“Malam ini, kau jadi mengajakku minum kopi di kafe kan?”
Senyum dan perkataan Udin yang penuh makna itu langsung dibalas oleh Mika dengan wajah riang dan mata menyipit yang menandakan sifat keramahtamahan. Mereka saling menjabat tangan di depan rumah Udin.
Baik Mika maupun Asa sekarang sedang berpamitan untuk kembali pulang ke asrama.
Pemuda berambut hitam acak-acakan itu dengan ramah menjawab, “Ya, Anda bisa menemuiku nanti jam sembilan malam. Aku akan menunggumu.”
Gigi putih Udin langsung berderet. Ia tersenyum lebar. “Bagus, bagus. Aku suka gayamu, Mika.”
Mika tertawa pelan dengan nada suara aneh. Seperti orang yang menyimpan kebohongan saja, pikir Asa yang berdiri di sampingnya. Gadis itu menyadari gelagat aneh dari dua orang pria ini.
“Sejak kapan kalian jadi dekat seperti ini?” tanya Asa tak habis pikir.
Bukannya Mika yang menjawab, sang Ayah justru tersenyum sambil mengacungkan jempol ke arah Asa.
“Kenapa? Apa salah? Aku suka dengan gaya Mika. Kami akan pergi ngopi bersama di kafe nanti malam. Ada pertemuan penting.”
Dahi Asa benar-benar mengerut dalam. “Hah?”
“Ya, ayahmu benar kok. Kami akan mengadakan pertemuan rahasia yang membahas masalah penting nanti malam. Cewek sepertimu tak akan paham,” tukas Mika dengan seenak jidatnya.
Dan seperti inilah sekarang. Siang telah berganti menjadi malam dengan begitu cepatnya.
Pertemuan untuk membahas hal penting yang dilakukan oleh Mika dan Udin justru dilaksanakan di tempat paling tak terduga bagi gadis itu, kalau saja Asa tahu di mana lokasi keduanya berada sekarang.
Mika dan Udin kini duduk dalam kondisi tegang dalam ruang kepala sekolah SMA Unggulan Esa. Dalam ruangan ini, hanya ada mereka berdua dan sang kepala sekolah.
Rapat tertutup antara tiga orang tadi dilaksanakan secara rahasia di sini. Jam yang ada di ruang wanita tua itu menunjukkan pukul 11 malam, sehingga jarang ada siswa atau pun orang yang masih berkeliaran di sekolah selain penjaga keamanan.
“Jadi, dia yang kau bilang mengajak kita untuk bekerja sama menghentikan perang ini?”
Sorotan mata yang dingin milik kepala sekolah di tempat putrinya belajar ini membuat Udin terdiam. Malam ini, dia, Mika, dan Kepala Sekolah SMA Unggulan Esa saling memandang dengan ekspresi serius.
Mika yang berada di antara dua orang yang saling menatap tajam itu langsung menganggukkan kepala.
“Benar, dia adalah orang yang kukatakan. Asal Anda tahu, Pak Han adalah salah satu anggota organisasi mata-mata yang diberi tanggung jawab atas masalah ini.”
Mika melirik sebentar ke arah Udin yang sama-sama menatap ke arahnya. Apa yang dikatakan oleh pemuda ini soal nama Udin tadi bukanlah kesalahan. Mika dan Udin telah sepakat untuk menutupi identitas ayah Asa itu dengan memakai nama palsu ‘Handoko’.
Selain itu, penampilan Udin sangat berbeda drastis dari penampilannya yang biasa. Dia memakai rambut putih dengan tata rias di wajahnya yang menyerupai kulit keriput sehingga usianya terlihat lebih tua dua puluh tahun dari aslinya.
Sang kepala sekolah yang bernama Siti Laila akhirnya menghela nafas. Suasana terasa lebih santai daripada beberapa saat yang lalu. Dia menyesap teh yang ada di meja depannya.
“Anda sudah tahu siapa anak yang ada di sini itu kan?”
“Eh? Maksudmu aku?” Mika langsung menatap bingung ke arah Bu Siti saat dirinya dijadikan topik pembicaraan.
Mengabaikan celetukan dari mulut Mika tadi, Udin langsung mengangguk. “Ya, tentu saja. Aku tahu kalau Mika bukan berasal dari dunia ini. Selain itu, dia juga punya kemampuan magis yang luar biasa.”
Senyum simpul langsung terukir di wajah Bu Siti. “Saya bersyukur karena Mika bisa menemukan orang yang dapat dipercayai sepertimu.”
Udin mendengus geli. Di sisi lain, Mika yang mendengar hal tadi langsung tertegun saat memandang sang kepala sekolah yang duduk di sebelah kirinya. Ia tak menyangka kalau Bu Siti benar-benar peduli padanya.
Mika jadi bertanya-tanya dalam hati. Sebenarnya apa sih yang terjadi dengan Bu Siti dan Putri dulu sehingga wanita tua ini bisa percaya penuh pada kekuatan sihir yang jelas-jelas tak masuk akal di zaman sekarang?
“Jadi, apa yang kau ketahui soal perang yang diprediksi akan terjadi setahun lagi ini?” tanya Bu Siti dengan serius.
Mika langsung memfokuskan diri lagi. Bukan waktunya untuk memikirkan hal-hal tak penting sekarang. Ia juga harus fokus mencegah semua ini.
Udin yang sedari tadi duduk tegap langsung menjawab, “Seperti yang Anda tahu, saya awalnya berpendapat bahwa isu perang yang dibesar-besarkan oleh media serasa tak masuk akal. Tapi kemudian, Mika menemui saya dan memberitahu bahwa adiknya meramalkan perang akan terjadi.”
“Benar, aku juga diberi tahu hal itu oleh kakak perempuan Mika. Tanpa disadari oleh siapa pun, ternyata anaknya punya kekuatan untuk memprediksi segala hal seperti tadi,” balas Bu Siti.
Mika yang sedari tadi menyimak juga langsung buka suara. “Berdasarkan pengamatan Pak Han tadi, dia bilang kalau PBB akan mengadakan rapat tertutup soal hal ini.”
“Apa yang dikatakan Mika benar, itu adalah hasil penyelidikanku. Selain itu, kita semua tahu bahwa Dimas Fajar yang merupakan putra kandung dari salah satu delegasi kemarin kini berada di bawah naungan keluarga ayahnya.”
Bu Siti masih ingat betul bagaimana hari itu pihak keluarga Dimas dari sang ayah menelepon sekolah. Mereka memberitahu kalau Dimas akan cuti sementara waktu dari sekolah untuk menangani masalah ini.
“Aku sudah ada rencana untuk melaporkan masalah ini ke pihak Dinas Pendidikan, tapi buktiku masih belum cukup. Sebenarnya Mika juga memberikan suara rekaman Dimas yang menyatakan kalau dirinya ditahan. Tapi entah kenapa, itu masih tak cukup.” Bu Siti memasang wajah pilunya.
Mendengar itu, Udin langsung menghela nafas. “Tindakan Anda sudah benar. Kita masih belum punya bukti yang cukup untuk menyeret masalah Dimas ke meja hukum. Keluarga ayahnya berisi pebisnis dan politikus terkenal, ada kemungkinan kita akan kalah dalam kasus ini jika menyerahkan bukti seperti itu.”
“Ini semakin rumit saja.”
Mika mengucapkan hal tadi dengan nada putus asa. Ia memandang Bu Siti serius. “Tujuanku di sekolah ini semata hanya untuk Dimas, kalau dia tak ada, akan lebih baik kalau aku tak perlu menginap di asrama. Aku akan membebaskan Dimas dari sana!”
“Bukankah sudah kubilang jika itu pilihan yang gegabah, Mika?” tukas si kepala sekolah dengan wajah ketus.
“Aku yakin kalau aku bisa membebaskan Dimas dari sana dengan caraku sendiri! Dan setelah itu, kami akan membuktikan jika ini semua hanyalah skenario palsu yang mengambinghitamkan Indonesia demi perang!”
Dengan keras kepala, Bu Siti langsung menghardik Mika. “Kita masih belum punya bukti! Itu semua tak mendasar dan justru kita yang akan mendapat masalah nanti!”
Mika kesal. Ia selalu berdebat dengan Bu Siti karena masalah ini. Nenek palsunya ini terlalu banyak berpikir dan merumuskan rencana, sementara Mika ingin segera bertindak untuk mencegah hak buruk terjadi dalam waktu cepat. Pemuda ini beranggapan bahwa semakin lama mereka berpikir, hal buruk semakin cepat datang.
Sudah beberapa kali keduanya mendebatkan hal yang sama selama beberapa minggu terakhir, salah satunya pagi tadi. Tapi tetap saja, Bu Siti tak mau mendengarkan Mika.
Udin memperhatikan perdebatan tadi dengan saksama. Sebenarnya apa yang dikatakan Mika ada benarnya, kalau pemuda itu ingin berkontribusi langsung mencegah semua hal buruk terjadi, maka ia harus keluar dari asrama ini mengingat Dimas ditahan secara paksa di rumah keluarga ayahnya.
Sang kepala sekolah ini hanya mengkhawatirkan Mika. Ia mencegahnya supaya tak terjadi hal-hal buruk pada pemuda itu.
“Kupikir Mika ada benarnya, bagaimana jika dia tak perlu tinggal di asrama agar bisa menangani hal ini?” bela Udin yang langsung dibalas pandangan tak suka dari Bu Siti.
“Maksudmu?” tanya nenek palsu Mika itu dengan dingin.
“Coba pikirkan seberapa besar keuntungan kita jika Mika bisa beraksi menyelamatkan Udin dan mencari kebenaran dari kasus ini setelah ia pulang sekolah. Singkatnya, setiap pagi ia akan sekolah biasa dan selanjutnya kita serahkan pada Mika untuk melakukan semuanya.”
Dahi Bu Siti langsung mengerut. Ia memandang Udin dengan pandangan tak percaya.
“Bagaimana kau bisa seyakin ini? Mika hanya bocah berusia 17 tahun! Kita jangan menyerahkan masalah serius ini di tangannya seorang diri!”
Saat itu senyum miring Udin langsung terukir. “Jangan lupakan fakta jika Mika adalah seorang pangeran mahkota di dunianya. Dia punya didikan luar biasa menjadi bakal raja, jadi ini semua adalah hal mudah baginya.”
“Eh?” Bu Siti langsung mengerjap tak percaya, seolah ia melupakan fakta itu dari sekian lamanya.
“Selain itu, Anda tak perlu khawatir. Aku akan menjadi penanggung jawab anak ini. Sebagai anggota BIN, aku akan menjadikan Mika sebagai anak buahku!”
Lidah Bu Siti kelu. Ia memandang cemas ke arah Mika lalu berganti menatap Udin dengan bimbang. “Tetap saja, Pak Han. Kurasa ini ....”
“Kumohon, berikan izinmu padaku. Kita akan unggul jika masing-masing dari kita menjalankan tugas,” pinta Mika dengan wajah memohon.
Bu Siti memandang Mika dengan tatapan tak mengerti. “A-apa maksudmu?”
“Begini, untuk sekarang aku paling mencurigai pihak travel yang menaungi dua delegasi itu. Andaikan masalah Dimas kita serahkan pada Mika, aku bisa fokus menangani masalah travel itu. Anda pun jadi fokus menangani kasus ini agar pihak dinas dan seluruh orang tahu akan skenario perang ini!” jelas Udin panjang lebar.
Wajah bimbang Bu Siti tak dapat dipungkiri. Ia menatap Mika dan Udin secara bergantian. Kalau begini, semua keputusan jadi diserahkan padanya. Apakah ia yakin akan menyerahkan masalah ini pada Mika?