Chapter 54 - Kebingungan

1547 Kata
“Kedutaan Besar Cina telah melakukan kesalahan fatal dengan melakukan penahanan pada seorang siswa SMA yang diketahui merupakan anak dari delegasi penting yang telah meninggal karena kecelakaan kereta hari itu!” Seorang wanita berparas ayu tengah menatap kamera dengan wajah serius. Ini adalah siaran langsung yang ditayangkan di beberapa stasiun televisi nasional. Sebagai perwakilan dari Dinas Perlindungan Anak, ia tak bisa membenarkan aksi penahanan itu. Seorang pria berkacamata yang ada di sebelahnya langsung menyahut. Ia yang merupakan perwakilan dari Dinas Pendidikan langsung setuju dengan pernyataan tadi. “Bukan itu saja, mereka telah menyalahgunakan kekuasaan untuk menghentikan hak sekolah dari Dimas Fajar. Anak itu dipaksa tidak sekolah dan mereka membuat pernyataan palsu pada SMA Unggulan Esa yang menjadi tempat Dimas menimba ilmu.” “Benar, kalau saja Kepala Sekolah dari SMA unggulan itu tidak memberitahu hal ini, maka kami juga tak akan tahu sampai sekarang.” Seluruh masyarakat Indonesia yang menyaksikan siaran pers langsung dari Dinas Pendidikan dan Perlindungan Anak ini sontak mengerti bagaimana situasi yang sebenarnya terjadi. Bukan hanya aksi penembakan misil itu, ternyata Kedubes Cina telah melakukan pelanggaran hak asasi manusia dengan menahan seorang siswa SMA. Padahal yang masyarakat tahu, selama ini Dimas Fajar dikenal sebagai sosok yang korporatif. Nama anak itu menjadi diketahui oleh banyak orang setelah kematian sang ayah akibat kecelakaan kereta dulu. Ia berseliweran di segala media pemberitaan karena menjadi narasumber utama yang mau diwawancarai oleh media. Sepertinya pihak dari negara itu takut jika Dimas akan membela Indonesia dan semakin menyudutkan rencana mereka. Bagaimana pun, seperti inilah cara kerja politik itu. Mereka akan membungkam siapa saja yang bisa membahayakan. Di saat seperti ini, harus ada pihak yang membela Dimas Fajar agar ia kembali mendapatkan haknya. Pihak itu merupakan Dinas Pendidikan dan Perlindungan Anak. Bahkan kalau perlu, biarkan dunia luar mengetahui hal ini. “Kami telah terhubung langsung dengan reporter yang saat ini ada di Kantor Kedutaan Besar. Bersama dengan anggota Dinas Pendidikan dan Perlindungan Anak, mereka semua akan membebaskan Dimas dari sana!” ujar seorang wanita berparas ayu tadi. Layar televisi yang semula menampilkan pemandangan dari area konferensi pers ini tiba-tiba berubah menjadi pemandangan yang ada di luar ruangan. Seorang wanita berambut pendek disorot. Ia adalah reporter yang akan melaporkan bagaimana situasi terkini yang ada di kantor kedutaan. Meskipun begitu, semua orang bisa melihat bagaimana raut ketegangan di wajahnya. Saat suara dari sana mulai terdengar, suara riuh yang menyeruak dari segala sisi tak bisa diabaikan. Hanya satu hal yang dapat masyarakat simpulkan, kekacauan pasti terjadi di tempat itu. Kedua perwakilan dari Dinas Pendidikan maupun Perlindungan Anak yang berada di ruang konferensi pers itu pun sontak bingung. Mereka bertatapan dengan mata tak mengerti. Apa yang terjadi di sana? “Apakah kalian bisa mendengar suaraku?” “Ya, kami bisa mendengarmu dengan jelas, Erina.” Perwakilan dari Dinas Pendidikan itu langsung bertanya, “Apa yang sebenarnya terjadi di sana? Padahal seingatku tidak ada kegaduhan di tempat itu tadi.” “Situasi yang rumit telah terjadi di sini. Kami melaporkan dari kejauhan karena mobil Dinas Pendidikan maupun Perlindungan Anak tak bisa memasuki area kantor Kedubes saat melihat kekacauan yang terjadi di sana.” Kamera yang semula menyoroti sang reporter kini berpindah ke area kantor Kedubes yang berjarak beberapa meter darinya. Di sana terlihat jelas asap putih yang membumbung tinggi. Setelah itu pemandangan dimana seluruh anggota Dinas Perlindungan Anak yang kaget melihat hal tadi pun juga turut disorot. “Beberapa saat yang lalu, terdengar suara ledakan keras dari halaman kantor ini. Belum diketahui apakah itu benda sejenis bom atau lainnya. Yang pasti, aparat kepolisian dan tentara militer langsung dikerahkan untuk mengatasi hal ini!” Penduduk yang mendengar berita itu tampak tak suka. Bagaimana pun, orang-orang yang ada di gedung itu pasti terlibat dalam penembakan misil yang telah menyerang wilayah Indonesia. Jadi kenapa mereka meminta bantuan dari polisi dan tentara militer untuk menangani hal seperti itu? Seharusnya para tentara membiarkan tempat itu menjadi abu. Kalau begitu kan rasanya impas. Layar televisi itu masih terus menampilkan bagaimana sang reporter tadi menyiarkan situasi terkini yang ada di tempat tersebut. Sang Kepala Sekolah SMA Unggulan Esa yang turut serta dalam aksi pembebasan Dimas Fajar ini juga ikut tersorot. Tidak seperti yang lain, wanita yang sudah berumur itu memilih untuk duduk santai di dalam mobil. Beberapa saat kemudian, semua orang yang tengah berada di sana dikejutkan dengan kedatangan empat orang pemuda yang terlihat begitu kacau. Nafas mereka tersengal-sengal dengan d**a naik turun. Salah satu pemuda di antara empat anak itu langsung menjadi pusat perhatian seluruh orang. Baik sang reporter maupun anggota dari kedua Dinas yang ada di sini melebarkan mata tak percaya. Mereka terkejut bukan main. Dimas Fajar yang dicari sejak tadi ternyata malah muncul dari gang sempit yang sama sekali tak terduga. “Dimas Fajar? Bagaimana mungkin kau ada di sini? Apa yang sebenarnya terjadi?!” Karena reporter itu menggunakan pengeras suara, Kepala Sekolah SMA Unggulan Esa yang sejak tadi berada di dalam mobil pun keluar ketika mendengar suara nyaring itu. Wanita yang dikenal anggun dan tegas ini menatap empat pemuda tadi. Semua orang yang berada di sini langsung mengerubungi Dimas. Mereka menanyakan berbagai hal mulai dari kondisi anak itu hingga penjelasan mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Seperti biasanya, Dimas yang terkenal supel pun bisa menangani serbuan pertanyaan dari orang-orang ini dengan mudah. Ia diberikan air minum dan disuruh menenangkan diri terlebih dahulu. Namun Dimas tak bisa menunggu, ia langsung mengatakan semua hal pada seluruh orang yang ada di sini. Bagaimana pun, pemuda beralis tebal itu tahu jika anggota Dinas Pendidikan dan Perlindungan Anak datang ke sini untuk menyelamatkannya. Jadi ia harus segera menjelaskan semua hal yang terjadi pada mereka. Karena segala perhatian langsung tertuju pada sosok Dimas, sang Kepala Sekolah memanfaatkan situasi ini untuk menghampiri Mika yang ada di belakang. Ia mengabaikan Dimas dahulu dan berjalan ke arah Mika, Jojo, dan Budi yang tampaknya sedang berbincang dengan beberapa orang. “Hei, Nak. Apakah kau yakin tidak apa-apa? Hidungmu mengeluarkan darah. Kau juga terlihat pucat!” Seorang pria yang tak mau berdesak-desakan untuk meminta penjelasan dari Dimas pun langsung berkomentar seperti itu ketika berada di dekat Mika. Budi dan Jojo yang mendengar itu langsung menoleh ke arah temannya tersebut. Bagaimana pun, posisi Mika yang berlari paling belakang membuat mereka tak menyadari ada suatu keanehan darinya. Jojo langsung memandang Mika dengan kaget. “Astaga, Mika. Apa kau baik-baik saja?!” “Mika! Kenapa kau tak memberitahu kami kalau situasimu sekacau ini?!” Budi langsung melayangkan amarah pada pemuda itu. Mika yang dikomentari seperti itu langsung mengusap hidungnya dan ia baru menyadari jika ada darah yang menetes dari sana. Sialan, ini pasti efek karena dirinya memakai kekuatan sihir secara berlebihan di dunia ini. “Apakah aku terlihat sekacau itu? Aku tidak apa-apa!” elaknya dengan nada kesal. Jojo dan Budi yang mendengar itu langsung marah. “Kau ini gila ya?! Sadar diri kenapa? Dirimu terlihat kacau. Darah dari hidungmu tak bisa berhenti keluar dan wajahmu sangat pucat!” hardik Budi dengan alis yang menukik tajam. Pemuda berkacamata itu adalah orang yang paling khawatir di sini. Mika pun langsung mendecap kesal. Ia merutuk dalam hati. Kalau terus ditahan seperti ini, Mika tak bisa segera menemui Putri dan keluarganya yang ada di desa. “Nak, kau harus istirahatkan dirimu terlebih dahulu.” “Benar, kau duduk dulu dan kami akan memberikan pertolongan pertama padamu.” “Pokoknya kau tidak perlu cemas. Kami akan membawamu ke rumah sakit setelah ini!” Orang-orang yang berada di sekeliling Mika langsung memperhatikan pemuda yang terlihat kacau ini. Mereka memaksa Mika untuk duduk dan menenangkannya agar tak banyak beraktivitas dulu. Di sisi lain, Budi dan Jojo terus mengomelinya. Sialan, Mika benar-benar resah. Ia mengabaikan omelan Budi dan Jojo serta cuek dengan perhatian orang-orang di sini. Mika kesal bukan main. Ia tak bisa terus berdiam diri di tempat ini. Kalau menghabiskan waktu lama di sini, bisa-bisa Mika tak punya waktu lagi untuk menghubungi Putri. Saat melihat Ibu Siti, si Kepala Sekolah SMA Unggulan Esa yang berjalan ke arahnya, Mika langsung tersenyum cerah. Orang itu pasti bisa membantunya kabur dari sini. Bagaimana pun, misi Mika untuk membebaskan Dimas telah berhasil dilakukan. Jadi, kenapa ia terus ditahan di sini? Pokoknya Mika harus segera kembali ke desanya atau paling tidak, ia harus bisa menghubungi keluarga Putri. Mika tiba-tiba berdiri dan aksi itu mengagetkan Jojo dan Budi. Mereka terkesiap. “Nenek! Tolong beri mereka pengertian, aku harus—“ Berbeda dengan reaksi yang diduga olehnya, sang nenek langsung memeluk Mika. Hal itu membuatnya kaget bukan main. Budi dan Jojo yang saat ini ada di dekat pemuda itu pun juga sama terkejutnya dengan aksi kepala sekolah. Mereka bertiga terperangah dan kehilangan kata-kata. Mika bingung. “A-apa? Kenapa kau ...?” “Diam, bocah bodoh! Aku menyerahkan misi ini padamu bukan untuk menyakiti dirimu seperti ini! Kau gila ya? Kenapa harus menyakiti dirimu sendiri sampai seperti itu hah?” Mika kaget. Ini bukan reaksi yang ia harapkan. Ia pikir Bu Siti akan membantunya pergi dari sini. Tapi, apa yang terjadi sekarang? Kenapa nenek gadungannya ini begitu perhatian? Suara sirene dari mobil-mobil yang memasuki area kantor kedubes langsung menyamarkan keributan dari para anggota Dinas itu. Pikiran Mika sudah ke mana-mana. Ia bengong dan bingung dengan semua hal ini. “Pemirsa, begitulah penjelasan langsung dari Dimas Fajar. Dia telah berhasil lolos dari tahanan itu dengan bantuan tiga temannya! Sekarang kita akan menunggu perintah apa yang harus dilakukan selanjutnya!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN