Chapter 52 - Berhasil

1954 Kata
“Orang itu berkata padaku jika ini hanyalah awal. Akan ada banyak kekacauan lagi karena kita cari gara-gara. Kenyataannya, yang cari gara-gara itu kan mereka! Apakah mereka gila?!” “Tenangkan dirimu. Kau ini masih termakan emosi.” “Bagaimana aku bisa tenang, Mika?! Tanpa suatu alasan yang jelas mereka berperilaku seolah yang dilakukannya benar. Terlebih, ini hanya karena kecelakaan! Kenapa tidak diselesaikan dengan damai saja?!” Mika yang kini duduk lesehan bersama Dimas di balkon pun hanya bisa menghela nafas. Apakah seperti ini rasanya menjadi Remon, sahabat Mika dulu, ketika ia terpaksa menghadapi dirinya yang lagi marah-marah tak jelas? “Bagaimana pun, orang itu adalah nenekmu. Kau tak mungkin melawannya dalam kondisimu yang seperti ini,” komentar Mika realistis. Ia memangku wajahnya dengan sebelah tangan. Mau mengelak seperti apa pun, pada kenyataannya Dimas memang tak bisa kabur karena ditahan oleh sang nenek. Ia telah menghabiskan hari-harinya di kamar ini. “Menyebalkan, nenek lampir itu memperlakukanku seperti Rapunzel yang harus dikurung di kastil! Memangnya kenapa kalau aku di luar? Mau jual narkoba? Ya enggaklah.” Mika sama sekali tak paham siapa itu Rapunzel, tapi ia tak bisa menahan tawa melihat Dimas yang emosi seperti ini. Kemudian, ia yang sudah malas mendengarkan curahan hati pemuda itu pun langsung mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Mika mencoba menghubungi nomor Riko, Putri, dan Ahmad untuk ke sekian kali. Namun, semua itu sia-sia saja. Mereka tetap tak bisa dihubungi sejak tadi. Melihat perbedaan di wajah Mika, Dimas langsung menyadari jika ada hal yang disembunyikan oleh orang ini. “Kau baik-baik saja?” “Entahlah,” ujar Mika sambil menghela nafas. “Sebenarnya misil nenekmu itu menghancurkan desaku. Aku berasal dari sana.” Mendengar itu, kedua mata Dimas langsung melebar tak percaya. Ia kaget. “K-kau bercanda?” “Pada kenyataannya memang seperti itu. Aku terus menghubungi keluargaku untuk memastikan kondisi mereka, tapi semuanya sia-sia saja. Kalau aku pergi ke sana pun juga tak bisa. Aksesnya ditutup oleh pemerintah.” Untuk sesaat, pemuda bermata sipit dengan alis tebal ini merasa bersalah pada Mika. Dimas langsung menundukkan kepala karena tak berani menatap mata pemuda itu. Siswa baru yang belum lama menjadi temannya ini telah berusaha sebisa mungkin untuk membantu masalahnya, tapi ia justru membiarkan tragedi seperti itu melanda desa Mika. Hatinya diliputi oleh rasa bersalah. Lidah Dimas kelu. Ia ingin meminta maaf atau mengucapkan sepatah kata yang bisa menghibur hati Mika, namun rasanya susah sekali melakukan hal seperti itu. Pada akhirnya, pemuda ini berhasil buka suara. “Maafkan aku.” Mika yang sedari tadi memandang kosong ke arah ponselnya langsung terenyak ketika Dimas berkata demikian. Ia kaget dengan penuturan pemuda ini. “Apa maksudmu bilang begitu? Ini semua—“ “Ini semua salahku! Andai aku bisa melakukan apa pun, ini semua pasti tak akan terjadi!” Dimas merasa marah dengan dirinya sendiri. Mika yang mendengar itu hanya bisa menatap teman barunya ini dengan pandangan datar. “Baik kau maupun aku hanyalah bocah biasa, kita tak bisa melakukan banyak hal seorang diri.” “Coba kalau aku punya kekuatan super atau semacam sihir, ini semua pasti akan lebih mudah diatasi.” Senyum Mika langsung miring saat Dimas mengatakan hal itu. “Andaikan ada orang yang punya sihir pun, aku percaya bahwa ia juga tak bisa mencegah misil itu ditembakkan ke sana.” Pangeran dari Kerajaan Mimika ini mengejek dirinya sendiri. Percuma ia dipuja karenaa wahyu Raja Pertama yang menyertainya, namun tetap tak bisa menghentikan tembakan misil itu. Mika malu dengan dirinya sendiri. Untuk sesaat, Dimas bisa melihat bagaimana Mika yang menundukkan kepalanya. Ia mengeluarkan tatapan sayu dan mengukirkan senyum samar di wajah. "Rasanya putus asa sekali. Namun, pasti ada jalan kan?" Pemuda dengan baju seragam OB itu menengadahkan kepala. Dia menatap Dimas dengan mata yang memancarkan kebulatan tekad. “Pada dasarnya, aku sudah tahu jika perang akan terjadi. Tapi, aku masih punya harapan. Mungkin saja, perang ini masih bisa dicegah atau bahkan dihentikan sekarang juga. Aku yakin itu!” Saat itu, sekelebat ingatan muncul di pikiran Mika. Tepatnya, ingatan dari apa yang disampaikan Riko melalui telepon beberapa hari yang lalu. “Aku mendapatkan pandangan baru. Dalam mimpiku tadi, aku berdiri di suatu tanah lapang yang begitu luas dan damai. Ada kubangan air di sana dan aku bisa melihat wajahku yang sudah lebih besar dari sekarang. Di sana ... terasa begitu damai. Ada Ayah, Ibu, dan seluruh warga desa yang berbahagia. Apakah ini ada hubungannya dengan perang itu? Apakah mungkin perang ini bisa dibatalkan, Kak?” Mika mencoba untuk berpikir realistis. Meskipun ini konyol, ada sekelebat pemikiran yang muncul di kepalanya. Ia takut jika pandangan Riko soal masa depan yang penuh kedamaian itu ternyata malah gambaran surga. Mika ketakutan. Bagaimana kalau pandangan masa depan yang baru dari anak itu adalah gambaran kedamaian abadi yang bernama akhirat? Mika langsung menampar wajahnya sendiri, mencoba menyingkirkan pikiran liarnya. “Sialan, aku pasti gila!” “Bung, kau masih waras?!” Dimas kaget dengan perilaku Mika yang tiba-tiba itu. “Tidak, aku sudah gila. Aku sudah sangat gila.” Bagaimana pun, pemuda dengan rambut acak-acakan ini masih ingin melihat Riko dan lainnya selamat. Selain itu, kalau Putri kenapa-kenapa, maka jaminan Mika untuk pulang ke dunianya sudah pasti musnah. Ia akan terjebak di dunia ini selamanya. Tak akan ada lagi yang bisa membantu Mika kembali ke dunianya yang asli kalau Putri telah tiada. Apa pun yang terjadi setelah ini, Mika akan menghalalkan segala cara untuk bisa memastikan bagaimana kondisi keluarga Putri di sana. Ia akan terus berharap dan berdoa kalau semua orang bisa selamat. Setelah suasana hening yang begitu lama, kali ini Dimas buka suara. Matanya menyorot penuh keseriusan pada pemuda yang ada di depannya. “Mika, kupikir sudah cukup kita basa-basi. Sebelum keadaan lebih runyam, apa yang harus kita lakukan sekarang untuk pergi dari sini?” Mika menatap Dimas dengan pandangan tertarik. Orang ini sejak tadi tak penasaran bagaimana caranya bisa masuk ke ruangan ini tanpa diketahui, tapi baguslah. Ia jadi tak harus menjelaskan banyak alasan. “Kita harus segera ambil tindakan. Apa yang harus kita lakukan sekarang?” Dimas kembali bertanya dengan nada tak sabar. Senyum miring Mika langsung terukir. “Sederhananya ..., kita hanya tinggal menunggu.” “Menunggu ... katamu? Kau serius?” Dengan seringai lebar, Mika mengalihkan perhatiannya ke arah langit malam yang penuh bintang. “Kau benar, kita tinggal menunggu saja.” Dimas benar-benar tak paham. Apa yang sebenarnya ditunggu anak ini? *** “Apakah kau yakin mendengar suara dentuman dari sini tadi? Andaikan bom, rasanya mustahil. Tak ada apa-apa di sini.” Jauh dari lantai atas yang ada di kantor Kedutaan ini, beberapa orang, mayoritas penjaga keamanan tambak berkumpul di halaman sebelah utara. Ada laporan dari penjaga keamanan yang melakukan patroli tak jauh dari sini. Katanya, mereka mendengar suara aneh sekitar satu jam yang lalu. Orang-orang langsung berbisik. Mereka membuat prasangka yang tidak-tidak, termasuk bom atau aksi penyusupan. Bagaimana pun, suasana negara ini semakin memanas. Sejujurnya, mayoritas penjaga keamanan yang berasal dari Indonesia ini juga marah akibat aksi tembakan misil yang menggegerkan masyarakat itu. Apalagi kejadian itu berhubungan dengan kantor Kedutaan Cina ini. Akan tetapi, mereka tetap harus profesional bukan? Ini adalah pekerjaan mereka untuk menjaga keamanan di sini dari dulu. Kalau mereka tak melakukannya, maka dari mana semua orang itu mendapat uang? “Aku serius! Aku bersumpah mendengar suara aneh tadi. Bunyinya seperti bruk, kayak bangunan roboh.” Seorang pria berusia 30 tahunan menjelaskan apa yang didengarnya tadi pada Ketua Tim Penjaga. Ketua itu mulai bingung. Ia menatap ke arah dinding beton yang ada di depan matanya. Di sini tidak ada bangunan apa pun, selain dinding yang punya ketinggian dua setengah meter ini. Kalau pun ada suara bangunan roboh, masa iya dinding pagar ini? Tapi kenapa kondisinya baik-baik saja. Sambil menghela nafas, Ketua Tim Penjagaan kantor Kedutaan Besar Cina ini menatap bawahannya tadi. “Kita akhiri saja