ayah Mika hanyalah manusia biasa yang menyandang gelar raja. Dia pasti mendahulukan kepentingan penduduk dan politik daripada dirinya yang manusia tak berguna ini. Di sisi lain, ada ibu tirinya yang begitu perhatian.
Namun, tak ada yang tahu isi hati orang. Ibu kandung Mika dulu adalah seorang perusak hubungan rumah tangga. Ia menjadi selir lalu meninggal setelah melahirkan Mika. Bagaimana pun, pasti ibu tiri Mika pernah membencinya. Mana mungkin ia mau merawat anak orang jahat yang telah merebut suainya dengan cuma-cuma?
Orang-orang di dunianya dulu sangat menyebalkan. Mika sangat yakin jika mereka membiarkannya hidup hingga sekarang hanya karena kekuatan agung milik Raja Pertama yang dimiliki olehnya. Tanpa itu, Mika pasti sudah mati sejak dulu.
“Menyebalkan. Di saat-saat terakhir ... k-kenapa aku malah menangis?”
Mau seberapa kuat Mika tahan, pemuda ini tak bisa menyembunyikan air mata yang mengisi pelupuk matanya. Ia tak mau terlihat lemah, tapi Mika juga ingin orang-orang memandangnya sebagai anak 17 tahun biasa. Ia ingin dipandang sebagai manusia normal.
Hatinya berdenyut sakit memikirkan semua hal itu. Apakah boleh ia menangis dan bersikap kekanak-kanakan barang sebentar saja sebelum dirinya mati?
Detak jantung pemuda ini rasanya semakin tak karuan. Rasa pusing yang menggerogoti kepalanya sejak tadi juga tak bisa Mika tahan lebih lama lagi. Ia kesakitan.
Di saat-saat seperti itu, untuk sesaat, Mika teringat dengan dekapan hangat dari seorang gadis yang memeluknya erat di stasiun kereta sore tadi. Nama Rika Angkasa tiba-tiba muncul di kepala Mika. Ah, dia jadi ingin bertemu dengannya.
Pandangan Mika mulai mengabur. Sebelum dunia anak itu berubah menjadi gelap sepenuhnya, ia bisa melihat sosok bertudung hitam yang berjalan menghampirinya.
Orang yang wajahnya tak dapat dilihat jelas oleh Mika itu seakan menatap pemuda ini dengan pandangan cemas. Ia seperti meneriaki nama Mika berulang kali. Namun, itu sia-sia saja. Kesadaran pemuda dengan surai hitam ini tak dapat ia tahan lebih lama lagi.
Pada akhirnya, dunia Mika menjadi gelap sepenuhnya.
***
Banyak orang yang bilang kalau waktu bisa berjalan begitu cepat tanpa kita sadari. Pada dasarnya, ungkapan itu memang benar. Mika pikir dunianya telaah berakhir malam itu. Namun, fakta kalau ia sadar kembali di sebuah rumah sakit sangat mengejutkannya.
“Apa-apaan ... ini?” Suara Mika serak karena tertutup katup oksigen.
Selang dan seperangkat alat medis yang menempel di tubuhnya membuat pemuda berusia 17 tahun itu kebingungan. Ia tak pernah melihat benda-benda medis modern seperti ini. Semua terasa aneh karena Mika seperti tak mampu hidup tanpa bantuan alat-alat itu.
Mau dilihat dari mana pun, pemuda itu tahu jika tempat ini adalah rumah sakit. Ia pernah mendengar dari Putri mengenai bagaimana rumah sakit dan puskesmas itu, mengingat kakak palsunya itu adalah seorang dokter sekaligus penyihir. Jadi, Mika tak kebingungan mengenai di mana lokasinya sekarang.
Akan tetapi, ini aneh sekali. Bagaimana mungkin Mika bisa ada di tempat ini secara tiba-tiba? Apakah ada orang yang menemukannya malam itu?
Kedua mata Mika langsung melebar ketika mengingat sosok bertudung hitam yang muncul sesaat sebelum ia tak sadarkan diri. “M-mungkinkah ... orang itu?”
“Saya akan melakukan pemerik— loh? Anda sudah sadar?!”
Suara yang tiba-tiba muncul dari pintu ruangan ini langsung mengalihkan perhatian Mika. Ia bisa melihat seorang wanita berseragam putih yang langsung berlari keluar dengan tergesa-gesa setelah mengatakan hal itu.
Aneh sekali, begitulah yang dipikirkan oleh Mika. Bagaimana pun, ia harus secepat mungkin mencari petunjuk atau informasi mengenai apa yang telah terjadi.
Belum sempat Mika kembali fokus untuk berpikir, pemuda yang masih berbaring dengan seperangkat alat-alat medis itu mendengar derap kaki yang begitu cepat menuju ke sini. Alisnya langsung terpaut tajam, memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini.
Pintu dibuka dengan sembarangan, menampilkan seorang dokter wanita yang datang dengan penampilan kacau dan nafas naik turun. Wanita itu menutup mulutnya sesaat, soelah sedang melihat keajaiban ketika memandang Mika.
“Kak Putri ... ?”
Suara serak dari seorang pemuda yang terbaring di atas tempat tidur rumah sakit ini langsung membuat dokter itu menumpahkan air mata.
Saat itu, Putri segera berlari ke arah Mika. Pemuda itu melebarkan mata ketika Putri menangis haru dan menggenggam tangannya erat, soelah wanita ini tak mau kehilangan seseorang yang ia kasihi. Pemuda ini bingung harus menanggapi seperti apa. Ia terkesiap.
“Anak bodoh!” Makian yang muncul di sela-sela tangis haru Putri ini membuat Mika tersengit kaget.
“A-apa ... ?”
Genggaman tangan Putri semakin kuat. Mika merasa kalau orang ini mau menghancurkan jari-jari tangannya. Ia memandang Putri dengan bingung.
“Sebenarnya apa yang ... terjadi?” Suara serak itu kembali muncul.
Putri yang sedari tadi menggenggam tangan Mika seraya menundukkan kepala itu langsung memberanikan diri menatap kedua mata pemuda yang ada di hadapannya. “Ada banyak hal yang terjadi?”
“Hah?” Mika benar-benar tak paham dengan jawaban itu.
“Kau adalah anak bodoh yang melakukan hal sembrono. Kalau saja hari itu dirimu tidak mendapatkan pertolongan, aku tak bisa membayangkan apa yang terjadi.”
Mulut Mika sedikit terbuka. Ia memproses perkataan Putri tadi. Kenapa Putri bilang kejadian itu dengan sebutan ‘hari itu’? Memangnya sudah berapa lama ia tak sadarkan diri?
“Sepuluh hari. Kau membuatku menunggu selama itu. Kupikir, peralatan rumah sakit tak bisa menyembuhkanmu.”
Mata Mika melebar. “A-apa? Jadi aku tak sadarkan diri selama 10 hari?”
Putri langsung mendengus geli. Pemuda gegabah ini tampaknya sangat terkejut ketika mendengar ia tak sadarkan diri selama itu. Di saat yang bersamaan, senyum simpul terukir di wajah Putri. Pandangan matanya sayu.
“Tapi, untunglah. Aku sangat berterima kasih untukmu.”
Suasana yang tiba-tiba berganti ini sama sekali tak dapat dipahami oleh Mika. Ia memandang bingung ke arah Putri yang tersenyum tulus. Untuk apa berterima kasih memangnya?
“Aku sama sekali tak paham,” respons Mika dengan suara seraknya.
“Kau telah melakukan hal hebat dengan tindakan gegabahmu itu. Terima kasih karena telah melakukan hal itu untuk menyelamatkan semua orang. Aku berhutang budi banyak padamu ....”
Saat itu, Mika kehilangan kata-kata. Suasana haru ini langsung menyentuh hatinya. Ia langsung mengukirkan senyum tulus yang sama dengan senyuman sang kakak. Mendengar kabar baik itu, pemuda ini yakin jika apa yang dilakukannya kemarin pasti membuahkan hasil.
“Itu ... bukan apa-apa.”
“Kau telah membahayakan dirimu sendiri karena melakukan itu. Dasar anak bodoh,” ejek Putri seraya mengepalkan tangan. Ingin rasanya wanita ini meninju Mika andaikan anak itu tak sakit seperti sekarang.
Dokter yang merawat Mika sejak kemarin pun tiba. Ia mengecek kondisi Mika. Putri yang kebetulan merupakan teman dokter itu pun tetap di sini untuk melihat pemeriksaan adiknya.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, tidak ada perubahan yang signifikan dalam diri Mika. Ia tetap seperti sebelumnya. Tentu ini aneh, anak itu seolah hanya ingin tidur demi memulihkan tubuhnya. Akan tetapi, alat-alat medis ini belum bisa dilepas.
Beberapa organ dalam Mika memang seperti mengalami kerusakan. Meskipun lambat, namun mereka tampak bisa pulih selama masa perawatan. Jadi alat-alat medis itu tetap dibiarkan agar Mika benar-benar merasa baik.
“Terima kasih banyak. Aku berutang banyak hal padamu karena selama ini merawat adikku, Rey,” ucap Putri dengan wajah bahagia.
Mendengar itu, dokter laki-laki bernama Reyhan itu tersenyum. “Santai saja. Kau ini kan temanku. Lagi pula, ini memang tugas dokter.”
Dokter itu pun pada akhirnya keluar dari ruangan bersama beberapa perawat yang datang bersamanya. Kini dalam kamar rumah sakit itu hanya tersisa Mika dan Putri. Keadaan menjadi hening untuk sesaat.
Putri meraih kursi tunggu yang disediakan. Ia duduk di sebelah Mika. “Ahmad dan Riko tadi masih pergi mencari makan siang, sepertinya mereka akan kembali sebentar lagi. Jadi, tak ada salahnya kita menunggu mereka untuk—“
“Ada hal penting yang ingin kutanyakan padamu.” Nada serius yang tiba-tiba meluncur dari mulut Mika tadi membuat Putri heran.
“Apa itu?”
“Malam itu, malam di mana aku melakukan sihir hitam untuk menyembuhkan seluruh orang, kau pasti tahu kan?” Tak ada jawaban dari Putri atas pertanyaan Mika tadi, ia hanya mengangguk sebagai respons.
Raut Mika menjadi lebih serius ketika melihat reaksi Putri. Matanya menginginkan kejujuran dari wanita ini. “Malam itu, apa yang terjadi? Apakah kau yang membawaku ke rumah sakit ini?”
Mika sama sekali tak bisa menahan rasa penasarannya. Entah kenapa, ia memikirkan sosok bertudung hitam yang muncul sesaat sebelum ia tak sadarkan diri. Ia harus menanyakan hal ini pada Putri untuk mencari informasi.
“Ceritanya panjang. Aku yang saat itu menjadi dokter di markas evakuasi hanya memfokuskan diri untuk melihat para pasien yang langsung sembuh. Ketika semua urusanku beres, aku hendak mencarimu karena aku tahu ini pasti ulahmu. Tapi ....”
“Tapi apa?” Ucapan Putri yang menggantung tadi semakin membuat Mika penasaran. “Apa yang terjadi?”
“Sesaat sebelum aku pergi mencarimu bersama Ahmad, aku melihat seseorang menggendongmu dalam keadaan parah. Kulitmu sangat pucat malam itu dan hidungmu terus mimisan.”
Detak jantung Mika seakan berhenti. Ia melebarkan mata. Apakah orang yang dimaksud oleh Putri ini adalah sosok yang dilihatnya malam itu?
“Seseorang katamu?” tanya Mika yang langsung diberi anggukan oleh Putri. “Siapa ... orang itu?”
“Orang itu aku!”
Suara yang tiba-tiba muncul dari arah pintu tadi membuat Mika melebarkan matanya. Ia menatap ke arah pintu dengan pandangan tak percaya. Setali tiga uang dengan Mika, Putri pun langsung menoleh ke belakang saat melihat kedatangan orang yang tak diundang itu.
Mika yang masih terbaring dengan bantuan alat-alat medis itu langsung kaget saat melihat kehadiran orang tadi. Sosok itu berjalan mendekat dan Mika bisa melihat dengan jelas siapa dirinya.
“K-kau ... ?”