Chapter 51 - Kedatangan

1837 Kata
Kemungkinan terburuk akan selalu ada di setiap kejadian. Mika harus menerima fakta itu mentah-mentah. Dengan tubuh yang sudah menegang, laki-laki ini melirik sosok yang tengah berada tepat di belakangnya. “Maaf, saya adalah pekerja baru di kantor.” Namun, matanya langsung melebar saat ia menyadari siapa sosok itu. “Hah?!” “Loh?” Mata Mika melebar tak percaya. “Farel?!” Sosok yang telah membuatnya jantungan ini ternyata adalah rekan kerjanya sendiri. Tahu begini, Mika tak seharusnya mencemaskan yang tidak-tidak. Pemuda itu langsung menatap tajam pria yang kini sama terkejutnya dengan dia. “Astaga, Mika. Kupikir kau siapa. Maaf kalau aku membuatmu kaget, habisnya jalanmu mindip-mindip begitu sih,” ledek Farel sambil menahan tawa. Mika langsung memasang wajah jengahnya. “Apakah semuanya lancar?” Farel yang ditanyai seperti itu langsung melirik ke kanan dan kiri, memastikan bahwa di sekitar sini benar-benar tak ada orang termasuk kamera pengawas. “Aku bingung harus mengatakan dari mana.” Sebelah alis Mika langsung terangkat. “Maksudmu?” “Situasi kantor ini kacau.” Kalau itu sih, Mika sudah tahu dari sekali lihat saat dirinya masuk ke sini tadi. Semua orang tampak begitu sibuk. Jujur saja, Mika menduga kalau kesibukan orang-orang ini ada hubungannya dengan misil yang jatuh itu. Aura Mika tampak lebih gelap dari yang tadi. Mengingat misil yang ditembakkan ke desanya itu membuat darah pemuda ini mendidih. “Terkait penyerangan itu?” Farel mengangguk dengan wajah serius. “Tepat sekali.” Kedua pemuda ini langsung terdiam sambil menatap satu sama lain. Dari kejauhan, Farel bisa melihat beberapa rekan yang bekerja sama dengannya sebagai petugas kebersihan tampak berjalan mendekat. Farel pun yang awalnya datang ke ruangan ini untuk mengambil pel langsung masuk ke dalam dan membawa dua buah pel. Ia menyerahkan satu kepada Mika. “Ambil ini dan ikuti aku.” Tanpa banyak omong, Mika mengambil pel tadi. Ia menarik nafasnya dalam-dalam sebelum mengambil langkah mengikuti Farel yang telah berjalan mendahuluinya. “Kabar terkini! Serangan misil yang dilancarkan menuju area pertambangan milik Amerika dan pemukiman di sekitar sana telah memakan banyak korban. Rumah-rumah desa yang sebagian besar berasal dari anyaman bambu yang ringkih pun langsung luluh lantah. Berikut ini gambaran terkini apa yang terjadi di sana.” Detak jantung Mika langsung terasa seperti berhenti saat dirinya mendengar suara itu. Tanpa sadar, ia telah menghentikan langkah kaki dan matanya terpaku pada layar televisi besar yang kini berada di samping koridor yang dilewatinya. Farel yang merasa Mika berhenti mengikutinya pun langsung menoleh ke belakang. Ia terperangah ketika melihat pemuda yang dikenalnya itu sedang menatap televisi dengan mata yang begitu marah. “Pihak media dan jurnalis saat ini masih dilarang aksesnya untuk datang ke sana sampai suasana lebih signifikan. Kami pun menyampaikan berita ini terbatas menggunakan pesawat tanpa awak alias drone.” “Kenapa kau memandangi televisi itu sampai seperti ini?” Mika sama sekali menghiraukan pertanyaan dari Farel yang kini datang menghampirinya. Dua petugas kebersihan ini sekarang sama-sama menonton televisi yang ada di sana. “Itu sangat mengerikan.” “Kau benar. Sialnya, kita sekarang berada di kandang harimau yang telah membuat kekacauan seperti itu. Kau harus mengingat hal ini.” Saat itu, Mika yang semula hanya terfokus menatap televisi langsung memandang Farel dengan tatapan datar. Itu tadi adalah peringatan. Mika tahu betul. Apa yang dikatakan oleh Farel memang benar, kini dirinya berada di kandang macan itu sendiri. Salah sedikit saja, dia akan dimakan dan tak bisa menghasilkan apa pun. “Hei kalian berdua! Apa yang kalian lakukan di sini hah?! Bersantai-santai?” Dengan tenang, Mika menoleh ke arah sumber suara tadi. Tepat di belakangnya, seorang wanita bermata sipit memandang mereka berdua dengan ekspresi kesal. Farel yang melihat itu pun langsung ambil alih. Dia sedikit membungkukkan badan untuk minta maaf. “Maafkan kami, Nyonya. Saya disuruh membimbing anak baru ini sejak pagi tadi oleh para senior. Tolong maklum kalau dirinya masih berbuat kesalahan.” Wanita itu menggeram kesal. Dengan alis yang menukik tajam, dia berujar, “Kalian ini menyebalkan sekali! Para OB tak tahu diri! Di saat seluruh orang tengah sibuk, bisa-bisanya masih santai menonton TV di sini!” “Maafkan kami. Tolong maafkan kami.” Farel masih mengulangi kata itu beberapa kali. Melihat Farel yang seperti ini, Mika pun langsung ikut-ikutan menundukkan sedikit kepalanya. Wanita bermata sipit itu pun pada akhirnya menghela nafas panjang. Ia berlalu begitu saja dari dua OB tadi. “Ayo ikuti aku.” Mika pun berjalan lagi sambil melirik sekilas ke arah layar televisi tadi. Apa pun yang terjadi sekarang, semoga Riko dan keluarganya baik-baik saja. “Singkat saja, aku akan menjelaskan situasi terkini padamu.” Pada akhirnya, dua pemuda itu telah berada di ruangan yang sepi. Hanya mereka yang ada di sini. Farel pun mengatakan hal tadi dengan nada pelan. Meskipun begitu, reaksi tak suka justru ditunjukkan oleh Mika. “Tapi, masa harus di kamar mandi sih?” Keduanya yang memasuki bilik kamar mandi ini pun saling menatap dengan wajah melongo. Farel hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal karena canggung. “Habis mau gimana lagi kan? Orang-orang yang ada di sini semuanya sibuk. Mereka sangat sensitif bahkan saat melihat kita berdua leha-leha tak mengerjakan apa pun.” Mika menghela nafas panjang. “Jadi, langsung saja. Bagaimana situasinya?” “Orang yang bernama Dimas Fajar itu dijaga ketat. Aku bahkan tak bisa ke sana lagi sejak jam lima sore tadi. Dari yang kutahu dari beberapa penjaga, dirinya membuat pertengkaran hebat dengan sang nenek saat aku pergi ke luar setelah mengepel di ruangannya.” “Sebera buruk itu?” “Aku tak tahu. Tapi kalau sampai Dimas dijaga ketat, sepertinya sangat buruk hingga membuat neneknya marah.” Mika berdecap kesal. Anak itu pengacau. Kalau begini, bagaimana caranya menyusup ke sana? “Seluruh orang di sini sedang terfokus pada insiden rudal itu. Karena kedutaan ini berhubungan langsung dengan penembakan misil itu, jadi semuanya sibuk membuat jawaban dari seluruh orang yang meminta pertanggungjawaban dari hal tadi.” “Apakah kau tahu sesuatu soal misil itu?” tanya Mika dengan wajahnya yang tiba-tiba berubah menjadi serius. Farel menyadari perubahan ekspresi dari anak ini. Dia pun menggelengkan kepala sebagai jawaban dari pertanyaan Mika tadi. “Aku tak tahu apa-apa. Tapi kupikir, Dimas tahu. Mungkin saja, dia bertengkar dengan neneknya karena hal ini.” Saat itu, Mika langsung berpikir. Di saat-saat seperti ini, membawa Dimas keluar adalah pilihan terbaik. Bagaimana pun, kantor kedutaan ini sedang sibuk sekali sekarang. Kalau Dimas pergi, mereka pasti akan semakin kelimpungan. “Apakah di samping ruangan Dimas ada ruangan strategis yang bisa kumasuki?” tanya Mika. “Kalau dipikir-pikir, semua ruangan yang ada di samping ruangan Dimas adalah lokasi strategis. Maksudku, dia berada di area khusus penginapan. Di sekitarnya adalah tempat kosong, mengingat tak ada orang yang menginap di sini.” “Lalu neneknya?” “Wanita itu sih jelas tak ada di sini. Dia akan mengunjungi Dimas beberapa kali sehari saat. Selebihnya, dia akan tinggal di apartemen mewahnya. Begitulah kata Dimas.” Saat itu, Farel bisa melihat dengan jelas bagaimana Mika yang menyeringai. Pemuda ini seperti sudah merasakan kemenangannya saja. “Ini akan semakin mudah kalau situasinya seperti ini.” Dahi Farel mengerut. “Apa kau sudah punya rencana?” “Tentu saja,” jawab Mika dengan penuh percaya diri. Mudahnya jika ruangan yang berada di kanan dan kiri Dimas kosong, ia bisa menyusup ke sana menggunakan sihir. Asal ini dilakukan diam-diam, dia pasti berhasil. “Mika, hanya ini adalah bantuan yang bisa kuberikan padamu sebagai