penyelidikannya. Ini sia-sia. Sepertinya kau kurang istirahat jadi salah mendengar sesuatu. Aku tahu kalau kondisi politik semakin memanas akibat misil itu, makanya kau jadi banyak pikiran. Ini pasti halusinasimu saja.” “Tidak, Pak! Ini tadi—“ “Kapten! Kapten!” Perhatian seluruh orang langsung tertuju pada seorang pria dengan setelan serba hitam sedang berlari ke arah kerumunan itu. Ia berlari begitu cepat seolah ada keadaan yang sangat mendesak. “Ada apa?” Kapten itu dengan tenang memandang bawahannya yang masih mengatur nafas akibat berlari sekuat tenaga. “Orang-orang ... orang-orang yang menjaga kamar Dimas Fajar itu— mereka juga mendengar suara bangunan roboh yang sama!” Dahi kapten dari tim penjaga ini langsung mengerut. Ini pasti bukan kebetulan lagi kalau ada orang di lantai atas mendengar suara dentuman yang sama dengan yang ada di halaman. Masa iya sih ada penyusup? Pria yang masih tersengal-sengal itu melanjutkan, “Mereka ... mereka telah mencari ke mana-mana, tapi tak ada jejak kehancuran bangunan di mana pun!” Kapten itu menengadahkan kepala. Pria tua dengan usia 50 tahunan ini menyipitkan mata begitu melihat ke arah balkon yang ada di ruangan Dimas Fajar. Sedetik kemudian, dia memberi aba-aba pada seluruh bawahannya untuk berkumpul. “Aku benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, kurasa ... ada penyusup di sini!” Semua orang langsung menahan nafas. Kalau dipikir-pikir, jika nama Dimas Fajar terlibat dalam insiden ini, pasti suara-suara aneh itu juga berhubungan dengan tawanan penting tersebut. Mereka telah digaji dua kali lipat untuk menjaga Dimas. Kalau sampai terjadi apa-apa, termasuk kemungkinan terburuk jika anak itu berhasil kabur, maka nasib seluruh petugas penjaga yang ada di kantor ini akan berada di ujung tanduk. Sang ketua tim tadi langsung menatap seluruh bawahannya dengan serius. “Pergi ke ruangan Dimas Fajar sekarang! Pastikan anak itu masih ada di sana!” “Baik, laksanakan!” Derap langkah kaki yang begitu cepat langsung terdengar di sepanjang koridor yang ada di lantai dua ini. Dari kejauhan, para penjaga yang sejak tadi menunggu ruangan Dimas bisa melihat belasan petugas penjaga lain sedang datang ke sini. “Apakah rumor yang mengatakan ada suara aneh di sini tadi benar?” tanya salah satu dari mereka. Salah satu penjaga yang ada di depan ruangan Dimas Fajar ini pun mengangguk. “Anda benar. Kami sudah menyelidiki ke mana-mana, tapi tak bisa menemukan apa pun.” “Kalau kondisi Dimas Fajar sendiri bagaimana?” Penjaga itu mengambil kunci kamar yang ada di saku celananya. “Kami tidak memeriksa ke dalam karena yakin dirinya baik-baik saja. Bagaimana pun, ruangannya dikunci dari luar dan tak ada jalan keluar. Mustahil dia kabur atau ada penyusup yang masuk ke dalam.” “Kapten menyuruh kita memastikan kalau anak itu masih tetap berada di dalam. Jadi, kita buka saja pintu ini.” Tanpa ragu, penjaga tadi mengangguk. Dia yang memang diberi tanggung jawab memegang kunci oleh Nenek Dimas langsung membuka pintu yang ada di depannya. Suara derit pintu yang terbuka langsung terdengar nyaring. Saat itu, mereka semua bisa melihat bagaimana ruangan yang gelap ini. Ada kemungkinan Dimas sudah tidur kalau seluruh lampunya mati seperti sekarang. Seorang penjaga langsung memencet sakelar untuk menyalakan lampu. Namun begitu lampu di ruangan ini menyala, seluruh penjaga itu tak bisa menemukan di mana Dimas Fajar berada. “Kita kecolongan!” “Dimas Fajar tak ada di sini?!” “Bagaimana mungkin?!” “Apa pun yang terjadi, cepat cari dia! Dia tak boleh kabur dari sini!” “Segera laporkan ini pada Kapten yang masih ada di bawah!” Seluruh orang riuh. Beberapa karyawan yang masih berada di kantor yang ada di lantai satu pun menyadari ada yang tak beres di sini. Meskipun begitu, mereka tak tahu jika sebenarnya tawanan yang telah ditahan lebih dari seminggu di kantor ini telah berhasil melarikan diri. Diam-diam, seorang OB yang sejak tadi sibuk mengelap kaca langsung menyunggingkan senyum tipisnya. Farel menyeringai ketika menyadari Mika berhasil membawa Dimas Fajar pergi dari sini. “Anak itu memang sesuatu,” pujinya dengan suara berbisik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN