Chapter 48 - Amarah

1290 Kata
Misil adalah sebuah kata yang ditujukan untuk senjata pengendali. Mika tahu betul jika anak kecil seperti Riko tak terlalu memahami makna kata itu. Namun, ia tahu jika anak laki-laki itu bisa merasakan kesengsaraan dan ketakutan luar biasa sekarang. Ini menyebalkan. Mika tak henti-hentinya memikirkan keselamatan seluruh orang yang ada di desa itu. Pikirannya kacau. Terbayang-bayang bagaimana nasib keluarga palsunya di sana. Mau tak mau, rencananya hari ini untuk pergi menemui Dimas harus ditunda terlebih dahulu. Mika yang masih memakai seragam OB itu terus berlari di sepanjang jalan. Satu tempat yang ia tuju saat ini adalah stasiun kereta. Ia harus memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Bahkan tadi, pemuda bernama lengkap Mika Jonathan itu sengaja keluar dari mobil mewah berwarna putih yang dimiliki Udin. Ia kabur dari sana untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Pemuda berambut acak-acakan ini menggigit bibirnya kuat-kuat. Alisnya mengendur sebagai tanda khawatir. Ia memejamkan mata sesaat. Dirinya hanya bisa berharap dan berdoa. “Riko ... kumohon, kumohon! Bertahanlah!” *** “Kudengar, OB tambahan yang akan menjadi rekanmu di sini tak jadi datang ya?” Suara dengan nada datar itu membuyarkan konsentrasi dari petugas kebersihan yang mengenakan seragam biru ini. Farel yang sejak tadi mengepel lantai itu langsung melirik ke arah pemuda yang sibuk membaca buku di meja. Pria dengan usia kepala dua itu langsung tersenyum lebar ke arah orang tadi. “Seperti yang Anda tahu, ada kekacauan besar di luar sana. Jadi perjalanan rekan kerja saya jadi terhambat.” “Ini mengerikan ya?” Farel melirik orang itu lagi. Pemuda bernama Dimas Fajar itu tampak tertekan di samping wajah datar yang terus diperlihatkannya sejak tadi. Petugas kebersihan seperti dirinya jadi bingung harus menjawab seperti apa perkataannya itu. Di lain sisi, Farel juga melirik ke arah satu orang lagi yang berada di dalam ruangan yang sama dengan Dimas. Beberapa meter jaraknya dari Dimas, ada seorang wanita anggun dengan rambut disanggul. Orang ini adalah nenek dari pemuda itu. Dua orang asing itu sama-sama berada di kantor kedutaan karena ditampung oleh pihak Kedubes sebagai imbas dari insiden kecelakaan kereta kemarin. Wajah keduanya sama-sama datar. Orang awam seperti Farel pun tahu kalau mereka berdua saling tak menyukai. Pada akhirnya, petugas kebersihan muda itu menghela nafas. “Anda benar, ini memang mengerikan.” “Pada dasarnya, ini adalah hal lumrah.” Suara dengan nada tinggi itu langsung terdengar setelah Farel mengucapkan hal tadi. Baik Farel maupun Dimas Fajar langsung melirik ke arah satu-satunya wanita yang berada di ruangan ini. Wanita tua bermata sipit itu tampak tak suka. Ia melipat koran yang dibacanya sejak tadi. Farel yang menyadari kesalahannya langsung membungkuk dalam-dalam. “Maaf atas perkataan lancang saya tadi. Saya hanya menyampaikan opini pribadi atas perkataan Tuan Muda.” Kali ini suara yang lebih lembut terdengar dari wanita tua itu. “Tidak apa-apa. Sampaikan saja. Pada dasarnya, Indonesia adalah negara dimana warganya dibebaskan untuk berpendapat. Tidak ada yang akan menghukummu jika hanya beropini.” Suasana terasa lebih tegang. Dimas dan Farel saling melirik tanpa disadari oleh wanita tua itu. Pada dasarnya, dua laki-laki ini selalu berpura-pura tak memiliki hubungan saat Nenek Dimas berada di ruangan ini. Akan gawat, jika wanita tua itu mengetahui segala rencana yang dipersiapkan oleh mereka berdua. Ketidakhadiran Mika di jam yang telah disepakati oleh Dimas dan Farel membuat kecemasan tersendiri bagi dua orang itu. Mereka bingung, namun di lain sisi juga ikut khawatir. Masa iya Mika tak jadi ke sini karena berita penembakan misil di desa terluar yang ada di Pulau Jawa? “Kalian adalah warga negara yang baik. Kalian tak akan bisa mengerti hal ini. Namun tenang saja, aku akan menjamin keselamatan kalian berdua jika menurut denganku,” ujar wanita tua itu seraya melirik sekilas ke arah Dimas dan Farel yang masih sibuk mengepel. Seketika peluh dingin membasahi tubuh petugas kebersihan muda itu. Memang benar jika ia telah diminta oleh atasannya langsung untuk melayani dua orang ini. Namun mendengar nenek tua ini berkata seperti tadi, buku kuduknya langsung berdiri. Kegilaan apa lagi yang akan ia lakukan setelah ini? Setelah suasana hening yang begitu lama terajut, Dimas yang sejak tadi tampak tidak peduli langsung angkat suara. “Kenapa harus seperti ini?” “Hm?” Neneknya yang sibuk menyesap teh itu langsung melirik tak mengerti ke arah cucu yang selama ini tak diakui olehnya. “Apa maksudmu?” Gawat, saat ini Farel yang tengah sibuk mengepel lantai langsung bisa merasakan akan ada percikan amarah antara dua orang tersebut. Apakah mereka berdua akan berdebat lagi? Kenapa Dimas tak bisa menahan amarahnya sih? “Kenapa kalian sampai harus melakukan hal seperti ini untuk menunjukkan kekuasaan dan keunggulan kalian?” Nada dingin keluar begitu saja dari mulut Dimas. Tak seperti perdebatan panas yang dikira oleh Farel, wanita tua itu justru tertawa. Dimas buka suara lagi saat dirinya mendengar tawa itu. “Apakah ini lucu bagimu?” “Tentu saja,” jawab wanita itu di sela-sela tawanya. “Ini sangat lucu.” Sialan, Farel hanya bisa berpura-pura tak mendengar apa pun. Seperti figuran ataupun NPC dalam game, dia hanya wajib melakukan tugasnya dan bersikap seolah tak tahu apa-apa. Pemuda itu fokus mengepel dan mengepel meskipun dirinya merasa tegang sejak tadi. Setelah puas tertawa, nenek dari Dimas ini berujar, “Kadang kalanya seseorang harus diberikan teror ketakutan agar ia mengerti posisi dirinya. Agar ia juga paham apa arti dari kata tunduk itu.” “Lalu? Kenapa kau menargetkan desa kecil itu? Apa kau puas?” Tangan jenjang dan putih milik wanita tua itu tampak mengelus cangkir porselen dari tehnya. “Dimas, apakah kau pernah mendengar istilah sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui?” “Apa hubungannya dengan itu?” Nenek itu tertawa. “Pada dasarnya, di desa kecil itu ada tambang besar milik Amerika yang ada di negara ini. Kalau kami bisa menghancurkan dua sasaran sekaligus, kenapa tidak?” Satu hal yang ada di pikiran Dimas dan Farel saat ini adalah fakta jika nenek ini sudah gila. Ia dan sekutunya telah merencanakan semua hal ini. Berita tentang penembakan misil yang diluncurkan sejam yang lalu itu pasti sudah ke mana-mana. Seluruh stasiun TV sekarang pasti menyiarkannya. Dimas takut. Sangat takut kalau boleh dibilang. Ia takut jika berita yang disiarkan itu akan menambah rasa teror dan takut dari seluruh masyarakat. Meskipun dalam dirinya ia bertanya-tanya alasan kenapa Mika tak bisa datang, namun Dimas hanya bisa berharap jika pemuda yang baru menjadi teman sekolahnya itu tak terlibat langsung dengan insiden tersebut. Pemuda itu menghela nafas panjang. Tak ada gunanya membahas masalah ini dengan sang nenek jika jawaban wanita tua itu justru membuat pikirannya semakin kacau. Dimas pun menenggelamkan wajahnya dibalik buku yang ia baca sejak tadi. Matanya memejam dan hatinya berharap. Semoga saja Mika senantiasa selamat dan bisa segera ke sini melancarkan aksi kabur mereka. Sementara itu, jauh dari lokasi kantor kedutaan besar tempat di mana Dimas berada sekarang, Mika berdesakan bersama puluhan orang di stasiun kereta ini. Kalau ia bisa bilang, situasi dari pemuda itu sekarang sangatlah genting. Ia tak bisa dikatakan selamat jika belum memastikan bagaimana nasib Riko dan keluarganya di desa. Mencoba menghubungi nomor anak itu lagi pun percuma karena telepon Riko mati secara tiba-tiba tadi. Ia tak bisa menghubungi siapa pun baik Riko, Ahmad, maupun Putri. Namun di saat yang bersamaan, puluhan orang juga mendatangi stasiun kereta ini untuk tujuan yang sama dengan Mika. Tak ada lagi kata antre di sini. Semua orang berdesakan untuk memastikan kapan mereka bisa menuju desa kecil yang sekarang luluh lantah akibat tembakan misil itu. Mereka ingin memastikan nasib orang yang dikasihinya di sana. “Aku harus ... memastikan kabar Riko sekarang!” Saat itu, secara tiba-tiba, sebuah asap hitam muncul di stasiun kereta ini. Orang yang menjadi pemicu hal ini tak lain dan tak bukan adalah Mika sendiri. Kekuatan hebat dari sang penerus Kerajaan Mimika ini tanpa sadar keluar saat dirinya sudah tak bisa menahan emosi lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN