Semua yang ada di tempat ini kacau. Mika tak bisa mengungkapkan sepatah kata pun saat melihat pemandangan mengerikan yang ada di hadapannya. Mulut pemuda itu bungkam. Kedua matanya terlihat nanar.
Sebuah pemikiran terbesit dalam kepalanya. “Apakah ini yang dinamakan perang?”
Pemuda itu tak paham. Sejauh mata memandang, yang ia jumpai hanyalah kerusakan. Bahkan ia tak bisa menemukan rumah yang masih bisa berdiri kokoh di antara puing-puing bangunan yang telah hancur lebur itu. Semuanya luluh lantah.
Mika berjalan ke sana ke mari. Ia mengitari desanya di jam yang sudah menginjak pukul 12 malam ini. Beberapa polisi dan aparat militer tampak sedang melakukan patroli. Listrik di area ini pun terputus, jadi penerangannya menjadi terbatas. Meskipun begitu, Mika mengabaikan semua hal tadi.
Ia tetap berjalan dan terus berjalan. Kakinya membawa pemuda itu untuk melangkah ke banyak tempat. Seluruh tempat di desa ini membawa kenangan tersendiri bagi Mika.
Pemuda itu memandang sendu ke arah pasar malam yang selalu ramai dikunjungi orang setiap harinya. Tempat yang menjadi pusat hiburan bagi masyarakat di desa ini tampaknya turut menjadi korban. Lokasi itu telah luluh lantah dengan banyak barang yang berserakan di mana-mana.
Mata Mika beralih memandang area pemukiman. Dia bisa melihat bagaimana rumah Pak Kepala Desa yang kini tinggal setengah saja. Bagian depan rumah berwarna hijau itu telah ambruk.
Tak jauh dari sana, wajah Mika langsung menunjukkan ekspresi pilu ketika memandang rumah keluarga Putri yang benar-benar rata dengan tanah. Bibir Mika berkedut. Kenapa hal seperti ini harus terjadi?
“Mika, aku mencarimu sejak tadi. Apa yang kau lakukan di sini?”
Pak Bagus yang sebelumnya telah berpamitan pada Mika untuk menemui atasannya terlebih dahulu kini muncul dari arah belakang pemuda itu. Mika terkesiap untuk beberapa saat. Ia menoleh ke belakang dan menemukan petugas Satpol PP yang telah memberikannya tumpangan tadi.
“Apa kau sudah menyampaikan laporan pada atasanmu?” tanya Mika. Ia berusaha mengalihkan perhatian.
Mendengar itu, petugas Satpol PP ini langsung mengangguk. “Tentu saja. Itu sudah beres. Jadi, apa yang kau lakukan di sini sendiri?”
Mika menghela nafas panjang. Ia tampak menunduk selama beberapa saat sebelum kepalanya menoleh ke belakang. Pemuda itu tersenyum pilu. Ia melirik ke arah rumah keluarga Putri yang sekarang hancur.
“Ini adalah rumahku.”
Kedua mata Satpol PP ini langsung melebar tak percaya. Ia bisa melihat bagaimana puing-puing dari bangunan ini sekarang sudah berserakan di tanah.
Mika menundukkan kepalanya lagi. Ia frustrasi dan stres di saat yang bersamaan. Pemuda itu memijit kepalanya menggunakan kedua tangan sekaligus.
“Aku bahkan sama sekali tidak tahu apakah mereka selamat atau tidak. Aku adalah keluarga yang buruk. Di saat keluargaku membutuhkan pertolongan, aku justru berada jauh dari mereka.”
Mendengar nada suara Mika yang dipenuhi dengan kepiluan itu, hati Pak Bagus menjadi trenyuh. Pria itu mendekat. Ia menepuk pundak Mika dua kali dari belakang. Dirinya berusaha menenangkan remaja yang tampak kacau ini.
“Aku sudah tak tahu apa yang harus kulakukan. Semuanya terlambat. Aku bahkan tidak tahu keberadaan mereka!” keluh Mika dengan suara tertahan.
Seluruh kenangan-kenangan yang telah Mika lalui bersama Putri, Ahmad, dan Riko di rumah ini terus menyeruak sejak tadi. Ia tak bisa melupakan semua momen berharga yang tercipta di tempat ini. Setiap kali memandang rumah yang hancur ini, hati Mika terasa begitu sakit.
“Tolong, tenangkan dirimu terlebih dahulu,” hibur Pak Bagus apa adanya. “Aku akan mengajakmu ke markas evakuasi penduduk. Apakah kau mau? Mungkin saja, keluargamu juga ada di sana.”
Saat itu, Mika yang terlihat begitu hancur langsung menengadahkan kepala. Ia menatap pria berseragam hitam ini dengan mata terkesiap kaget. Apakah tadi ia tak salah dengar?
“Evakuasi katamu?” tanya Mika dengan nada cerah.
Petugas itu mengangguk. “Aku tidak tahu apakah ini bisa membantumu atau tidak. Tapi yang jelas, kita tak boleh menyerah sebelum berusaha kan? Aku sangat yakin jika keluargamu baik-baik saja!”
Mendengar ucapan yang dipenuhi oleh energi positif itu, Mika tak mampu untuk merekahkan senyum bahagianya. Ia segera berjalan mengikuti Pak Bagus ke tempat yang dimaksudkan. Semoga saja akan ada hal bagus setelah ini.
***
Jauh dari kekacauan yang terjadi di desa itu, gadis berambut panjang yang kini sibuk melepas ikat rambutnya ini tampak menatap cermin dengan pandangan tajam. Kalau boleh jujur, suasana hatinya tak begitu baik.
Rika Angkasa marah dengan dirinya sendiri. Terlebih, ia juga merasa kesal dengan segala situasi yang ada sekarang. Kalau saja Asa tadi tak tersulut emosi, mungkin ia masih bisa bersama dengan Mika saat ini.
Asa baru mengetahui dari televisi kalau kepergian Mika tadi ternyata memiliki tujuan untuk menyelamatkan Dimas yang ditahan oleh keluarga dari pihak ayahnya. Pantas saja anak itu memakai baju OB berlambangkan kedutaan.
Asa berpikir jika Mika adalah orang egois. Namun ketika dirinya mengetahui semua hal yang terjadi sekarang, Asa merasa bahwa ia adalah orang yang paling egois dalam kasus ini.
Menyebalkan. Dengan kesal, gadiss ini menyisir rambutnya secara asal-asalan. Dari arah belakang, tampak Dini yang sedang duduk di atas kasur seorang diri. Ayu dan Dina sudah tidur sejak tadi. Gadis yang merupakan kakak kembar dari Dina itu terus melemparkan pandangan selidik ke Asa.
“Kau baik-baik saja? Setelah semua hal yang terjadi, sebenarnya ada apa sih? Apa kau kaget saat melihat Mika yang muncul di televisi hari ini?”
Asa menghela nafas panjang. Dini adalah tipe orang yang sangat tidak mau repot untuk mengurusi kehidupan orang lain. Tetapi kalau ia sampai bertanya demikian, pasti sejak tadi Asa terlihat banyak pikiran hingga temannya yang satu itu ingin turun tangan membantu.
Asa menghela nafas. Ia menatap wajah ayunya dengan pandangan sayu. Bibirnya sedikit mengerucut karena kesal. Ia bisa melihat pandangan Dini yang terus melihatnya dari cermin.
Ia berbalik arah. Dirinya melirik sekilas ke arah Ayu dan Dina yang sudah tertidur. Pada akhirnya, Asa naik ke kasur yang sama dengan Dini. Ia menceritakan semua hal yang terjadi di stasiun tadi.
Mata Dini yang semula biasa langsung melebar tak percaya. “N-nenekmu ... tinggal di wilayah yang sekarang hancur itu?!”
Wajah Asa menunjukkan kesedihan yang begitu nyata. “Kau benar. Akan tetapi, entah bagaimana caranya Ibuku bilang kalau keadaan Nenek sudah aman beberapa saat yang lalu. Bahkan, dirinya sedang dalam perjalanan untuk menjemput nenekku.”
“Wah, bukankah akses ke sana ditutup? Gila. Ibumu pasti punya orang dalam,” celetuk Dini begitu saja.
Asa pun menghela nafas panjang. Ia lalu menceritakan adegan di mana dirinya dan Mika adu mulut di jalan tadi.
“Aku ini hanya khawatir. Aku mencemaskan keadaan anak itu. Dia tampak kacau sejak berada di stasiun dan saat itu dirinya bilang kalau tak mau pulang ke asrama. Menurutku dia hanya mendatangkan masalah kalau begitu ceritanya!” tukas Asa dengan kesal.
Kalau saja Asa tahu Dimas selama ini ditahan oleh keluarganya, ia pasti akan bersikeras untuk mengikuti Mika tadi. Namun ia malah tersulut emosi dan meninggalkan Mika begitu saja.
Diceritakan seperti itu oleh Asa, Dini langsung menghela nafas. “Sejujurnya aku juga kesal ketika memergoki Budi dan Jojo yang kabur dari asrama tadi! Siapa yang akan mengira kalau dua orang itu akan bekerja sama dengan Mika untuk menyelamatkan Dimas? Kita kan sama sekali tak tahu kalau Dimas diculik dan ditahan.”
“Kau benar. Kita sama sekali tak tahu hal ini sebelum disiarkan di televisi tadi. Aku jadi berpikiran yang tidak-tidak. Ini sudah tiga jam sejak siaran itu ditayangkan, kenapa mereka semua belum kembali?” tanya Asa tak mengerti.
Ini menyebalkan bagi Asa. Perasaannya sejak tadi menjadi tak enak. Hatinya bergumul dalam pemikiran-pemikiran negatif. Ia bisa melihat bagaimana kondisi Mika yang sangat kacau di televisi tadi. Pemuda itu terlihat begitu pucat dengan darah yang terus menetes dadi hidungnya.
Apakah Mika benar-benar tidak apa-apa?
Saat Asa melamun, tiba-tiba dering ponsel terdengar nyaring. Asa dan Dini langsung berpandangan. Siapa yang menelepon di jam-jam malam seperti sekarang?
Asa yang menyadari kalau telepon itu berasal dari ponselnya langsung bangkit dan berjalan menuju meja dimana ia meletakkan benda telekomunikasi itu. Dahi Asa terlihat mengerut ketika melihat nama ayahnya di telepon itu.
Apakah ada suatu hal yang terjadi dengan neneknya atau bagaimana? Ini pasti hal penting ketika ayahnya menelepon di jam malam seperti sekarang.
“Halo, Ayah. Ada apa? Apakah ada hal penting? Nenek baik-baik saja, kan?”
Terdengar suara bising dari seberang telepon. Suara ayahnya tidak begitu jelas. Asa bertanya-tanya di mana posisi sang ayah sekarang.
“Bukan, ini bukan masalah nenekmu. Aku ingin bertanya. Apakah Mika sudah kembali?”
“Apa? Mika katamu?” Asa bertanya dengan suara heran.
Dini yang masih terjaga sejak tadi langsung menoleh ke arah Asa ketika dirinya berkata seperti itu. Kenapa ayah Asa bertanya soal Mika ya? Ketua OSIS ini pun langsung berinisiatif untuk mengecek apakah geng cowok-cowok aneh itu sudah kembali atau belum.
“Kenapa kau menanyakan Mika padaku? Apakah ada suatu hal yang terjadi dengan Mika?!” Sialan, Asa benar-benar tak bisa menyembunyikan rasa cemasnya pada pemuda itu.
Saat itu, mata Asa melihat ke arah Dini yang celingak-celinguk di depan pintu kamar asrama mereka. Sepertinya Mika dan teman-temannya memang belum kembali.
“Tidak, aku hanya ingin memastikan anak itu ada di mana.”
Alis Asa mengernyit bingung. “Memastikan di mana lokasi Mika?”
“Ya, ceritanya sangat panjang. Yang jelas aku ada di sekolahmu sekarang. Di sini ada banyak orang. Kepala sekolah, orang-orang dinas, dan beberapa temanmu yang muncul di televisi tadi juga ada di sini. Tapi ke mana Mika? Kenapa ia tak ada? Kupikir anak itu kembali ke asrama.”
Mendengar perkataan ayahnya yang seperti itu, Asa langsung menyusul Dini yang masih mengintip dari pintu. Ia kaget ketika melihat kerumunan yang ada di luar. Sepertinya orang-orang itu memang sudah kembali.
“Ayah bilang ... Mika tak ada di sana?”
Sorot mata Asa langsung mengungkapkan kekhawatiran. Ke mana anak itu?
***
Situasi di sini sedang tidak bagus. Mika bisa melihat bagaimana Riko yang tertidur di samping tubuh ayahnya yang tak sadarkan diri. Ia memandang dua orang itu dari kejauhan.
Sejak tadi, dirinya dihadang oleh Putri yang tampak kacau. Wanita berambut pendek yang saat ini memakai jas dokter itu memarahinya habis-habisan. Putri tak terima melihat Mika ada di tempat ini. Bisa berbahaya baginya kalau sewaktu-waktu akan ada serangan misil di tempat ini lagi.
“Padahal aku sudah mewanti-wanti pada Bu Siti untuk menahanmu! Tapi kenapa kau bisa muncul di tempat ini? Astaga, Mika. Jangan keras kepala. Kembalilah ke Jakarta dan jangan membuatku lebih stres lagi,” perintah Putri dengan nada lembut.
Wanita berusia 30 tahunan ini mencoba memberi pengertian pada remaja yang sedang gelap mata itu. Ia bisa melihat bagaimana Mika yang saat ini tampak begitu kacau dan emosi. Mata Mika terus tertuju pada Ahmad dan Riko yang ada di sana.
“Mika, tenanglah. Aku bisa mengatasi masalah di sini. Kau harus kembali ke—“
“Kau bisa mengatasi masalah di sini? Apa kau gila?!” Mika langsung naik darah. Kedua matanya menatap penuh emosi ke arah kakak gadungannya itu.
Dilihat dari mana pun, Putri tampak menyedihkan. Kepalanya diperban. Di dahinya ada bekas darah. Kemungkinan wanita ini terbentur tadi. Dalam situasinya sekarang, ia juga masih harus merawat orang-orang di sini. Mika bisa melihat bagaimana Ahmad yang tak sadarkan diri di sana.
Ini semua pasti berat untuk kakaknya. Di saat seperti ini, kenapa ia bilang mampu mengatasi semua masalah ini?
Mika kesal. Ia kesal dengan posisinya yang tak berdaya. Tiba-tiba ia teringat dengan kakaknya, Pangeran Jordan yang seperti dengan Putri. Kakaknya yang dulu juga selalu menanggung semuanya sendiri.
Tapi, sekarang? Mana mungkin ia bisa membiarkan Putri seorang diri menghadapi masalah ini? Mika bukan anak kecil lagi. Ia harus bertindak.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Mika pergi begitu saja dari hadapan wanita itu.
Untuk sesaat, Putri kaget dengan tindakan yang tiba-tiba dilakukan oleh pangeran dari Kerajaan Mimika itu. Kenapa Mika begitu saja setelah marah seperti tadi?
Bukannya tenang, Putri justru berpikiran yang tidak-tidak. Melihat Mika yang pergi begitu saja tanpa mengucapkan apa pun, pasti anak itu ingin melakukan suatu hal. Tatapan Putri langsung cemas. Ia ingin mengejar anak itu, tapi posisinya yang harus membantu merawat orang-orang di sini tak dapat ditinggal.
Apa yang harus dilakukan Putri sekarang?
“Mungkinkah Mika ingin melakukan suatu hal dengan sihirnya?”