“Kau tahu ke mana Mika pergi? Dia menyelonong begitu saja.”
Saat itu, Asa yang sibuk memasukkan buku-buku ke dalam tas hanya bisa menoleh ke arah Jojo dan Budi yang sudah berdiri di samping mejanya. Di tempat duduk Mika sendiri, pemuda dengan rambut acak-acakan itu sudah tidak diketahui keberadaannya.
Asa pun menghela nafas panjang. “Aku tidak tahu.”
Budi dan Jojo langsung saling pandang. Aneh sekali, biasanya dua bocah ini klop. Lagi pula, mustahil kalau Asa tidak tahu Mika akan ke mana mengingat keduanya berada di bangku yang sama. Masa iya Mika tak berpamitan sama sekali?
“Kau yakin?” tanya Budi sekali lagi.
“Ya, iyalah.”
“Kalau kau berbohong, aku akan memerintahkan roh halus untuk mengganggumu,” sambung Jojo dengan nada bercanda.
Namun, tatapan mata tajam langsung dilemparkan oleh Asa. Dia merengut dengan jelas. “Kalau memang tidak tahu kenapa memangnya, hah? Jaga ucapanmu!”
Setetes keringat langsung mengucur di dahi Jojo. “S-santai sedikit dong, Mbak.”
Budi mengabaikan perdebatan Asa dan Jojo. Dia tampak merenung.
Beberapa hari terakhir, Mika selalu saja sibuk sendiri. Kemarin malam, anak itu bahkan kembali ke asrama pukul satu pagi. Dan sekarang, dia pergi begitu saja dari kelas tanpa berpamitan pada siapa pun.
Semalam saat dirinya bertanya dari mana, Mika menjawab jika ia baru kembali dari ruang kepala sekolah. Entah benar atau tidak, Budi takut jika Mika ada masalah dengan neneknya. Sudah cukup Dimas saja yang bikin repot, Mika jangan ikut-ikutan.
“Setelah Dimas yang menghilang, sekarang Mika yang suka hilang,” keluh Jojo dengan nada lelah.
Mendengar itu, perhatian gadis dengan rambut diikat dua ini langsung tertuju pada dua pemuda tadi. Wajah Asa menggambarkan ekspresi yang tak bisa diartikan. Dia tampak berpikir.
Sejujurnya sejak jam pertama tadi, Mika tidak bertindak normal seperti biasa. Pemuda itu lebih diam dan sering merenung. Asa juga tidak menanyainya kenapa karena takut mengganggu privasi Mika.
Meskipun begitu, Mika masih mengajaknya mengobrol sesekali untuk bertanya soal pelajaran. Bagaimana pun, pemuda itu tak bisa apa-apa soal matematika.
Ini aneh, begitulah pikir Asa. Saat bel pulang berbunyi tadi, Mika pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata padanya. Untuk sesaat Asa berpikir, apakah mungkin dia membuat kesalahan? Tapi apa? Masa iya karena membawa Mika ke rumahnya kemarin?
“Malam ini, kau jadi mengajakku minum kopi di kafe kan?”
Sekilas ingatan itu muncul. Kedua mata Asa melebar seolah ia baru menyadari suatu hal. Jangan-jangan, yang berbuat kesalahan dalam hal ini adalah ayahnya sendiri?
Apakah dua orang itu benar-benar pergi mengopi bersama tadi malam? Apa terjadi sesuatu ya sehingga Mika aneh sekali?
“Ada apa ini?” tanya Ayu yang tiba-tiba muncul di meja Asa bersama dengan Dina.
Dua orang gadis itu penasaran akan apa yang terjadi di meja belakang paling pojok itu. Tumben sekali ada kerumunan di sini.
“Tidak ada apa-apa. Hanya saja, Mika tiba-tiba pulang tanpa berpamitan atau mengucapkan sepatah kata pun baik pada kami atau pun Asa,” jelas Jojo apa adanya.
“Wih, mungkin saja kalian membuat Mika marah jadi dia bertindak seperti itu,” tanggap Dina dengan wajah enteng.
Budi yang mendengarnya langsung menggeleng. “Ini mustahil. Sampai semalam, kami masih berhubungan baik kok dengan Mika. Tak ada tanda-tanda dia marah atau bagaimana.”
Karena dijawab seperti itu, Ayu dan Dina pun tak bisa menanggapi lagi. Kedua gadis ini tampak saling pandang. Mereka memperhatikan ekspresi Asa yang terlihat sama-sama tak mengerti dengan perubahan sikap Mika.
Saat itu Ayu langsung menghela nafas. “Sudahlah. Kita anggap saja Mika punya urusan gawat yang tidak bisa ditahan. Jadi dia buru-buru keluar. Siapa tahu Mika sekarang sudah ada di asrama kan?”
Perkataan gadis berambut pendek sebahu dengan matanya yang tertutup sebelah seperti bajak laut ini langsung membuat Budi dan Jojo bernafas lega. Mungkin saja, perkataan Ayu tadi ada benarnya.
Namun di saat yang bersamaan, Asa yang sejak tadi masih duduk di bangkunya menolehkan wajah ke arah jendela. Dari kelas yang berada di lantai dua ini, dirinya bisa melihat pemandangan yang ada di halaman sekolah. Saat itu, nafas Asa seolah tertahan ketika matanya melihat penampakan seseorang yang tak asing lagi baginya.
“Itu Mika kan?” tanya Asa dengan suara keras, tanpa ia sadari.
Langsung saja, seluruh pasang mata dari lima anak remaja itu tertuju pada jendela kaca di samping Asa duduk. Mereka tampak menyipitkan mata guna melihat lebih jelas apakah itu Mika atau bukan.
Di halaman sekolah itu, seorang pemuda dengan rambut acak-acakan dan blazer khas SMA Unggulan Esa yang berwarna hitam tampak berlari secepat mungkin untuk keluar sekolah. Tak salah lagi, orang itu adalah Mika Jonathan.
Dia berlari kencang, menyapa satpam secara sekilas, dan masuk menuju mobil putih mewah. Mobil yang membawa Mika itu tadi langsung meluncur dengan kecepatan tinggi meninggalkan gedung sekolah ini.
“Tak salah lagi, sepertinya Mika memang ada masalah penting sampai terburu-buru seperti itu,” celetuk Jojo apa adanya.
Saat itu, Budi merasa aneh. Kalau dipikir-pikir, Mika pernah bilang jika tujuannya sekolah di sini semata untuk menghentikan perang yang akan terjadi setahun lagi akibat insiden kecelakaan kemarin.
Budi menduga kuat jika kunci yang bisa dijadikan jalan keluar dari masalah ini adalah sosok Dimas Fajar. Kalau Dimas tak ada lagi di sekolah ini, Mika pasti akan berusaha terus mencarinya di luar.
Benar juga, pasti alasan Mika semakin jarang ditemui di sekolah karena hal itu. Ia pasti sibuk mengurus Dimas dari cengkeraman keluarga pihak ayahnya yang melakukan seluruh trik politik untuk menghalalkan segala cara.
Di lain sisi, dalam mobil mewah berwarna putih ini tadi, Mika langsung melepas blazer dan melempar tas sekolahnya secara sembarangan.
Tepat di kursi depannya, tampak Udin dengan rambutnya yang khas dibelah tengah sedang menyetir mobil. Ia membalap dengan kecepatan penuh.
Mika pun segera memakai kemeja OB dengan label Kedutaan Besar tanpa melepas kemeja putih sekolahnya. Kali ini, ia akan menyamar masuk ke dalam kantor kedutaan itu untuk menemui Farel dan Dimas secara bersamaan.
“Kau sudah tahu tugasmu setelah ini kan?” Udin bertanya sambil melirik ke kursi belakang lewat kaca spion.
“Ya, aku akan berusaha membawa Dimas keluar! Apa pun caranya!”
“Bagus, aku akan mempercayaimu penuh. Sebisa mungkin, jangan buat kerusakan dan kekacauan apa pun itu. Apa kau paham?”
Mika yang sudah siap dengan baju OB berwarna biru muda ini langsung tersenyum miring. “Tidak apa kalau berbuat kekacauan untuk pembelaan diri kan?”
Saat itu, Udin langsung mendengus gelis. “Aku tahu kalau bocah gila sepertimu akan berkata demikian. Terserahlah.”
Mika menghempaskan tubuhnya ke kursi empuk dari mobil mewah ini. Kedua matanya tampak menerawang jauh. Ia cukup bersyukur karena sang kepala sekolah akhirnya mau menyerahkan masalah Dimas ini pada Mika.
Mulai sekarang, dia akan bertanggung jawab penuh untuk membebaskan anak itu. Di lain sisi, Bu Siti yang merupakan kepala sekolah SMA Unggulan Esa harus berusaha sekuat tenaga juga untuk menyuarakan keadilan lewat Dinas Pendidikan dan seluruh instansi agar mereka mau membuka mata soal apa yang terjadi sekarang.
Setali tiga uang dengan mereka berdua, Udin juga akan mulai sibuk sekarang. Pria yang saat ini memakai setelan jas rapi dan mengendarai mobil mewah ini akan mencoba untuk menyamar sebagai investor kaya yang ingin menanamkan modalnya di perusahaan travel milik Amerika.
Bagaimana pun juga, travel yang terlibat langsung dalam kecelakaan dua delegasi penting itu sangat mencurigakan. Mereka pasti terlibat penuh dalam hal ini, entah di bagian mana itu.
Yang terpenting, mulai sekarang, Mika akhirnya bisa lega karena masalah ini akan menemui titik akhirnya. Sesuai dengan ramalan Riko, perang ini pasti tak akan terjadi.
Tiba-tiba, suara dering telepon dari dalam tas Mika berbunyi nyaring. Mika dan Udin pun saling bertatapan karena kaget. Dengan ragu, Mika mengambil ponsel yang sejak tadi ada dalam tasnya.
Saat melihat nama Riko yang muncul di sana, alis Mika langsung mengernyit heran. “Kenapa anak ini tiba-tiba meneleponku?”
“Halo?” ujar Mika saat ia mengangkat telepon itu.
Namun, suara bising dan ribut langsung terdengar jelas di telepon ini. Untuk sesaat, Mika merasa panik. “Riko? Riko? Ada apa? Bisakah kau menjawabku?!”
Udin yang penasaran pun langsung bertanya dengan tak sabar. “Ada apa, Mika?”
“Aku tidak tahu!” Mika benar-benar panik saat suara teriakan-teriakan mulai terdengar. “Aku sama sekali tak tahu apa yang terjadi di sana! Tapi, ini aneh. Kenapa seperti ada keributan?!”
“Tenangkan dirimu! Coba keraskan telepon itu!”
“A-aku ... aku tidak tahu mana tombol yang berfungsi untuk mengeraskan suara!” Sialan, Mika merutuki kebodohannya yang masih saja gagap teknologi sampai sekarang.
Udin pun langsung memelankan kecepatan mobil ini. Dia meminta telepon Mika dan mengeraskan panggilan suara tadi. Sedetik kemudian, suara bising, dentuman, dan teriakan langsung bersahutan dari telepon itu.
Mika dan Udin sama-sama mengernyitkan alis tak mengerti. Sebenarnya apa yang terjadi?
“Kak Mika! Bisakah kau mendengarku?!”
“Astaga! Itu suara Riko!” Mika berseru dengan nada bahagia dan lega.
Ia langsung menyahuti suara anak kecil itu, “Iya, ini aku Mika. Aku bisa mendengarmu. Tolong jelaskan apa yang terjadi, Riko!”
“Desa kita ...! Desa kita diserang, Kak!”
“Hah? Apa maksudmu?!”
Mika berteriak tak mengerti sementara Udin langsung melebarkan mata tak percaya. Detak jantung ayah Asa itu langsung tak beraturan.
“Apakah ini perang? Aku sama sekali tak tahu! Ibu bilang ada benda bernama misil yang ditembakkan ke sini! Banyak rumah hancur! Api di mana-mana! Apa yang harus kulakukan?!” Riko meraung dan menangis di saat yang bersamaan.
Saat itu, seluruh badan Mika langsung terasa lemas. Ia menatap horor ke arah ponselnya yang terus menyerukan suara teriakan banyak orang dan tangisan adik keponakannya itu. Dilihat dari mana pun, wajah Mika terlihat begitu putus asa.
“Apa ini ...? Apakah ini mimpi?”
“Aku ... tidak bermimpi! Tolong pulanglah!”