balas budi.” “Apa yang kau katakan? Melihatmu yang bisa hidup bahagia dengan kondisi lebih layak pun sudah membuatku senang.” Farel tersenyum. “Mungkin membawamu ke lokasi Dimas berada nanti adalah bantuan terakhir dariku. Aku akan menyerahkan semuanya padamu mulai sekarang.” Mika mengangguk paham. Bagaimana pun, apa yang dilakukan Farel selama ini sudah lebih dari cukup. Kalau ia tak ada di sini, pasti Mika juga tak bisa berdiri di tempat ini sekarang. Akan lebih baik kalau Farel tak terlibat lagi sama kasus ini agar dirinya bisa tetap bekerja dengan layak di kantor kedutaan. Tiba-tiba, suasana pun menjadi hening di kamar mandi rusak yang tak pernah digunakan ini. Saat itu, Farel memandang Mika dengan ekspresi bingung. “Sejujurnya aku sama sekali tak mengerti." Mika memandang laki-laki ini dengan tatapan tak mengerti. "Maksudmu?" "Apa yang terjadi padamu setelah kau ditangkap Satpol PP hari itu? Bagaimana kau bisa berakhir dengan intel itu? Apakah amnesiamu sudah sembuh?” “Hah?” Mika berkedip selama beberapa saat, mencoba memahami pertanyaan Farel yang tiba-tiba ini. Ia kebingungan harus menjelaskan bagaimana pada Farel tentang situasinya saat ini. Dia mengalihkan pandangan dan tak berani menatap pemuda itu. “Kau benar, aku sudah sembuh kok.” “Astaga, syukurlah Mika!” Farel langsung bersorak bahagia. Tentu saja, hal ini membuat Mika kaget. “Aku sudah mengira kalau dirimu adalah orang kaya atau orang penting saat melihat penampilanmu dulu. Tapi, aku tak pernah mengira kau berhubungan dengan organisasi intel seperti ini.” Senyum samar menghiasi wajah Mika sekarang. “Ceritanya sangat panjang. Begitu panjang, sampai-sampai aku tak mengira seluruh kejadian ini terjadi dalam hidupku.” “Benar, aku juga kaget saat Pak Udin yang kutemui dulu membahas masalah perang. Kupikir itu adalah kata-kata yang dilebihkan oleh para jurnalis. Akan tetapi, perang itu tampaknya sudah di depan mata.” Mika mengangguk. “Kau benar, perang ini sudah di depan mata dengan serangan yang ditujukan ke desa itu.” “Mengerikan sekali ya?” Mata Mika yang ditanyai seperti itu langsung terlihat sayu. Ia terbayang-bayang bagaimana nasib Riko dan keluarganya di sana. “Kau benar. Ini sangat mengerikan.” Merasakan suasana yang sudah terasa berbeda, Farel pun langsung mengajak Mika untuk pergi. “Kalau begitu, ayo kita menuju ruangan Dimas berada. Aku akan mengantarmu sampai ke ujung koridor.” Mika tersenyum miring. “Oke, ayo!” Sementara itu, sosok Dimas Fajar kini berada di balkon yang berada di dalam kamarnya. Ia bisa merasakan hawa segar dari sini. Beberapa saat yang lalu, pemuda SMA itu baru saja bertengkar hebat dengan sang nenek begitu Farel pergi dari ruangannya. Suasana hati Dimas masih kacau sekarang. Ia masih kesal bukan main. Wanita tua yang tak pernah menganggapnya sejak kecil itu berlagak seenaknya. Ini membuat Dimas kesal. Apalagi, orang itu dengan entengnya meremehkan nyawa manusia. Apa dia pikir misil itu tak menimbulkan korban jiwa? Dimas menendang pagar pembatas di balkon ini dengan sekuat tenaga karena kesal. Wajahnya berkerut emosi. Meskipun kakinya sekarang berdenyut nyeri, namun rasa panas akibat kemarahan yang ada di hati Dimas tak bisa dipungkiri. Ia benar-benar emosi. “Kalau kau punya kekuatan untuk menahan sakit setelah menendang pagar pembatas balkon itu, kenapa kau tak punya kekuatan untuk loncat dari lantai ini?” Saat itu, badan Dimas langsung menegang. Ia tahu betul kalau dirinya tadi di ruangan ini seorang diri. Tak mungkin ada orang lain yang bisa muncul selain neneknya, mengingat betapa ketatnya penjagaan di luar sekarang. Namun, suara yang didengar Dimas tadi adalah suara laki-laki. Bahkan, bunyinya tak asing lagi di telinga Dimas. Ia seperti mengenali suara itu. Dengan cepat, Dimas menoleh ke belakang. Matanya langsung melebar tak percaya saat melihat sosok yang berdiri santai di dalam kamarnya. “Mika?!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN