Pada dasarnya, apa yang dinamakan pertempuran itu selalu membawa kemalangan. Itu fakta yang tak bisa dibantah. Mika setuju dengan semua hal itu saat memandang kehancuran di desa ini.
Setelah lama berjalan menaiki bukit yang ada di ujung pedesaan, pemuda dengan rambut acak-acakan itu bisa melihat pemandangan desa dari atas sini. Dengan nafas yang terengah-engah, Mika menatap ke bawah dengan datar.
“Apakah itu lokasi yang ditargetkan oleh mereka?” gumamnya ketika memandang lokasi penambangan yang kini dijaga ketat oleh banyak orang asing.
Sebenarnya apa tujuan perang itu? Mika ingin mengamati semuanya dari segala sisi. Ia ingin tahu segala informasi dari sudut pandang negara-negara yang terlibat.
Akan tetapi, pemuda ini cukup sadar diri dengan posisinya. Ia hanya bocah SMA. Dirinya bukan lagi seorang pangeran kerajaan yang memiliki kekuatan politik besar dan bisa memutuskan suatu hal. Dia tak bisa ikut campur.
“Aku memiliki harapan yang terlalu tinggi,” ujar Mika pada dirinya sendiri.
Ia berjalan ke sini seorang diri. Angin malam yang berembus di atas bukit membuat sendi dan tulangnya terasa membeku. Pemuda itu duduk dan menatap sayu ke bawah.
“Sebenarnya apa yang kulakukan? Kenapa harus sok hebat? Aku ingin menghentikan suatu perang yang di luar kuasaku. Padahal di sini aku bukan siapa-siapa. Aku telah membual banyak hal pada Riko dan sekarang anak itu menderita.”
Mika tak tahu harus bagaimana. Ia mencurahkan isi hatinya di tempat ini seorang diri. Bahkan saat diantar Pak Bagus ke markas evakuasi tadi, dirinya tak berani mendekati bocah cilik bernama Riko itu. Ia hanya bisa memandangnya dari jauh dan berbincang dengan Putri.
“Aku menyedihkan.” Seutas senyum tipis bertengger di wajahnya. “Kenapa aku congkak sekali dan menjanjikan hal mustahil pada bocah itu?
Mika frustrasi dan stres. Kalau tahu begini, kenapa ia tak membangun benteng dan perlindungan untuk warga desa seperti yang dimau Riko? Padahal sejak pertama kali mereka bertemu, anak itu telah terobsesi dengan uang untuk membangun benteng.
Harusnya Mika sadar diri dan mendengarkannya. Mentang-mentang Riko memprediksi perang akan meletus setahun lagi, tapi Mika terlalu percaya diri. Kenapa ia mempercayai perkataan anak itu? Harusnya Mika sadar bahwa suatu perang dapat meletus kapan saja, seperti sekarang.
Sejujurnya ia ingin pulang. Berlarut-larut di dunia ini membuat Mika kesakitan dan terlena. Ia suka dengan orang-orang di sini. Akan tetapi, dirinya dilemahkan oleh rasa kasih sayang. Seperti sekarang, dia yang dulu dikenal keras merasa sangat hancur ketika melihat keluarga Putri kesakitan.
“Sial! Sial! Sial!” Mika memaki dengan kesal.
Masa bodoh sekarang. Otaknya sangat mendidih karena emosi dan rasa tak berdaya. Kabut hitam mulai menyeruak di sekitar bukit ini. Kabut itu semakin besar dan besar hingga menutupi seluruh area pedesaan.
Benar, Mika begitu emosi hingga energi sihir hitamnya kembali meluap ke mana-mana. Orang-orang yang berada di bawah sana mengira kalau kabut ini hanyalah mendung, tanpa tahu dari mana asalnya.
Meskipun begitu, Mika tampak berbeda. Tidak seperti dirinya yang biasa, di mana pemuda ini sering kalut dalam emosi dan tak sadarkan diri dengan apa yang dilakukannya, Mika sekarang tampak serius. Dari raut wajahnya, pemuda ini terlihat sadar penuh dengan apa yang dilakukan.
“Aku harus bisa menguasai energi hitam ini,” desis Mika dengan nada emosi.
Seperti yang kita ketahui, pada dasarnya energi sihir itu terbagi menjadi dua yakni hitam dan putih. Energi putih yang ada dalam diri Mika hilang dan menjadi alasan kenapa anak itu tak bisa melakukan sihir sejak pertama kali datang ke sini, namun tidak dengan energi hitamnya.
Ia masih bisa melakukan apa saja dengan energi sihir hitam yang telah dianugerahkan dari Raja Pertama itu. Ini adalah alasan kenapa Mika disebut spesial, namun ini juga yang menjadi alasan kenapa pemuda itu direndahkan oleh para penasihat kerajaan karena tak bisa mengendalikannya.
“Sihir asliku adalah telekinesis, aku bisa mempengaruhi suatu benda dengan pikiran menggunakan energi sihir putih biasa. Tapi aku yakin, sihir hitam ini bisa memberiku kekuatan tambahan untuk menyembuhkan seluruh orang!”
Pada dasarnya, sihir hitam itu tak memiliki kekuatan khusus. Berbeda dengan sihir putih Mika yang merupakan telekinesis, sihir ini bisa digunakan untuk membuat berbagai macam hal, termasuk penyembuhan, asalkan pemakainya tahu mantra untuk melakukan hal itu.
Membangkitkan orang yang mati saja bisa menggunakan sihir ini. Oleh karena itu, seluruh orang di kerajaan takut dengan kekuatan Mika ketika anak ini lepas kendali.
Pokoknya, pemuda ini harus menyembuhkan orang-orang di sini. Ia memang tak bisa melakukan suatu hal, tapi dirinya yakin bisa menyelamatkan banyak orang sebelum terlambat.
Badan Mika bergetar. Ia menggigit bibir bawahnya karena tekanan kuat dari sihir hitam yang menguasai tubuhnya. Hilang fokus sedikit saja, Mika bisa dikuasai oleh kekuatan itu dan justru melakukan tindakan berbahaya nantinya.
“ORDO ...!” Pemuda itu berteriak dengan nada tertahan.
Ordo adalah perintah pembuatan mantra sihir. Jadi, wajib hukumnya bagi Mika dan seluruh pengguna sihir lainnya untuk merapalkan kata tadi sebelum melepaskan kekuatan sihir.
Badan Mika menggigil dengan kekuatan yang terus meluber ini. Seluruh organ dalamnya seperti dipaksa hancur dan ini sangat menyakitkan. Akan tetapi, Mika menahan itu dengan sekuat tenaga.
Angin berembus semakin kencang dan kabut hitam semakin membumbung tinggi. Seluruh lokasi desa seperti dipenuhi oleh kabut misterius ini. Namun sama halnya dengan apa yang terjadi di stasiun tadi, orang-orang di tempat ini tak menyadari hal itu.
Mika berteriak untuk yang terakhir kalinya, “ORDO : MASSA SANITATEM!”
Energi hijau terang langsung berjalan cepat melewati kabut-kabut hitam ini tadi. Seluruh orang yang diselimuti oleh kabut itu langsung mengalami penyembuhan, termasuk aparat militer, relawan, bahkan orang-orang asing yang menjaga area pertambangan.
Hal yang paling terlihat perbedaannya adalah di lokasi markas evakuasi penduduk.
Putri, kakak gadungan Mika yang saat ini tengah mengecek ketersediaan infus di area barang langsung melebarkan mata tatkala melihat kabut hitam yang dipenuhi oleh energi hijau terang ini muncul di sekitarnya.
Dalam sekejap saja, luka yang ada di kepala wanita ini langsung sembuh. Dirinya terkejut bukan main. Bukan itu saja, Putri juga bisa merasakan perubahan drastis dalam tubuhnya yang semula terasa berat dan lelah kini menjadi ringan seperti tak ada apa-apa.
Wanita berambut hitam pendek ini melebarkan mata tak percaya. Apa yang sebenarnya terjadi? Rasanya seperti sihir— tunggu dulu.
Kedua mata Putri langsung melebar tak percaya. Ia membuang infus yang dipegangnya tadi begitu saja ke lantai dan berlari ke luar tenda penyimpanan barang. Ketika berada di luar, wanita ini terkejut bukan main ketika melihat seluruh wilayah desa diselimuti oleh kabut hitam kehijauan.
Badannya menggigil karena tak percaya. “I-inikah kekuatan Mika? Apakah ini ... sihir hitam?!”
“Ibu! Ibu!”
Suara teriakan yang muncul dari arah kirinya itu membuat Putri melihat Riko, anaknya, yang kini berlari dengan wajah bahagia. Di belakangnya, ada beberapa perawat lain yang selama ini bekerja dengannya di Puskesmas.
“Ibu! Kau pasti tak percaya dengan apa yang terjadi! Ayah akhirnya sadarkan diri! Bukan itu saja, kakinya yang memar dan tak bisa berjalan karena tertimpa bangunan tadi seperti terlihat baik-baik saja! Dia sembuh dalam sekejap!” Riko bercerita dengan wajah riang.
Saat itu, Putri tak mampu menahan ekspresi haru. Ia berkaca-kaca dan memeluk Riko erat.
“Benar, Dokter Putri. Semuanya terjadi dalam sekejap. Orang-orang yang kritis pun menjadi sehat dalam waktu singkat!” Seorang perawat yang ada di belakang Riko juga ikut memberitahu apa yang terjadi.
“Benar! Aku tak percaya dengan apa yang kulihat tadi! Ini semua rasanya mustahil. Sebenarnya apa yang terjadi? Ini semua tak bisa dijelaskan dengan sains!” sahut perawat lain.
“Badanku yang awalnya terasa lelah dan remuk saja langsung sembuh. Sebenarnya apa yang terjadi?”
“Kau benar. Seorang pasien yang awalnya mengalami katarak bahkan sebelum serangan misil tadi pun juga ikut-ikutan sembuh. Dia bahkan bisa melihat normal lagi tanpa dioperasi!”
“Terasa mustahil sekali ya? Ini rasanya seperti sihir saja.”
Putri yang sedari tadi masih mendekap Riko langsung memandang para perawat ini satu per satu. Wajahnya menunjukkan ekspresi yang tak bisa diartikan. Ia menatap ke arah kabut-kabut hitam ini dengan mata menerawang jauh.
Apa yang dikatakan mereka benar. Ini memang sihir. Mungkin perawat-perawat dan Riko tak bisa melihat kabut hitam ini, namun Putri bisa. Para perawat itu adalah orang biasa sedangkan Riko masih terlalu dini untuk bisa mendeteksi sihir hitam, jadi tak aneh bila mereka tak tahu.
Namun, satu hal yang pasti, Putri tahu ini adalah kekuatan Mika. Dia adalah seorang pemuda yang digadang-gadang menjadi raja terhebat dalam sejarah kerajaannya.
Mika punya kekuatan absolut untuk melakukan ini semua. Jadi, mungkinkah ini alasan kenapa pemuda itu pergi begitu saja dari hadapannya tadi? Sialan, Putri ingin memaki dirinya sendiri.
Kenapa bocah itu harus melakukan ini semua untuk membantunya? Penggunaan sihir hitam itu pasti sangat menyiksa.
Dengan menahan emosi, Putri melepas pelukannya dari sang anak. “Riko, apa kau tahu di mana Mika?”
“Apa?” Riko berkedip selama beberapa saat, mencoba memahami maksud ibunya. “Maksudmu Kak Mika sudah kembali dari Jakarta? Dia di sini?”
Pertanyaan yang diajukan oleh Riko ini menandakan kalau Mika belum kembali ke tenda evakuasi sejak tadi dan pemuda itu masih pergi entah ke mana. Pikiran Putri langsung berkecamuk.
Mika mempertaruhkan nyawanya untuk melakukan semua ini. Kalau anak itu tak segera ditemukan, entah akan seperti apa nasib pangeran mahkota tersebut. Putri takut Mika kenapa-kenapa sekarang. Tanpa sadar, tubuhnya menggigil ketakutan.
“Ibu baik-baik saja?” tanya Riko dengan cemas. Para perawat yang datang ke sini bersamanya pun juga menatap khawatir ke arah Putri.
Senyum samar langsung tersungging di wajah Putri. “Aku tidak apa-apa. Kalian tenang saja. Kita kembali ke tenda evakuasi untuk melihat keadaan di sana dulu.”
Pada akhirnya, Putri harus menjalankan tugasnya sebagai tenaga medis di sini. Ia harus melihat keadaan seluruh pasien terlebih dulu lalu mencari Mika, di mana pun dia berada. Bersama dengan Riko dan para perawat tadi, wanita ini bergegas secepat mungkin ke tenda perawatan.
***
“Aku tidak menyangka kalau masalahnya akan serunyam ini.”
“Ini adalah alasan kenapa aku melarang anak itu ikut menangani kasus ini secara langsung. Dia itu remaja biasa, menyisihkan fakta soal latar belakangnya yang berbeda dari manusia normal.”
Suara helaan nafas terdengar dari mulut pria yang saat ini sibuk menelepon itu.
“Anda benar. Ini kelalaian saya. Fakta kalau bocah itu adalah seseorang dengan status terpandang membuatku lupa kalau ia juga memiliki darah panas remaja yang menggebu-gebu. Hal ini harusnya tak terjadi.”
Pria yang saat ini mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi itu tampak memandang jalan dengan wajah frustrasi. Orang yang tak lain adalah Udin, si intel yang sering menyamar ini tengah stres memikirkan aksi Mika yang seenaknya.
Saat ini, dirinya sedang berbincang dengan Bu Siti lewat telepon. Kepala sekolah itu tampak mengomel sejak tadi. Tampaknya ia kesal dengan perilaku Mika yang seenaknya.
“Apa pun yang terjadi, aku akan segera menemukan Mika. Anda tenang saja. Masalah ini akan beres saat kutangani.”
“Aku pegang kata-katamu, Pak Udin. Aku masih belum bisa menghubungi keluarga Mika yang ada di sana untuk memastikan dia di desa itu atau tidak. Tapi aku sangat yakin jika Mika di tempat itu karena melihatnya naik mobil Satpol PP tadi. Dia pasti minta tumpangan.”
Udin paham dengan situasinya. Anak itu sepertinya punya kenalan dengan anggota Satpol PP.
Ayah dari Asa itu menghela nafas panjang. Saat ia sibuk menjalankan misi untuk menyelidiki agen travel, hal seperti ini justru terjadi pada Mika. Bocah itu pergi seenaknya ke tempat bahaya mentang-mentang misinya sukses dijalankan.
Sungguh menyebalkan.
“Aku menjamin kata-kataku. Anda tenang saja. Mika akan kutemukan dan aku akan meneleponmu saat menemukan bocah itu.”
Pada akhirnya telepon itu ditutup oleh Ibu Kepala Sekolah. Sekarang, Udin harus fokus dengan misi pencarian bocah itu. Pria ini tak ingin hal buruk terjadi pada Mika. Kekuatan tak masuk akal yang dimilikinya bisa berguna dalam situasi seperti sekarang. Kalau Mika kenapa-kenapa, semua bisa runyam.
Tinggal 10 menit lagi, ia akan sampai di lokasi penembakan misil itu. Sejujurnya Udin lelah karena harus datang lagi ke tempat ini. Padahal ia sudah ke desa ini untuk menjemput ibu mertuanya beberapa saat yang lalu, tapi pria itu tak mengira akan kembali ke sini untuk mencari Mika.
Ia menghela nafas untuk yang ke sekian kali. Pokoknya, Udin akan menemukan Mika apa pun yang terjadi. Ini semua ia lakukan demi kekuatan sihir yang dimiliki pemuda itu.