DHUAR!
Suara benda meletus yang begitu keras langsung terdengar di wilayah Kantor Kedutaan itu. Disusul dengan teriakan histeris dan ketakutan, keadaan menjadi semakin kacau dan ricuh.
Orang-orang yang masih bekerja di dalam gedung langsung berlarian keluar. Semuanya ketakutan. Masyarakat lain yang ada di sekitar sana sontak berkumpul melihat apa yang terjadi.
Bukan itu saja, kendaraan yang lewat di jalan raya pun langsung berhenti. Semua orang merasa khawatir mendengar suara letusan yang keras tadi.
“Sebenarnya apa yang terjadi?”
“Apakah ada penyerangan bom?”
“Kenapa suasananya menjadi seperti ini? Indonesia sedang kacau!”
“Setelah penembakan misil, sekarang bom? Mungkinkah ada warga Indonesia yang tak terima?”
“Entahlah. Siapa yang akan mengira kecelakaan itu menjadi mala petaka seperti sekarang?”
Saat ini seluruh orang memfokuskan perhatian pada asap yang membumbung tinggi di halaman sebelah kanan, tak terkecuali para penjaga. Tanpa sadar, mereka malah melupakan fakta jika ada orang yang harus ditemukan secepat mungkin.
Asap putih yang membumbung tinggi itu membuat detak jantung semua orang menjadi tak karuan. Ini teror. Mereka ketakutan. Mungkin saja, bunyi ledakan tadi adalah sebuah peringatan dari seseorang. Bisa saja itu bom.
Karena asap yang membumbung tinggi, semua pandangan menjadi kabur. Orang-orang yang berkumpul di sini masih tak tahu apa yang ada di balik asap pekat berwarna putih itu. Takutnya kalau mendekat sedikit saja, riwayat mereka akan tamat.
“Kenapa kalian malah diam saja, hah?!”
Salah satu petinggi di kantor ini langsung memelototi para penjaga yang bengong ketakutan. Saat melihat orang-orang tak berguna itu masih diam, pria dengan rambut berwarna hitam klimis ini murka.
“Cepat panggil Brimob atau aparat berwajib lainnya! Ini bahaya! Apakah negara ini benar-benar menyatakan perang pada kami?!”
“Siap, Pak!”
Sementara itu, tak jauh dari kericuhan tadi, empat orang pemuda tampak berlari dengan tenaga penuh. Keringat membasahi tubuh mereka. Dengan lincah, kaki-kaki itu melompat dan menerjang segala rintangan yang berserakan di jalan sempit ini.
“Kau harus membayar ini semua, Mika! Aku sudah menghabiskan uang jajanku selama sebulan untuk membeli petasan-petasan tak berguna itu!”
Suara nafas yang putus-putus terdengar jelas di sepanjang jalan yang sepi ini. Pada dasarnya, tempat ini adalah gang sempit di antara dua gedung. Tak ada lampu di sana membuat suasana menjadi gelap.
“Mika sialan! Kalau dia bukan temanku, aku tak akan melakukan hal merepotkan seperti ini!”
“Orang itu memang menyebalkan. Aku meragukan apakah otaknya masih waras atau tidak! Dia mengajakku lompat dari lantai dua!”
“Untuk apa kalian menghina seseorang di depannya langsung, hah?!”
Mika kesal, namun di saat bersamaan ia tak bisa menyembunyikan senyum bahagia. Ia terkekeh pelan saat mendengar ejekan dari Budi, Jojo, dan Dimas tadi. Bisa-bisanya tiga orang ini menggerutu dan bercanda di situasi seperti sekarang.
Sejujurnya, pemuda ini tak mengira kalau Budi dan Jojo benar-benar mau datang ke sini. Padahal sudah malam, keluar asrama pasti berisiko. Andaikan mereka berdua tak datang, Mika akan meminta bantuan pada Udin tadi.
Bagaimana pun, dunia ini berbeda dengan dunia Mika yang dulu. Jika dulu dirinya hanya memiliki seorang sahabat bernama Remon, sekarang Mika bisa merasakan bagaimana rasanya punya banyak teman yang bisa diandalkan. Entah kenapa, ia bahagia.
“Gila, capek juga ya lari seperti ini?” Dimas mengeluh dengan nafas ngos-ngosan. Dadanya naik turun, meskipun begitu ia masih terus berusaha untuk berlari.
“Bro, kalau saja dirimu tak tertangkap oleh nenek lampir sialan itu pasti kita tak akan berada di posisi seperti ini tahu! Aku heran. Kok bisa sih ada manusia yang jahatnya melebihi makhluk halus?!” Jojo menoleh ke belakang dengan mata sebal.
Bukannya marah, Dimas yang dikatai sepeti itu malah tertawa. Mereka berempat masih terus berlari sekuat tenaga di gang yang sempit ini. Budi di depan sendiri, disusul Jojo, Dimas, dan Mika yang berada paling belakang.
Hari ini Dimas benar-benar dibantu oleh Dewi Keberuntungan. Setelah sekian lama ditahan oleh neneknya, ia bisa menghirup udara luar lagi. Apalagi, teman-temannya ada di sini untuk membantu pemuda itu kabur. Anak ini tak bisa menyembunyikan senyum bahagianya.
Tanpa sadar, Dimas langsung mendengus geli. “Dasar, kita pasti akan mendapat masalah lagi. Terima kasih sudah membantuku sampai di detik ini.”
Mendengar itu, Budi, satu-satunya laki-laki yang mengenakan kacamata di antara mereka, langsung merengut kesal. Ia melirik ke arah teman-temannya di belakang.
“Tanpa kau bilang pun, kita sudah terlibat dengan masalah sekarang. Dini tadi memergoki aku dan Jojo saat kabur dari asrama. Sekarang, dia pasti berulah.”
Jojo yang berlari sekuat tenaga di belakangnya pun langsung mengangguk setuju. “Si Ketua OSIS gila itu pasti sudah mengadu ke pihak keamanan sekarang! Dasar Dini si penguasa diktator!”
Mika tertawa. Ia memandang punggung ketiga orang yang berlari di depannya. Dimas sudah bebas sekarang. Misinya berjalan lancar. Dengan pandangan sayu, dirinya mengukirkan senyum bahagia.
“Mika, setelah ini kita langsung ke sekolah atau ke mana?” Budi yang berlari di posisi paling depan langsung meminta komando pada orang yang berada di belakang itu.
Mika yang berlari langsung menggelengkan kepala. “Tidak, kita tidak ke sekolah! Di depan sana, ada mobil. Naik ke mobil itu! Nenekku menunggu kita semua di sana!”
Semua orang langsung mengeluarkan ekspresi tak percaya. “Hah? Maksudmu Kepala Sekolah?!”
“Tepat sekali!” Seringai lebar langsung terpampang nyata di wajah Mika saat ia mengucapkan hal itu.
Entah kenapa, Mika jadi teringat dengan segala rencana yang telah disusunnya matang-matang untuk mengeluarkan Dimas. Ingatannya melayang ke momen di mana ia menyusup ke dalam ruang penahanan anak dari delegasi luar negeri itu.
Saat itu, pemuda ini menyelinap ke salah satu ruangan lain yang berada di samping kamar Dimas. Dia menyusup ke dalam menggunakan sihir. Mika merusak hendel pintu dan memasuki ruang terkunci itu menggunakan telekinesisnya. Saat di dalam, Mika dengan santainya merobohkan dinding lalu memperbaikinya seperti posisi semula.
Bagaimana pun, pemuda ini sengaja melakukan semua itu untuk menarik perhatian. Ia yakin penuh kalau para penjaga di luar sudah heboh sekarang karena menyelidiki asal suara bangunan roboh di pagar tadi. Di sini, Mika juga ingin melakukan hal yang sama. Dia ingin fokus para penjaga itu terpecah.
Sebenarnya, sebelum Mika masuk ke sini. Ia telah menghubungi Budi dan Jojo untuk datang membantunya. Setelah ia berpisah dengan Farel tadi, pemuda ini mengirim SMS pada dua orang itu. Tak lupa, Mika meminta mereka berdua untuk membeli petasan merek tertentu yang sangat banyak.
Selain itu, ia juga menghubungi sang nenek alias Kepala Sekolah untuk menanyakan progres misi wanita tua itu. Neneknya telah diberi tanggung jawab oleh Udin untuk mengumumkan aksi penahanan Dimas Fajar ke Dinas Pendidikan dan Perlindungan Anak agar instansi resmi bisa protes.
Mika tak bisa menahan senyum tatkala neneknya berkata jika misi itu telah berhasil dilakukan. Dinas Pendidikan akan menyiarkan serangan protes di stasiun televisi pada Kedubes Cina atas kasus ini jam 20.30 nanti.
Memikirkan kalau semuanya berjalan lancar sesuai apa yang ia harapkan, Mika merasa sangat puas. Ia langsung menyelinap masuk ke dalam ruangan Dimas dan menemui anak itu.
“Mika! Bagaimana mungkin kau bisa di kamar ini tiba-tiba?!” Dimas yang kaget langsung melebarkan mata tak peecaya.
Senyum Mika langsung terukir lebar. “Aku kan anak ajaib. Kenapa harus heran?”
“Hah? Apa maksudmu sih?! Bagaimana mungkin ...? Ini sama sekali tak masuk akal!”
“Sudahlah. Duduk diam di sini sana saja yuk. Kita mengobrol santai.”
Mika mengalihkan perhatian anak itu dengan basa-basi dan mengajaknya untuk berbincang di balkon. Karena terbawa emosi, tampaknya Dimas lupa dengan segala pertanyaan soal Mika yang tiba-tiba berada di sana. Ia dan pemuda itu mengobrol dalam waktu yang lama.
“Sekarang apa yang harus kita lakukan?” Dimas bertanya dengan nada serius setelah ia merasa basa-basi ini cukup. Matanya melirik ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul 20.20.
Saat itu Mika yang masih santai ini malah tersenyum. “Kita hanya menunggu saja.”
“Hah? Apa maksudmu menunggu?!”
Saat itu, Mika mengalihkan pandangan ke arah langit malam. Ia mengabaikan pertanyaan dari Dimas tadi. Anak itu berdiri dan berjalan lagi ke dalam mendekati televisi yang tak dihidupkan di ruangan ini.
“Mika, sebenarnya apa sih yang kau lakukan? Aku sama sekali tak mengerti!”
“Hei, bisakah kau menyalakan televisi ini?”
“Hah?!” Meskipun heran, Dimas tetap menyalakan benda itu.
“Cari saluran yang biasanya berisikan berita-berita penting,” pinta Mika. “Oh iya, jangan lupa kecilkan volume. Kalau bisa, biarkan tidak bersuara.”
Pemuda dengan mata sipit dan alis tebal itu sama sekali tak mengerti dengan permintaan Mika yang aneh ini. Meskipun begitu, ia tetap menurutinya.
Mika pun memperhatikan televisi itu dengan saksama. Ia mencoba mencari petunjuk dari tulisan-tulisan yang ada di layar mengenai siaran Dinas Pendidikan yang akan dimulai pada pukul 20.30 itu. Beberapa saat kemudian, pemuda ini langsung tersenyum lebar.
“Bagus, ini akan segera dimulai.”
Wajah Dimas yang tak mengerti apa-apa langsung kesal. “Apa sih, Mika?! Aku ini sama sekali tak paham sejak tadi!”
“Matikan saja lampu kamar ini dan televisinya. Kita harus ke balkon sekarang!” Tanpa menjelaskan apa pun, Mika langsung berjalan cepat ke arah balkon.
Pemuda itu tahu meskipun Dimas kesal, ia masih akan menuruti permintaannya. Mika memperhatikan suasana di sekitar yang mulai bising. Tampaknya penjaga-penjaga di luar mulai ribut, entah apa yang terjadi.
Sekarang, ia hanya tinggal menunggu aksi Jojo dan Budi yang menyalakan petasan-petasan di halaman kantor ini. Meskipun mereka belum tentu datang, namun firasat Mika mengatakan kalau dua orang itu mau membantunya.
Beberapa saat kemudian, Dimas datang dari dalam. Ia berdiri di samping Mika. “Jadi, bisa kau jelaskan sekarang apa yang sebenarnya terjadi?”
“Kau sudah dengar keributan di luar pintu itu kan? Sebentar lagi penjaga-penjaga itu pasti akan masuk ke sini mengecekmu. Saat itu, kita harus kabur.”
Alis Dimas mengernyit bingung. “Dengan cara?”
Senyum Mika langsung melebar. “Lompat dari lantai dua!”
Ketika orang-orang itu menyeruak masuk, Mika langsung menarik Dimas yang hendak protes untuk lompat dari balkon ini. Meskipun kaget, Dimas berusaha keras agar teriakannya tidak terdengar. Jantungnya serasa copot. Ia ketakutan saat membayangkan bagaimana dirinya jatuh ke tanah penuh rumput itu.
“Ordo!!” Mika berteriak dengan cepat.
Mereka berdua jatuh dalam waktu beberapa detik saja. Namun, tiba-tiba Dimas bisa merasakan bagaimana angin yang kuat tiba-tiba menyeruak dari arah bawah. Seolah, angin itu muncul dengan kekuatan tinggi dari tanah.
Dengan bantuan angin tadi, mereka berdua melayang selama beberapa saat dan jatuh ke tanah dengan pelan. Ini aneh, itulah yang dipikirkan Dimas.
Namun sebelum ia sempat berkomentar, suara ledakan keras muncul dari halaman gedung yang ada di depan. Saat itu, tak tahu apa yang terjadi, tiba-tiba tembok beton yang ada di belakangnya telah hancur dan Mika menarik Dimas keluar lewat sana.
Bagaikan kebetulan, keduanya berpapasan dengan Jojo dan Budi yang sama-sama lari lewat gang sempit di antara dua gedung ini. Mereka berempat langsung kabur begitu saja, meninggalkan kekacauan yang ada di kantor kedutaan dengan asap putih yang membumbung tinggi.
Kilas balik itu pada akhirnya berakhir. Mika mengerti betul bagaimana Dimas yang akan curiga padanya mulai sekarang. Tapi tanpa melakukan sihir itu, pemuda ini ragu apakah ia bisa membawa Dimas keluar dari sana atau tidak. Ia pasti akan dicurigai mulai saat ini.
Yah, yang terpenting, mereka berempat berhasil melarikan diri bukan?
Saat itu Mika kembali tersenyum. Ia terus berlari bersama tiga orang temannya tadi dan mengabaikan hidungnya yang mengeluarkan darah tanpa ia sadari.