Hidup itu aneh. Manusia juga tak kalah anehnya. Itu adalah pemikiran Mika sejak dulu. Pada dasarnya, pemuda bernama Mika Jonathan ini adalah seorang pangeran yang memiliki kepribadian tertutup. Sifatnya yang suka berbuat onar dan nakal saat kecil telah sirna begitu saja setelah sang kakak tewas di medan perang.
Kata orang, ada namanya proses dalam kehidupan. Orang-orang akan selalu berubah seiring waktu berjalan, tak terkecuali Mika. Dari mana pun asalnya, ia tetaplah manusia biasa. Hal seperti itu juga dialaminya.
Meskipun begitu, ada satu hal dalam dirinya yang tak bisa berubah sejak dulu. Ia masih suka emosi, marah-marah tak jelas, bahkan mengamuk pada seseorang yang melakukan kesalahan atau tindakan yang menurutnya tak benar. Remon yang jengah pada sikap Mika pun selalu meledek jika Dewa Kemarahan pasti mengikutinya ke mana-mana.
Kalau boleh jujur, keberadaan Mika di dunia yang baru ini adalah sebuah keanehan juga. Sudah berapa lama sejak pertama kali dirinya ada di sini? Apakah sudah lebih dari tiga bulan? Mika bahkan tak bisa mengingatnya.
Dunia baru ini terasa begitu asing untuknya. Semua terasa aneh. Bukan itu saja, manusia-manusia di sini juga berperilaku aneh. Mereka tak bisa dimengerti. Mereka tak bisa dibaca. Semua aksi yang dilakukan oleh mereka membuat Mika bingung.
Di zaman sekarang, orang-orang bisa bebas mengungkapkan ekspresi. Suasana inilah yang membuat hatinya aneh. Seumur hidup, Mika bersumpah jika ia sama sekali belum pernah merasakan sesuatu seperti sekarang.
“Ini adalah alasan kenapa aku tak ingin kau melakukan hal seperti ini!” Bu Siti yang masih merengkuhnya sejak tadi tampak mengatakan hal itu dengan nada pilu.
“Mika, sebenarnya apa yang ada di otakmu itu?” Sekarang, dia bisa melihat bagaimana Jojo yang menatapnya dengan ekspresi campur aduk.
Di sisi lain, Budi yang sedari tadi berdiri di dekatnya juga menatap Mika dengan ekspresi datar. Sorot matanya menampilkan ekspresi yang tak bisa diartikan. Selama ini, kemunculan Mika menjadi anomali bagi anak itu.
“Mika adalah orang gila. Itu faktanya, Jojo,” ujar Budi sambil menghela nafas panjang.
Kenapa semua orang ini berperiku seperti itu padanya? Inilah yang tak dapat Mika pahami. Orang-orang ini mengkhawatirkannya. Padahal ia pikir, hubungan antara dirinya dengan mereka tak sedekat itu.
Akan tetapi, semua orang di sekitarnya selalu baik pada Mika. Bukan itu saja, mereka semua peduli dan senantiasa ada di saat Mika butuh. Ini aneh. Dan, hatinya juga merasa aneh.
Suasana menjadi hening untuk beberapa saat. Orang-orang dari Dinas Pendidikan dan Perlindungan Anak yang semula ingin membantu Mika pun mengurungkan niat mereka ketika melihat momen kepala sekolah yang memeluk erat anak itu. Dilihat dari sisi mana pun, ini adalah momen privasi. Mereka tak bisa terlibat dalam hal ini.
Dalam situasi yang hening ini, Mika yang masih kebingungan hanya bisa berkata, “Tolong lepaskan aku. Aku tidak bisa ada di sini!”
“Dalam kondisimu yang seperti sekarang, kau akan ke mana hah?!” tukas Budi dengan galak. Mika langsung mengabaikan hal tadi. Ia tak mau menjelaskan masalah keluarganya di desa.
Saat itu, Bu Siti langsung melepaskan pelukannya. Ia menatap Mika dengan ekspresi aneh. Mika yang berhadapan dengannya bisa melihat dengan jelas kalau ada hal yang disembunyikan oleh nenek palsunya itu. Alis Mika menukik tajam.
“Apa sebenarnya maksud dari tatapanmu itu?”
Pemuda ini mulai berspekulasi yang tidak-tidak mengenai kemungkinan terburuk yang barang kali terjadi di sana. Ia menorehkan senyum tak percaya.
“Ini soal keluarga Putri, bukan? Apakah itu yang menjadikan alasan bagimu untuk segera pergi dari sini?” tanya sang Kepala Sekolah.
Mika langsung berteriak tak terima. “Tentu saja! Kenapa Anda masih bisa bertanya soal hal yang sudah pasti? Aku tidak bisa di sini lebih lama lagi! Aku harus pergi sekarang dan sampaikan surat absen pada wali kelasku kalau aku tidak bisa masuk besok!”
Melihat Mika yang berdebat dengan Kepala Sekolah membuat Jojo dan Budi saling pandang. Apakah mereka bisa berada di sekitar mereka untuk mendengarkan perdebatan ini? Atau lebih baik keduanya pergi saja dari tempat ini?
“Kenapa harus memikirkan hal seperti itu? Pikirkan saja kondisimu! Kau tampak kacau!” balas Bu Siti dengan sengit.
Mika yang mendengar itu langsung mengepalkan tangannya erat. Ia menarik nafas dalam-dalam. Pemuda ini berusaha sebisa mungkin untuk tidak meluapkan emosi di tempat ini, terlebih pada Kepala Sekolah.
Dengan sorot mata yang tajam, pemuda dengan rambut acak-acakan itu berkata, “Kau pasti sudah mengetahui sesuatu soal kondisi keluarga Putri kan?”
Saat itu, Mika bisa melihat bagaimana pupil mata dari kepala sekolah yang melebar. Rupanya, ia terkejut saat Mika berkata demikian. Dugaan pemuda ini benar. Bu Siti pasti tahu suatu hal jika reaksinya seperti itu.
Apakah ini adalah alasan yang membuat wanita ini memeluknya secara tiba-tiba tadi? Apakah Bu Siti mencoba untuk menghiburnya dan berusaha menutupi suatu fakta buruk yang terjadi?
Dengan alis menukik, Mika menunjukkan ekspresi marah. “Aku tahu kalau dirimu mengetahui suatu hal! Katakan itu padaku! Aku tak bisa menghubungi mereka sejak tadi! Apakah kau tahu bagaimana rasa cemas yang kualami?!”
Karena emosional, tanpa sadar Mika telah menaikkan nada suaranya. Sekarang, ia dan Bu Siti langsung menjadi pusat perhatian. Orang-orang yang ada di sini bingung dengan suara penuh amarah tadi. Siapa yang cekcok di situasi kacau seperti ini?
Dimas yang tampaknya sudah menyelesaikan urusan dengan para anggota dinas pun langsung menghampiri tiga temannya yang lain di tempat itu. Saat melihat Kepala Sekolah yang bersitegang dengan Mika, pemuda beralis tebal ini merasa keheranan.
Ia melirik ke arah Budi dan Jojo untuk meminta kejelasan. Namun mereka berdua justru memberikan reaksi yang seolah mengatakan jika situasi ini terlalu sulit untuk dijelaskan melalui kata-kata. Melihat itu, Dimas merasa bingung. Apa yang sebenarnya terjadi di saat dirinya memberikan penjelasan pada para anggota dinas tadi?
“Katakan padaku, Ibu Kepala Sekolah yang terhormat! Aku sama sekali tak main-main dengan ini!”
Suasana langsung terasa menjadi begitu tegang saat Mika mengucapkan hal itu dengan emosi. Baik Jojo, Budi, maupun Dimas yang ada di sekitar mereka berdua pun tak berani membuka suara. Nafas mereka tertahan saking terkejutnya mendengar Mika yang marah seperti itu.
Pada akhirnya Bu Siti menarik nafas dalam-dalam. Seperti perkataan Putri ketika ia mendaftarkan Mika sekolah di sini dulu, rupanya pemuda ini memiliku temperamental yang cukup buruk. Wanita tua ini cukup kebingungan.
Dari mana ia harus menjelaskan semua ini?
“Mika, apa kau tahu apakah misil itu?” tanyanya dengan serius.
“Sejenis bom tapi berbentuk seperti peluru kan? Aku sudah tahu hal itu! Untuk apa basa-basi lagi?!”
“Jadi, kau sudah tahu bagaimana hasilnya apabila suatu daerah ditembak oleh benda itu kan?”
Mika mengerjapkan mata untuk sesaat, berusaha memahami apa maksud wanita tua ini. “H-hah ...?”
“Kau tak perlu datang ke sana untuk sementara waktu. Putri memintaku untuk tetap menahanmu di sini. Ada sedikit kekacauan memang, tapi ia tak ingin dirimu kenapa-kenapa. Jadi, tetaplah tenang di sini. Aku yakin ia akan menghubungimu ketika situasinya kondusif.”
Mika menundukkan kepala dengan kesal. Setelah semua yang terjadi, wanita sok tahu yang selama ini telah menjadi kakak palsunya itu meminta dirinya untuk bersikap tenang? Ia meminta Bu Siti untuk menahannya? Dan lagi, situasi kacau apa yang terjadi di sana? Mika benar-benar tak tahan.
Orang itu memang memiliki tipe sihir penyembuh. Tapi, Mika sangat yakin jika Putri tak memiliki energi sihir sebesar itu untuk menyembuhkan orang-orang. Di sana pasti ada banyak penduduk yang terluka.
Sama dengan Putri, Mika memang memiliki energi terbatas di sini. Akan tetapi, sihir hitam milik Raja Pertama yang menyertainya tak terpengaruh dengan hal itu. Kekuatan sihir hitam dalam dirinya cukup besar dan selalu ada. Selama ini, Mika selalu menggunakan sihir itu untuk membantunya.
“Aku tidak akan peduli dengan omong kosong itu!”
Baik Bu Siti, Jojo, Budi, maupun Dimas langsung terkesiap. Mereka melihat bagaimana Mika yang menatap neneknya itu dengan pandangan serius.
“Kau tahu siapa aku kan, Nek? Aku tidak akan tinggal diam. Manusia licik di dunia ini akan tetap ada. Namun, mereka telah menargetkan tempat yang salah untuk diserang. Aku adalah salah satu penduduk desa itu. Mana mungkin aku akan diam sekarang? Aku akan pergi!”
Jojo dan Budi yang mengetahui fakta jika tempat yang ditembak misil itu adalah tempat tinggal Mika langsung terkejut tak percaya. Kepala Sekolah pun juga kaget ketika Mika berkata akan pergi. Ia mencekalnya, namun Mika dengan mudah melepaskan hal itu dan berlari dari lokasi tadi.
Tekad Mika sudah bulat. Ia berlari dengan kecepatan tinggi. Mulut Mika terlihat menggumamkan suatu hal. Seketika, dirinya yang pucat dan kacau tadi tampak sehat kembali.
Ini adalah mantra penyembuh yang selalu ia gunakan setiap kali dirinya terluka. Efeknya memang sementara, tapi Mika yakin ia masih memiliki waktu untuk bisa kembali ke desanya.
“Mika?! Kenapa kau lari di malam-malam seperti ini?!”
Suara teriakan yang tiba-tiba muncul dari sebuah mobil itu membuat Mika berhenti lari. Ketika ia menoleh, pemuda ini bisa melihat sebuah mobil hitam dan seseorang yang tak asing lagi baginya.
“Pak Bagus?!”
Ya, orang yang memandangnya heran karena sudah lama tak bertemu dengannya ini adalah sosok Pak Bagus, seorang Satpol PP yang pernah menembak kaki Mika dulu. Dia sama sekali tak menyangka akan bertemu dengan sosok itu.
Mobil hitam milik Satpol PP itu langsung berhenti. Pak Bagus keluar dan memandang Mika dengan cemas. Ia heran ketika melihat pemuda ini memakai baju seragam OB dengan lambang kedutaan. Apakah anak ini baru saja dari sana?
“Kau mau ke mana malam-malam seperti ini?”
“Aku ... aku mau kembali ke desaku!”
Mendengar itu, Pak Bagus langsung menebak banyak hal. Satu hal yang pasti, mungkin amnesia anak ini sudah sembuh jadi ia sudah teringat dengan tempat tinggalnya.
Namun saat Mika mengatakan yang sebenarnya soal situasi yang ada di desa itu, Pak Bagus langsung melebarkan mata tak percaya. Ia tahu tempat itu berbahaya dan aksesnya ditutup. Tak ada kendaraan yang bisa ke sana karena dilarang.
“Apa kau gila?! Kau mau lari ke desa itu? Butuh berapa lama waktu yang kau habiskan nanti?”
“Aku tahu kalau aku sudah gila! Tapi, aku harus melakukan ini! Apa kau tahu bagaimana rasanya khawatir dengan keluargamu yang sedang dalam bahaya?”
Mendengar itu, Pak Bagus langsung terkesiap. Anak ini memiliki tekad yang cukup tangguh. Sebenarnya ia juga akan ke sana untuk membantu evakuasi dan banyak hal, tapi Pak Bagus tak mengatakan hal itu pada Mika agar pemuda ini mau mengurungkan niatnya ke tempat berbahaya itu.
Akan tetapi, kalau melihat Mika yang seperti ini rasanya jadi tak tega. Anak ini harus ditolong.
Sambil menghela nafas panjang, petugas Satpol PP ini berkata, “Kalau begitu, aku akan mengantarmu?”
Senyum tak percaya merekah di wajah Mika. “Hah? Lelucon macam apa itu?! Kau sudah gila?”
Urat nadi kemarahan langsung muncul di dahi Pak Bagus. Anak ini memang sangat ahli membuatnya emosi dan menahan kesabaran.
“Aku tidak bercanda, Bodoh! Dari awal aku memang akan ke sana! Kau bisa menumpang di mobilku daripada berlari ke tempat itu! Aku akan mengantarkanmu!”
Ini adalah keanehan yang disebutkan oleh Mika tadi. Manusia memang makhluk yang aneh. Namun di lain sisi, orang-orang yang ada di dunia ini lebih aneh daripada manusia normal yang ia tahu. Pemuda ini semakin bertanya-tanya dalam hati.
Kenapa orang-orang di sekitarnya selalu ada dan membantu Mika ketika ia mendapat kesulitan?
Hatinya terasa hangat. Tanpa sadar, ia menorehkan senyum haru. “Terima kasih, terima kasih banyak!”
“Sudahlah, ayo masuk ke dalam. Kita bisa melanjutkan obrolan di sana.”
Mendengar itu, Mika langsung mengangguk. Ia dan petugas Satpol PP itu masuk ke dalam mobil dan mereka melaju menuju tempat berkonflik itu. Bagaimana pun, Dewi Fortuna senantiasa menyertai pemuda itu. Ia selalu beruntung di tempat ini.
Orang-orang begitu baik dan pemurah. Semua hal yang dilakukan oleh Mika pun rasanya selalu didukung oleh Yang Maha Kuasa. Setelah misinya membawa Dimas kabur berjalan lancar, sekarang keinginannya untuk kembali ke desa pun juga sama lancarnya.
Semua keanehan yang bernama kebaikan ini masih asing bagi Mika. Di kerajaannya dulu, semua orang bersaing dan saling menjatuhkan. Ia cukup lelah dengan semua itu. Namun di tempat ini, seluruh orang bersatu dan saling membantu.
Mika suka dengan orang-orang yang ada di dunia ini. Sekilas, terbesit harapan aneh dalam hatinya. Apakah tak apa-apa jika nantinya ia memilih untuk tetap ada di sini dan tak kembali?