Chapter 50 - Berpisah

1474 Kata
Dulu, Mika pernah berpikir jika satu-satunya orang yang mampu mengendalikan emosinya hanyalah sang kakak yang bernama Jordan. Meskipun mereka saudara beda ibu, tapi Jordan begitu baik pada Mika. Mika tak mengerti apa-apa saat itu. Dulu ia hanyalah bocah nakal yang suka berbuat ulah dan tak mau mendengarkan siapa pun, kecuali Jordan yang begitu pengertian. Setahu Mika, Jordan adalah sosok calon raja yang ideal. Dia bisa melakukan apa pun dan hatinya begitu baik. Namun karena sebuah pertempuran, semuanya berubah drastis. Saat itu, ketika Jordan hendak berangkat perang, pemuda itu menyampaikan sebuah pesan pada Mika. “Tak peduli apa pun yang terjadi, aku akan bersumpah mengembalikan kondisi kerajaan kita menjadi tempat yang layak huni. Tempat yang dipenuhi kasih sayang untuk anak kecil sepertimu.” Dulu, Mika tak tahu apa-apa soal arti kata itu. Setelah semua hal yang terjadi sekarang, ia paham betul bagaimana arti dari ungkapan kata tadi. Satu hal yang pasti sejak kejadian itu, Jordan tak pernah kembali lagi menemui Mika. Ia pulang berperang dengan membawa raganya, namun tidak dengan jiwanya. Hari itu, hari di mana Mika masih belum mengerti apa-apa, Jordan telah berpulang meninggalkan kedamaian sejati untuk Kerajaan Mimika. Dan di sinilah, Mika Jonathan yang sudah berusia 17 tahun berada. Ia berperang dengan suasana yang sangat berbeda dengan situasi yang dialami oleh kakaknya. Mika memang tak berada di tanah kelahiran dan kerajaan yang harus dilindunginya setengah mati, tapi ia punya banyak orang yang harus dilindunginya di tempat antah berantah bernama Indonesia ini. Meskipun demikian, pesan Jordan hari itu masih terus terngiang dalam sanubarinya. Apa pun itu, semua perang harus diakhiri sebelum membawa tragedi yang lebih tragis. Tak peduli apa pun yang terjadi, Mika bersumpah mengembalikan kehidupan normal di dunia ini. Pokoknya, negeri ini harus menjadi lokasi layak huni yang dipenuhi oleh kasih sayang untuk anak kecil seperti Riko. “Kenapa kau berjalan sangat cepat? Memangnya kau mau ke mana malam-malam seperti ini?” Asa berteriak dari arah belakang. Kedua remaja ini telah pergi dari stasiun kereta sejak beberapa menit yang lalu. Mereka bersama puluhan orang lain diusir secara paksa setelah aparat kepolisian datang. Bagaimana pun, situasi di negara ini memanas. Terlebih, di daerah berkonflik yang sekarang luluh lantah seperti kampung halaman mereka berdua. Jadi, mustahil bagi Mika, Asa, dan lainnya untuk pergi ke sana menggunakan akses kereta. Mika yang sedari tadi memasang wajah serius ini semakin mempercepat langkahnya. Ia menjawab tanpa menoleh ke arah Asa, “Aku ada urusan.” “Apa? Kau tidak akan kembali ke asrama sekolah bersamaku?” “Tidak. Aku tidak akan ke sana untuk sekarang.” Saat itu, Asa yang bingung langsung melebarkan mata tak percaya. Apa pemuda ini waras? Gadis ini tahu kalau Mika cukup bodoh dalam hal pelajaran hitung-hitungan seperti matematika atau sains, tapi masa iya dia tidak tahu bagaimana aturan asrama? Asrama milik SMA Unggulan Esa itu memiliki aturan malam di mana seluruh siswa tak boleh berada di luar area sekolah ketika lewat jam 18.00, kecuali hari Minggu. Asa tahu jika setelah ini ia dan Mika akan mendapat hukuman karena masih berkeliaran di luar, tapi ia tak habis pikir dengan keputusan pemuda itu yang tak akan kembali pulang ke asrama sekarang. Apakah dia gila? Ini sih nekat namanya. Jangan-jangan Mika masih punya idealisme untuk pulang menengok keluarganya? “Apa kau masih ingin melihat keluargamu? Kau masih ingin pergi ke desa itu meskipun seluruh aksesnya ditutup?” Asa pun menanyakan hal yang membuatnya gundah sejak tadi. Saat itu, Mika langsung menghentikan langkah kakinya. Ia menoleh ke arah Asa dengan pandangan yang tak bisa diartikan. “Kumohon, jangan ikuti aku lagi.” Mata Asa membulat kebingungan. “Apa katamu?” “Aku sangat berterima kasih atas semua hal yang terjadi di stasiun tadi, tapi aku punya urusan penting di mana kau tak bisa terlibat dalam kasus ini,” jelas Mika apa adanya. Asa masih diam. Ia berdiri beberapa meter dari Mika di trotoar yang sepi ini. Suara kendaraan yang terus berlalu lalang sejak tadi membuat Asa mengira ia salah mendengarkan ucapan Mika. “Aku tak paham. Tadi pasti salah dengar. Kau—“ “Kenyataannya memang seperti itu. Kumohon kita berpisah saja dari sini!” potong Mika dengan suara yang penuh penekanan. Asa benar-benar bingung harus merespons apa sekarang. Mika aneh sekali. Kenapa ia bersikeras tak mau kembali ke asrama sekolah, bahkan meminta untuk berpisah dari Asa di sini? Seolah baru menyadari sesuatu, gadis dengan rambut panjang yang diikat dua itu baru melihat kalau pakaian yang dipakai Mika sejak tadi seperti pakaian petugas kebersihan. Ada logo Kedutaan di bagian saku kirinya. Mungkinkah itu alasan kenapa Mika bersikap seperti sekarang? “Sebenarnya apa yang ingin kau lakukan sih?” Mika menatap Asa dengan pandangan yang begitu dalam. “Tolong mengertilah, Asa. Tidak semua hal yang aku lakukan harus kuceritakan padamu.” Saat mendengar itu, Asa bingung harus merespons seperti apa. Ia jadi terkesan seperti orang yang suka sok ikut campur sekarang. Hati Asa sedikit berdenyut. Ia sakit hati ketika Mika berkata demikian. Apakah selama ini pandangan Mika seperti itu padanya saat ia mau memberikan pertolongan pada pemuda ini? Asa menundukkan kepala. Ia meremas kedua tangannya kuat-kuat. Hatinya yang ngilu sekarang membuat gadis itu bingung harus merangkai kata seperti apa di depan Mika. Di lain sisi, ia masih bisa merasakan jika Mika masih terus menatap ke arahnya. “Apakah selama ini ... kau menganggapku seperti parasit yang suka ikut campur dalam masalahmu?” “Hah?” Mika berkedip tak mengerti. Kenapa Asa tiba-tiba berpikiran seperti itu? Tawa terdengar dari mulut gadis itu. Ia mendongakkan sedikit kepala dan melirik ke arah Mika dengan tatapan acuh tak acuh. Senyum miring yang penuh kekecewaan terpatri jelas di wajah gadis itu. “Sudahlah.” “Asa sepertinya kau salah paham! Bukan seperti itu maksudku, kumohon mengertilah! Situasi yang ada sekarang tak bisa membuatku menceritakan segala hal!” “Bukankah kau berkata bahwa tidak semua hal yang kau lakukan harus diceritakan padaku? Kesannya aku selalu memaksamu untuk menceritakan semua hal yang kau alami padaku kan?” Dahi Mika mengerut. Bukan seperti ini yang ia inginkan. Memang benar jika Mika kadang kesal ketika Asa ikut campur banyak hal, tapi ia tak pernah menganggap gadis itu sebagai pemaksa seperti yang dipikirkan olehnya. Dengan pandangan mata tajam, Asa berujar, “Kalau kau meminta kita untuk berpisah di tempat ini, oke. Aku turuti itu. Mulai sekarang aku tidak akan ikut campur seluruh masalahmu lagi! Kau puas? Selamat tinggal!” Mika menahan dirinya sebisa mungkin untuk tak mengejar gadis itu meskipun ia sangat ingin melakukannya. Tangannya terkepal erat dengan gigi bergemeletuk. Ia tahu kalau Asa itu kadang keras kepala, hampir sama sepertinya. Di saat seperti ini, emosi gadis itu sedang ada di tingkat tertinggi. Kalau ia salah melakukan suatu hal, bisa fatal nanti. Yang ada, hubungan pertemanan mereka jadi hancur. Dengan tatapan nanar, pemuda jangkung yang memakai baju kebersihan itu hanya bisa memandang punggung Asa yang semakin jauh. Gadis itu tampaknya berbalik arah dan memilih jalan memutar menuju sekolah saking marahnya. Mika menghela nafas panjang. Ia sudah bertekad. Kalau Asa bilang seperti itu, apa boleh buat. Sekarang Mika harus menyelesaikan masalahnya dulu lalu membujuk Asa yang marah padanya nanti. Pemuda itu membalikkan badan. Ia mulai melangkahkan kaki secepat mungkin ke arah yang ditujunya sejak tadi. Apa pun yang terjadi, Mika harus sampai ke tempat Dimas Fajar ditahan berada sekarang. Selain harus menyelamatkan anak itu, ia mau mencari tahu apa alasan pasti negara dari pihak ayah Dimas melakukan penyerangan seperti ini ke desa kecil milik Putri, kakak gadungannya. Saat itu, baik Mika maupun Asa, saling berjalan dengan arah yang berlawanan. Mereka sama-sama muak dengan seluruh keadaan yang terjadi sekarang. Singkat waktu, pemuda jangkung dengan rambut acak-acakan itu telah tiba di depan gedung kedutaan. Karena Mika tahu kalau ia terkenal di media sosial atau apalah itu namanya, pemuda ini memakai masker agar kemunculan dirinya tak menimbulkan kehebohan. Sambil melirik ke arah kanan dan kiri, ia menyusup ke dalam kantor itu dengan sihirnya. Menggunakan telekinesisnya, ia merusak pagar beton ini untuk masuk lalu memperbaikinya kembali seperti semula. Mika dengan gesit berjalan ke dalam. Berdasarkan informasi dari Farel, ruang petugas kebersihan itu ada di area sebelah kiri. Jika Mika langsung ke sana dan membaur dengan sesama petugas kebersihan yang berseragam sama dengannya, penyamaran pemuda itu pasti aman. Gedung kedutaan ini cukup ramai. Namun, Mika sebisa mungkin terus menyembunyikan dirinya sebelum sampai di ruang petugas kebersihan. Ia menyelinap ke sana ke mari seperti maling. Coba kalau ia tak punya sihir, pemuda itu pasti sudah tertangkap sejak tadi. “Kemungkinan besar, ruangan itu adalah ruang petugas kebersihan yang dimaksud oleh Farel.” Mika bermonolog seorang diri dengan suara pelan. “Aku harus ke sana secepatnya!” Mika yang sejak tadi bersembunyi di antara mobil-mobil yang terparkir pun langsung melihat keadaan sekitar dan menyusup masuk ke ruangan itu. Saat ia baru menginjakkan kaki di depan ruangan, tiba-tiba sebuah tangan menyentuh bahunya. Detak jantung Mika seolah langsung berhenti. Ia menahan nafas karena kaget. “Siapa kau?” Celaka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN