Asap hitam adalah sesuatu yang menandakan jika pangeran mahkota dari Kerajaan Mimika ini tak bisa lagi membendung emosi dalam dirinya. Ia terdesak. Itulah faktanya. Hati Mika terasa bergejolak.
Meskipun pemuda ini memiliki kemampuan telekinesis murni, namun wahyu dari kekuatan Raja Pertama yang menyertainya tak bisa disepelekan.
Tipe sihir Raja Pertama itu unik, begitulah kata orang. Dia memiliki kemampuan sihir yang mengerikan. Berbeda dengan penduduk di Kerajaan Mimika sekarang yang kebanyakan memiliki satu tipe sihir, konon Raja Pertama dulu memiliki seluruh gabungan sihir dalam dirinya.
Sihir yang dimiliki oleh Raja Pertama sangatlah kompleks. Bagaikan sisi gelap dan terang, semua hal ada dalam dirinya. Sihir gelap-terang itu saling melengkapi. Semuanya berada dalam posisi seimbang sehingga mampu mengantarkannya sebagai penguasa tangguh.
Namun, di sinilah Mika hadir sebagai penentang teori itu. Sebuah kemampuan legenda yang konon diwariskan 100 tahun sekali telah jatuh ke tangan manusia yang salah, menurut semua orang.
Mika tak seharusnya mewarisi kekuatan sihir murni ini.
Karena bagaimana pun, wahyu Raja Pertama yang dipenuhi sisi gelaplah yang justru mendominasi kekuatan dalam diri Mika Jonathan.
Kegelapan inilah yang disebut sebagai sihir hitam. Sebuah kekuatan dari sang raja pertama yang membuat seluruh musuhnya ketakutan. Dia dianggap sebagai tirani di mata seluruh lawan karena sihir hitam ini.
Mika yang memiliki kontrol emosi buruk sering kali melepaskan amarah dengan perantara sihir ini.
Tubuh pemuda itu mematung di antara puluhan orang yang berdesakan. Dia berdiri tegap seperti tubuh yang kehilangan jiwa. Tangannya terkepal begitu erat tanpa diketahui oleh siapa pun.
Bagi manusia biasa seperti orang-orang ini, mereka tak bisa melihat bagaimana penampakan asap hitam yang membumbung tinggi di seluruh area stasiun sekarang. Namun, sensasi atmosfer yang begitu berat dan mencekik langsung dirasakan oleh seluruh orang.
“E-entah kenapa ... tubuhku tak bisa bergerak!”
Seluruh orang yang semula berdesakan kini mematung dengan kondisi panik.
“A-aku seperti tercekik! Sebenarnya ... a-apa ini?!”
Mereka melebarkan mata tak percaya dengan ekspresi tegang di wajah masing-masing. Petugas kereta api pun sama-sama kaget dan bingung dengan sensasi atmosfer berat ini.
“A-apa lagi sekarang?!”
“Mungkinkah ini ... p-perbuatan musuh seperti tembakan misil itu?!”
“J-jangan ... jangan ... ini adalah bom racun?!”
“Sialan! A-aku tak bisa bernafas!”
Seluruh orang merasakan hal yang sama. Sebuah teror ketakutan merasuki jiwa mereka dan menggerogotinya dari dalam. Detak jantung mereka tak karuan dengan peluh dingin yang bercucuran.
Bagaikan oksigen yang hilang dari permukaan bumi, semua orang seperti tercekik. Mereka kesulitan bernafas. Saking takutnya, tubuh semua orang terasa membeku dan tak ada yang berani bergerak.
Di antara kerumunan itu, sosok bertudung hitam yang tak diketahui keberadaannya oleh siapa pun hanya bisa melebarkan mata ketakutan. Dia mengawasi Mika beberapa meter jaraknya dari pemuda yang tak bisa mengendalikan kekuatannya itu.
Peluh membanjiri dirinya. Sosok itu tak akan pernah mengira jika kekuatan Mika akan lepas kendali di ruangan publik seperti sekarang. Jika Mika tak bisa dihentikan, bisa-bisa seluruh orang yang tak berdosa di stasiun ini akan tewas oleh asap hitam itu.
“Asap hitam itu pembawa racun. Manusia-manusia ini pasti tak bisa menyadarinya! Namun, mereka sudah menunjukkan gejala terkena pengaruh dari racunnya!”
Mata dari sosok bertudung itu menatap panik ke arah semua orang. Jantungnya terus berpacu sejak tadi.
“A-apa ... apa yang harus kulakukan sekarang?”
Sialan, sosok bertudung itu terus memaki-maki dalam hati. Ia benar-benar bingung dan putus asa. Seluruh badannya terasa remuk. Ia tak bisa bergerak leluasa dan ada sensasi tercekik yang menyerangnya. Kalau terus dibiarkan, ia bisa mati juga di sini.
Namun, derap langkah kaki yang begitu nyaring langsung terdengar. Sosok bertudung hitam yang berusaha sekuat tenaga mempertahankan kesadarannya itu langsung melebarkan mata tak percaya.
“B-bagaimana mungkin ... ?!”
Ia bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana gadis berseragam hitam yang kini memeluk Mika dengan sekuat tenaga. Ini aneh. Bagaimana mungkin gadis dengan rambut diikat dua itu bisa melakukan hal tersebut?
Bukan hanya dirinya yang bisa bergerak bebas di antara seluruh orang yang membeku kesakitan, gadis itu bahkan bisa menyentuh Mika tanpa merasakan sakit apa pun saat pemuda itu kehilangan kendali. Tentu saja ini di luar nalar. Saat Mika dalam posisi seperti itu, yang bisa menghentikannya hanyalah orang tertentu saja.
“Mika! Kumohon!” Gadis itu berteriak di antara riuhnya kerumunan yang masih kebingungan itu. “Kumohon kuatkan dirimuuu!”
Seluruh asap hitam yang tak bisa dilihat manusia biasa tadi pun tiba-tiba sirna. Sosok bertudung itu langsung jatuh bertekuk lutut dan terbatuk-batuk. Lehernya yang sedari tadi seperti tercekik pun bisa bebas bernafas lagi. Seluruh orang bisa merasa lega dari atmosfer berat tadi.
Tubuh Mika pun jatuh terperosok. Asa yang sedari tadi memeluknya dari belakang pun sontak kaget. Ia menatap pilu ke arah Mika yang menangis tanpa suara dan air mata.
Dari mata Asa, pemuda ini terlihat begitu kacau. Ia mengusap wajahnya dengan begitu kasar. Wajahnya menunjukkan bagaimana ekspresinya yang gusar. Satu hal yang Asa pikirkan sekarang, Mika kacau.
Seluruh orang yang sudah merasa bebas langsung kembali berdesakan untuk menuntut tiket dan jadwal keberangkatan kereta ke petugas stasiun. Di antara kerumunan orang itu, dua orang pemuda ini hanya bisa terdiam satu sama lain.
Asa yang tak kuasa melihat Mika yang kacau ini pun langsung ikut berjongkok di sampingnya.
“Mika ...,” panggil Asa dengan nada begitu lembut. “Kuatkan dirimu.”
Tubuh Mika bergetar menahan emosi sedih. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Asa yang melihat ini pun secara spontan langsung memeluk Mika dari samping.
Langsung saja, tubuh Mika terenyak kaget. Namun sedetik kemudian, Asa bisa merasakan bagaimana tubuh Mika yang lemas tak berdaya.
“Bagaimana mungkin aku bisa tenang saat keluargaku berada dalam bahaya?”
Asa memasang wajah pilunya. Ia mendengar setiap perkataan dari pemuda ini dengan lembut dan sabar. Gadis itu memeluk Mika dari samping dengan begitu erat.
“Aku bisa mendengar bagaimana suara teriakan orang-orang di sana, Asa! Aku bisa mendengarnya dengan jelas lewat telepon adikku!”
Mata Asa langsung memperlihatkan pandangan nanar. Ia bisa membayangkan betapa kacaunya situasi di wilayah itu sekarang. Bagaimana pun, beritanya sudah menyebar ke mana-mana. Gadis itu tahu apa yang terjadi di sana lewat siaran televisi dan berita di media sosial.
“Aku mendengar suara ketakutan dari adikku saat itu, Asa. Ia menjelaskan segala situasi dengan nada bergetar. Bagaimana mungkin aku bisa tenang saat adikku tak bisa dihubungi lagi sekarang?!”
Saat itu, Mika yang sedari tadi membenamkan wajah di antara dua telapak tangannya langsung menatap Asa dengan wajah kacau. Asa pun terperanjat. Gadis itu langsung memperlihatkan pandangan pilu.
Dengan suara lembut, Asa berujar, “Aku tahu. Kau pasti sangat kacau sekarang. Akan tetapi, berpikirlah secara rasional. Kalau pun ada kereta yang bisa kau naiki ke sana, apa kau yakin perjalananmu akan baik-baik saja di wilayah konflik itu?”
Mika sudah tahu jawaban dari pertanyaan retoris ini. Tak mungkin perjalanan ke sana bisa dilakukan. Mau seluruh orang yang ada di sini demo pun, pihak stasiun pasti tetap tak akan mau mengoperasikan kereta ke wilayah desa Mika.
Dengan pandangan mata yang sudah lelah, Mika melirik ke arah Asa. “Kau sendiri? Kehadiranmu di sini pasti karena ingin memastikan keadaan desa itu kan? Kau pasti ke stasiun ini karena ingin pergi ke sana melihat bagaimana kondisi nenekmu kan?”
Lidah Asa kelu. Tebakan Mika tepat sekali. Kedatangan Asa ke stasiun ini karena ia berpikiran yang sama dengan pemuda itu. Ia juga ingin melakukan hal yang nekat meskipun hasilnya sia-sia. Asa ingin melampiaskan emosinya dengan protes ke pihak stasiun dan meminta akses kereta dibuka.
Ini naif. Asa mengakuinya. Ia mengatakan kata-kata penenang pada Mika, namun hal yang sama justru ia lakukan.
“Nenekku hanyalah orang tua. Kau tahu itu karena aku telah bercerita banyak hal padamu saat di kereta dulu. Dia adalah sesuatu yang berharga untukku. Tadi, Ibu meneleponku dengan kondisi yang sangat kacau. Ayah tak bisa dihubungi. Hanya aku yang diharapkan oleh Ibu.”
Mika melirik ke arah gadis yang masih memeluknya dari samping ini dengan mata sayu. Ia tahu alasan kenapa Udin tak bisa dihubungi. Pria itu pasti sangat sibuk sekarang.
“Nenekku tak bisa ditelepon. Kalau pun serangan misil tadi dilakukan tiba-tiba, ada kemungkinan nenekku ... nenekku ... telah tiada.”
Mata Mika yang semula sayu langsung membulat untuk sesaat. Ia menoleh ke arah Asa. Tangannya terulur untuk merengkuh gadis yang masih memeluknya itu.
“Kita masih belum kalah, Asa. Kemungkinan terburuk memang akan ada, tapi jangan memikirkan hal itu seolah-olah telah terjadi. Aku yakin semuanya akan baik-baik saja.”
“Mika ... aku juga sama kacaunya denganmu. Saat datang ke sini, aku melihat sosokmu yang hanya berdiri mematung di antara kerumunan orang. Kupikir hal buruk telah terjadi padamu.”
Wajah Mika langsung terenyak. Saat itu, ia pasti menggunakan sihir hitam dari kekuatan Raja Pertama lagi tanpa disadarinya. Diam-diam ia bersyukur dalam hati karena tak melukai siapa pun. Asa datang tepat waktu untuk menenangkannya. Ia menatap gadis ini dengan senyum tipis.
“Kau tahu? Berdasarkan ilmu psikologi, pelukan dapat menenangkan hati seseorang.” Asa mengatakan itu dengan senyumnya yang lembut.
Mika bisa merasakan ada hal berbeda dari gadis ini sekarang. Dia bukanlah Asa tukang jahil yang sering menggodanya. Pemuda ini merasa takjub dengan sosok Asa yang lembut dan pengertian seperti sekarang. Dia menyukai Asa yang seperti ini.
Saat itu, yang bisa Mika lakukan hanyalah tersenyum seraya memejamkan mata. Ia menarik nafas dalam-dalam untuk lebih mengendalikan emosinya yang sangat kacau.
“Terima kasih, Asa. Terima kasih. Aku tak tahu harus mengatakan kata itu berapa kali agar kau mengerti bagaimana aku bersyukur bertemu denganmu di tempat ini.”
Asa bengong. Ia menatap Mika yang seperti ini dengan mata tak berkedip. Seberapa kacaunya hati Asa sekarang karena terus memikirkan neneknya, namun ia tak bisa memungkiri betapa indahnya maha karya Tuhan yang satu ini.
Satu fakta yang tak mampu Asa elak. Dirinya terpesona dengan pemuda yang memejamkan mata dalam pelukannya ini.
Saat itu, Asa langsung duduk. Ia memperbaiki posisinya dan memeluk Mika lebih erat. Pemuda itu pun langsung membalas pelukan tadi. Pertahanan gadis dengan rambut yang diikat dua itu benar-benar runtuh. Ia meluapkan seluruh emosinya dalam rengkuhan tubuh Mika.
Neneknya dalam bahaya saat ini. Itu satu fakta yang tak bisa dipungkiri, begitu pun dengan kondisi keluarga Mika di sana. Namun, satu hal yang Asa tahu adalah Mika ada di sini.
Mika ada di sini, merengkuhnya, dan saling berbagi perasaan yang sama dengan Asa. Kerusuhan stasiun pun langsung tak berasa. Seolah, hanya mereka berdua yang ada di dunia ini dalam sesaat.